Kawan, Kukirimkan surat ini kepadamu yang ada di ujung Batavia yang saya yakin malam ini dia sedang berbahagia....hahaha...
Kawan...kau tentu ingat Kota Malang bukan...kota yang ernah menjadi bagian hidupmu meski hanya tiga tahun....
lewat serpihan surat ini saya mau share tentang "malam minggu" kawan...
Akhir
pekan tentu menjadi hari yang menyenangkan baik bagi manusia yang telah
dianugerahi Tuhan pasangan hidupnya, bukan sekedar "dijanjikan" oleh
Tuhan jodohnya kelak atau bagi manusia yang belum menyempurnakan separuh agamanya :-)
Malam ini kuhabiskan untuk mengamati apa
sih malam minggu itu, malam minggu yg kalau dikalkulasi detik, menit,
jamnya pun sama dengan malam-2 yg lain...tapi bagi sebagian orang
merupakan malam yang panjang (saya heran, dari mana ngukurnya kok jadi
malam yang Panjang haha...)
Saya awali Jalan-jalan malam ini dr
Maghrib setelah kau dan aku saling bertukar naskah BBM tentang kisah kartun anak-anak produksi animaccord studio, Rusia yaitu si kecil
Masha and the Bear...haha
Saat itu saya sedang menikmati kopi di
pinggir rel kereta api di klojen bersama kawan lama yang sdh lama tak
kusambangi majelis-nya, sambil kunikmati seduhan kopi isterinya
yang kuminta sedikit pahit agar suasana terasa pas dengan lidah orang
Jawa yang katanya dewasa...kau Tau Kawan,,,ternyata banyak hal yang
harus diketahui bahwa hidup itu tidak sekedar visi dan misi...kata
kawanku yang sok sufi itu hidup itu letaknya ada pada Hasrat, Hasrat
untuk menghidupkan sisi-sisi keTuhanan dalam hidupmu....(Tak kukira
kawanku ini menjadi bijak malam ini, meski saya tau dia baru saja mabuk
hari rabu kemaren hahaha...)
singkat cerita tak terasa hampir dua jam saya
membual dengan dia yang terkadang dia harus bolak-balik masuk kedalam
rumah saat istrinya memanggil dia untuk mengambil gorengan atau sekedar
mengantarkan anaknya agar tidak gabung bersama kami yang saya yakin dia
tak ingin anaknya menghisap kepulan asap rokok yang malam itu menjadi
siluet addiction bagi kami berdua untuk menggambarkan sedikit isi otak
Gila kami)
Setengah sembilan saya berpamitan keluar
rumahnya...meski saya tau itu rumah mertuanya, krn istrinya adalah anak
tunggal (betapa mujurnya dia mendapat istri yg baik + "warisan" rumah
hahaha....)
Selepas saya bersalaman dan berjanji untuk kembali
lagi dalam waktu dekat dan mendeklarasikan kami adalah "Pembual Paruh
Waktu" saya pun memacu keledai besi (kalau kuda besi harus motor yg
garang) melewati depan Polres Malang, depan RS Saiful Anwar yg tadi
terasa macet menuju ke Jalan Malabar yang disitu ada hutan
Malabar...saya hanya bisa menyaksikan banyak orang-2. Duduk di Cafe dan
menikmati live Music yang saya yakin hati mereka tidak sebahagia apa
yang saya saksikan.
Motor masih kupacu dengan lambat ketika
melintasi simpang Balapan yg kemarin digunakan Kampanye oleh PKB dg
artis dari Jakarta yg bajunya cukup terbuka saat ada Kyai NU dan orang-2
bawaan Muhaimin Iskandar menjadi Jurkamnya...dan malam ini kulihat ada 3
klub motor mejeng disitu dan 1 jlub mobil nampang mirip etalase di AUTO
2000 meski saya paham mobil itu adalah hasil keringat orang tuanya
(haha...suudzon dikit boleh ya :D )...krn saya perhatikan anak-2 itu
masih berusia anak kuliahan level S1 (mana ada mahasiswa Malang yg masih
S1 bisa beli mobil dg uang hasil kentutnya sendiri)
Sampai di
Jalan Bandung yang tadi cukup lengan aku lihat di depan MTs N ada
keluarga kecil yang kelihatannya suami+istrinya belum genap berusia 30
tahun sedang mengajari anaknya berjalan kaki dan saya yakin mereka
sedang berbahagia... :)
Dengan senyum yang tertutup masker
hitamku tak terasa saya harus melewati salah satu simbol Kapitalisme
kota Malang yaitu Matos dan MX Mall yang berjejer kaya' Pindang dibelah
4. Yang tangga-2 nya saja sdh banyak lampu kerlap kerlip yang seolah
mengejak deretan bangunan diseberang Matos yaitu Kampus UM yang malam
itu seolah ingin mengatakan "maaf Univ. Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Institute Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang SMA8, SMKN 2 Malang dan SMPN 4 Malang serta MAN 3 Malang untuk malam ini jangan
katakan Malang sebagai kota pelajar"
Agak lama ternyata Roda
motor setengah garamg saya mencapai perlimaan ITN, saya berhenti sebagai
warga yg taat kepada lampu "stopan"...saat itu kutengok sebelah kanan
dan kuambil uang 600 repes dari kantong jaket ku untuk berbagi rasa
kepada anak perempuan berbadan gendut yang seharusnya malam itu dia bisa
nonton TV dengan orang tuanya tapi ia dengan "senang hati" menghibur
orang-2 yg dipaksa berhenti oleh lampu "stopan" dengan angkuhnya saat
berjuta kata maki masih menyumbat isi otak pengendara itu...
Sungguh kontradiktif bukan,,,ketika melintasi Jalan Bandung lanjut ke Depan (m)atos dan perlimaan ITN
Tertawa bercampur kata Jancuk masih mengisi lensa kaca mataku
Aku
terus lurus melewati jalan Bendungan Sigura-gura samping ITN lurus
terus sampai belakang UIN...daerah yang 12 tahun lalu kita gunakan untuk
OPenaba (di lapangan UIN) sekarang beranjak meninggalkan nilai-2
tradisionalnya dan bersiap untuk menjadi kota metropolis palsu khas
belakang Kampus dengan kost-kost an yang sesak, warung makan dengan
harga seenaknya dan hehe....kulihat ada anak perempuan dengan jaket khas
aktivis yaitu hitam sedang berdiri diam kecewa saat ada pacarnya sedang
berbicara di gerbang belakang kampus UIN Malang....sungguh pemandangan
yang dipaksakan menjadi Romantis...
Sepanjang Jalan sampai
Landung sari kulihat banyak pasangan yang "katanya" Zina padahal mereka
pacaran dengan kelihatannya Bahagia meski saya berani bertaruh kalau
mereka besok pagi disuruh Nikah mereka akan berkata "eits...tunggu dulu mas, saya aja belum Magang,KKN bahkan PKL pun belum kok disuruh nikah"
hahaha....
Kau tau kawan...saya tidak mengumpat,mengutuk atau bahkan memaki "sak jeroning ati" tentang kejombloan saya...
Saya hanya bisa mengatakan Malang
memang butuh Taman Jomblo seperti di Bandung agar para Jomblo yang
ingin melaksanakan ritual "Ketika Jomblo Bertasbih" di malam minggunya
memiliki ruang sebagai bentuk eksistensi bahwa Hak Azasi Manusia
terutama Kaum Jomblo bisa terafiliasi dan terfasilitasi dengan bijak dan
khidmat.
Sekian surat singkatku ku malam ini kawan...kuharap kau akan merasa
bahwa kota Malang yang pernah menjadi bagian dalam hidupmu kini menjadi
kota yang terkadang bengis bagi kaum Jomblo
-------------