Jumat, 02 Mei 2014

Merevilatlisasi nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam proses pendidikan kita.

اِقْرَأ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذيْ خَلَقَ
iqra' Bismirabbikalladzi kholaq
Artinya :
           Bacalah dengan nama Tuhan yang menjadikan. 
          Ya, ayat pertama dari surat Al-Alaq yang merupakan surat pertama yang diturunkan Alloh swt. melalui Malaikat Jibril di Gua Hira kepada Kanjeng Nabi Besar Muhammad saw. dimana ada 5 ayat pertama yang diturunkan sebagai "Undang-Undang" pertama bagi perjalanan kerasulan Muhammad saw. Menurut penulis ayat ini merupakan landasan utama bagi manusia pembelajar sebagai manifestasi Khalifatullah di muka bumi ini. 
        Penulis yang merupakan orang awam dalam hal penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an, ayat diatas tidak menyebutkan objek bacaan yang sifatnya teknis, maka kata Iqra' itu digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, mengupas, menganalisa, mengamati , dsb. Karenanya yang sifatnya umum maka objek tersebut mencakup segala yang terjangkau oleh indera secara kasat mata maupun yang tidak.
           Dalam konteks belajar, dan pembelajaran menurut hemat penulis, untuk memahami ayat ini tidak hanya meminta manusia untuk belajar dalam arti luas. Menurut penulis, dalam ayat ini Tuhan meminta manusia untuk belajar dan memahami ayat-ayat Tuhan baik yang tertulis dalam kitabnya maupun berupa tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui betapa kompleks, terstruktur dan teraturnya susunan alam semesta ini dibuat. 
             Kata "Bacalah" atau اِقْرَأ merupakan perintah sekaligus ajakan bagi manusia untuk mengupas seluruh fenomena alam serta akibat yang menyertainya untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Dalam hal ini kita tidak menyinggung umat yang berasal dari daerah tertentu, agama apa, dari bangsa yang mana. Tuhan meminta segenap umat manusia untuk senantiasa belajar dan memahami serta mengambil setiap pelajaran yang terkandung di dalamnya. 
             Pertanyaan selanjutnya apakah hanya cukup berhenti belajar dan belajar. saya kira dalam konteks ini YA. karena salah satu fungsi manusia dalam dunia ini adalah belajar. Belajar tidak mengenal usia, waktu bahkan kondisi, manusia selalu dituntut untuk belajar, merenungi dan mengambil setiap hikmah yang terkandung didalamnya dan bertujuan untuk perbaikan dalam kehidupan selanjutnya. 
                 Selanjutnya, dalam ayat tersebut dilanjutkan dengan "dengan nama Tuhan yang menjadikan" atau بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذيْ خَلَقَ. Konteks dari ayat ini, menurut penulis sangatlah luas, satu hal yang ingin penulis jabarkan dalam tulisan ini adalah  "bahwa rangkaian proses belajar dan pembelajaran kita harus senantiasa mengikutsertakan Tuhan dalam setiap jengkal proses belajar dan pembelajaran. "mengikutsertakan" Tuhan dalam setiap proses pembelajaran bukan berarti mulut kita selalu berdzikir layaknya berdzikir saat kita setelah sholat, akan tetapi sejak dari niat awal kita belajar sampai tujuan (untuk apa kita belajar dan melaksanakan proses pembelajaran) kita selalu menghadirkan nilai-nilai ke-Tuhan-an.
          Dimulai dari niat, niat dalam hal ini merupakan sebuah konsensus atau ketetapan dan inti kita belajar. Dalam hal menghadirkan nilai-nilai ke-Tuhan-an dari segi Niat adalah bagaimana kita meniatkan belajar sebagai salah satu sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dengan mengharapkan Ridha Tuhan. Kata Ridha berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti senang, suka, rela. Ridha merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT ridha terhadap kebaikan hambanya. 
            Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dan bisa diartikan Ridha/rela adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian-NYA yang setiap saat selalu ita rasakan. Pengertian ridha  juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Tuhan.
             Sebagai mahluk yang meyakini adanya Tuhan dan salah satunya diwujudkan dalam ketetapan-NYA akan melahirkan sikap Legowo dan ikhlas. Manusia bila sudah memiliki sikap ikhlas, maka dalam setiap tindakan akan melahirkan sikap positif. Bila sudah niat hanya untuk mencari Ridha Tuhan maka dalam belajarpun tidak akan diliputi keraguan akan kegagalan,pintar, bodoh dan sebagainya
           Bila niat yang benar sudah dimiliki oleh setiap pembelajar, maka satu hal yang perlu dijaga adalah mempertahankan niat yang baik tersebut atau konsisten dalam menjaga niat baik. Karena dalam menjaga niat baik ini jauh lebih susah daripada saat memutuskan niat di awal. Bila niat yang sudah dicetuskan diawal sudah dijaga maka kecurangan - kecurangan dalam setiap proses pembelajaran tidak akan dilakukan bahkan mungkin terpikirkan  pun tidak. Karena ia yakin bahwa dalam mencari keridha-an Tuhan harus melalui jalan natau cara yang "dikehendaki" Tuhan, secara sederhananya tidak akan menggunakan cara-cara yang dapat mengurangi nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam setiap proses pembelajaran.
          Buah dari menjaga niat yang baik dalam setiap proses pembelajaran dapat dilihat dari kesungguhan dan sikap pantang menyerah untuk selalu melakukan yang terbaik. Pembelajar (dalam hal ini anak yang sedang sekolah/kuliah) yang selalu menyertakan nilai-nilai ke-Tuhan-an dalam setiap proses belajarnya ia tidak memiliki tujuan belajar untuk pintar/pandai dan berujung kepada mudah untuk mendapat pekerjaan melalui ijaza yang dimilikinya. karena pintar itu merupakan konsekuensi logis dari setiap proses pembelajaran yang bertumpu kepada keseriusan dan konsistensi dalam menjaga niat untuk kebaikan.
           Ketika sudah mampu menjaga niat dengan tetap mengutamakan nilai-nilai ke-Tuhan-an melalui setiap proses yang dilaksanakan, maka pembelajar akan senantiasa menyerahkan "ending" atau output tetap dalam koridor ke-Tuhan-an. Dalam hal ini selaku mahluk yang percaya kepada ketetapan Tuhan, bahwa Tuhan tidak akan memberikan hasil yang mengecewakan kepada setiap pembelajar sejauh para pembelajar tetap konsisten dalam menjalankan proses yang baik.
          Bisa jadi salah satu sumber persoalan dalam proses pembelajaran (pendidikan) kita selama ini adalah para pendidik melupakan prinsi-prinsip ke-Tuhan-an dalam proses pembelajarannya. Sikap - sikap kejujuran, respect kepada sesama, pembelajaran yang berorientasi kepada proses, metode pengajaran yang mengutamakan kemajemukan potensi anak didik sudah mulai tercerabut salam proses pendidikan kita.
            Dalam proses belajar mengajar di sekolah hendaknya guru sangat mengutamakan prinsip-prinsip dasar sifat manusia selain mengajar ketuntasan belajar dan angka-angka pencapaian belajar anak didik. Karena angka-angka itu merupakan sebuah konsekuensi dari setiap proses pendidikan yang berjalan, bila proses pembelajaran yang berjalan di sekolah melupakan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan maka angka-angka pencapaian belajar itupun kurang bermakna bagi proses perkembangan karakter anak didik.
          Semua ini diawali dari pendidik dalam hal ini Guru, maukah guru dalam setiap proses pembelajaran mulai merubah paradigma bahwa anak didik merupakan titipan dan sebuah kertas putih yang sejatinya mewarisi sifat-sifat ke-Tuhan-an mulai dari kejujuran, setiap anak memiliki kemampuan yang beragam terhadap berbagai hal, dll.    
             Penulis meyakini dalam agama apapun yang ada, untuk mendapatkan hasil yang baik (dalam hal ini anak didik yang memiliki kepribadian yang mantap) nilai-nilai ke-Tuhan-an itu tidak boleh hilang dalam setiap proses pendidikan. Dimana nilai-nilai ke-Tuhan-an yang perwujudannya adalah sikap-sikap positif yang mampu membangun karakter anak sudah mulai luntur maka anak didik pun tak ubahnya sebuah robot yang tak memiliki nurani serta karakter sebagai manusia yang utuh.
 

Sabtu, 26 April 2014

Hati-hati bila ingin mengeluarkan anak dari sekolah (perhatian untuk para Guru)

              Tiga hari yang lalu penulis "dicurhati" oleh seorang ibu yang anaknya dikeluarkan dari sekolahnya. Dari cerita sang ibu anaknya memang terkenal anak yang jahil dan memiliki kecenderungan mencari perhatian dan terkadang suka membolos. anak tersebut katanya sudah diberitahu berulang kali oleh wali kelas, guru BK bahkan waka kesiswaan mengenai tingkah lakunya yang melanggar peraturan sekolah. Bahkan kalau dihitung poin pelanggarannya anak tersebut sudah berada pada titik "kritis". Kemudian ibu yang curhat kepada penulis melanjutkan kalau anaknya memiliki prestasi di bidang sepakbola, bahkan sering mewakili sekolah mengikuti turnamen sepak bola yang tidak jarang juga mengharumkan nama sekolahnya. 
              Menurut penuturan ibu tadi, anak tersebut disarankan untuk pindah sekolah yang direkomendasikan oleh kepala sekolahnya.Dan celakanya sekolah yang direkomendasikan untuk anaknya bukan sekolah yang diharapkan oleh orang tua. Itulah sekolas gambaran curhat sang ibu yang anaknya dikeluarkan dari sekolah. Karena penulis hanya sebagai pendengar dan pihak ketiga disini, penulis hanya menyarankan kepada ibu tadi untuk:
1. menguatkan anaknya agar tetap optimis bahwa dimanapun ia bersekolah, kesempatan untuk menjadi   
    pelajar yang berprestasi tetap terbuka.
2. Agar meminta penjelasan kepada pihak sekolah untuk memberikan keterangan yang sebenar-benarnya 
   mengenai kronologi mengapa anaknya bisa dikeluarkan, yaitu sebuah catatan anak tersebut di sekolah. 
   apakah selama ini anaknya sudah mendapatkan bimbingan yang proporsional sesuai prosedur (yaitu 
   teguran, mediasi dan komunikasi antara orang tua, guru dan anak didiknya)
       Poin yang ingin penulis share disini adalah apakah anak yang dianggap bermasalah perlu dikeluarkan dari sekolah? selama ini ada anggapan dalam pendidik kita "bila ada anak didik yang tidak bisa dibina, ya sekalian dibinasakan saja", "bila ada virus dalam tubuh, maka virus tersebut perlu dikeluarkan dari tubuh", "untuk menjaga nama baik sekolah, maka anak yang bermasalah dan berpotensi mencemarkan nama baik sekolah sebaiknya dipindahkan saja"...itulah beberapa adagium yang berkembang di lingkungan pendidikan kita.Menurut pendapat Prof. Dr. S. Nasution dalam bukunya ‘Sosiologi Pendidikan’. bahwa fungsi sekolah antara lain:
1.   Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan.
2.   Sekolah memberikan keterampilan dasar.
3.   Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib
4.   Sekolah menyediakan tenaga pembangunan.
5.   Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
6.   Sekolah mentransmisi kebudayaan.
7.   Sekolah membentuk manusia yang sosial.
8.   Sekolah merupakan alat mentransformasi kebudayaan; dan
9.   Fungsi-fungsi laten lainnya seperti sebagai tempat menitipkan anak, mendapatkan jodoh, dan sebagainya.
         Jadi singkatnya beberapa fungsi pendidikan yang telah dijabarkan di atas sebenarnya dapat dirangkum menjadi fungsi sekolah sebagai alat mobilitas sosial, fungsi sekolah sebagai alat sosialisasi, fungsi sekolah sebagai alat kontrol dan integrasi sosial, dan yang paling utama adalah fungsi manifest adalah pendidikan intelektual, yakni “mengisi otak” anak dengan berbagai macam pengetahuan. Sekolah dalam realitasnya masih mengutamakan latihan mental-formal, yaitu suatu tugas yang pada umumnya tidak dapat dipenuhi oleh keluarga atau lembaga lain, oleh sebab itu sekolah memerlukan tenaga khusus yang dipersiapkan untuk itu, yakni guru.
        Nah, dalam hal ini guru memiliki peran penting sebagai mediator dan lokomotif  "Sebagai Alat Integrasi dan Pelopor Perubahan", maka sepatutnya Guru dituntut untuk menempatkan anak didik sesuai dengan dunianya, yaitu dunia anak-anak. Menurut Kak Seto (Seto Mulyadi) di edukasi.kompasiana.com, bahwa anak merupakan individu yang unik, yang mana satu sama lain memiliki potensi yang berbeda. Agar dapat mengoptimalkan perkembangan kecerdasan anak, selain memahami bahwa anak merupakan individu yang unik, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan upaya memahami dan lebih mengenal dunia anak, sebagai berikut;
  1. Bahwa anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil yang mana mereka memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kacamata anak-anak. Jadi dalam menghadapinya memang dibutuhkan kesabaran, pengertian, dan toleransi yang mendalam.
  2. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh semangat apabila terkait dengan suasana yang menyenangkan
  3. Selain tumbuh secara fisik, anak juga berkembang secara psikologis
  4. Setiap anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka diperoleh dengan cara meniru. Dengan demikian orangtua atau guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik.
  5. Pada dasarnya anak-anak itu adalah kreatif, karena mereka banyak memiliki rasa ingin tahu dan berimajinasi tinggi. Disamping itu, anak-anak yang dihargai cenderung terhindar dari berbagai masalah psikologis serta anak akan tumbuh dan berkembang secara optimamal.
         Selanjutnya, problem yang muncul dalam mendidik anak adalah anak yang masuk kategori nakal, dimana anak nakal ini dianggap sebagai benalu yang bisa mencemari anak-anak lain dan dianggap pula sebagai "pengganggu stabilitas keamanan sekolah". karena anak nakal ini dianggap tidak cocok untuk dididik di sekolah dimana anak tersebut melaksanakan proses kegiatan belajar sehari-hari. 
         Dari sudut pandang Psikologi, nakal hanyalah sebuah definisi orang dewasa terhadap anak kecil. Rasa ingin tahu yang begitu besar karena perkembangan pesat otaknya membuat anak ingin memuaskan rasa ingin tahunya berlebihan. Sehingga anak terus-menerus mencoba, menyentuh, tak bisa diam, bereksplorasi sebagai tindakan rasa ingin tahunya.
         Walaupun anak mempunyai rentang waktu perhatian begitu pendek dibandingkan dengan orang dewasa, tapi dalam keadaan tertentu anak terkadang perhatiannya menjadi lebih panjang ketika bertemu dengan sesuatu yang menjadi daya tariknya. Ada yang bilang ini adalah satu indikator untuk melihat minat, bakat dan kemampuan anak.
            Menurut penulis, anak nakal lebih tepat di dikatakan eksploratif, sifat yang mungkin tak bisa diam, sifat yang ingin menyentuh apa saja, sifat yang kadang mengganggu siapa saja, sifat yang ingin mencoba apa saja, sifat yang tidak bisa diatur……Jadi bayangkan kalau ada anak yang masih dalam pertumbuhan emasnya tidak mengalami hal seperti ini, bisa jadi justru sebaliknya. Artinya bisa jadi pertumbuhan otaknya tak sepesat anak yang aktif/eksploratif.
          Mario Teguh dalam sebuah ceramah motivasinya mengungkapkan nakal bukanlah hal negatif, berbeda dengan KRIMINAL. Karena anak belum mengenal secara utuh apa itu kriminal. Yang menariknya lagi pada akhir kalimat “Anak nakal memiliki bahan dasar pembentuk pemimpin besar”. Wow…sebuah pernyataan yang sangat tidak bisa diterima oleh common sense. Mana ada anak nakal bisa jadi pemimpin besar, nakal ya nakal.
        Piaget bersama dengan Alfred Binet dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kemampuan kognitif anak tidak jauh berbeda dengan orang dewasa bahkan bisa lebih, yang membedakan adalah hanya cara berpikirnya. Piaget mengatakan bahwa anak-anak itu seperti “ilmuwan kecil” yang berusaha memahami dunia dengan caranya, bukan hanya belajar dengan menyerap informasi secara pasif.
dalam konteks mendidik anak terutama di sekolah guru perlu betul-betul memahami dunia anak, usia psikologi anak dan perkembangan anak dari satu fase menuju fase berikutnya.
           Dalam konteks mengeluarkan anak didik memang menjadi sebuah dilema, karena sekolah memiliki aturan yang disebut tata tertib untuk anak didik dan berbagai pertimbangan lain. bila dilihat dari sudut pandang peraturan sekolah, ada beberapa poin yang bisa penulis sampaikan. 
             Pertama-tama, tentu sekolah wajib memiliki tata tertib yang mengatur warga sekolah termasuk siswa. Apa saja yang dilarang, bagaimana bentuk sanksinya, dan lain-lain. Sekolah juga wajib memiliki petugas yang menangani masalah siswa secara khusus, biasanya tim tata tertib guru BK yang berkoordinasi dengan waka kesiswaan. Setiap masalah siswa dikomunikasikan kepada guru terkait, misalnya wali kelas, dan orang tua. Yang terbaik adalah orang tua hadir ke sekolah, atau guru datang ke rumah orang tua siswa dan mengomunikasikan masalah siswa. 
             Dalam tata tertib tersebut harus mengakomodasi “masalah” siswa sampai titik toleransi tertinggi. Artinya ada tahapan-tahapan pembinaan yang dilakukan oleh sekolah untuk membina siswa secara optimal dan maksimal, dengan rentang waktu yang tertentu dan semuanya didokumentasikan secara tertulis. 
            Sekolah perlu memperhatikan berbagai sanksi untuk mendidik siswa, bukan hanya sanksi punishment saja. Jika seluruh tahapan sudah dilalui, tetapi harapan agar siswa mau berubah belum terwujud, maka tak ada salahnya sekolah mengembalikan siswa kepada orang tua mereka, tentu dengan memberikan bantuan, ke sekolah mana mereka dapat pindah, agar tidak putus sekolah.
         Itulah yang selama ini menjadi pertimbangan sekolah terkait mengeluarkan anak didik dari sekolah. Jadi menurut penulis sekolah merupakan sebuah taman tempat anak menempa dan menemukan dunianya untuk berproses menjadi manusia yang paripurna, dalam hal ini guru hendaknya mampu melihat anak sebagai sebuah entitas yang masih berproses dan senantiasa berproses maka perlu pendampingan dan bimbingan yang tiada henti dengan penuh ketlatenan dan kesabaran. 
         Perlu dipertimbangkan lebih jauh untuk mengeluarkan anak didik, karena dampakanak yang dikeluarkan dalam tatanan masyarakat tidaklah sederhana. Orang tua dan lingkungan juga mendapat "cap" dari dampak anak yang dikeluarkan tersebut.

"Mendidik anak disekolah bisa diibaratkan bila kita ingin menempatkan ikan laut dalam aquarium. Ikan laut dapat berkembang dengan baik bila kondisi lingkungan yang kita ciptakan yaitu Aquarium sesuai dengan kondisi laut dimana tempat ikan tersebut berasal, bukan memaksa ikan laut 
mengikuti keinginan sang pemilik aquarium"

Jumat, 28 Maret 2014

Ketika Jomblo Bertasbih

Kawan, Kukirimkan surat ini kepadamu yang ada di ujung Batavia yang saya yakin malam ini dia sedang berbahagia....hahaha...

Kawan...kau tentu ingat Kota Malang bukan...kota yang ernah menjadi bagian hidupmu meski hanya tiga tahun....

lewat serpihan surat ini saya mau share tentang "malam minggu" kawan...
Akhir pekan tentu menjadi hari yang menyenangkan baik bagi manusia yang telah dianugerahi Tuhan pasangan hidupnya, bukan sekedar "dijanjikan" oleh Tuhan jodohnya kelak atau bagi manusia yang belum menyempurnakan separuh agamanya :-)

Malam ini kuhabiskan untuk mengamati apa sih malam minggu itu, malam minggu yg kalau dikalkulasi detik, menit, jamnya pun sama dengan malam-2 yg lain...tapi bagi sebagian orang merupakan malam yang panjang (saya heran, dari mana ngukurnya kok jadi malam yang Panjang haha...)

Saya awali Jalan-jalan malam ini dr Maghrib setelah kau dan aku saling bertukar naskah BBM tentang kisah kartun anak-anak produksi animaccord studio, Rusia yaitu si kecil Masha and the Bear...haha


Saat itu saya sedang menikmati kopi di pinggir rel kereta api di klojen bersama kawan lama yang sdh lama tak kusambangi majelis-nya, sambil kunikmati seduhan kopi isterinya yang kuminta sedikit pahit agar suasana terasa pas dengan lidah orang Jawa yang katanya dewasa...kau Tau Kawan,,,ternyata banyak hal yang harus diketahui bahwa hidup itu tidak sekedar visi dan misi...kata kawanku yang sok sufi itu hidup itu letaknya ada pada Hasrat, Hasrat untuk menghidupkan sisi-sisi keTuhanan dalam hidupmu....(Tak kukira kawanku ini menjadi bijak malam ini, meski saya tau dia baru saja mabuk hari rabu kemaren hahaha...)

singkat cerita tak terasa hampir dua jam saya membual dengan dia yang terkadang dia harus bolak-balik masuk kedalam rumah saat istrinya memanggil dia untuk mengambil gorengan atau sekedar mengantarkan anaknya agar tidak gabung bersama kami yang saya yakin dia tak ingin anaknya menghisap kepulan asap rokok yang malam itu menjadi siluet addiction bagi kami berdua untuk menggambarkan sedikit isi otak Gila kami)

Setengah sembilan saya berpamitan keluar rumahnya...meski saya tau itu rumah mertuanya, krn istrinya adalah anak tunggal (betapa mujurnya dia mendapat istri yg baik + "warisan" rumah hahaha....)

Selepas saya bersalaman dan berjanji untuk kembali lagi dalam waktu dekat dan mendeklarasikan kami adalah "Pembual Paruh Waktu" saya pun memacu keledai besi (kalau kuda besi harus motor yg garang) melewati depan Polres Malang, depan RS Saiful Anwar yg tadi terasa macet menuju ke Jalan Malabar yang disitu ada hutan Malabar...saya hanya bisa menyaksikan banyak orang-2. Duduk di Cafe dan menikmati live Music yang saya yakin hati mereka tidak sebahagia apa yang saya saksikan.

Motor masih kupacu dengan lambat ketika melintasi simpang Balapan yg kemarin digunakan Kampanye oleh PKB dg artis dari Jakarta yg bajunya cukup terbuka saat ada Kyai NU dan orang-2 bawaan Muhaimin Iskandar menjadi Jurkamnya...dan malam ini kulihat ada 3 klub motor mejeng disitu dan 1 jlub mobil nampang mirip etalase di AUTO 2000 meski saya paham mobil itu adalah hasil keringat orang tuanya (haha...suudzon dikit boleh ya :D )...krn saya perhatikan anak-2 itu masih berusia anak kuliahan level S1 (mana ada mahasiswa Malang yg masih S1 bisa beli mobil dg uang hasil kentutnya sendiri)

Sampai di Jalan Bandung yang tadi cukup lengan aku lihat di depan MTs N ada keluarga kecil yang kelihatannya suami+istrinya belum genap berusia 30 tahun sedang mengajari anaknya berjalan kaki dan saya yakin mereka sedang berbahagia... :)

Dengan senyum yang tertutup masker hitamku tak terasa saya harus melewati salah satu simbol Kapitalisme kota Malang yaitu Matos dan MX Mall yang berjejer kaya' Pindang dibelah 4. Yang tangga-2 nya saja sdh banyak lampu kerlap kerlip yang seolah mengejak deretan bangunan diseberang Matos yaitu Kampus UM yang malam itu seolah ingin mengatakan "maaf Univ. Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Institute Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang SMA8, SMKN 2 Malang dan SMPN 4 Malang serta MAN 3 Malang untuk malam ini jangan katakan Malang sebagai kota pelajar"

Agak lama ternyata Roda motor setengah garamg saya mencapai perlimaan ITN, saya berhenti sebagai warga yg taat kepada lampu "stopan"...saat itu kutengok sebelah kanan dan kuambil uang 600 repes dari kantong jaket ku untuk berbagi rasa kepada anak perempuan berbadan gendut yang seharusnya malam itu dia bisa nonton TV dengan orang tuanya tapi ia dengan "senang hati" menghibur orang-2 yg dipaksa berhenti oleh lampu "stopan" dengan angkuhnya saat berjuta kata maki masih menyumbat isi otak pengendara itu...

Sungguh kontradiktif bukan,,,ketika melintasi Jalan Bandung lanjut ke Depan (m)atos dan perlimaan ITN

Tertawa bercampur kata Jancuk masih mengisi lensa kaca mataku

Aku terus lurus melewati jalan Bendungan Sigura-gura samping ITN lurus terus sampai belakang UIN...daerah yang 12 tahun lalu kita gunakan untuk OPenaba (di lapangan UIN) sekarang beranjak meninggalkan nilai-2 tradisionalnya dan bersiap untuk menjadi kota metropolis palsu khas belakang Kampus dengan kost-kost an yang sesak, warung makan dengan harga seenaknya dan hehe....kulihat ada anak perempuan dengan jaket khas aktivis yaitu hitam sedang berdiri diam kecewa saat ada pacarnya sedang berbicara di gerbang belakang kampus UIN Malang....sungguh pemandangan yang dipaksakan menjadi Romantis...

Sepanjang Jalan sampai Landung sari kulihat banyak pasangan yang "katanya" Zina padahal mereka pacaran dengan kelihatannya Bahagia meski saya berani bertaruh kalau mereka besok pagi disuruh Nikah mereka akan berkata "eits...tunggu dulu mas, saya aja belum Magang,KKN bahkan PKL pun belum kok disuruh nikah" hahaha....

Kau tau kawan...saya tidak mengumpat,mengutuk atau bahkan memaki "sak jeroning ati" tentang kejombloan saya...
Saya hanya bisa mengatakan Malang memang butuh Taman Jomblo seperti di Bandung agar para Jomblo yang ingin melaksanakan ritual "Ketika Jomblo Bertasbih" di malam minggunya memiliki ruang sebagai bentuk eksistensi bahwa Hak Azasi Manusia terutama Kaum Jomblo bisa terafiliasi dan terfasilitasi dengan bijak dan khidmat.

Sekian surat singkatku ku malam ini kawan...kuharap kau akan merasa bahwa kota Malang yang pernah menjadi bagian dalam hidupmu kini menjadi kota yang terkadang bengis bagi kaum Jomblo
-------------