Buat Temen2 SMA yang mau ngedepin UN 2012 saya mau bagi-2 hasil analisa saya mengenai bedah SKL UN. Bedah SKL ini meupakan analisa dari SKL dan Indikator UN SMA Matematika yang kemudian diterjemahkan kepada Prediksi Soal dan materi prasyarat yang harus dikuasai untuk menjawab Prediksi soalnya.
Oh ya, maaf yang ada cuma SKL Matematika SMA IPA karena kebetulan saya cuma ngajar kelas IPA jadi maaf buat yang jurusan Sosial,Bahasa, Keagamaan belum bisa terbantu..hehe.......!
FIle-nya bisa di sedot disini :
http://www.ziddu.com/download/17583380/BedahSKLUNMatematikaIPA.rar.html
Thanks.....!
Senin, 28 November 2011
Senin, 21 November 2011
Apa Sih Pendidikan Karakter ?
Oleh: Prof. Ibnu Hamad, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud
Seperti terminologi
lainnya, tidak ada defenisi tunggal untuk pendidikan karakter. Secara
etimologis, karakter berarti watak atau tabiat. Ada juga yang
menyamakannya dengan kebiasaan. Selain itu ada yang mengaitkannya dengan
keyakinan. Bahkan disamakan dengan akhlak.
Dari pengertian ini,
yang jelas karakter sering dikaitkan dengan kejiwaan. Karenanya, menurut
ahli psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang ada
dalam diri seseorang yang mengarahkannya dalam bertingkah laku.
Lalu dimanakah letak
karakter dalam diri seseorang? Inipun sulit dijawab. Namun ada “hukum”
yang menarik terkait karakter. Kira-kira begini bunyinya: pikiran
menghasilkan ucapan; ucapan mempengaruhi tindakan; tindakan menghasilkan
kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; karakter menentukan nasib.
Ternyata, hal yang
paling mendasar dalam pembentukan karakter itu tiada lain adalah
pikiran. Maklumlah, dalam pikiran itulah semua tindakan manusia itu
diprogram. Bermula dari pikiran itulah, baik buruknya tindakan manusia
berasal. Bilamana pikirannya positif, maka tindakannya positif dan
sebaliknya.
Oleh sebab itu, pikiran
harus mendapatkan asupan yang baik agar menghasilkan asupan yang baik
agar menghasilkan tindakan yang baik. Dalam konteks inilah pendidikan
karakter sangat penting guna memberikan asupan yang baik itu.
Kenyataannya, secara intrinsik yang namanya pendidikan bertujuan
memberikan pikiran-pikiran positif. Jadi kloplah pasangan kata
pendidikan dan karakter ini.
Empat Dimensi Pendidikan Karakter
Mencermati konsep dasar
pendidikan, karakter yang dikembangkan Kemdiknas, tampaklah di sana
empat dimensinya. Empat dimensi pendidikan karakter meliputi: olah
pikir, olah hati, olah raga, dan oleh karsa.
Yang patut dicatat
dalam empat dimensi ini adalah keterkaitan di antara mereka satu sama
lain dilambangkan dengan empat lingkaran yang saling mengikat. Maknanya,
karakter seorang individu dinyatakan lengkap jika keempat dimensi itu
tumbuh dan berkembang dalam diri yang bersangkutan.
Tidak sempurna pribadi
seseorang jika hanya pintar saja (olah otak). Apa artinya jika
kepandaian jika tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, kemanusiaan, dan
kesosialan serta kewargaan. Karena itu perlu olah hati.
Tentu saja, selain otak
dan hatinya perlu berkembang, manusia juga perlu berkembang raga dan
karsanya. Hal demikian agar ia dapat hadir di lingkungan sosialnya. Otak
yang pintar dan hati yang lembut, belum sepenuhnya berguna jika belum
memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya.
Sedangkan olah raga,
diperlukan agar seseorang memiliki keterjagaan fisik. Dengan sehat
secara fisik, maka ketiga potensi sebelumnya, otak, hati, dan rasa,
dapat dimanfaatkan secara optimal. Bayangkan, jika seseorang yang pintar
otaknya, lembut hatinya, banyak karsanya, namun sakit-sakitan maka ia
tidak akan memberikan dampak yang maksimal bagi lingkungannya.
Nilai Inti Pendidikan Karakter
Mendiknas, M. Nuh
mengibaratkan nilai-nilai pada pendidikan karakter itu, termasuk yang
berada dalam empat dimensi itu -- sebagai sebuah pohon. Ibarat pohon,
pendidikan karakter itu memiliki akar yang karenanya pohon itu dapat
tumbuh dan berkembang. Demikian pula seseorang bisa hidup dengan baik
jika memiliki nilai-nilai inti karakter sebagai akar kehidupannya. Nilai
inti tersebut terdiri dari empat aspek.
Pertama, jujur.
Semua orang tak terkecuali orang jahat apalagi orang baik, menyukai
kejujuran. Kejujuran menghasilkan kebaikan. Dengan jujur, semua masalah
menjadi mudah terpecahkan.
Kedua, cerdas.
Sudah terang jujur merupakan sesuatu yang mendasar dalam hidup
seseorang. Namun jujur saja tetapi –maaf- bodoh kurang berarti karena
itu akan lebih banyak menjadi beban bagi orang lain. Oleh sebab itu ia
harus cerdas supaya bisa mengambil peran aktif dalam menjawab setiap
persoalan paling tidak yang menimpa dirinya sendiri.
Ketiga, bisa
berteman. Apa artinya jujur dan cerdas namun tidak bisa bergaul dengan
orang lain? Orang egois, mau menang sendiri saja, dan suka menyakiti
orang lain tak banyak manfaatnya walaupun jujur dan cerdas. Karenanya
karakter yang harus dimiliki adalah harus bisa berteman.
Keempat, bertanggung
jawab. Inilah karakter yang menjadi taruhan seseorang dalam kehidupan
sosialnya. Sebagai sikap ksatria, karakter bertanggung jawab
mencerminkan kepribadian yang dapat diandalkan sekaligus membanggakan.
Bukankah setiap perbuatan selalu dimintai pertanggungjawabannya?
Tujuan PK
Dalam berbagai
kesempatan Mendiknas, M. Nuh menegaskan bahwa pendidikan karakter bagi
peserta didik Indonesia bertujuan hendak menjadikan manusia Indonesia
sebagai individu yang memiliki tiga elemen sekaligus di bawah ini.
Pertama, sebagai
makhluk Tuhan yang mengakui bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu
sama. Bahwasanya sesame makhluk Tuhan tidak ada yang lebih unggul dan
lebih hebat dari yang lainnya. Jika setiap orang memiliki pikiran
seperti ini, niscaya akan timbul rasa saling mengasihi antar sesama.
Hidup pun menjadi rukun dan saling menghormati, toleran dengan
perbedaan, dan suka tolong menolong.
Kedua, sebagai manusia intelektual yang memiliki kepenasaranan untuk tahu (curiousity)
terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan
demikian, seseorang akan pintar dan cerdas karena selalu berusaha
menambah ilmu dan keterampilannya. Pada gilirannya, iptek yang
dikuasainya tersebut dapat dimanfaatkan bukan saja untuk kepentingan
dirinya sendiri melainkan juga kemaslahatan orang lain bahkan warga
dunia.
Ketiga, sebgai
warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta dan bangga pada
tanah air. Cinta dicirikan oleh rasa memiliki yang kuat pada NKRI yang
berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangga
diindikasikan oleh raihan prestasi yang disumbangkan pada NKRI demi
kejayaan bangsa dan negara. Dengan tiga tujuan utama ini, pendidikan
karakter bersifat komprehensif yang hendak menjadikan setiap anak bangsa
memiliki watak yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kesosialan, dan
kebangsaan. Lebih dari itu, watak ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan
tidak dilakukan secara membabi buta melainkan dilaksanakan dengan penuh
kesadaran karena ketiga watak ini disertai dengan watak keilmuan
(curiousity)
Kearifan Lokal untuk Pendidikan Karakter
Disadari atau tidak,
sungguh amat banyak nilai-nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat
yang dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter. Nilai-nilai
tradisi ini telah menjadi kearifan lokal yang walaupun berbeda-beda di
antara suku-suku bangsa namun memiliki kesamaan yang sangat signifikan.
Manakala nilai-nilai tradisional ini hendak disinkronkan dengan
pendidikan karakter niscaya sangat sejalan dengan nilai inti dan tujuan
pendidikan karakter.
Tercatat dalam sejarah
perjalanan bangsa kita, kepercayaan pada sesuatu yang supranatural
menjadi bagian hidup dari kebanyakan suku bangsa. Sebelum Hindu sebagai
agama yang pertama kali datang ke Indonesia, suku-suku bangsa di Tanah
Air umumnya menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa di
balik alam yang nyata itu ada kekuatan yang mengendalikan hidup mereka
dan mereka memujanya. Lewat pemujaan itu mereka berharap kehidupan
mereka, sanak familinya dan lingkungannya berjalan dengan baik. Atas
dasar kepercayaan yang dianutnya mereka menata harmoni sosial mereka.
Ketika agama-agama
masuk mulai dari Hindu, Budha, Konghucu, Kristen, dan Islam, kepercayaan
bangsa Indonesia kepada tuhan semakin berkembang. Sesuai dengan
keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, setiap pemeluk agama percaya
bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa; sedangkan manusia
harus tunduk dan patuh pada titahNya termasuk menghargai sesama dan
melestarikan alam sekitar.
Selanjutnya kepercayaan
kepada Tuhan itu bukan saja menjadi landasan spiritual serta tuntutan
dan tuntunan ritual para pemeluknya, melainkan pula menjadi sumber nilai
dan norma sosial seperti kejujuran, tolong menolong, bertanggung jawab
dan lain sebagainya. Seperti dimaklumi, salah satu pilar keimanan adalah
percaya bahwa Tuhan maha melihat. Pilar inilah yang membuat pemeluk
agama merasa harus selalu jujur. Pilar lainnya, setiap perbuatan manusia
akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Aspek
inilah yang mendorong para pemeluk agama selalu mempertimbangkan setiap
tindakannya: apakah sejalan dengan ajaran agama ataukah menyimpang.
Sedangkan untuk sikap tolong menolong, setiap agama memerintahkannya
minimal di anatara pemeluk agamanya masing-masing.
Di samping nilai dan
norma yang bersumber dari agama, di tengah masyarakat kita dalam
suku-suku bangsa Indonesia juga ada dan masih hidup nilai-nilai dan
norma sosial yang bersumber dari adat. Biasanya kearifan lokal yang
bersumber dari adat ini berbentuk pepatah petitih yang mengajarkan
kebaikan seperti ajakan untuk menambah pengetahuan, dorongan untuk kerja
keras, nasihat dalam mengumpulkan kekayaan, unggah ungguh berbahasa,
cara menghormati orang lain, hingga ajaran melestarikan alam sekitar.
Secara turun temurun
kearifan lokal yang bersumber dari adat istiadat itu, dan bersanding
dengan kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, masih terus
diwariskan dan sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat kita.
Karena itu, ketika pendidikan karakter didengungkan ulang maka sejatinya
kearifan lokal itu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan
karakter. Sebaliknya pendidikan karakter ini merevitalisasi kearifan
lokal untuk dimanfaatkan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.
Langganan:
Komentar (Atom)