Senin, 19 Desember 2011

CINTAI PEKERJAAN ANDA


Hakikat manusia berada di dunia ini adalah “bekerja”. Bekerja untuk apa? Bekerja untuk memenuhi panggilan Tuhan yaitu beribadah kepadanya. Karena dengan bekerja kita akan memiliki banyak kesempatan untuk beribadah baik secara vertical maupun Horisontal. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Manusia yang tiada artinya adalah manusia yang tidak menggunakan anugerah dan rezekinya untuk bekerja, dan letak kemuliaan manusia itu dilihat dari apakah ia bekerja atau tidak”.
Namun yang menjadi catatan adalah, apakah pekerjaan yang kita laksakanan selama ini mampu meningkatkan dan memperbaiki derajat kita sebagai manusia yang hakiki?, ataukah pekerjaan yang kita lakukan ini hanya bernilai materi (baca: uang) dan tidak membuahkan apa – apa disisi Tuhan. Alangkah baiknya perlu kita koreksi lagi hal ini, karena jangan sampai apa yang kita lakukan selama ini berakibat kesis – siaan semata.
Salah satu indikator pekerjaan kita bernilai ibadah adalah pekerjaan itu mampu memberi manfaat yang positif baik terhadap diri sendiri terlebih kepada lingkungan sekitar. Dengan kata lain, kehadiran kita dengan aktivitas yang dikerjakan mampu menjaga Kehormatan, Harta, dan tidak merugikan orang lain itulah dikatakan bekerja yang bernilai ibadah. Terlebih lagi bisa meningkatkan derajat, harkat dan harta orang sekitar itulah yang disebut bekerja sebagai ibadah.
Ada orang yang bekerja seharian penuh di tempat kerja dengan sekuat tenaga dan pikiran seolah ia telah berbuat sesuatu kepada lingkungan dan diri sendiri namun ia melupakan nilai – nilai sosial dan hakikat dari pekerjaannya belumlah dikatakan ia dikategorikan sebagai bekerja yang bernilai ibadah.Sudah banyak teori – teori yang mengungkapkan bagaimana kerja kita bernilai ibadah, Spiritual Working, Holistic Working, atau sejenisnya. Namun kalau kita perhatikan ada satu benang merah yang bisa membuat kerja kita bermanfaat denga sendirinya adalah bekerja dengan Cinta.
Bekerja dengan Cinta, apa maksudnya? Bukankah cinta adalah sesuatu yang abstrak dan pengertiannya cenderung bias bagi setiap manusia. Dan hal ini  hanya bisa dirasakan setiap orang dan tidak bisa didefinisikan terlebih dirumuskan secara rinci dan teknis untuk mengaplikasikannya. Bolehlah kita mengatakan hal itu. Namun setidaknya ada konsensus dan kesepakatan – kesepakatan umum mengenai hal ini. Ada satu hal yang menjadi kata kunci dalam memaknai kata Cinta adalah ketulusan. Karena dengan ketulusan ini kita tidak akan memikirkan imbalan selain Ridho Tuhan atas pekerjaan kita.
Secara sederhana, bekerja dengan rasa cinta berarti menyatukan diri dengan kita sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Secara Teknis bisa diartikan kita menyukai pekerjaan dan aspek – aspek serta segala hal yang menyertai pekerjaan kita.
Yang pertama, sukai pekerjaan kita. Apabila kita tidak menyukai pekerjaan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita mustahil pekerjaan itu akan membawa manfaat serta bisa meninggikan derajat kita dimata Tuhan. Semakin kita menyukai pekerjaan yang merupakan lahan ibadah kepada Tuhan, maka ide serta inovasi akan mengalir secara alami. Ketulusan akan pekerjaan akan muncul dengan sendirinya.
Yang menjadi persoalan bila kita sudah tidak lagi “menyukai” pekerjaan itu, maka Cintailah orang – orang yang bekerja disana. Rasakan persahabatan dan pertemanan serta persaudaraan dengan orang – orang itu. Karena dengan menjalin persaudaraan dengan orang – orang itu minimal kita bisa menjalin sebuah ikatan saudara untuk melapangkan area kita beribadah kepada Tuhan. Maka pekerjaanpun lambat laun akan menjadi menyenangkan.
Bila hal ini belum juga menumbuhkan rasa cinta kepada pekerjaan anda, maka Cintailah suasana dan lokasi anda bekerja. Hal ini bisa mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas – tugas dengan lebih baik lagi. Bila hal ini belum juga membuat anda mencintainya, cintai setiap pengalaman pulang dan pergi ke tempat kerja. Dalam perjalanan mungkin kita akan berjumpa dan menyapa orang – orang yang bisa menggairahkan dan membuat lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki bila dibandingkan dengan orang lain yang belum memiliki pekerjaan. Karena perjalanan yang menyenangkan akan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.
Namun apabila disana anda tidak menyenangkan kebahagiaan juga, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari aspek apapun kerja anda entah itu hal – hal kecil, misalnya tanaman penghias meja dikantor anda, atau gumpalan dibalik awan ketika anda melihat keluar jendela ruangan kerja anda.
Apa saja, bila anda tak menemukan yang tidak bisa anda cintai dari setiap aspek pekerjaan anda, kesimpulan akhir “Mengapa anda tetap berada disitu?”. Tak ada alasan bagi anda untuk bertahan. Karena untuk bisa merasakan kebahagiaan dan cinta dalam memaknai pekerjaan sebagai lahan untuk meninggikan derajat manusia dan Bekerja kita harus Mencintai Pekerjaan dan segala aspek yang menyertainya.

Senin, 28 November 2011

Bedah SKL UN Matematika IPA 2012

Buat Temen2 SMA yang mau ngedepin UN 2012 saya mau bagi-2 hasil analisa saya mengenai bedah SKL UN. Bedah SKL ini meupakan analisa dari SKL dan Indikator UN SMA Matematika yang kemudian diterjemahkan kepada Prediksi Soal dan materi prasyarat yang harus dikuasai untuk menjawab Prediksi soalnya.
Oh ya, maaf yang ada cuma SKL Matematika SMA IPA karena kebetulan saya cuma ngajar kelas IPA jadi maaf buat yang jurusan Sosial,Bahasa, Keagamaan belum bisa terbantu..hehe.......!
FIle-nya bisa di sedot disini :
http://www.ziddu.com/download/17583380/BedahSKLUNMatematikaIPA.rar.html
Thanks.....!

Senin, 21 November 2011

Apa Sih Pendidikan Karakter ?


Oleh: Prof. Ibnu Hamad, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemdikbud

Seperti terminologi lainnya, tidak ada defenisi tunggal untuk pendidikan karakter. Secara etimologis, karakter berarti watak atau tabiat. Ada juga yang menyamakannya dengan kebiasaan. Selain itu ada yang mengaitkannya dengan keyakinan. Bahkan disamakan dengan akhlak.

Dari pengertian ini, yang jelas karakter sering dikaitkan dengan kejiwaan. Karenanya, menurut ahli psikologi, karakter adalah sistem keyakinan dan kebiasaan yang ada dalam diri seseorang yang mengarahkannya dalam bertingkah laku.

Lalu dimanakah letak karakter dalam diri seseorang? Inipun sulit dijawab. Namun ada “hukum” yang menarik terkait karakter. Kira-kira begini bunyinya: pikiran menghasilkan ucapan; ucapan mempengaruhi tindakan; tindakan menghasilkan kebiasaan; kebiasaan membentuk karakter; karakter menentukan nasib.

Ternyata, hal yang paling mendasar dalam pembentukan karakter itu tiada lain adalah pikiran. Maklumlah, dalam pikiran itulah semua tindakan manusia itu diprogram. Bermula dari pikiran itulah, baik buruknya tindakan manusia berasal. Bilamana pikirannya positif, maka tindakannya positif dan sebaliknya.

Oleh sebab itu, pikiran harus mendapatkan asupan yang baik agar menghasilkan asupan yang baik agar menghasilkan tindakan yang baik. Dalam konteks inilah pendidikan karakter sangat penting guna memberikan asupan yang baik itu. Kenyataannya, secara intrinsik yang namanya pendidikan bertujuan memberikan pikiran-pikiran positif. Jadi kloplah pasangan kata pendidikan dan karakter ini.

Empat Dimensi Pendidikan Karakter

Mencermati konsep dasar pendidikan, karakter yang dikembangkan Kemdiknas, tampaklah di sana empat dimensinya. Empat dimensi pendidikan karakter meliputi: olah pikir, olah hati, olah raga, dan oleh karsa.

Yang patut dicatat dalam empat dimensi ini adalah keterkaitan di antara mereka satu sama lain dilambangkan dengan empat lingkaran yang saling mengikat. Maknanya, karakter seorang individu dinyatakan lengkap jika keempat dimensi itu tumbuh dan berkembang dalam diri yang bersangkutan.

Tidak sempurna pribadi seseorang jika hanya pintar saja (olah otak). Apa artinya jika kepandaian jika tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan, kemanusiaan, dan kesosialan serta kewargaan. Karena itu perlu olah hati.

Tentu saja, selain otak dan hatinya perlu berkembang, manusia juga perlu berkembang raga dan karsanya. Hal demikian agar ia dapat hadir di lingkungan sosialnya. Otak yang pintar dan hati yang lembut, belum sepenuhnya berguna jika belum memberikan kemanfaatan bagi sekitarnya.

Sedangkan olah raga, diperlukan agar seseorang memiliki keterjagaan fisik. Dengan sehat secara fisik, maka ketiga potensi sebelumnya, otak, hati, dan rasa, dapat dimanfaatkan secara optimal. Bayangkan, jika seseorang yang pintar otaknya, lembut hatinya, banyak karsanya, namun sakit-sakitan maka ia tidak akan memberikan dampak yang maksimal bagi lingkungannya.

Nilai Inti Pendidikan Karakter

Mendiknas, M. Nuh mengibaratkan nilai-nilai pada pendidikan karakter itu, termasuk yang berada dalam empat dimensi itu -- sebagai sebuah pohon. Ibarat pohon, pendidikan karakter itu memiliki akar yang karenanya pohon itu dapat tumbuh dan berkembang. Demikian pula seseorang bisa hidup dengan baik jika memiliki nilai-nilai inti karakter sebagai akar kehidupannya. Nilai inti tersebut terdiri dari empat aspek.

Pertama, jujur. Semua orang tak terkecuali orang jahat apalagi orang baik, menyukai kejujuran. Kejujuran menghasilkan kebaikan. Dengan jujur, semua masalah menjadi mudah terpecahkan.

Kedua, cerdas. Sudah terang jujur merupakan sesuatu yang mendasar dalam hidup seseorang. Namun jujur saja tetapi –maaf- bodoh kurang berarti karena itu akan lebih banyak menjadi beban bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus cerdas supaya bisa mengambil peran aktif dalam menjawab setiap persoalan paling tidak yang menimpa dirinya sendiri.

Ketiga, bisa berteman. Apa artinya jujur dan cerdas namun tidak bisa bergaul dengan orang lain? Orang egois, mau menang sendiri saja, dan suka menyakiti orang lain tak banyak manfaatnya walaupun jujur dan cerdas. Karenanya karakter yang harus dimiliki adalah harus bisa berteman.

Keempat, bertanggung jawab. Inilah karakter yang menjadi taruhan seseorang dalam kehidupan sosialnya. Sebagai sikap ksatria, karakter bertanggung jawab mencerminkan kepribadian yang dapat diandalkan sekaligus membanggakan. Bukankah setiap perbuatan selalu dimintai pertanggungjawabannya?

Tujuan PK

Dalam berbagai kesempatan Mendiknas, M. Nuh menegaskan bahwa pendidikan karakter bagi peserta didik Indonesia bertujuan hendak menjadikan manusia Indonesia sebagai individu yang memiliki tiga elemen sekaligus di bawah ini.

Pertama, sebagai makhluk Tuhan yang mengakui bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu sama. Bahwasanya sesame makhluk Tuhan tidak ada yang lebih unggul dan lebih hebat dari yang lainnya. Jika setiap orang memiliki pikiran seperti ini, niscaya akan timbul rasa saling mengasihi antar sesama. Hidup pun menjadi rukun dan saling menghormati, toleran dengan perbedaan, dan suka tolong menolong.

Kedua, sebagai manusia intelektual yang memiliki kepenasaranan untuk tahu (curiousity) terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, seseorang akan pintar dan cerdas karena selalu berusaha menambah ilmu dan keterampilannya. Pada gilirannya, iptek yang dikuasainya tersebut dapat dimanfaatkan bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri melainkan juga kemaslahatan orang lain bahkan warga dunia.

Ketiga, sebgai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta dan bangga pada tanah air. Cinta dicirikan oleh rasa memiliki yang kuat pada NKRI yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bangga diindikasikan oleh raihan prestasi yang disumbangkan pada NKRI demi kejayaan bangsa dan negara. Dengan tiga tujuan utama ini, pendidikan karakter bersifat komprehensif yang hendak menjadikan setiap anak bangsa memiliki watak yang menjunjung tinggi nilai ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan. Lebih dari itu, watak ketaqwaan, kesosialan, dan kebangsaan tidak dilakukan secara membabi buta melainkan dilaksanakan dengan penuh kesadaran karena ketiga watak ini disertai dengan watak keilmuan (curiousity)

Kearifan Lokal untuk Pendidikan Karakter

Disadari atau tidak, sungguh amat banyak nilai-nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat yang dapat dijadikan sebagai muatan pendidikan karakter. Nilai-nilai tradisi ini telah menjadi kearifan lokal yang walaupun berbeda-beda di antara suku-suku bangsa namun memiliki kesamaan yang sangat signifikan. Manakala nilai-nilai tradisional ini hendak disinkronkan dengan pendidikan karakter niscaya sangat sejalan dengan nilai inti dan tujuan pendidikan karakter.

Tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa kita, kepercayaan pada sesuatu yang supranatural menjadi bagian hidup dari kebanyakan suku bangsa. Sebelum Hindu sebagai agama yang pertama kali datang ke Indonesia, suku-suku bangsa di Tanah Air umumnya menganut animisme dan dinamisme. Mereka percaya bahwa di balik alam yang nyata itu ada kekuatan yang mengendalikan hidup mereka dan mereka memujanya. Lewat pemujaan itu mereka berharap kehidupan mereka, sanak familinya dan lingkungannya berjalan dengan baik. Atas dasar kepercayaan yang dianutnya mereka menata harmoni sosial mereka.

Ketika agama-agama masuk mulai dari Hindu, Budha, Konghucu, Kristen, dan Islam, kepercayaan bangsa Indonesia kepada tuhan semakin berkembang. Sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, setiap pemeluk agama percaya bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kuasa; sedangkan manusia harus tunduk dan patuh pada titahNya termasuk menghargai sesama dan melestarikan alam sekitar.

Selanjutnya kepercayaan kepada Tuhan itu bukan saja menjadi landasan spiritual serta tuntutan dan tuntunan ritual para pemeluknya, melainkan pula menjadi sumber nilai dan norma sosial seperti kejujuran, tolong menolong, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Seperti dimaklumi, salah satu pilar keimanan adalah percaya bahwa Tuhan maha melihat. Pilar inilah yang membuat pemeluk agama merasa harus selalu jujur. Pilar lainnya, setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Tuhan. Aspek inilah yang mendorong para pemeluk agama selalu mempertimbangkan setiap tindakannya: apakah sejalan dengan ajaran agama ataukah menyimpang. Sedangkan untuk sikap tolong menolong, setiap agama memerintahkannya minimal di anatara pemeluk agamanya masing-masing.

Di samping nilai dan norma yang bersumber dari agama, di tengah masyarakat kita dalam suku-suku bangsa Indonesia juga ada dan masih hidup nilai-nilai dan norma sosial yang bersumber dari adat. Biasanya kearifan lokal yang bersumber dari adat ini berbentuk pepatah petitih yang mengajarkan kebaikan seperti ajakan untuk menambah pengetahuan, dorongan untuk kerja keras, nasihat dalam mengumpulkan kekayaan, unggah ungguh berbahasa, cara menghormati orang lain, hingga ajaran melestarikan alam sekitar.

Secara turun temurun kearifan lokal yang bersumber dari adat istiadat itu, dan bersanding dengan kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, masih terus diwariskan dan sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat kita. Karena itu, ketika pendidikan karakter didengungkan ulang maka sejatinya kearifan lokal itu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan karakter. Sebaliknya pendidikan karakter ini merevitalisasi kearifan lokal untuk dimanfaatkan dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh karena tokoh-tokoh pemangku kearifan lokal ini pada dasarnya masih banyak, dan pada umumnya terdidik, maka sangat terbukalah peluang mereka untuk menyandingkan pendidikan karakter dan kearifan lokal. Bilamana kita mampu menyandingkan dalam arti menunjukkan bahwa pendidikan karakter sejalan dengan nilai tradisi kita sendiri, maka efektivitas pendidikan karakter akan cepat terasa. Semoga

Selasa, 18 Oktober 2011

KUMPULAN KATA BIJAK MARIO TEGUH


Ass. buat kawan2 penggemar Mario Teguh dengan Motivasinya...saya mau post beberapa kalimat Penggungah Inspirasi Mario Teguh...


Jika anda menasehatkan sesuatu yang belum pernah anda lakukan, cepat atau lambat anda akan diuji dengan apa yang anda nasehati. Nasehatkan tentang kesabaran, maka kesabaran anda akan diuji.
Orang yang menghindari kesalahan, tidak akan tumbuh.
Nikmatilah setiap proses kehidupan.
Orang lain adalah cermin. Ada dua jenis : cermin baik dan buruk. Cermin buruk, sebaik apapun diri kita, akan tetap memantulkan gambar diri yang bengkok. Itulah mengapa anda perlu bergaul dengan lingkungan yang baik
Budi Pekerti adalah tindakan baik yang didasari oleh tujuan yang baik. Tujuan kemanusiaan dari budi pekerti adalah agar anda berguna bagi sesama.
Jika hidup dan matiku untuk Tuhan, untuk saya apa? Anda dapat apa yang Tuhan miliki.
Kebesaran orang bukan ditentukan oleh besar kecil tubuhnya, melainkan besar kecil hatinya.
Tidak mungkin ada dua benda dalam satu ruang. Pilih apa yang hendak anda masukkan ke hati anda : kebaikan atau kejahatan?
Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan.
Penampilan terbaik dari seseorang adalah penampilan yang mewakili hati yang baik.
Manusia terindah adalah manusia yang bermanfaat untuk saudaranya.
Bagi pribadi yang tidak waspada dan tidak bersikap baik, dia bahkan akan menipu dirinya sendiri di hadapan pribadi yang mulia dan jujur kepadanya.
Harus datang akhir dari masa di mana orang mengambil keuntungan dari mengatakan dan melakukan yang tidak jujur kepada kita dan kepada mereka yang kita cintai.
Segala yang kita lakukan tidak ada yang tidak beresiko. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Ada beberapa panduan menyikapi resiko.
  • Resiko tidak seharusnya membuat kita ciut nyali, namun tidak seharusnya juga menjadikan diri sebagai orang yang tidak takut dosa.
  • Memilih sebuah hubungan adalah menerima resiko, cerminan diri kita dapat dilihat dari perilakunya terhadap kita.
  • Resiko seharusnya dapat membuat kita menjadi orang yang lebih baik.
  • Berfokuslah pada apa yang berani kita lakukan, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.
Jangan paksa orang untuk berubah. Berubah itu sulit. Berkasih sayanglah.
Perubahan itu tidak mudah, terutama untuk memperbaiki kualitas hidup.
Inginkanlah yang mudah, tetapi jangan lupakan keharusan mu untuk menjadi lebih kuat. Bukan pemberian yang mudah yang akan memudahkan hidup mu, tetapi kemampuan yang menjadikan mu pantas bagi semua pemberian besar – yang tidak mudah untuk didapat itu, yang akan menjadikan mu penegak kehidupan yang berjaya.
Lebih mudah meneruskan apa adanya, walau pun tidak mudah hidup dalam kesulitan. Maka jangan ganggu dia yang sulit berubah, walau pun itu untuk kebaikannya sendiri. Biarkanlah dia mengutamakan yang mudah sekarang, karena dia tidak keberatan dengan kesulitannya.
Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri ・lebih mudah untuk merasa sedih dan tidak berguna.
Tujuan hidup adalah sebuah ketetapan yang mendasari semua rencana dan kerja kita, dan yang menjadi penjaga arah perjalanan.
Kasih sayang itu sederhana. Tetapi, tidak sederhana perannya dalam mencantikkan kehidupan kita. Marilah kita mengikhlaskanlah diri untuk mengasihi pasangan kita sepenuhnya.
Jika kita sedang benar, jangan terlalu berani dan bila kita sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan kita.
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan.
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.
Kita hanya dekat dengan mereka yang kita sukai. Dan seringkali kita menghindari orang yang tidak tidak kita sukai, padahal dari dialah kita akan mengenal sudut pikiran yang baru.
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.
Jangan menolak perubahan hanya karena kita takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengannya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu.
Kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila kita berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama kita. Kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru.
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap kita tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap kita salah.
Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda.
Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, kita akan punya kesempatan untuk bersikap berani.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian kita dapat.
Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku seperti orang yang terus memeras jerami untuk mendapatkan santan.
Bila kita belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat kita, bakatilah apapun pekerjaan kita sekarang. Kita akan tampil secemerlang yang berbakat.
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai.
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan.
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,kita akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin kita capai.
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Bila kita mencari uang, kita akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik. Tetapi jika kita mengutamakan pelayanan yang baik, maka kitalah yang akan dicari uang.
Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai.
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai.
Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri.

Referensi :
http://www.isdaryanto.com

Senin, 17 Oktober 2011

Mari Belajar dengan Pendidikan di Finlandia


Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Bukan Amerika dengan Harvard-nya, bukan Jerman atau Perancis, atau juga Indonesia dengan ITB-nya…
Negara itu adalah FINLANDIA ! Negara dengan ibukota Helsinki (tempat ditandatanganinya perjanjian damai antara RI dengan GAM) ini memang begitu luar biasa.
Peringkat 1 dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA (Programme for International Student Assesment) mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika.
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental.
Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi No. 1 di pentas dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya. Finlandia tidaklah menggenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes.
Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.
Apa gerangan kuncinya?
Ternyata kuncinya terletak pada kualitas guru. Di Finlandia hanya ada guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.
Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima. Persaingannya lebih ketat daripada masuk ke Fakultas Hukum bahkan Fakultas Kedokteran!
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, Finlandia justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajarkan kepada siswa untuk semata lolos dari ujian, ungkap seorang guru di Finlandia.
Pada usia 18 tahun seorang siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi, dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
“Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri”, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Adanya terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan, dan mengakibatkan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.
Kelompok siswa yang lambat mendapat dukungan intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan penemuan PISA, pada sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki.
Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dan lain sebagainya. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.
Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya.
Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.





sumber dari : http://roumink.wordpress.com/2010/01/29/luar-biasa-negara-dengan-pendidikan-terbaik-dunia/

Sabtu, 24 September 2011

MENGEMBANGKAN NILAI – NILAI BUDI PEKERTI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS SETS (Science, Environmnet, Technology, Society)

ABSTRAK
Guru merupakan tokoh sentral dalam menjalankan setiap proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru tidak hanya dituntut harus mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Karenanya, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku (akhlak) peserta didik.Dengan demikian, seorang pendidik harus terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku peserta didik dalam upaya mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran. Jadi, upaya mendewasakan peserta didik yang mencakup akhlak (budi pekerti) dan kecerdasan pikiran tidak sebatas dilakukan di dalam ruang kelas. Pendekatan SETS adalah pendekatan yang menekankan keterkaitan sains yang diajarkan dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran berwawasan SETS mengarah pada pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik peduli terhadap lingkungan sekitar termasuk dalam interaksinya dengan masyarakat.

Kata Kunci: Pembelajaran, SETS¸Budi Pekerti

PENDAHULUAN
            Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat, pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga yang salah satu tugasnya mengupayakan agar peserta didik kelak menjadi manusia yang cerdas, cakap, trampil dan berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia) harus mempunyai format yang jelas dan efektif dalam mempengaruhi para peserta didik untuk mencapai tujuan tersebut, karena para peserta didik mempunyai kepribadian yang beraneka ragam sesuai dengan pengaruh orangtua, keluarga, dan masyarakatnya.
Peserta didik sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi cultural, 3) integrasi social, 4) inovasi, dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja (Rivai ,2003). Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan budi pekerti. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan budi pekerti di sekolah, antara lain : 1). Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2). Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3).Pendidikan budi pekerti sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral (Lickona, 1996).
Untuk menjalankan tugas tersebut sekolah membutuhkan seperangkat komponen guna memenuhi target proses pendidikan. Hal yang paling dibutuhkan untuk mewujudkan misi luhur tersebut adalah Sumber Daya Manusia yang bisa menjadi teladan bagi peserta didik dalam proses pendewasaannya. Sumber Daya yang ada di sekolah yang berpotensi dan menjadi ujung tombak perubahan tersebut adalah guru.
Guru merupakan tokoh sentral dalam menjalankan setiap proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru tidak hanya dituntut harus mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Karenanya, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku (akhlak) peserta didik.
Guru sebagai motivator dan inspirator budi pekerti bertugas memberikan dorongan atau stimulasi kepada peserta didiknya untuk bersikap dan bertutur laku dengan baik mengenai perilaku dan kecerdasan pikiran, dalam hal ini budi pekerti atau akhlak. Dengan demikian, seorang pendidik harus terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku peserta didik dalam upaya mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran. Jadi, upaya mendewasakan peserta didik yang mencakup akhlak (budi pekerti) dan kecerdasan pikiran tidak sebatas dilakukan di dalam ruang kelas. Ini berarti bahwa seorang guru tetap bertanggung jawab menjalankan perannya walaupun di luar jam mengajarnya. Dia berperan dalam pengembangan budi pekerti atau perilaku anak didiknya; bukan hanya sekadar bertumpu pada pengalihan informasi.
Untuk menjalankan peranannya sebagai motivator akhlak dalam proses belajar- mengajar, seorang guru harus memberikan contoh-contoh penerapan praktis dan konkret kepada anak didiknya. Karenanya, sudah otomatis ia harus mampu menunjukkan akhlaknya yang positif agar dapat dituruti peserta didiknya. Bukan hanya sekedar sebagai transformer materi akhlak semata. Hal ini, dirasa lebih efektif dan akan menimbulkan efek kepada peserta didik ketimbang ia hanya “mahir” dalam memberikan segudang materi pembelajaran akhlak.
Adanya perkembangan pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat memasuki era globalisasi di abad 21 ini, menjadikan persaingan antar-individu, antar-bangsa semakin ketat. Maka yang berkualitas lebih, bisa memenangkan persaingan ini. Mereka yang berkualitas antara lain adalah manusia-manusia yang mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya sehingga bisa “melek” ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan mampu mengikuti kemajuannya.
Melalui pendidikan, persiapan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut yang secara kualitatif cenderung meningkat. Pendidikan yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu generasi bangsa, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif serta mapan secara soft skill maupun hard skill dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan teknologi melalui berbagai dampak yang ditimbulkannya. (http://spiritentete.blogspot.com)
Pendekatan SETS adalah pendekatan yang menekankan keterkaitan sains yang diajarkan dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran berwawasan SETS mengarah pada pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik peduli terhadap lingkungan sekitar termasuk dalam interaksinya dengan masyarakat. (http://bidadariq-bidadariq.blogspot.com)
Hakekat dan Tujuan Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society), bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki kepanjangan Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat. SETS diturunkan dengan landasan filofofis yang mencerminkan kesatuan unsur SETS dengan mengingat urutan unsur-unsur SETS dalam susunan akronim tersebut.
HAKEKAT PENDIDIKAN SETS
Dalam konteks pendidikan SETS, urutan ringkasan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains ke bentuk teknologi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dipikirkan berbagai implikasi pada lingkungan secara fisik maupun mental.
Pendidikan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik. Program ini sekurang-kurangnya dapat membuka  wawasan peserta didik hakikat pendidikan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (SETS) secara utuh (Binadja, 1999: 3).

CAKUPAN PENDIDIKAN SETS
Pendidikan SETS mencakup topik dan konsep yang berhubungan dengan sains, lingkungan, teknologi dan hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat. SETS membahas tentang hal-hal bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas dan dapat dilihat. Membicarakan unsur-unsur SETS secara terpisah berarti perhatian khusus sedang diberikan pada unsur SETS tersebut. Dari unsur ini selanjutnya dicoba untuk menghubungkan keberadaan konsep sains dalam semua unsur SETS agar bisa didapatkan gambaran umum dari peran konsep tersebut dalam unsur-unsur SETS yang lainnya.

PENERAPAN PENDEKATAN SETS PADA PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Penerapan SETS dalam pembelajaran untuk tingkat sekolah disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta didik. Sebuah program untuk memenuhi kepentingan peserta didik harus dibuat dengan menyesuaikan tingkat pendidikan peserta didik tersebut. Topik-topik yang menyangkut isi SETS di luar materi pengajaran dipersiapkan oleh guru sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik.
Dalam pendidikan SETS, pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan SETS itu sendiri. Sejumlah ciri atau karakteristik dari pendekatan SETS (Binadja, 2000: 6) adalah:
1) Tetap memberi pengajaran sains.
2) Murid dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
3) Murid diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains ke bentuk teknologi.
4) Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang diperbincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi keterkaitan antara unsur tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi berkenaan.
5) Dalam konteks kontruktivisme murid dapat diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik bersangkutan.


Keuntungan pembelajaran menggunakan pendekatan SETS adalah:
a.       Dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan intelektualnya dalam berpikir logis dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari,
b.      Dapat membantu peserta didik mengenal dan memahami sains dan teknologi serta besarnya perana sains dan teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup dalam masyarakat,
c.       Dapat membantu peserta didik memperoleh prinsip-prinsip sains dan teknologi yang diperkirakan akan dijumpainya dalam kehidupan kelak,
d.      Peserta didik lebih bebas berkreativitas selama proses pembelajaran berlangsung.
Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS murid diminta menghubungkan antar unsur SETS. Maksudnya adalah murid menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda yang berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga memungkinkan murid memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS baik dalam bentuk kelebihan maupun kekurangannya. Hubungan tersebut dapat digambarkan
Gambar 1. Keterkaitan unsur-unsur SETS yang berfokus pada Science (Binadja, 1999).
Pendidikan bervisi SETS meyakini bahwa keempat elemen SETS itu saling memberi dalam hal positif dan negatif. Apabila para peserta didik selalu dibiasakan memikirkan keterkaitan positif dan negatif elemen-elemen SETS, maka otak mereka akan selalu berusaha menganalisis kondisi dan mensintesis sesuatu yang baru dan diarahkan pada perolehan kebaikan dalam langkah akhir.
Pendekatan SETS (Sains, Environment, Technology, and Society) atau dalam istilah Indonesianya SaLingTeMas singkatan dari Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat. Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS peserta didik diminta menghubungkaitkan antar unsur SETS. Yang dimaksudkan adalah peserta didik menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga memungkinkan peserta didik memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep  tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan ataupun kekurangannya.
Untuk bisa menghubungkaitkan antar unsur SETS, diperlukan pemikiran yang mendalam berupa identifikasi dan analisis tentang apa dan bagaimana konsep yang sedang dipelajari. Selanjutnya dipikirkan mengapa dan bagaimana konsep tersebut bisa digunakan pada teknologi yang terkait. Setelah itu diperlukan pertimbangan atau evaluasi berdasarkan fakta-fakta yang diketahui akan dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan dari pemanfaatan konsep sains ke bentuk teknologi terhadap lingkungan dan masyarakat, kemudian bagaimana peserta didik harus bersikap atau bertindak bila berhadapan/menemui keadaan atau masalah terkait dengan konsep yang telah dipelajarinya tersebut.
Dari gambaran tersebut terlihat bahwa diperlukan pemikiran yang terintegratif untuk belajar setiap elemen SETS, karena dalam prosesnya diperlukan keterampilan yang merupakan unsur dasar dalam berpikir kritis seperti keterampilan untuk untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mencari dan mengamati fakta-fakta yang dijumpai peserta didik terkait materi/konsep yang diajarkan. Dengan demikian kemampuan peserta didik untuk bertindak positif manakala mereka menemui kondisi di masyarakat akan tergali dan terlatih.
Pendekatan SETS kaitannya dengan mengasah budi pekerti anak dapat dijelaskan sebagai berikut, dalam pembelajaran dengan pendekatan SETS, peserta didik tidak hanya diajak untuk mempelajari sains saja tetapi juga diajak untuk memanfaatkan atau mempelajari pemanfaatan konsep sains yang sedang dipelajari ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat. Pemanfaatan atau penerapan konsep sains menghasilkan suatu produk teknologi dapat dikategorikan sebagai hasil dari proses kreatif. Dalam prosesnya diperlukan keterampilan-keterampilan yang merupakan sifat dari kemampuan berpikir kreatif, yaitu keluwesan, kelancaran, keaslian, penguraian ataupun perumusan kembali.
Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SETS, peserta didik tidak hanya diajak untuk berpikir tentang pemanfaatan konsep sains ke bentuk teknologi terkait, tetapi juga berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains yang sedang dipelajari ke bentuk teknologi terhadap masyarakat dan lingkungannya. Memikirkan kemungkinan akibat dari sesuatu hal, memerlukan kemampuan berpikir kreatif, dalam hal ini yang paling menonjol adalah penguraian (elaboration) dan kelancaran (fluency). Setelah itu peserta didik diajak untuk memecahkan masalah yang terkait dengan akibat negatif dari proses pentransferan tersebut. Diharapkan peserta didik dapat menemukan upaya meminimalkan dampak negatif yang ada atau menemukan solusi alternatif yang tidak merugikan. Dalam proses pemecahan masalah ini, peserta didik akan terangsang untuk menggunakan kemampuan kreatifnya danempatinya berupa ide/gagasan sesuai taraf kemampuannya.
Salah satu karakteristik pendekatan SETS yaitu mengajak peserta didik berbincang tentang SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar peserta didik, memungkinkan peserta didik untuk mencari dan menentukan salah satu atau beberapa unsur SETS yang diambilnya sebagai titik awal untuk membahas konsep yang sedang dipelajari. Dalam proses pencarian dan penemuan keterhubungkaitan antar unsur SETS tersebut diperlukan kemampuan empati peserta didik untuk menentukan hubungan antar unsur SETS dari masalah yang dipilihnya terkait konsep yang dipelajari. Hal ini juga dapat memperlihatkan keaslian atau orisinalitas dan keluwesan berpikir peserta didik.
KETERKAITAN PENDIDIKAN BERBASIS SETS DENGAN PENANAMAN BUDI PEKERTI PADA PESERTA DIDIK
            Dalam menanamkan nilai – nilai budi pekerti kepada peserta didik melalui proses pembelajaran yang berlangsung, seorang guru harus mampu mengemas pembelajaran tersebut mampu diterima peserta didik dengan baik. Oleh karena itu, pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran perlu diperjelas wujudnya. Di antaranya, hendaknya implementasi pendidikan budi pekerti bukan hanya pada ranah kognitif saja, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psikomotorik yang berupa sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, pembelajaran sebagai produk menyangkut tiga unsur, ialah ngerti, ngrasa, dan nglakoni, atau tri-nga. Ketiga unsur itu saling berkaitan. Ketiga unsur itu perlu diperhatikan, supaya nilai yang ditanamkan tidak tinggal sebagai pengetahuan saja tetapi sungguh menjadi tindakan seseorang.
Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan budi pekerti dengan menggunakan pendekatan SETS ,diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) peserta didik dalam menyisipkan pendidikan budi pekerti. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain :
1.      Mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan budi pekerti dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai,
2.      Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran pendidikan budi pekerti agar tercapai kematangan budi pekerti yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan budi pekerti perasaan budi pekerti,dan tindakan budi pekerti,
3.      Mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan budi pekerti peserta didik,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya,
4.      Mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai budi pekerti yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan,
5.      Mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar menyisipkan pendidikan budi pekerti di setiap proses KBM. (http://garduguru.blogspot.com)
Setelah melalui analisis tersebut, dalam membuat program pembelajaran guru juga bisa menyisipkan nilai – nilai budi pekerti dan isu – isu yang sedang dihadapi peserta didik saat ini terutama isu – isu sosial dan kemasyarakatan yang erat kaitannya dengan materi yang diberikan dan perkembangan budi pekerti peserta didik selanjutnya.
CONTOH MEMANFAATKAN PEMBELAJARAN BERWAWASAN SETS DALAM PEMBELAJARAN
            Dalam memanfaatkan pembelajaran berwawasan SETS dalam pembelajaran seorang guru harus mampu mengelaborasi berbagai komponen dalam pembelajarannya, sebagai contohnya diambil mata pelajaran Kimia dengan materi Pembelajaran Kimia Pokok Bahasan Hidrokarbon 1 dan Minyak Bumi.
a. Kajian Sains
Kajian sains pada pembelajaran ini membahas tentang pengertian, rumus umum, tata nama, sifat-sifat serta reaksi kimia dari alkana, alkena dan alkuna ditambah dengan proses terjadinya minyak bumi, komponen minyak bumi dan sekilas tentang petrokimia.
b. Kajian Teknologi
1) Pemanfaatan alkana
Alkana dapat digunakan sebagai: bahan bakar, pelarut, sumber hidrogen dan pelumas
2) Pemanfaatan alkena
Alkena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan plastik dan karet sintetis dan bahan baku pembuatan senyawa organik lain.
3) Pemanfatan alkuna
Alkuna digunakan dalam proses pengelasan logam dan pematangan buah secara cepat.
4) Teknik penyulingan minyak bumi dan pemanfaatan fraksi-fraksi minyak bumi.
c. Kajian Lingkungan
1) Menguntungkan
Lingkungan menyediakan sumber ladang gas dan minyak bumi.
2) Merugikan
a) Pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam menghasilkan senyawa CO, CO2, NOx, SOx yang bisa menimbulkan pencemaran udara.
b) Plastik menimbulkan pencemaran tanah karena sifatnya yang tidak bisa didegradasi.
c) Adanya timbal sebagai zat tambahan dalam bensin dapat menimbulkan pencemaran udara.
d) Kemungkinan lebih lanjut dari adanya oksida-oksida C, S, N hasil dari pembakaran bahan bakar fosil akan menimbulkan smog, hujan asam, pemanasan global.
d. Kajian Sosial Masyarakat
1) Menguntungkan
a) Kerosin atau minyak tanah merupakan bahan bakar yang relatif aman, praktis, mudah penyimpanan dan pemakaiannya sehingga bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.
b) Penggunaan LPG sebagai bahan bakar menghasilkan panas yang lebih baik dan tidak menimbulkan jelaga.
c) Alat-alat rumah tangga, mainan yang terbuat dari plastik harganya lebih murah, ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana, bentuk dan warnanya dapat dibuat bermacam-macam sehingga lebih menarik.
d) Dari senyawa alkena dapat dihasilkan berbagai macam plastik untuk bahan dasar pembuatan pipa, tali, dan perlengkapan rumah tangga.
e) Minyak bumi digunakan sebagai bahan bakar, bahan baku industri petrokimia dan lain-lain, menunjang dan melengkapi kebutuhan manusia.
2) Merugikan
a) Peningkatan kadar CO2 di udara menimbulkan peningkatan suhu udara membuat manusia cepat lelah dan haus sehingga mengganggu ativitas manusia.
b) Tanah yang tercemar plastik akan menjadi tandus dan tidak subur dapat menggangu pertumbuhan tanaman.
c) Pemanasan global dapat menimbulkan kerugian seperti perubahan iklim dan mencairnya sungkup es.
d) Timbal yang terserap tubuh manusia dapat menimbulkan kerusakan saraf.
e) Udara yang mengandung SO2 atau SO3 bila terhirup akan bereaksi dalam saluran pernafasan membentuk asam yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit, selain itu SO2 dan SO3 juga bisa menimbulkan hujan asam.
f) Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
e. Usaha Penanggulangan dampak negatif penggunaan hidrokarbon dan minyak bumi
1) Penanggulangan bahan pencemar akibat pembakaran.
2) Penanggulangan hujan asam.
3) Penanggulangan pencemaran tanah karena plastik.
4) Penanggulangan penipisan sumber minyak bumi

KESIMPULAN
            Dalam menanamkan nilai – nilai dan penanaman budi pekerti kepada peserta didik, tidak hanya pada pelajaran yang sifatnya social atau Keagamaan saja. Dalam mata pelajaran  yang berlatar belakang pengetahuan alam pun pendidik mampu menyisipkan dan menanamkan nilai – nilai budi pekerti yang mampu dielaborasikan dengan dampak yang ditimbulkan serta pencegahan yang bias dilakukan manakala hasil penggunaan teknologi tersebut dikembangkan dalam masyarakat.
Dalam pembelajaran berbasis SETS terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, adalah:
a.       Dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan intelektualnya dalam berpikir logis dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari,
b.      Dapat membantu peserta didik mengenal dan memahami sains dan teknologi serta besarnya perana sains dan teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup dalam masyarakat,
c.       Dapat membantu peserta didik memperoleh prinsip-prinsip sains dan teknologi yang diperkirakan akan dijumpainya dalam kehidupan kelak,
d.      Peserta didik lebih bebas berkreativitas selama proses pembelajaran berlangsung.
e.       Peserta didik dapat langsung mengaplikasikan nilai – nilai moral yang terdapat dalam proses yang dijalaninya selama pembelajaran berlangsung.



DAFTAR PUSTAKA
Rivai, Bachtiar.2003. Pendekatan Ketrampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta : Gramedia
Lickona, B. 1992. Models qf Teaching. Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon
Binadja, A. 1999. Hakekat dan Tujuan Pendidikan SETS dalam Konteks Kehidupan dan Pendidikan yang Ada. Makalah Semiloka Pendidikan SETS. RECSAM UNNES. Semarang 14 – 15 Desember 1999.
______. 2000. SETS (Science, Environment, Technology & Society ) dan Pembelajaran Biologi. Makalah Semiloka Pendidikan SETS. Recsamas Depdikbud- MGMP Bio SMU Kodia Semarang. Semarang 3 Juni 2000.