Kata ‘logika’ mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi apakah itu logika…..?
Dalam hidup sehari-hari kita mungkin sering mengartikannya ‘menurut akal’, seperti orang berkata :
“langkah yang diambilnya itu logis”, atau “menurut logika ia harus marah”. Tapi apakah logika itu……?
Dalam hidup sehari-hari kita mungkin sering mengartikannya ‘menurut akal’, seperti orang berkata :
“langkah yang diambilnya itu logis”, atau “menurut logika ia harus marah”. Tapi apakah logika itu……?
Logika
Logika secara istilah dapat kita katakan sebagai : suatu metode atau
teknik yang digunakan untuk meneliti ketepatan pemikiran (1). Atau
dengan kata lain logika adalah alat yang kita gunakan untuk menghasilkan
kesimpulan. Kemampuan ini sangat bervariatif dan sangat bergantung dari
level evolusi yang ada. Makin tinggi level evolusinya maka kemampuannya
menyimpulkan makinlah tinggi (2). Seekor tikus mungkin perlu berberapa
kali terperangkap hingga sadar untuk tidak terperangkap lagi, sedangkan
keledai mungkin cuma perlu satu kali saja. Untuk itu jika kita ingin
memahami apakah itu logika kita harus memiliki pengertian tentang
penalaran. Penalaran adalah bentuk dari pemikiran, adapun bentuk yang
lain adalah pengertian atau konsep (conseptus;concept), preposisi atau
pernyataan (propositio;statement) dan penalaran (ratiocinium;resoning).
Tidak ada preposisi tanpa pengertian dan tidak ada penalaran tanpa
pengertian. Hingga untuk memahami penalaran ketiga bentuk pemikiran
harus dipahami bersama.
Pengertian adalah sesuatu yang abstrak. Dari fenomena yang ada kita harus membuatnya menjadi
suatu abstraksi, baik itu berupa simbol, lambang, lambang hingga ke
bahasa. Bahasa merupakan suatu abstraksi yang yang paling tinggi
kemampuan (3). Bersama dengan observasi empirik yang ada, tidak hanya
akan terbentuk suatu pengertian, tetapi juga timbul sejumlah rangkaian
term-term. Rangkaian pengertian inilah yang nantinya akan membentuk
suatu preposisi, yang sifatnya akan sangat konkret, baru dari sini kita
baru bisa melakukan proses penalaran. Sesuai dengan ungkapan Hegel "the truth is always concrete" (4).
Proses penalaran pada dasarnya telah ada sejak zaman purba, yang paling
tua adalah generalisasi. Seorang manusia purba ketika melihat langit
mendung pada hari X, kemudian hujan. Hal ini terus berlanjut pada hari
berikutnya terus-terus. Hingga tertanam sebuah kesimpulan dibenaknya
dibenaknya “Jika langit mendung maka hari akan hujan”. Namun seiring
dengan kemajuan manusia, konsep penyimpulan ini mulai dibakukan. Catatan
yang paling tua dan sistematis dihasilkan di Yunani, mulai dari
Socrates dan PLato yang lebih abstrak hingga ke Aristoteles yang relatif
lebih baku (5). Karena pembakuannya inilah hingga Aristoteles dianggap
orang sebagai bapak logika. Logika Aristoteles dibangun dengan 2 buah
aksioma dasar yaitu
A ≠ -A
A = - (-A)
A = - (-A)
Dari aksioma ini Aristoteles menghasilkan sebuah teori yang sangat besar sumbangannya dalam science modern ‘prior analysis’(6).
Dari konsep dasar analisis ini nantinya dikembangkan sejumlah konsep
matematika seperti aljabar set, teori bilangan, fungsi, hingga limit
yang melahirkan kalkulus nantinya(7). Dari konsep kalkulus ini lalu
lahir sejumlah teori besar seperti mekanika Newton yang aplikasinya
digunakan luas pada keilmuan praksis seperti ilmu tehnik. Wajar hingga Luce mengatakan kepada kita:
"God has not been so sparing to men as to make them barely two-legged creatures,
and left it to Aristotle to make them rational."
- Quoted in A. A. Luce, Logic-
and left it to Aristotle to make them rational."
- Quoted in A. A. Luce, Logic-
Pemahaman
akan hal ini melahirkan 2 aliran besar yaitu kaum rasionalitasme dan
empirisme. Kaum rasional yang dimotori oleh Decrates, Spinoza dan
Leibniz serta sejumlah pemikir lain yang kebanyakan berada di dataran
eropa. Mereka memandang subjek sebagai suatu entitas otonom dan realitas
(objek) hanyalah bayangan-bayangan yang ada dikepala. Ketika kita
melihat sebuah apel, sesungguhnya hal itu (apel) telah ada dalam
bayangan kita, yang jargonya terkenal “aku berpikir, berarti aku ada”.
Hal ini membuat kaum rasionalisme memandang bahwa kebenaran itu jika ia
dapat dibuktikan secara rasional, tanpa memperdulikan realita yang ada.
Sedangkan kaum empirisme yang dimotori oleh Hume, Barkeley dan para
pemikir dataran Inggris lainnya memandang bahwa apa yang ditangkap oleh
subjek itu terjadi karena pancaran/pendekatan dari objek. Kita dapat
melihat sebuah botol, karena botol itu memancarkan cahaya ke mata kita.
Jadi menurut kaum empiris, kebenaran itu hanya didapat jika kita
mengujinya/menangkapnya dari realita yang ada di dunia nyata. Dua aliran
ini menimbulkan perdebatan panjang dan berlarut di eropa.
Hingga
dengan munculnya Immanuel Kant (8) yang mendamaikan keduanya. Ia
mengatakan bahwa kebenaran itu bukan karena pendekatan sebjek sendiri
atau karena objek yang mendekati subjek, melainkan karena subjek itu
sendirilah yang mendekati objek. Kita melihat botol, karena mata kita
yang melihatnya. Hingga dalam mencari kebenaran kita dapat melakukannya
dengan menurunkannya secara rasional ataupun dengan mengujinya secara
empirik. Adapun konsep pengetahuan yang ada di zaman modern saat ini
adalah konsep yang ditelurkan oleh Immanuel Kant. Science bisa didapat
secara empirik, ataupun dengan menurunkannya secara rasional. Matematika
umumnya masih menggunakan pendekatan rasional, sedangakan fisika dan
kimia secara rasional dan empirik. Contonya pada persamaan fisika
seperti contoh berikut :
Dari persaman y = a x dan x = u + v
kita akan dapat menurunkan rumusan (secara rasional)
: y = a (u +v)
kita akan dapat menurunkan rumusan (secara rasional)
: y = a (u +v)
Landasan yang berbeda inilah yang membuat perbedaan mendasar antara
fisika dan matematika, sebuah pernyataan dimatematika akan benar cukup
dengan membuktinya secara logis sedangkan fisika dan kimia perlu
dibuktikan dulu di alam, seperti pada gambaran berikut :
Secara matematika kita dapat menyatakan dari y = a (u +v)
: y = au + av
sedangkan secara fisis y = a (u +v) ada kemungkinan
ia tidak sama dengan au + av hingga
y = a (u +v) ≠ au + av
misalnya karena av atau au itu tidak ada dialam
: y = au + av
sedangkan secara fisis y = a (u +v) ada kemungkinan
ia tidak sama dengan au + av hingga
y = a (u +v) ≠ au + av
misalnya karena av atau au itu tidak ada dialam
Konsep epistemologi baru yang disusun oleh Immanuel Kant ini memberikan
suatu bangunan besar kepada kita yaitu science modern yang ada
sekarang. Akan tetapi ada suatu pertanyaan lanjutan kepada kita yaitu,
apakah dengan ini semua persoalan bisa diselesaikan dengan logika……?
Dialektika
Dari pertanyaan berikut dapat dijawab dengan menggunakan logika
1. Apakah AS negara adidaya..?
2. Apakah air mendidih pada suhu 99,99 oC….?
Menjawab pertanyaan pertama diatas kita mungkin akan langsung menjawab ya. Tapi benarkah ya..? Apakah tahun 1920 AS adalah negara adidaya…? Pertanyaan kedua mungkin akan langsung kita jawab tidak, tapi bagaimanakah jika tekananya berubah atau kita berikan ia garam ..? Artinya kedua persoalan diatas tidak dapat dijawab langsung dengan logika karena ada variabel waktu dan kualitas. Ternyata AS tahun 1920 tidak sama dengan AS tahun 2003, ternyata 1 Kg ice-cream coklat tidak sama dengan 1 Kg ice-cream durian. Artinya preposisi yang ada itu tidaklah mutlak sepanjang waktu, ia berubah dan akan selalu berubah.
1. Apakah AS negara adidaya..?
2. Apakah air mendidih pada suhu 99,99 oC….?
Menjawab pertanyaan pertama diatas kita mungkin akan langsung menjawab ya. Tapi benarkah ya..? Apakah tahun 1920 AS adalah negara adidaya…? Pertanyaan kedua mungkin akan langsung kita jawab tidak, tapi bagaimanakah jika tekananya berubah atau kita berikan ia garam ..? Artinya kedua persoalan diatas tidak dapat dijawab langsung dengan logika karena ada variabel waktu dan kualitas. Ternyata AS tahun 1920 tidak sama dengan AS tahun 2003, ternyata 1 Kg ice-cream coklat tidak sama dengan 1 Kg ice-cream durian. Artinya preposisi yang ada itu tidaklah mutlak sepanjang waktu, ia berubah dan akan selalu berubah.
Hal ini membuat aksioma dasar yang dibangun oleh Aristoteles salah.
Ternyata A mungkin saja sama dengan –A atau bahkan A bisa menjadi B
sesuai dengan prinsip Heraclitus yang mengatakan kepada kita "everything flows"(9).
Untuk itulah kita memerlukan proses pembenturan terus menerus yang
nantinya akan melahirkan konsep dialektika. Orang pertama yang membangun
ide dialektika tersebut adalah Hegel(10). Ia mengatakan bahwa
kontradiksi dialektik adalah titik sentral dalam pemahaman alam. Hal
yang sangat membedakan dialektika Hegel dengan logika Klasik adalah pada
logika klasik tidak dipercayainya prinsip kontradiksi, sedangkan dalam
konsep dialektika Hegel dimungkinkan. Ia nanti menyusun kerangka ini
dalam rantai tesis, sintesi dan antitesi seperti gambar dibawah ini.
Aplikasi sederhananya begini misalnya kita hendak menjawab pertanyaan
apakah air pada suhu 100C cair atau uap. Kita perlu mengetahui kondisi
pemanasan yang ada terlebih dahulu. Pada titik awal ia di 100 % air akan
cair dan pada titik akhir di ia 100% akan uap. Tesis yang menyatakan
bahwa air itu mendidih pada suhu 100 oC ternyata harus kita benturkan
terlebih dahulu dengan kondisi pemanasan yang ada, hingga ia menjadi
sintesa baru. Kemudian sistesa ini akan berubah menjadi suatu tesis
baru, lalu tesis ini dilawan lagi dengan antitesa yang lain, misalnya
tekanan, dan seterusnya, hingga menjadi tesis baru, lalu kita berikan
antitesa baru misalnya ada tidaknya garam terus ….. dan rantai ini tidak
akan pernah berhenti nantinya.
Konsep ini juga merasuki fisika, misalnya pada fisika kuantum. Teori
ini didasarkan pada suatu asas ketidakpastian sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Heisenberg (11). Dalam asas ini ia menyebutkan bahwa
ketika kita dapat mengetahui kecepatan elektron, maka kita tidak akan
mengetahui posisinya, tetapi jika kita mengetahui posisinya maka kita
tidak akan pernah mengetahui kecepatannya. Hingga yang dapat kita
lakukan adalah melakukan estimasi daerah-daerah yang mungkin. Kebenaran
ternyata hanyalah suatu kemungkinan-kemungkinan. Cara pandang terhadap
alam yang tadinya deterministik berubah total.
Konsep dialektika ini nantinya menghasilkan suatu revolusi yang sangat
besar didalam perkembangan science. Dari pemikiran ini lahir sejumlah
revolusi diberbagai bidang seperti Einstein di fisika, Darwin di
biologi, hingga ke Mendeleyev di kimia (12). Pandangan terhadap science
yang kaku dan statis berubah menjadi cara memandang science dan realita
itu sebagai sesuatu hal yang dinamis dan berubah-ubah. Munculnya konsep
dialektika akankah meruntuhkan logika….? Jika logika itu seperti film ,
ia dapat menangkap hal yang bersifat terisolasi dan statis. Sedangkan
dialektika itu seperti video, ia menangkap hal yang bersifat terisolasi
tetapi dinamis. Hingga untuk kasus pengkuatan sruktur, seperti pada
metode analisis di matematika dan pengkuatan sruktur dialektika itu
sendiri, logika masih berperan vital
Apakah Logika dan Dialektika Cukup ?
Suatu hal yang selalu menghantui kita sebagai mahluk yang selalu ingin
tahu adalah apakah logika dan dialektika itu cukup….? Hal ini ternyata
masih jauh dari selesai, ada banyak paradok yang akan kita jumpai dalam
keduanya seperti pada ‘liar paradox’ hingga kepandangan tentang tanda
yang tidak sama. Untuk itu harus dilanjutkan pada kajian lebih jauh
yaitu dalam kajian logika modern, postsrukturalis, epistemologi lanjut
hingga ke kajian tentang logika matematika lanjut
Referensi:
- Materialisme, Dialektika dan Logika (MADILOG), Tan Malaka Teplok : 2000
- Real Analysis (Buku pegangan mata kuliah analisis real di jurusan matematika ITB) , Robert G. Bartle dan
- Real Analysis (Buku pegangan mata kuliah analisis real di jurusan matematika ITB) , Robert G. Bartle dan
Donald Sherbert, John Wiley : 1994
- A History Of Formal Logic, I. M. Bochensky, University Of Dame Press : 1961
- A History Of Formal Logic, I. M. Bochensky, University Of Dame Press : 1961
Catatan Kaki:
(1) Logika Dasar, Tradisional, Dimbolik dan Induktif. Oleh R. G. Soekadijo, Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta : 1999
(2) Trotsky, Writings, 1939-40
(3) Formal Logic and Dialectics, http://www.marxist.com/science/logicanddialectics.html
(4) Hegel, Science of Logic, Vol. 1
(2) Trotsky, Writings, 1939-40
(3) Formal Logic and Dialectics, http://www.marxist.com/science/logicanddialectics.html
(4) Hegel, Science of Logic, Vol. 1
(5) I. M. Bochensky, A History Of Formal Logic, University Of Dame Press : 1961
(6) Ibid
(7) Real Analysis, Bartle dan Sherbert, John Wiley, Singapore : 1994
(8) Dalam bukunya yang begitu terkenal, Critique Pure Reason (1787)
(6) Ibid
(7) Real Analysis, Bartle dan Sherbert, John Wiley, Singapore : 1994
(8) Dalam bukunya yang begitu terkenal, Critique Pure Reason (1787)
(9) I. M. Bochensky, A History Of Formal Logic, University Of Dame Press : 1961
(10) Falsafatuna, ASH-Shadr
(10) Falsafatuna, ASH-Shadr
(11) Uncertainty and Idealism, http://www.marxist.com/science/uncertaintyandidealism.html
(12) Dialectical Materialism
(12) Dialectical Materialism
makalah disampaikan pada Pengantar Kajian Organon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar