Jumat, 28 Maret 2014

Ketika Jomblo Bertasbih

Kawan, Kukirimkan surat ini kepadamu yang ada di ujung Batavia yang saya yakin malam ini dia sedang berbahagia....hahaha...

Kawan...kau tentu ingat Kota Malang bukan...kota yang ernah menjadi bagian hidupmu meski hanya tiga tahun....

lewat serpihan surat ini saya mau share tentang "malam minggu" kawan...
Akhir pekan tentu menjadi hari yang menyenangkan baik bagi manusia yang telah dianugerahi Tuhan pasangan hidupnya, bukan sekedar "dijanjikan" oleh Tuhan jodohnya kelak atau bagi manusia yang belum menyempurnakan separuh agamanya :-)

Malam ini kuhabiskan untuk mengamati apa sih malam minggu itu, malam minggu yg kalau dikalkulasi detik, menit, jamnya pun sama dengan malam-2 yg lain...tapi bagi sebagian orang merupakan malam yang panjang (saya heran, dari mana ngukurnya kok jadi malam yang Panjang haha...)

Saya awali Jalan-jalan malam ini dr Maghrib setelah kau dan aku saling bertukar naskah BBM tentang kisah kartun anak-anak produksi animaccord studio, Rusia yaitu si kecil Masha and the Bear...haha


Saat itu saya sedang menikmati kopi di pinggir rel kereta api di klojen bersama kawan lama yang sdh lama tak kusambangi majelis-nya, sambil kunikmati seduhan kopi isterinya yang kuminta sedikit pahit agar suasana terasa pas dengan lidah orang Jawa yang katanya dewasa...kau Tau Kawan,,,ternyata banyak hal yang harus diketahui bahwa hidup itu tidak sekedar visi dan misi...kata kawanku yang sok sufi itu hidup itu letaknya ada pada Hasrat, Hasrat untuk menghidupkan sisi-sisi keTuhanan dalam hidupmu....(Tak kukira kawanku ini menjadi bijak malam ini, meski saya tau dia baru saja mabuk hari rabu kemaren hahaha...)

singkat cerita tak terasa hampir dua jam saya membual dengan dia yang terkadang dia harus bolak-balik masuk kedalam rumah saat istrinya memanggil dia untuk mengambil gorengan atau sekedar mengantarkan anaknya agar tidak gabung bersama kami yang saya yakin dia tak ingin anaknya menghisap kepulan asap rokok yang malam itu menjadi siluet addiction bagi kami berdua untuk menggambarkan sedikit isi otak Gila kami)

Setengah sembilan saya berpamitan keluar rumahnya...meski saya tau itu rumah mertuanya, krn istrinya adalah anak tunggal (betapa mujurnya dia mendapat istri yg baik + "warisan" rumah hahaha....)

Selepas saya bersalaman dan berjanji untuk kembali lagi dalam waktu dekat dan mendeklarasikan kami adalah "Pembual Paruh Waktu" saya pun memacu keledai besi (kalau kuda besi harus motor yg garang) melewati depan Polres Malang, depan RS Saiful Anwar yg tadi terasa macet menuju ke Jalan Malabar yang disitu ada hutan Malabar...saya hanya bisa menyaksikan banyak orang-2. Duduk di Cafe dan menikmati live Music yang saya yakin hati mereka tidak sebahagia apa yang saya saksikan.

Motor masih kupacu dengan lambat ketika melintasi simpang Balapan yg kemarin digunakan Kampanye oleh PKB dg artis dari Jakarta yg bajunya cukup terbuka saat ada Kyai NU dan orang-2 bawaan Muhaimin Iskandar menjadi Jurkamnya...dan malam ini kulihat ada 3 klub motor mejeng disitu dan 1 jlub mobil nampang mirip etalase di AUTO 2000 meski saya paham mobil itu adalah hasil keringat orang tuanya (haha...suudzon dikit boleh ya :D )...krn saya perhatikan anak-2 itu masih berusia anak kuliahan level S1 (mana ada mahasiswa Malang yg masih S1 bisa beli mobil dg uang hasil kentutnya sendiri)

Sampai di Jalan Bandung yang tadi cukup lengan aku lihat di depan MTs N ada keluarga kecil yang kelihatannya suami+istrinya belum genap berusia 30 tahun sedang mengajari anaknya berjalan kaki dan saya yakin mereka sedang berbahagia... :)

Dengan senyum yang tertutup masker hitamku tak terasa saya harus melewati salah satu simbol Kapitalisme kota Malang yaitu Matos dan MX Mall yang berjejer kaya' Pindang dibelah 4. Yang tangga-2 nya saja sdh banyak lampu kerlap kerlip yang seolah mengejak deretan bangunan diseberang Matos yaitu Kampus UM yang malam itu seolah ingin mengatakan "maaf Univ. Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Institute Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang SMA8, SMKN 2 Malang dan SMPN 4 Malang serta MAN 3 Malang untuk malam ini jangan katakan Malang sebagai kota pelajar"

Agak lama ternyata Roda motor setengah garamg saya mencapai perlimaan ITN, saya berhenti sebagai warga yg taat kepada lampu "stopan"...saat itu kutengok sebelah kanan dan kuambil uang 600 repes dari kantong jaket ku untuk berbagi rasa kepada anak perempuan berbadan gendut yang seharusnya malam itu dia bisa nonton TV dengan orang tuanya tapi ia dengan "senang hati" menghibur orang-2 yg dipaksa berhenti oleh lampu "stopan" dengan angkuhnya saat berjuta kata maki masih menyumbat isi otak pengendara itu...

Sungguh kontradiktif bukan,,,ketika melintasi Jalan Bandung lanjut ke Depan (m)atos dan perlimaan ITN

Tertawa bercampur kata Jancuk masih mengisi lensa kaca mataku

Aku terus lurus melewati jalan Bendungan Sigura-gura samping ITN lurus terus sampai belakang UIN...daerah yang 12 tahun lalu kita gunakan untuk OPenaba (di lapangan UIN) sekarang beranjak meninggalkan nilai-2 tradisionalnya dan bersiap untuk menjadi kota metropolis palsu khas belakang Kampus dengan kost-kost an yang sesak, warung makan dengan harga seenaknya dan hehe....kulihat ada anak perempuan dengan jaket khas aktivis yaitu hitam sedang berdiri diam kecewa saat ada pacarnya sedang berbicara di gerbang belakang kampus UIN Malang....sungguh pemandangan yang dipaksakan menjadi Romantis...

Sepanjang Jalan sampai Landung sari kulihat banyak pasangan yang "katanya" Zina padahal mereka pacaran dengan kelihatannya Bahagia meski saya berani bertaruh kalau mereka besok pagi disuruh Nikah mereka akan berkata "eits...tunggu dulu mas, saya aja belum Magang,KKN bahkan PKL pun belum kok disuruh nikah" hahaha....

Kau tau kawan...saya tidak mengumpat,mengutuk atau bahkan memaki "sak jeroning ati" tentang kejombloan saya...
Saya hanya bisa mengatakan Malang memang butuh Taman Jomblo seperti di Bandung agar para Jomblo yang ingin melaksanakan ritual "Ketika Jomblo Bertasbih" di malam minggunya memiliki ruang sebagai bentuk eksistensi bahwa Hak Azasi Manusia terutama Kaum Jomblo bisa terafiliasi dan terfasilitasi dengan bijak dan khidmat.

Sekian surat singkatku ku malam ini kawan...kuharap kau akan merasa bahwa kota Malang yang pernah menjadi bagian dalam hidupmu kini menjadi kota yang terkadang bengis bagi kaum Jomblo
-------------