Jumat, 22 September 2023

Sportif, Sikap Mental Kesatria

Setiap tanggal 9 September  selalu diperingati hari Olahraga Nasional yang selanjutnya menjadi momentum atau tahapan pada bidang olahraga yang diharapkan memberikan inspirasi/motivasi bagi seluruh bangsa Indonesia untuk membangun karakter bangsa melalui peristiwa keolahragaan nasional. Jika dulu sering digaungkan tagline “Memasyarakatkan Olahraga dan mengolahragakan Masyarakat” yang menjadi sebuah sikap politik yang diambil pemerintah orde baru untuk membangun iklim olahraga bagi seluruh lapisan masyarakat baik olahraga yang sifatnya pendidikan, olahraga prestasi maupun olahraga rekreasi. Selanjutnya, apa yang bisa diharapkan dari perayaan atau peringatan Hari Olahraga Nasional.

Kita tentu sepakat bahwa olahraga merupakan kegiatan dengan tujuan utamanya untuk kesehatan dan kebugaran. Akan tetapi pada satu bagian lain olahraga merupakan media yang sangat efektif yang bisa digunakan sebagai pembentukan karakter manusia. Tidak berlebihan jika kita katakan olahraga pada hakikatnya merupakan diorama dari nilai – nilai kehidupan. Statemen ini memiliki pandangan bahwa beberapa nilai dasar kehidupan manusia dapat dijumpai pula dalam olahraga. Apa yang bisa dilakukan adalah bagaimana mengoptimalkan kegiatan olahraga menjadi satu instrumen yang efektif untuk menanamkan nilai – nilai olahraga (kerjasama, komunikasi, menghargai peraturan, problem solvingrespectleadership , kerja keras, bagaimana menyikapi jika harus menang/kalah, manajemen pertandingan, bermain jujur, penghargaan diri, kepercayaan, toleransi, kegembiraan dan keuletan, kerjasama sekelompok, disiplin dan sportif) pada karakter generasi muda. Disini perlu ada formulasi bagaimana olahraga dijadikan sebagai suatu gaya hidup dan kebutuhan. Selanjutnya bagaimana kita membentuk ekosistem yang lebih luas untuk generasi muda mengaktualisasikan nilai – nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

Olahraga sangat mengedepankan sportifitas, jiwa sportif merupakan modal dasar dalam membangun bangsa yang bermartabat. Sportif sendiri merupakan kesadaran yang selalu melekat, bahwa lawan bertanding adalah kawan bertanding yang diikat oleh pesaudaraan olahraga. Sportif merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat ksatria pada olahraga. Nilai sportif melandasi pembentukan sikap, dan selanjutnya menjadi landasan perilaku. Sebagai konsep moral, sportif berisi penghargaan terhadap lawan serta harga diri yang berkaitan antara kedua belah pihak memandang lawannya sebagai mitranya. Keseluruhan dan upaya dan perjuangan itu dilaksanakan dengan bertumpu pada standar moral yang di hayati oleh masing-masing belah pihak. Sportifitas menyatu dengan konsep persahabatan dan menghormati lawan pada waktu bermain. Jiwa sportif akan terwujud apabila terpenuhi perilaku tersebut di atas, dan sangat dibutuhkan kesungguhan keberanian moral dan keberanian untuk menanggung resiko. Nilai sportif merupakan rujukan perilaku, sesuatu yang dianggap “luhur” dan menjadi pedoman hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sepakbola misalnya, sejak Piala Dunia 1990 FIFA sangat gencar mengkampanyekan  fairplay, dan secara resmi logo fairplay yang dikenal dengan slogan “My Game is Fair Play” diumumkan pada tahun 1993. Sejak saat itu, tradisi pemberian penghargaan kepada insan sepakbola yang dinilai mampu memberikan teladan yang baik bagi masyarakat sepakbola dunia kian gencar diberikan. FIFA kemudian menciptakan “Golden Rule” yang diharapkan bisa menjadi pedoman bagi seluruh pelaku sepakbola dunia. Sehingga, jika para pelaku olahraga sudah memiliki jiwa fairplay dan mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari – hari bias dikatakan orang tersebut memiliki sikap mental sebagai seorang ksatria. Artinya apa yang dilakukan FIFA ini selain memberikan garis besar tentang bagaimana menjalani suatu pertandingan dengan baik juga memberikan apresiasi bagi pelaku fairplay sehingga bisa dijadikan role model  bagi peseakbola lain. Sikap inilah yang seharusnya ditanamkan pada optimalisasi kegiatan olahraga di masyarakat.

 

Kembali kepada slogan “Memasyarakatkan Olahraga dan mengolahragakan Masyarakat”, jika kegiatan olahraga baik yang sifatnya rekreasi, olahraga kesehatan, olehraga pendidikan, olahraga prestasi sampai ada olahraga untuk profesi mampu dikelola dengan baik dan diselenggarakan secara massif dan professional bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan bangsa ini kita akan menuai hasilnya yaitu menjadi bangsa yang tangguh. Diperlukan political will dari pemerintah dalam membuat raadmap pengembangan olahraga di tanah air dengan jelas. Mulai dari bagaimana menyediakan fasilitas yang memadai, pembinaan olahraga pada setiap jenjang umur, kompetisi yang terprogram dengan baik keterlibatan masyarakat dalam pengembangan olahraga serta kehadiran dunia usaha dalam pengembangan olahraga.

Kita tentu sepakat bahwa dampak dari andemi covid-19 lalu masih terasa. Gairah olahraga generasi muda bisa dikatakan menurun. Berkembangnya budaya rebahan, mager bahkan sampai pada meningkatnya konsumsi junk food merupakan tantangan tersendiri yang dihadapi bangsa ini. Diperlukan sebuah pendekatan yang sesuai dengan kondisi generasi muda dalam menghadapi kondisi ini. Bonus demografi yang akan dihadapi menjelang perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia perlu diersiapkan dengan baik. Pengembangan karakter, fisik maupun spiritual generasi bangsa perlu menjadi perhatian khusus dan dijadikan isu utama pembangunan.

Dengan optimalisasi pengembangan olahraga tanah air diharapkan mampu memberi kontribusi yang cukup baik mengingat olahraga merupakan salah satu kebutuhan hidup guna meningkatakan kualitas fisik dan mental seseorang. Selain itu, olahraga juga berkontribusi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani masyarakat Indonesia, tetapi lebih dari itu untuk mencapai prestasi optimal dalam olahraga, karena dengan prestasi olahraga akan dapat mengangkat citra bangsa Indonesia.

 

Akhirnya kita akan sampai pada sebuah tahap bahwa keberhasilan suatu bangsa dalam mencapai tujuannya tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang melimpah ruah akan tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya yang berbudi pekerti luhur. Dengan mengaktualisasikan nilai-nilai positif dalam olahraga maka diharapkan dapat membentuk sumberdaya manusia yang berkarakter sehingga hal ini akan turut mencetak sumberdaya manusia serta kader-kader bangsa yang baik. Salam Olahraga..

Dimuat pada harian Malangposcomedia Senin, 11 September 2023

Link

https://malangposcomedia.id/sportif-sikap-mental-kesatria/


Rabu, 20 September 2023

Sorogan, sebagai bentuk Pembelajaran Berdiferensiasi


Dunia pendidikan dalam satu dekade kebelakang disibukkan dengan era disrupsi pendidikan sebagai konsekuensi dari perkembangan industry 4.0 sampai pada era society 5.0.

Hal ini didukung pula pada awal tahun 2020 dunia mengalami pandemi Covid-19 yang turut mengubah peta jalan pendidikan sampai saat ini. Pada perkembangannya Kemendikbud RI memunculkan sebuah kebijakan untuk bisa dikatakan merespon kondisi tersebut dengan Kurikulum Merdeka.

Kurikulum yang dianggap identik dengan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik, begitu juga dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi sendiri merupakan pembelajaran yang memberikan keleluasaan dan mengakomodir kebutuhan peserta didik untuk dapat meningkatkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan kemampuan masing- masing peserta didik. Hal ini diilhami oleh Pendidikan yang berorientasi kreatif-inovatif yang motifnya menghilangkan diskriminasi manusia berdasarkan jenis intelegensia tertentu sehingga setiap peserta didik memiliki perbedaan dalam kemampuan, pengalaman, bakat, minat, dan gaya belajar. Pada pembelajaran berdiferensiasi guru harus memperhatikan perbedaan karakter peserta didik dan memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan peserta didik, sehingga penting adanya pembelajaran berdiferensiasi. Terlihat seolah mudah dan sangat ideal, akan tetapi pada tataran teknis diperlukan sebuah usaha yang tidak mudah.

Pembelajaran berdiferensiasi memandang peserta didik sebagai individu yang unik dan berbeda-beda. Guru harus memutuskan strategi pembelajaran yang sesuai dengan hasil identifikasi terhadap profil dan kebutuhan murid yang berbeda- beda sehingga murid dapat terlibat penuh selama pembelajaran berlangsung dengan tanpa paksaan.

Di sini guru harus memahami dan menyadari bahwa ada lebih dari satu cara, metoda dan strategi untuk mempelajari suatu bahan pelajaran ketika menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus mampu mengatur bahan pelajaran, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh setiap peserta didik.

Selama ini proses pembelajaran berdiferensiasi ini ada tiga strategi yang dapat dipilh, yaitu diferensiasi konten, proses dan produk. Ada juga yang mengklasifikasikan pendekatan pembalajaran melalui gaya belajar peserta didik.

Bagi penulis, prinsip utama pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian pendekatan yang dibuat oleh guru dengan orientasi kepada kebutuhan murid. Disini perlu ada pergeseran orientasi dari “class oriented school” menuju “individual-centered school”.

Adapun tujuan pembelajaran berdiferensiasi adalah bagaimana menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik karena pembelajaran berdiferensiasi dibutuhkan relasi yang kuat antar guru dan peserta didik. Peserta didik mampu mengungkapkan apa yang ingin dipelajari, kekurangan dia dan tidak takut untuk berargumen. Pendidik disini mampu menjembatani daya kreatif peserta didik.

Hal ini perlu menjadi pemahaman kita bersama, bahwa lembaga pendidikan masa depan dituntut untuk lebih menghargai keunikan dan otonomi individu serta mengembangkan iklim yang kondusif bagi pembentukan konsep diri yang positif. Manusia yang memiliki keunggulan yang khas, pembelajar yang kreatif dapat diandalkan dan memiliki daya tahan dalam kesulitan merupakan modal untuk melangkah di masa depan.

Pada prinsipnya, diferensiasi bukanlah hal baru dalam khasanah pendidikan di Indonesia. Kita sering mendengar pengajaran di pesantren tradisional menggunakan pendekatan sorogan. Sorogan sendiri merupakan sebuah metode pembelajaran dimana santri membacakan kitab dihadapan kyai yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa. Secara teknis pelaksanaan dari metode ini adalah santri datang secara bersama-sama menghadap kyai, kemudian mereka antri menunggu gilirannya masing-masing untuk membaca kitab yang dikaji. Dalam metode sorogan ini antara kyai dan santri terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya.

Pada proses ini kyai bertindak sebagai intellectual father dari santri sehingga timbul kewajiban moral untuk hubungan bilateral antara keduanya, dimana kyai dan santri dapat terjadi proses dialog dan bisa berlanjut pada bimbingan dan konseling. Sehingga kyai mampu melihat perkembangan belajar santri, sementara santri belajar aktif dan selalu memepersiapkan diri sebelum ngesahi kitab.

Pada perkembangannya kyai akan mengetahui metode yang sesuai untuk masing – masing santrinya. Pada proses sorogan ini tidak ada unsur paksaaan, semua dikembalikan kepada santri, jika santri ingin segera memahami kajian yang diberikan ia harus secara mandiri atau sering mengikuti berbagai diskusi yang dilaksanakan di luar kelas begitupun sebaliknya.

Menurut Armai Arief dalam bukunya “Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam” disebutkan bahwa terdapat kelebihan metode sorogan, yaitu: 1) terjadi hubungan yang erat dan harmonis antara pendidik dan peserta didik; 2) memungkinkan untuk mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan peserta didik dalam menguasai topik yang ditempuh; 3) peserta didik mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka-reka tentanginterpretasi suatu kitab karena berhadapan dengan pendidik secara langsung yang memungkinkan terjadi tanya jawab; 4) Pendidik dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai muridnya; 5) peserta didik yang memiliki kemampuan baik serta memiliki daya belajar yang tinggi akan cepat menyelesaikan pelajaran, begitu juga sebaliknya.

Adapun kekurang metode sorogan ini, yaitu: 1) kurang efisien karena hanya menghadapi beberapa peserta didik, sehingga jika harus menghadapi peserta didik yang banyak perlu waktu yang lebih banyak; 2) Membuat peserta didik cepat bosan karena metode ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaantan dan disiplin pribadi; 3) peserta didik kadang hanya menangkap kesan verbalisme semata terutama mereka yang tidak mengerti terjemahan dari bahasa tertentu.

Apa yang ingin penulis sampaikan adalah, bagaimana prinsip – prinsip sorogan yang ada menjadi landasan bagi pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Tentu dengan berbagai penyesuaian di beberapa sisi dengan memperhatikan kondisi sosio kultural setiap lembaga pendidikan.



Tulisan dimuat pada Harian Bhirawa

Rabu, 20 September 2023

https://www.harianbhirawa.co.id/sorogan-sebagai-bentuk-pembalajaran-berdiferensiasi/