Hakikat
manusia berada di dunia ini adalah “bekerja”. Bekerja untuk apa? Bekerja untuk
memenuhi panggilan Tuhan yaitu beribadah kepadanya. Karena dengan bekerja kita
akan memiliki banyak kesempatan untuk beribadah baik secara vertical maupun
Horisontal. Ada sebuah ungkapan yang menyatakan “Manusia yang tiada artinya
adalah manusia yang tidak menggunakan anugerah dan rezekinya untuk bekerja, dan
letak kemuliaan manusia itu dilihat dari apakah ia bekerja atau tidak”.
Namun
yang menjadi catatan adalah, apakah pekerjaan yang kita laksakanan selama ini
mampu meningkatkan dan memperbaiki derajat kita sebagai manusia yang hakiki?,
ataukah pekerjaan yang kita lakukan ini hanya bernilai materi (baca: uang) dan
tidak membuahkan apa – apa disisi Tuhan. Alangkah baiknya perlu kita koreksi
lagi hal ini, karena jangan sampai apa yang kita lakukan selama ini berakibat
kesis – siaan semata.
Salah
satu indikator pekerjaan kita bernilai ibadah adalah pekerjaan itu mampu
memberi manfaat yang positif baik terhadap diri sendiri terlebih kepada
lingkungan sekitar. Dengan kata lain, kehadiran kita dengan aktivitas yang
dikerjakan mampu menjaga Kehormatan, Harta, dan tidak merugikan orang lain
itulah dikatakan bekerja yang bernilai ibadah. Terlebih lagi bisa meningkatkan
derajat, harkat dan harta orang sekitar itulah yang disebut bekerja sebagai
ibadah.
Ada
orang yang bekerja seharian penuh di tempat kerja dengan sekuat tenaga dan
pikiran seolah ia telah berbuat sesuatu kepada lingkungan dan diri sendiri
namun ia melupakan nilai – nilai sosial dan hakikat dari pekerjaannya belumlah
dikatakan ia dikategorikan sebagai bekerja yang bernilai ibadah.Sudah banyak
teori – teori yang mengungkapkan bagaimana kerja kita bernilai ibadah, Spiritual Working, Holistic Working, atau sejenisnya. Namun kalau kita perhatikan ada
satu benang merah yang bisa membuat kerja kita bermanfaat denga sendirinya
adalah bekerja dengan Cinta.
Bekerja
dengan Cinta, apa maksudnya? Bukankah cinta adalah sesuatu yang abstrak dan pengertiannya
cenderung bias bagi setiap manusia. Dan hal ini hanya bisa dirasakan setiap orang dan tidak
bisa didefinisikan terlebih dirumuskan secara rinci dan teknis untuk
mengaplikasikannya. Bolehlah kita mengatakan hal itu. Namun setidaknya ada
konsensus dan kesepakatan – kesepakatan umum mengenai hal ini. Ada satu hal
yang menjadi kata kunci dalam memaknai kata Cinta adalah ketulusan. Karena dengan ketulusan ini kita tidak akan memikirkan
imbalan selain Ridho Tuhan atas pekerjaan kita.
Secara
sederhana, bekerja dengan rasa cinta berarti menyatukan diri dengan kita
sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan. Tapi bagaimanakah bekerja
dengan rasa cinta itu ? Secara Teknis bisa diartikan kita menyukai pekerjaan
dan aspek – aspek serta segala hal yang menyertai pekerjaan kita.
Yang
pertama, sukai pekerjaan kita. Apabila kita tidak menyukai pekerjaan yang
dianugerahkan Tuhan kepada kita mustahil pekerjaan itu akan membawa manfaat
serta bisa meninggikan derajat kita dimata Tuhan. Semakin kita menyukai
pekerjaan yang merupakan lahan ibadah kepada Tuhan, maka ide serta inovasi akan
mengalir secara alami. Ketulusan akan pekerjaan akan muncul dengan sendirinya.
Yang
menjadi persoalan bila kita sudah tidak lagi “menyukai” pekerjaan itu, maka
Cintailah orang – orang yang bekerja disana. Rasakan persahabatan dan
pertemanan serta persaudaraan dengan orang – orang itu. Karena dengan menjalin
persaudaraan dengan orang – orang itu minimal kita bisa menjalin sebuah ikatan
saudara untuk melapangkan area kita beribadah kepada Tuhan. Maka pekerjaanpun
lambat laun akan menjadi menyenangkan.
Bila
hal ini belum juga menumbuhkan rasa cinta kepada pekerjaan anda, maka Cintailah
suasana dan lokasi anda bekerja. Hal ini bisa mendorong anda untuk bergairah
berangkat kerja dan melakukan tugas – tugas dengan lebih baik lagi. Bila hal
ini belum juga membuat anda mencintainya, cintai setiap pengalaman pulang dan
pergi ke tempat kerja. Dalam perjalanan mungkin kita akan berjumpa dan menyapa
orang – orang yang bisa menggairahkan dan membuat lebih bersyukur dengan apa
yang kita miliki bila dibandingkan dengan orang lain yang belum memiliki
pekerjaan. Karena perjalanan yang menyenangkan akan menjadikan tujuan tampak
menyenangkan juga.
Namun
apabila disana anda tidak menyenangkan kebahagiaan juga, maka cintai apapun
yang bisa anda cintai dari aspek apapun kerja anda entah itu hal – hal kecil,
misalnya tanaman penghias meja dikantor anda, atau gumpalan dibalik awan ketika
anda melihat keluar jendela ruangan kerja anda.
Apa saja, bila anda tak menemukan yang tidak
bisa anda cintai dari setiap aspek pekerjaan anda, kesimpulan akhir “Mengapa
anda tetap berada disitu?”. Tak ada alasan bagi anda untuk bertahan. Karena
untuk bisa merasakan kebahagiaan dan cinta dalam memaknai pekerjaan sebagai
lahan untuk meninggikan derajat manusia dan Bekerja kita harus Mencintai Pekerjaan dan segala aspek yang
menyertainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar