Senin, 23 Juli 2012

Dari Logika Hingga Ke Dialektika

Kata ‘logika’ mungkin sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tapi apakah itu logika…..?
Dalam hidup sehari-hari kita mungkin sering mengartikannya ‘menurut akal’, seperti orang berkata :
“langkah yang diambilnya itu logis”, atau “menurut logika ia harus marah”. Tapi apakah logika itu……?

Logika
         Logika secara istilah dapat kita katakan sebagai : suatu metode atau teknik yang digunakan untuk meneliti ketepatan pemikiran (1). Atau dengan kata lain logika adalah alat yang kita gunakan untuk menghasilkan kesimpulan. Kemampuan ini sangat bervariatif dan sangat bergantung dari level evolusi yang ada. Makin tinggi level evolusinya maka kemampuannya menyimpulkan makinlah tinggi (2). Seekor tikus mungkin perlu berberapa kali terperangkap hingga sadar untuk tidak terperangkap lagi, sedangkan keledai mungkin cuma perlu satu kali saja. Untuk itu jika kita ingin memahami apakah itu logika kita harus memiliki pengertian tentang penalaran. Penalaran adalah bentuk dari pemikiran, adapun bentuk yang lain adalah pengertian atau konsep (conseptus;concept), preposisi atau pernyataan (propositio;statement) dan penalaran (ratiocinium;resoning). Tidak ada preposisi tanpa pengertian dan tidak ada penalaran tanpa pengertian. Hingga untuk memahami penalaran ketiga bentuk pemikiran harus dipahami bersama.
  
           Pengertian adalah sesuatu yang abstrak. Dari fenomena yang ada kita harus membuatnya menjadi suatu abstraksi, baik itu berupa simbol, lambang, lambang hingga ke bahasa. Bahasa merupakan suatu abstraksi yang yang paling tinggi kemampuan (3). Bersama dengan observasi empirik yang ada, tidak hanya akan terbentuk suatu pengertian, tetapi juga timbul sejumlah rangkaian term-term. Rangkaian pengertian inilah yang nantinya akan membentuk suatu preposisi, yang sifatnya akan sangat konkret, baru dari sini kita baru bisa melakukan proses penalaran. Sesuai dengan ungkapan Hegel "the truth is always concrete" (4).
         Proses penalaran pada dasarnya telah ada sejak zaman purba, yang paling tua adalah generalisasi. Seorang manusia purba ketika melihat langit mendung pada hari X, kemudian hujan. Hal ini terus berlanjut pada hari berikutnya terus-terus. Hingga tertanam sebuah kesimpulan dibenaknya dibenaknya “Jika langit mendung maka hari akan hujan”. Namun seiring dengan kemajuan manusia, konsep penyimpulan ini mulai dibakukan. Catatan yang paling tua dan sistematis dihasilkan di Yunani, mulai dari Socrates dan PLato yang lebih abstrak hingga ke Aristoteles yang relatif lebih baku (5). Karena pembakuannya inilah hingga Aristoteles dianggap orang sebagai bapak logika. Logika Aristoteles dibangun dengan 2 buah aksioma dasar yaitu
A ≠ -A
A = - (-A) 
           Dari aksioma ini Aristoteles menghasilkan sebuah teori yang sangat besar sumbangannya dalam science modern ‘prior analysis’(6). Dari konsep dasar analisis ini nantinya dikembangkan sejumlah konsep matematika seperti aljabar set, teori bilangan, fungsi, hingga limit yang melahirkan kalkulus nantinya(7). Dari konsep kalkulus ini lalu lahir sejumlah teori besar seperti mekanika Newton yang aplikasinya digunakan luas pada keilmuan praksis seperti ilmu tehnik. Wajar hingga Luce mengatakan kepada kita:
 "God has not been so sparing to men as to make them barely two-legged creatures,
and left it to Aristotle to make them rational."
- Quoted in A. A. Luce, Logic-

Pemahaman akan hal ini melahirkan 2 aliran besar yaitu kaum rasionalitasme dan empirisme. Kaum rasional yang dimotori oleh Decrates, Spinoza dan Leibniz serta sejumlah pemikir lain yang kebanyakan berada di dataran eropa. Mereka memandang subjek sebagai suatu entitas otonom dan realitas (objek) hanyalah bayangan-bayangan yang ada dikepala. Ketika kita melihat sebuah apel, sesungguhnya hal itu (apel) telah ada dalam bayangan kita, yang jargonya terkenal “aku berpikir, berarti aku ada”. Hal ini membuat kaum rasionalisme memandang bahwa kebenaran itu jika ia dapat dibuktikan secara rasional, tanpa memperdulikan realita yang ada. Sedangkan kaum empirisme yang dimotori oleh Hume, Barkeley dan para pemikir dataran Inggris lainnya memandang bahwa apa yang ditangkap oleh subjek itu terjadi karena pancaran/pendekatan dari objek. Kita dapat melihat sebuah botol, karena botol itu memancarkan cahaya ke mata kita. Jadi menurut kaum empiris, kebenaran itu hanya didapat jika kita mengujinya/menangkapnya dari realita yang ada di dunia nyata. Dua aliran ini menimbulkan perdebatan panjang dan berlarut di eropa.


Hingga dengan munculnya Immanuel Kant (8) yang mendamaikan keduanya. Ia mengatakan bahwa kebenaran itu bukan karena pendekatan sebjek sendiri atau karena objek yang mendekati subjek, melainkan karena subjek itu sendirilah yang mendekati objek. Kita melihat botol, karena mata kita yang melihatnya. Hingga dalam mencari kebenaran kita dapat melakukannya dengan menurunkannya secara rasional ataupun dengan mengujinya secara empirik. Adapun konsep pengetahuan yang ada di zaman modern saat ini adalah konsep yang ditelurkan oleh Immanuel Kant. Science bisa didapat secara empirik, ataupun dengan menurunkannya secara rasional. Matematika umumnya masih menggunakan pendekatan rasional, sedangakan fisika dan kimia secara rasional dan empirik. Contonya pada persamaan fisika seperti contoh berikut :

Dari persaman y = a x dan x = u + v
kita akan dapat menurunkan rumusan (secara rasional)
: y = a (u +v)

            Landasan yang berbeda inilah yang membuat perbedaan mendasar antara fisika dan matematika, sebuah pernyataan dimatematika akan benar cukup dengan membuktinya secara logis sedangkan fisika dan kimia perlu dibuktikan dulu di alam, seperti pada gambaran berikut :


Secara matematika kita dapat menyatakan dari y = a (u +v)
: y = au + av
sedangkan secara fisis y = a (u +v) ada kemungkinan
ia tidak sama dengan au + av hingga
y = a (u +v) ≠ au + av
misalnya karena av atau au itu tidak ada dialam

           Konsep epistemologi baru yang disusun oleh Immanuel Kant ini memberikan suatu bangunan besar kepada kita yaitu science modern yang ada sekarang. Akan tetapi ada suatu pertanyaan lanjutan kepada kita yaitu, apakah dengan ini semua persoalan bisa diselesaikan dengan logika……?

Dialektika
 
Dari pertanyaan berikut dapat dijawab dengan menggunakan logika
            1. Apakah AS negara adidaya..?
             2. Apakah air mendidih pada suhu 99,99 oC….?
           Menjawab pertanyaan pertama diatas kita mungkin akan langsung menjawab ya. Tapi benarkah ya..? Apakah tahun 1920 AS adalah negara adidaya…? Pertanyaan kedua mungkin akan langsung kita jawab tidak, tapi bagaimanakah jika tekananya berubah atau kita berikan ia garam ..? Artinya kedua persoalan diatas tidak dapat dijawab langsung dengan logika karena ada variabel waktu dan kualitas. Ternyata AS tahun 1920 tidak sama dengan AS tahun 2003, ternyata 1 Kg ice-cream coklat tidak sama dengan 1 Kg ice-cream durian. Artinya preposisi yang ada itu tidaklah mutlak sepanjang waktu, ia berubah dan akan selalu berubah.
             Hal ini membuat aksioma dasar yang dibangun oleh Aristoteles salah. Ternyata A mungkin saja sama dengan –A atau bahkan A bisa menjadi B sesuai dengan prinsip Heraclitus yang mengatakan kepada kita "everything flows"(9). Untuk itulah kita memerlukan proses pembenturan terus menerus yang nantinya akan melahirkan konsep dialektika. Orang pertama yang membangun ide dialektika tersebut adalah Hegel(10). Ia mengatakan bahwa kontradiksi dialektik adalah titik sentral dalam pemahaman alam. Hal yang sangat membedakan dialektika Hegel dengan logika Klasik adalah pada logika klasik tidak dipercayainya prinsip kontradiksi, sedangkan dalam konsep dialektika Hegel dimungkinkan. Ia nanti menyusun kerangka ini dalam rantai tesis, sintesi dan antitesi seperti gambar dibawah  ini.

           Aplikasi sederhananya begini misalnya kita hendak menjawab pertanyaan apakah air pada suhu 100C cair atau uap. Kita perlu mengetahui kondisi pemanasan yang ada terlebih dahulu. Pada titik awal ia di 100 % air akan cair dan pada titik akhir di ia 100% akan uap. Tesis yang menyatakan bahwa air itu mendidih pada suhu 100 oC ternyata harus kita benturkan terlebih dahulu dengan kondisi pemanasan yang ada, hingga ia menjadi sintesa baru. Kemudian sistesa ini akan berubah menjadi suatu tesis baru, lalu tesis ini dilawan lagi dengan antitesa yang lain, misalnya tekanan, dan seterusnya, hingga menjadi tesis baru, lalu kita berikan antitesa baru misalnya ada tidaknya garam terus ….. dan rantai ini tidak akan pernah berhenti nantinya. 
              Konsep ini juga merasuki fisika, misalnya pada fisika kuantum. Teori ini didasarkan pada suatu asas ketidakpastian sesuai dengan yang dikemukakan oleh Heisenberg (11). Dalam asas ini ia menyebutkan bahwa ketika kita dapat mengetahui kecepatan elektron, maka kita tidak akan mengetahui posisinya, tetapi jika kita mengetahui posisinya maka kita tidak akan pernah mengetahui kecepatannya. Hingga yang dapat kita lakukan adalah melakukan estimasi daerah-daerah yang mungkin. Kebenaran ternyata hanyalah suatu kemungkinan-kemungkinan. Cara pandang terhadap alam yang tadinya deterministik berubah total.
           Konsep dialektika ini nantinya menghasilkan suatu revolusi yang sangat besar didalam perkembangan science. Dari pemikiran ini lahir sejumlah revolusi diberbagai bidang seperti Einstein di fisika, Darwin di biologi, hingga ke Mendeleyev di kimia (12). Pandangan terhadap science yang kaku dan statis berubah menjadi cara memandang science dan realita itu sebagai sesuatu hal yang dinamis dan berubah-ubah. Munculnya konsep dialektika akankah meruntuhkan logika….? Jika logika itu seperti film , ia dapat menangkap hal yang bersifat terisolasi dan statis. Sedangkan dialektika itu seperti video, ia menangkap hal yang bersifat terisolasi tetapi dinamis. Hingga untuk kasus pengkuatan sruktur, seperti pada metode analisis di matematika dan pengkuatan sruktur dialektika itu sendiri, logika masih berperan vital

Apakah Logika dan Dialektika Cukup ?
           Suatu hal yang selalu menghantui kita sebagai mahluk yang selalu ingin tahu adalah apakah logika dan dialektika itu cukup….? Hal ini ternyata masih jauh dari selesai, ada banyak paradok yang akan kita jumpai dalam keduanya seperti pada ‘liar paradox’ hingga kepandangan tentang tanda yang tidak sama. Untuk itu harus dilanjutkan pada kajian lebih jauh yaitu dalam kajian logika modern, postsrukturalis, epistemologi lanjut hingga ke kajian tentang logika matematika lanjut

Referensi:
 - Materialisme, Dialektika dan Logika (MADILOG), Tan Malaka Teplok : 2000
 - Real Analysis (Buku pegangan mata kuliah analisis real di jurusan matematika ITB) , Robert G. Bartle dan 
    Donald Sherbert, John Wiley : 1994
- A History Of Formal Logic, I. M. Bochensky, University Of Dame Press : 1961 

Catatan Kaki:
(1) Logika Dasar, Tradisional, Dimbolik dan Induktif. Oleh R. G. Soekadijo, Gramedia Pustaka Utama, 
     Jakarta : 1999
(2) Trotsky, Writings, 1939-40
(3) Formal Logic and Dialectics, http://www.marxist.com/science/logicanddialectics.html
(4) Hegel, Science of Logic, Vol. 1
(5) I. M. Bochensky, A History Of Formal Logic, University Of Dame Press : 1961
(6) Ibid
(7) Real Analysis, Bartle dan Sherbert, John Wiley, Singapore : 1994
(8) Dalam bukunya yang begitu terkenal, Critique Pure Reason (1787)
(9) I. M. Bochensky, A History Of Formal Logic, University Of Dame Press : 1961
(10) Falsafatuna, ASH-Shadr
(11) Uncertainty and Idealism, http://www.marxist.com/science/uncertaintyandidealism.html
(12) Dialectical Materialism

makalah disampaikan pada Pengantar Kajian Organon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar