Selasa, 26 November 2013

TUHAN, JANGAN BIARKAN GURUKU GALAU (1)




Citra duduk terkulai lemas,lunglai pada sebuah kursi kuno di taman mungil depan kelasnya. Hari ini Citra sedang dirundung kemalangan. Meski disekitarnya teman-temannya sedang bermain bersenda gurau dengan p-enuh kegembiraan, namun hal ini tidak membuat Citra merasa bahagia dan terus menatap dengan tatapan kosong, sayu seolah menyimpan berjuta rasa sendu. Mulutnya terkunci rapat dengan mimic wajah yang sangat sedih.
Namun, kedua matanya masih menatap tajam mengamati sebuah meja di sudut kantor tempat bu Sandra sibuk melaksanakan salah satu tugas keguruannya. Ya, bu Sandra yang selama ini menjadi sudah sangat dekat dengan Citra dan seolah – olah bu Sandra itu merupakan ibu kandungnya sendiri. Bu Sandra yang selama ini selalu menjadi tempat curhat menumpahkan segala keluh kesah dan selalu member solusi yang dapat menumbuhkan semangat Citra sebagai seorang peserta didik yang optimis, penuh gairah belajar dan ceria sudah bukan bu Sandra yang dulu lagi.
Bu Sandra yang selama ini sudah seperti ibu kandung Citra berubah menjadi sosok bu Sandra yang lain. Sekarang bu Sandra jarang masuk kelas, tugas dan tugas terus yang selalu ada ketika jam pelajaran bu Sandra berlangsung yang terkadang setelah tugas dikumpul nasibnya tak tau bagaimana rimbanya. Bu Sandra yang selama ini selalu menyempatkan diri untuk bercanda bersama anak didiknya mengevaluasi pembelajarannya, mendengarkan curhat­an anak didinya namun dalam minggu – minggu ini sangat bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya.
                

Fenomena seperti diatas tidak jarang terjadi di sekolah kita. Banyak guru bahkan mungkin kita sendiri sebagai seorang guru mengalami banyak persoalan sehingga tugas dan kewajiban seorang guru sering terbengkalai yang berakibat buruk pula kepada iklim belajar di kelas dan tentunya memiliki efek buruk kepada anak didik kita. Kegalauan memang banyak ditemui di akhir – akhir ini. Dan sebenarnya hal ini sudah banyak terjadi sejak dahulu.
Harus diakui bahwa peran seorang guru dalam proses pengajaran dan pendidikan di sekolah sangatlah penting. Idealnya, di mata siswa guru merupakan tempat bersandar yang kapanpun dapat mereka temukan. Bisa jadi guru bisa dikatakan semacam tempat pelarian bagi anak didik yang selama ini kurang beruntung untuk dapat mencicipi kenyamanan dalam kehidupannya. Guru sangat diharapkan anak didik menjadi sosok yang paling mengerti tentang semua keadaannya.
Saat peran seorang guru menjadi sangat penting dalam perkembangan anak didik, secara umum persoalan yang menjadi penghambat adalah kegalauan seorang guru. Kegalauan seorang guru juga berpotensi menjadi pemantik kesenjangan antara harapan dan kenyataan antara guru dan peserta didik dalam kehiduan sehari – hari.
Memang akhir – akhir ini kita sangat sering mendengar atau membaca kata GALAU. Galau memang tidak pernah datang dengan permisi, dengan baik baik mengucapkan salam dan cenderung datang dan pergi semaunya. Inilah Galau. Kegalauan ini mungkin merupakan akumulasi beberapa emosi negative yang muncul yang berkumpul menjadi satu. Emosi negative disini penulis maksudkan sebagai bagian dari bad mood.
Secara umum, kalau kita perhatikan kondisi guru – guru yang termasuk galau ada beberapa cirri yang bisa menjadi indokator penyebab seorang guru dikatakan guru galau.
1.       Menghindar
Saat galau datang, semua kondisi yang semula adalah kondisi – kondisi yang positif semua memudar. Seorang guru yang tadinya sangat senang mendapatkan pertanyaan dari anak didiknya atau tugas dari sekolah sekarang berusaha untuk menghindarinya. Kepercayaan dirin yang tadinya selalu memancar sekarang seakan pudar begitu saja.
Seorang guru yang dahulunya kuat memikul semua tanggung jawab keguruannya, untuk saat ini seolah semua tinggal kenangan. Bahkan untuk berjumpa dengan atasan, sesama guru, bahkan berjumpa dengan siswanya saja ia berusaha untuk menghindar. Sadar atau tidak, menghindar dianggap sebagai tempat perlindungan yangnaman. Akan tetapi, semakin sering menghindar dari kenyataan semakin bertumpuk pula masalah yang akan hinggap.
Saat siswa terus dibatasi dalam ruang lingkup terbatas yang diciptakan sang guru yang dirundung galau, secara tidak sadar hal itu bermakna semacam pembunuhan karakter bagi anak didik yang secara alamiah sedang berkembang.
2.       Curhat
Curhat, apa yang salah dengan curhat. Bukankah hal ini manusiawi. Memang curhat sebagai sebuah kebiasaan dalam warna-warni kehidupan. Curhat biasanya menularkan antusias dan mood. Jika sednag menceritakan hal – hal yang menyenangkan, emosi positif akan tertular kepada partner curhat, begitu pula sebaliknya.
Seorang guru yang galau sering curhat mengenai masalahnya. Lebih sering meminta orang lain mendengarkan keluh kesahnya dari pada menjadi pendengar yang baik terlebih member solusi. Hal ini biasanya terjadi kepada sesame guru ataupun kepada murid. Bayangkan saja apabila seorang guru yang seharusnya bersedia mendengarkan keluhan siswa berganti posisi. Hari demi hari siswa akan menghitung berapa kali dalam satu pertemuan kalimat – kalimat curhatan dari sang guru.
        “ ibu ini sedang sedih, jadi jangan banyak Tanya”
        “kalian pikir hanya kalian yang punya masalah? Bapak juga punya masalah, diam!”
        “kalian baca sendiri materinya dari pada ibu marah, ibu sedang tidak enak pikiran”
Diakui atau tidak, selain kegalauan guru yang muncul secara nyata, kegalauan guru di zaman ini juga terlihat dari jejaring sosial pribadinya. Perhatikan baik – baik status yang sering di-update baik via facebook,twitter,path atau jejaring sosial lainnya. Padahal kita semua tau, jika dengan mudahnya semua status itu dapat ditemukan oleh guru lain, bahkan murid sendiri. Jika ini terus terjadi, kira – kira apa yang akan terjadi dengan harga diri guru di mata masyarakat?
3.       Rindu
Secara umum, guru yang Galau dengan me-Rindu kehadiran masa lalu bersama muridnya yang dahulu atau kelas lain. Idealnya, sebagai seorang guru kita tidak bisa memilih seperti apa siswa yang nantinya akan hadir di kelas kita. Kerinduan guru yang galau kepada siswanya yang terdahulu terkadang menyakitkan. Pertama sebagai guru galau, ia sendiri akan mendapati perasaannya yang semakin rindu akan “keberhasilan” mengajar dan mendidik kelas sebelumnya dan semakin bertolak belakang pula dengan keadaan yang ada sekarang. Kedua, hal ini sangat berefek negative kepada anak didik di kelas. Bagaimana perasaan siswa bila dibandingkan dengan kakak kelasnya yang memang berbeda untuk setiap siswa. Kita tentu sering mendengarkan ungkapan guru
        “kakak kelasmu bisa mengerjakan soal ini dengan cepat, tidak lambat seperti kalian”
        “kelas yang ibu ajar tahun lalu lebih cekatan dari pada kelas kalian”
Guru galau cenderung membandingkan dan menilai secara subjektif. Hal inilah yang terkadang mematikan hati, perasaan dan membekukan perasaan anak didik. Anak didik tentu ingin mendapat pengakuan secara objektif akan keberadaannya di dalam kelas.
4.       Pesimis
Guru yang pesimis akan kehilangan kepercayaan diri. Semangat yang tadinya berapi – api padam begitu saja. Tatapan yang biasanya menyiratkan sinar optimir seolah sirna oleh persepsi subjektifnya. Guru galau terlalu mendramatisasi perasaan. Rasa pesimis lebih dijadikan sebagai patokan dan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan sehingga berbagai macam kekhawatiran muncul di dalam pikirannya.
Secara sadar atau tidak, guru galau menjadi aktif berfikir meski dalam keyakinan negatifnya. Guru galau yang pesimis selalu tidak percaya kemampuann yang ada, baik kemampuannya, tim terlebih lagi kemampuan siswanya.
Sebaliknya guru yang optimis senantiasa member aura yang positif kepada tim, dirinya sendiri dan tentunya kepada anak didiknya. Bisa kita perhatikan berapa banyak prestasi yang diukir anak didik yang diampu oleh guru optimis? Bandingkan dengan prestasi atau pelanggaran yang terjadi didalam kelas dengan guru pesimis !
Saat anak didiknya berada dalam kondisi terpuruk guru optimis akan member ungkapan yang positif pula “selalu ada jalan selama engkau berusaha secara maksimal”, lain dengan guru yang pesimis ia akan mengungkapkan “mana bisa kamu sukses nanti, orang tuamu saja tidak peduli sama kamu”. Dapat kita bayangkan bila ungkapan – ungkapan pesimis dari guru menjadi wejangan bagi anak didiknya.
5.       Pendiam
Selama ini kita sering mendengar “diam itu emas”, hal ini memang benar bila ditempatkan dalam situasi dan kondisi yang sesuai. Bagaimana apabila ada guru yang cenderung diam? Apaka kita selaku guru akan membiarkan anak didik kita melakukan hal – hal yang tidak semestinya dilakukan oleh anak usia sekolah tanpa member pengertian dan meluruskannya?
Diakui atau tidak, kebiasaan untuk diam berpotensi menjadikan diam ini sebagai kepribadian yang bermuara pada karakter. Kekuatan sang guru selain dari contoh dan teladan yang diberikan adalah ucapan – ucapan inspiratifnya yang selalu didengungkan di dalam dan diluar kelas.
Tapi harus diingat juga, seorang guru akan selalu menjaga ucapannya. Ia akan selalu member contoh dan teladan bagaimana seorang manusia berbicara, ia akan paham kepada siapa, untuk apa, dimana, bagaimana dan kapan suatu ucapan akan diungkapkan.
6.       Emosi yang tidak stabil
Sebagai manusia jika emosi sudah mulai tidak stabil menguasai diri, perhatikan saja tindakannya. Akan banyak tindakan – tindakan guru yang negatif. Terkadang hal ini bisa merusak keharmonisan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Sensitive, begitulah kiranya kita akan menyebut. Diakui atau tidak, profesi seorang guru akan banyak bersentuhan dengan berbagai hal yang berpotensi menyentuh sisi – sisi sensitive manusia. Berjumpa dengan siswa yang memiliki karakter yang variatif adalah sebuah hal yang harus dijalani.
Apabila emosi yang tidak stabil ini selalu terbawa oleh sang guru, maka yang terjadi adalah selalu melihat sisi negative dari apa yang dilihatnya. Siswa akan selalu dicurigai dan akan selalu dilihat sisi mana dari aktifitas siswa yang melanggar aturan sekolah.
7.       Bingung
Guru galau yang mengalami kebingungan terkadang tidak tau apa yang harus dilakukan. Hal ini akan berakibat buruk untuk sang guru yaitu ia akan kehilanga “keasktian”-nya sebagai seorang guru. Saat berada di dalam kelas ia tiba – tiba saja blank dan sejenak terdiam karena bingung “mau ngapain”. Hal ini sering terjadi karena sang guru sudah tidak focus terhadap pengajarannya yang disebabkan oleh kegalauannya sendiri.
8.       Malas
Malas memang selalu menjadi momok dan akan datang kepada siapa saja. Bayangkan bila seorang guru menjadi malas, apakah ia akan juga menuntut anak muridnya “jangan malas belajar!”…
Mungkin, sebagai guru kita menyadari jika ada segudang pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun bagi guru yang sedang diselimuti perasaan galau hal ini berubah menjadi beban tersendiri baginya. Guru galau yang malas sudah pasti juga malas memperhatikan dirinya sendiri. Dapat kita bayangkan bila kemalasan sang guru juga menular kepada anak didik di kelasnya. Bagaimana sang guru akan memotivasi anak didiknya apabila sang guru tidak mampu memotivasi dirinya sendiri karena malas yang diakibatkan oleh kegalauannya?

                Beberapa kawan-kawan guru mungkin setuju dengan beberapa indicator guru galau seperti yang saya sebutkan sebelumnya, atau juga ada criteria tambahan yang bisa dikategorikan cirri – cirri guru yang sedang galau.

To be continued….

Minggu, 27 Oktober 2013

Menjadi orang tua yang baik adalah perjuangan.

Beberapa hari yang lalu saya mendapat e-mail dari seorang kawan di Bandung yang concern terhadap bidang "parenting"...dalam tulisan sederhananya ia sedikit menyinggung kita mengenai Parenting style...
ini tulisannya :

 
          Membuka mata, subuh 1 Januari 2013, di samping saya Affan (3,5 th) masih terlelap di sebelah, dalam kamar, Kaysa dan ibunya juga terlelap. Affan dan saya semalam begadang, bukannya merayakan malam tahun baru, tapi karena Affan sudah tidur sebelum magrib dan bangun lagi sekitar jam 8 dan tak mau tidur lagi sampai larut malam sampai sekitar tengah malam, karena saya sempat mendengar gaduh suara kembag api. Kaysa dan ibunya gantian bangun jam 2 dan tidur lagi ketika hampir subuh.

        Jika dirasa ada semacam rasa capek dengan kehadiran anak, meski baru dua sekalipun. Tapi kehadiran anak adalah anugerah yang tak akan tergantikan harta benda apapun dimana kehadirannya saja, atau berada di dekatnya saja, atau sekilas melihat wajah dan senyumnya saja mampu menerbitkan sebuah kebahagiaan. Di sisi lain anak adalah amanah besar, Tuhan tentu tak sekedar memberi anugerah itu hanya untuk menyenangkan kami sebagai orang tua, tapi juga sekaligus membebankan amanah untuk membesarkan, mengasuh dan mendidik mereka untuk pada saatnya menjadi khalifah di muka bumi. Dan sekali lagi, ternyata itu bukan perkara mudah. Anak tumbuh sebagai manusia yang sangat unik, sebuah pribadi yang tak serta merta menjadi salinan dari orang tuanya. Orang tua benar-benar harus faham betul dengan karakteristik anak dan orang tua harus menerapkan, salah satunya adalah gaya parenting yang tepat.
 
        Gaya parenting yang cukup banyak dianut adalah gaya otoriter. Orang tua menerapkan aturan yang ketat bahkan terlalu keras dengan alasan disiplin. Anak harus ikut apapun yang diinginkan orangtua, bahkan orangtua mengatur masa depan anak, harus jadi ini dan itu, dan seterusnya. Tak ada ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya anak ditakut-takuti dengan hal-hal yang sebenarnya tidak logis, hanya karena misalnya supaya anak tidak menangis. Gaya seperti ini dapat membuat anak yang keras, yang otoriter pula atau justru sebaliknya menjadi tertekan dan ketika si anak menjadi orang tua akan bersikap sebaliknya karena ia tak ingin pengalaman pahit selama tumbuh kembangnya dialami anak-anaknya, dan ini adalah gaya kedua. Gaya ini dikenal sebagi permisive parenting. Anak diberi keleluasaan yang besar bahkan terlalu besar, boleh berbuat apapun dan orang tua cenderung membiarkan. Alasannya bisa karena orang tua terlalu sibuk atau karena terlalu menyayangi sehingga cenderung memanjakan anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini kemungkinan akan menjadi kurang tahan banting, karena biasa terbiasa dimanjakan atau terlalu \’liar\’ dan sulit dikendalikan.
           
         Di tengah kedua gaya itu adalah authoritative parenting, dimana anak dibebaskan memilih pilihan-pilihannya tapi ditekankan konsekwensi dari pilihan yang diambil. Kebebasan dalam hal ini adalah kebebasan yang terkontrol, ibarat layang-layang, ia dapat terbang tinggi melayang kiri kanan tapi tak lepas dari benangnya. Gaya ini memang paling sulit diterapkan karena harus sangat fleksibel dan tepat dalam setiap keputusan, kadangkala bisa sangat longgar tapi kadang juga keras jika sudah berhadapan dengan prinsip. Anak kadang dibiarkan melakukan sesuatu dan mengalami konsekuensi sendiri, learning by doing. Tapi tentu saja tidak dilakukan untuk hal-hal berbahaya. Ketika kecil Affan sudah terlihat sebagai anak yang suka eksplorasi, dan biasanya saya tidak banyak melarang jika memang tidak berbahaya. Suatu ketika dia ingin makan cabe (ia belum tahu kalau cabe itu pedas). Saya bilang kalau cabe tidak enak. Tipikal Affan adalah tidak percaya dan ia nekat memakan cabe dan saya biarkan saja. Saya cuma menyiapkan air putih ketika dia teriak teriak minta air sambil menjulurkan lidah kepedasan. Ia belajar memilih dan konsekwensi dari pilihannya. Ini tentu tak berlaku untuk hal berbahaya, misalnya kalau naik motor dia suka pencet klakson, starter atau membelokkan arah motor dan tentu saja memegang gas. Yang terakhir ini sudah sekian kali saya hindari meski akhirnya kecolongan juga. Kemarin sore ketika mau keluar dengan motor dan sudah mau tancap gas kancing mantelnya lepas dan minta dibetulkan. Tak dinyana ketika saya fokus dengan mantelnya Affan memegang gas motor dan menarik dengan keras! Untungnya motor menabrak pot dan pagar. Semakin kaget Affan menarik gas dengan semakin kuat sehingga semakin menderu, untungnya motor mentok. Saya gemetaran tak dapat bayangkan seandainya posisi motor lurus ke depan. Alhamdulillah kami tidak apa-apa,tapi Affan belajar satu hal yang berharga tentang apayang disebut bahaya. Ini contoh kecil betapa menjadi orangtua dan memilih gaya pengasuhan anak bukan hal yang mudah. Menjadi orang tua yang baik adalah perjuangan.

Selasa, 22 Oktober 2013

MADILOG, Tan Malaka (1943)

BAB II

F I L S A F A T


Apabila kita menonton satu pertandingan sepakbola, maka lebih dahulu sekali kita mesti pisahkan si pemain, mana yang masuk klub ini, mana pula yang masuk kumpulan itu. Kalau tidak begitu bingunglah kita. Kita tak bisa tahu siapa yang kalah, siapa yang menang. Mana yang baik permainannya, mana yang tidak.
Begitulah kalau kita masuki pustaka filsafat yang mempunyai ratusan, ya, ribuan buku itu. Kita lebih dahulu mesti pisahkan arah-pikiran para ahli filsafat. Kalau tidak, niscaya bingunglah kita, tak bisa memisahkan siapa yang benar, siapa yang salah. Seperti para pemain sepak bola tadi kacau balau di mata kita, tak tahu apa maksudnya masing-masing, begitulah di mata kita para ahli filsafat berkata semau-maunya saja, kalau tak ada pangkal tak ada ujung.
Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi.
Sebagai co-creator Engels melanjutkan dan mendalamkan paham Dialektis Materialisme dan komunisme, dengan bahasa yang terang, populer, jitu dan merdu. Engels memisahkan para ahli filsafat dari jaman Yunani sampai pada masa hidupnya Marx-Engels dalam dua barisan. Pada satu barisan terdapat kaum Idealis yang bertentangan dengan barisan kedua, kaum materialis. Kaum Idealis "umumnya" memihak pada kaum yang berpunya dan berkuasa, sedangkan kaum materialis berpihak pada proletar dan kaum tertindas. Kadang-kadang perlawanan tinggal tersembunyi tetapi kadang-kadang terbuka terus-terang, cocok dengan riwayatnya perjuangan proletar dan kapitalis dalam politik. Kadang-kadang idealis di luarnya itu, materialis di dalamnya, sarinya; Spinoza, kadang-kadang materialis di luarnya, tetapi di dalamnya idealis.
Menurut pemisahan yang diadakan oleh Engels, maka pada barisan idealis, kita dapati penganjur terkemuka sekali seperti Plato, Hume, Berkeley yang berpuncak pada Hegel. Pada barisan materialis, kita dapati Heraklit, Demokrit dan Epikur, di masa Yunani, Diderot, Lamartine di masa revolusi Perancis yang berpuncak pada Marx-Engels. Di antaranya itu didapati banyak ahli filsafat campur aduk scientists, setengah idealis setengah materialis.
Biasanya musuh proletar, menerjemahkan dan menyamarkan "materialisme" itu sebagai ilmu yang berdasar atas daya upaya mencari kesenangan hidup tak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, kawin dan cerai sesukanya saja. Sedangkan idealisme itu diterjemahkan dan dijunjung tinggi sebagai satu ilmu berdasarkan kesucian yang paling tinggi, lebih memperhatikan berpikir dari pada makan, dan kebudayaan yang sampai menjaduhi kaum ibu seperti seorang santri, resi. Dalam keadaan yang benar, dalam kehidupan mereka, kita tidak sekali dua kali berjumpa, dengan seorang yang memangku paham idealis berlaku sebaliknya dari persangkaan itu, sedangkan dalam kalangan materialis banyak kita dapati orang hidup dengan segala sederhana dan seperti suami dan bapak yang setia.
Idealis dan materialis yang dijadikan Engels sebagai ukuran buat memisahkan para ahli filsafat dalam dua barisan, semata-mata berdasarkan atas sikap yang diambil si pemikir, ahli filsafat dalam persoalan yang sudah kita tuliskan lebih dahulu, yakni mana yang pertama, primus, mana yang kedua. Benda atau fikiran, matter atau idea. Yang mengatakan pikiran lebih dahulu, itulah pengikut idealisme, itulah yang idealis. Yang mengikut materialisme, itulah yang materialis. Hidup segala sederhana, atau mau segala lebih dengan tiada memperdulikan kesehatan diri sendiri, dan kebaikan buat masyarakat itu bergantung kepada watak masyarakat, dan didikan masing-masing orang.
Dengan memakai pemisahan yang diadakan oleh Engels, filsafat menjadi persoalan yang mudah bagi kita. Dengan mengambil satu contoh, satu model saja, kita bisa ketahui seluk beluknya perkara yang bersamaan dan bersangkutan. Dengan David Hume sebagai ahli filsafat idealis, kita bisa gambarkan semua ahli filsafat idealis dari Plato sampai Hegel.
"If I go into myself", "kalau saya masuki diri saya sendiri", kata Hume, maka saya jumpai "bundles of conceptions", bergulung-gulung pengertian, bermacam-macam gambaran dari pada benda.

Kalau Hume hendak mengetahui apakah benda yang bernama buah jeruk itu umpamanya, maka yang ia insyafi cuma rasanya yang manis itu, kulitnya yang licin itu, beratnya yang 1/2 atau ¼ kilo itu, warnanya yang hijau atau kuning itu, bunyinya yang nyaring atau lembek itu. Bunyi itu ada di telinga, dalam badan Hume, bukan pada jeruk, beratnya di tangan Hume, bukan pada jeruk, rupanya pada mata, rasanya di lidah atau di ujung jari Hume. Semuanya  bunyi, rupa dan rasa itu dengan perantaraan saraf, nerve, berjalan ke pusat ke centre, ke otak.
Otak mencatat bunyi, rupa dan rasa tadi menjadi pengertian, conception, seperti pengertian merdu, kuning, berat, lezat dan licin. Semua pengertian ini " dalam" saya, kata Hume, bukan di luar saya. Jeruk itu sebagai benda, tak ada bagi saya. Yang ada Cuma "ide", pikiran, pengertian, tentang benda itu dalam otak saya. Otak saya penuh dengan pengertian "bundles of conceptions" kata Hume. Jeruk sebagai benda, lembu sebagai benda, tak ada buat saya. Yang ada cuma ide, pikiran, pengertian, gambaran dari jeruk, lembu, bumi, bintang dan engkau. "Engkau" kata Hume, cuma "ide" buat saya.
Tetapi Engkau buat Hume adalah saya buat tuan Smith umpamanya, dan saya buat Hume, adalah engkau buat Smith. Jadi engkau cuma ide, cuma gambaran buat Hume itu mestinya juga gambaran buat Smith. Hume yang dipandang dari pihak Smith ialah engkau mestinya satu gambaran, satu ide saja. Tak ada Hume itu buat Smith sebagai orang, sebagai ahli filsafat. Yang ada cuma gambaran dalam otak Smith.
Dengan begitu Hume yang membatalkan benda dan mengaku ide saja, membatalkan adanya dirinya sendiri, mengakui bahwa sebetulnya dia sendiri tak ada. Beginilah akibatnya yang konsekwen dari Idealisme, dengan membatalkan adanya benda, ia membatalkan dirinya sendiri.
Demikianlah David Hume dengan memisahkan ide dari benda, abstraction dan menganggap ide yang pertama, dalam menentang benda sebagai dasar yang pertama, tewas dalam tentangannya membatalkan adanya diri sendiri. Dengan begitu ia sebetulnya membatalkan filsafat idealisme itu.
Sesudah Hume, boleh dibilang filsafat idealisme sudah mati. Tetapi barang yang mati itu acapkali menjelma hidup kembali dengan memakai bentuk baru, seperti Pharao Rah dan Ptah tadi, sekarangpun masih ada bentuknya.
Emmanuel Kant ahli filsafat Jerman kesohor itu, mengangkat naik kembali bendera Hume, tetapi tidak dengan konsekwensi Hume. Kant tidak berjalan terus jujur seperti Hume, tetapi maju mundur. Seperti kata Lenin, filsafat Kant tidak boleh dipakai buat berkelahi, bukan filsafat berkelahi. Menurut Kant, kita bisa ketahui dengan pancaindera kita sesuatu benda, tetapi "Ding an Sich" benda sendirinya, kita tidak bisa ketahui.
"Kalau sudah kita ketahui sesuatu barang dengan pancaindera apa juga lagi yang mesti kita ketahui tentang barang itu“ begitulah kaum materialis bertanya. Buat kaum materialis hal itu sudah cukup. Tetapi buat Kant itu belum cukup. Ia tak sepenuhnya memihak pada Hume dan bilang terus terang, bahwa benda itu buat dia tak ada, yang ada cuma gambaran dalam otaknya. Tetapi ia cari rumput buat sembunyi dengan memakai "Ding an Sich" benda itu sendiri.
Jawab Engles dalam hal ini, pendek dan jitu. Kata Engels: dari hari ke sehari "Ding an Sich" itu, sudah menjadi "Ding an Furuns". Benda yang sendirinya itu tidak diketahui, dari sehari ke sehari sudah menjadi "benda kita". Keterangan Engels tentang "Ding Fur Uns" itu dulu banyak saya cari tapi tak berjumpa. Tetapi menurut pikiran saya, jawab Engels yang pendek ini mesti diterjemahkan sebagai berikut:
"Air" umpamanya, yang dahulu kala dianggap oleh nenek moyang kita seperti suatu barang yang ajaib, sekarang kita sudah ketahui "zat asalnya", ialah Hydrogen dan oxygen. Sudah diketahui, menurut undang mana dia berpadu, ialah menurut Undang Dalton. Apa rasanya air itu kalau diraba atau diminum. Berapa beratnya 1 L. Apa gunanya buat kita, buat tumbuhan dan hewan. Bagaimana sifatnya, dsb. Apa juga lagi yang mesti di "Ding an Sich"kan tentang air, nenek moyang kita cuma mengetahui 4 zat saja di alam ini ialah :tanah, air, api, udara. Sekarang sudah diketahui 92 zat asli, elementen. Yang diketahui sudah boleh kita periksa dengan pancaindera kita, dengan perkakas yang kita bikin, seperti microoskop, telescoop dan teropong, perkakas yang bisa membesarkan kuman, beratus ribu kali dan mendekatkan bintang beratus ribu kali. Perkakas yang dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, bisa ditambah kepastiannya dan kejituannya. Semua zat yang kita ketahui itu boleh kita pada satu sama lainnya, kita buat makanan dan kesehatan kita, kita pakai kodratnya buat kehidupan dan kesenangan kita. Kaum penakluk memakai buat menerpedo dan membom. Yang belum kita ketahui, sedang kita cari dengan giat dan dengan lebih besar pengharapan mendapatkannya karena teori, cara berpikir dan perkakas kita makin banyak, makin baik.
Dimana lagi "Ding an Sich" itu tempatnya, pada zaman, di mana alam yang dahulu kala, dianggap gaib itu, sebagian besar sudah diketahui dan dikontrole, dikemudikan dipakai menjadi "Sing fur Uns", yakni benda kita, seperti kata Engels tadi. Idealis yang lebih licin, karena ia memakai Dialektika dan Logika dengan cara dan bahasa yang tiada ada bandingnya selama ini, ialah Hegel. Lama Marx, walaupun ia sudah Marxis, sesudah meninggalkan gurunya, Hegel, dilekati Hegelisme.

Dengan dua sayap thesis di kanan, anti thesis di kiri dan badan synthesis di tengah, Hegel terbang makin lama makin tinggi sampai silau mata si pemandang.
Buat Hegel "absolute Idee" ialah, yang membikin benda "Realitat". "Die absolute Idee macht die Gesichte" absolute idee yang membikin sejarah, histori, dan membayang pada filsafat. Bukan filsafat yang membikin sejarah, katanya, melainkan Absolute Idee "deren nachdrucklichen Ausdruck, die Philosophie ist" yang tergambar nyata pada filsafat. Jadi menurut Hegel, sejarah ialah sejarah dunia dan masyarakat dibikin Absolute Idee, dan hal ini tergambar pada filsafat. Pada lain tempat Hegel mengatakan, bahwa Negara dan Saat ialah "verwieklichung" penjelmaan, absolute idee itu. Absolute Idee itu sama dengan Metaphysik, Idee sendirinya, idee yang tak dibikin, yang tunggal tak jatuh pada undang sebab dan akibat, hidup dan mati, tak melahirkan atau dilahirkan, tak takluk pada tempo dan tempat, melainkan tunggal, terkuasa dan sempurna. Absolute Idee itu tergambar jitu dan pasti pada filsafat. Absolute Idee akhirnya sama dengan metaphysik, yakni gaib di luar Ilmu Alam, rohani, Ammon kata Egypte purbakala, Dewa Rah.
Rohani inilah yang dicari oleh mystikus, murid tarekat Hindu, kalau ia memandang puncak hidungnya saja, menyebut omm, omm, omm, lepas dari semua yang lahir, pikiran pada perempuan, pada badannya sendiri, lepas dari makanan, ya, lepas dari suaranya sendiri, omm, omm, omm tadi. Kalau beruntung seperti Gautama Budha, maka leburlah Rohani, Jiwanya dengan Rohani yang mengisi Alam ini.
Feurbach, materialis besar, yang dianggap jembatan antara Hegel dan Marx, mula-mula memakai Dialektika juga. Buah pikirannya ketika itu banyak memberi alat pelajaran pada Marx dan Engles. Tetapi setelah Feurbach melemparkan Dialektika sebagian besar disebabkan hidup terpencil, seolah-olah terbuang dari pergaulan, maka hasil pemeriksaannya jauh terbelakang dari Hegel. Hegel dianggap oleh kaum materialis sebagai ujung filsafat yang negatif, yakni ujung yang membatalkan, ujung yang buntu. Feurbach dianggap sebagai ujung yang positif, yakni pembuka jalan yang baru ke jalan Dialektis Materialistis. Kaum Marxis sepenuh-penuhnya mengakui kemanjuran senjata Dialektika, tetapi membuang Idealisme Hegel.
Marx, sesudah beberapa lama dikagumi dan dipengaruhi Hegel, (sebagai pelajar ia bisa hapalkan pasal-pasal yang penting dari Hegelisme), akhirnya memasang Hegelisme di atas kakinya. Hegelisme yang selama ini dianggap berkepala di kaki dan berkaki di kepala, dibalikkan sebagai mana mestinya. Bukan pikiran yang menentukan pergaulan, melainkan pergaulan yang menentukan pikiran.
"Negara kata", kata Marx "ialah satu akuan dan hasil dari perjuangan klas". Perjuangan klaslah yang menjadi "Motive-Force", kodrat pergerakan sejarah masyarakat, kodrat mengubah bentuk Negara, jadi bukanlah "Absolute Idee", seperti kata Hegel. Zaman berbudak bertukar menjadi Zaman Feodal, Zaman Ningrat. Zaman Feodal itu sesudah Revolusi Perancis pada tahun 1789 bertukar menjadi Zaman-Kuno dalam pandangan sekarang. Dialektika, yakni pertentangan yang berlaku pada zaman Berbudak, ialah pertentangan budak dan tuan. Pada zaman feodal, pertentangan Ningrat dan Tani, pertentangan pemimpin gilde dengan anggota gilde. Pada zaman Kapitalisme sekarang pertentangan buruh dan kaum modal. Pertentangan klas yang berdasar atas pertentangan ekonomi itulah yang menjadi kodrat buat menumpu masyarakat pada satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu tingkat ke tingkat yang lain. Dari masyarakat berdasarkan perbudakan ke masyarakat berdasar keningratan, ke masyarakat berdasar kemodalan. Jadi pertentangan itu bukan pertentangan ide saja, seperti menurut paham Hegel – nanti akan diteruskan – tetapi pertentangan barang yang nyata, pertentangan antara dua klas besar yang berjuang, yang sekarang terus berjuang.
Pertentangan klas, ialah klas manusia, ialah barang yang nyata itu, berdasar atas pertentangan ekonomi yang dipertajam oleh kemajuan tehnik. Tehnik yakni perkakas yang dipakai dalam pergaulan, perkakas yang pada zaman ini dimiliki oleh kaum berkuasa dan kaum berpunya, menjadi alat adanya perjuangan klas itu. Semua perkakas dan klas manusia, yang menjalankan peranan dalam sejarah kita manusia ini adalah barang yang nyata semuanya. Peranan sejarah itu, tiadalah dibikin dan dikemudikan oleh Absolute Idee itu, sebagaimana juga sejarah tumbuhan-hewan-manusia, bumi dan binatang tidak dikemudikan oleh Dewa  Rah, Rohani, Ahimsa dsb.
Sebagaimana bumi dan bintang berjalan, bersejarah, menurut undang tarik menarik yang didapat oleh Newton, sebagaimana tumbuhan-hewan dan manusia bersejarah menurut undang-evolusinya Darwin, beginilah sejarahnya masyarakat manusia bersejarah menurut undangnya Historisch-Materialisme (Sejarah Materialisme), yang juga dinamai Dialektika Materialisme.
Dengan lahirnya Marxisme, maka Hegelisme berbelah dua: Dialektika Idealistis dan Dialektika Materialistis. Yang pertama dipegang oleh kaum yang bermodal dan berkuasa dengan pengikutnya, yang kedua, oleh kaum proletar yang revolusioner. Di antara dua filsafat bertentangan tadi, sudah tentu ada bermacam-macam filsafat bukan buat bertarung. Hegelisme yang memang revolusioner terhadap kaum Ningrat Jerman, tetapi kontra revolusioner terhadap kaum Proletar, sudah tentu baik buat tempat berlindungnya kaum reaksioner seperti kata Marx: "Dalam bentuknya yang reaksioner, Hegelisme menjadi adat, sebab bentuk ini menerjemahkan keadaan yang ada".
Idealisme tak akan mati selama masih ada perjuangan klas ini, selama ada kaum yang menghisap dan menindas. Kaum hartawan yang berkuasa pada satu pihak, mengemukakan ide, intelek, pikiran, terhadap kaum terhisap dan tertindas, pada lain pihak ia memakai kemegahan, majiat rohani buat meninabobokan kaum pekerja, supaya nanti mendapat nikmat, bidadari, yang matanya seperti mata burung merpati dan kesenangan kekal akhirat.
Demikianlah sesuai dengan perjuangan kelas, idealisme atau tak berdialektika, membentuk dirinya supaya cocok dengan keadaan klas yang memegangnya. Dimana Kapitalisme masih muda, kokoh karena sedang naik seperti Amerika, maka lahirlah idealisme berupa "pragmatisme" yang dikemukakan oleh John Dewey. Filsafat pemikir dari negara yang mempunyai "the biggest of all", semuanya paling jempol, ini katanya berdasarkan "objective truth", hakekat yang obyektif, yang tenang, tetapi kalau diperiksa lebih dalam, maka nyatalah bahwa "objective truth", tadi bergantung pada paham, cita-cita dan perasaan borjuasi Amerika "the country of the free", negara merdeka ialah buat borjuasi amerika. John Dewey mengambil masyarkat borjuis dan paham borjuis sebagai titik permulaan berpikir, ketika Amerika dalam kaya raya. Sekarang, sampai sebelum perang ini kemakmuran Amerika, yang disangka akan tinggal kekal tadi, sudah menyusuli kawannya di Eropa Barat. Krisis sudah bersimaharajalela dan tetap.
Sekarang buat 11.000.000 buruh, jadi buat kira-kira 33.000.000 buruh dengan anak bininya, "obyective truth" tadi, tidaklah begitu "obyective", tidaklah begitu tenang. Semua barang yang memberi ketenangan buat borjuis seperti harta benda, justisi, polisi dan hak milik turun menurun, adalah benda yang mengacaukan paham, perasaan dan penghidupan kaum proletar Amerika sekarang.
Dimana pergerakan buruh berpengaruh sekali seperti di Jerman sebelum perang 1914-1918, maka dalam kalangan proletar sendiri idealisme itu tiadalah berani keluar terang-terangan. Dalam kalangan kaum proletar sendiri masuk bermacam-macam isme, yang diluarnya berupa materialisme, tetapi pada dasarnya terdapat idealisme. Lenin dalam bukunya: "Empiris-Critism" dengan terang dan jitu mengemukakan, pemisahan kaum ahli filsafat atas dua partai, seperti pertama kali dikemukakan oleh Engels, ialah partai ahli filsafat idealis dan partai materialis. Dengan sempurnanya Lenin membuka kedok yang dipakai oleh Empiris-Critism, Machinisme Neo Vitalisme, dll. Dan memperlihatkan idealisme yang sebetulnya jadi dasar filsafat mereka.
Di Rusia usahanya Lenin dan Plechanoff, (yang dalam kalangan Marxisten di Rusia sendiri sering saya dengar bahwa Plechanoff lebih besar dalam ilmu filsafat dari pada Lenin), usahanya dua ahli filsafat Materialis ini akhirnya menjatuhkan kekuasaan filsafat Idealisme di Rusia dan memaksa dia bekerja diam-diam. Dialektis Materialisme ialah Ilmu Pemandangan Dunia, “Weltanschauung" yang resmi, opisil di Sovyet Rusia.
Di sebelah Barat Eropa, idealisme masih sangat berkuasa dan pada masa ini idealisme-lah yang resmi. Idealisme Barat mendapat bentuk baru, dan pakaian baru, ialah anarchisme palsu, dari ahli filsafat Bergson dan syndikalisme dari Serel. Anachisme Bergson bukanlah anarchisme beraksi, seperti ilmu yang dipeluk oleh anarchis besar, ialah Bakunin. Bergson, Spengler dan Nietsche (yang belakang ini ialah satu filosoof krachtpatser, siapa kuat, siapa raja, Ubermensch) inilah yang dipeluk oleh Adolf Hitler dan Nazi. Filsafat Fasisme dianjurkan oleh pemikir Geovani Gentile.
"Facisme", kata pemikir ini "bukanlah New System, tata filsafat yang baru, melainkan aksi-baru dan paham-baru". "Manusia" katanya pada hakekatnya beragama. Manusia dan Tuhan selalu dalam "ewige Bewegung der Selbstverwirklichung", pergerakan kekal buat berpaduan.
Sedikit kita selidiki, filsafat partai fasis, yang sebetulnya pertama sekali menaikkan bendera reaksi di Eropa Barat, apabila partai Bojuis liberal kacau, partai Sosialis maju-mundur dan partai Komunis sebagian tak berpengalaman, tetapi terutama juga "sangsi" sebab negara Italia, kalau dikomuniskan gampang dikepung dan dijauhkan oleh Kapitalisme Eropa Barat dan Amerika.
Fasisme kata Geovani Gentile, bukan tata filsafat baru memang tidak, kalau dipandang dari kaca-mata idealisme. "aksi-baru dan paham-baru" katanya pula. Aksi kaum tengah dan paham kaum tengah terhadap proletar dengan pertolongan kapitalis, memang baru dalam perjuangan proletar – kapitalis model baru. Tetapi kalau kita baca Marx dalam buku "18th Brumaire of Louise Bonaparte", tentang aksi dan paham Louise Bonaparte di Perancis, maka aksi dan paham Facisme Italia tadi cuma bentuk baru dari aksi dan paham tua. Mussolini, bapak fasisme juga amat tertarik oleh Napoleon Besar "ommpya" dari Louse Bonaparte sampai ia mentonilkan Napoleon, yang katanya orang Italia itu.
Bahwa manusia dalam batinnya beragama, ini dibatalkan oleh beberapa penyelidikan yang tenang, yang membuktikan beberapa bangsa di dunia tak mengetahui agama. Akhirnya kalau kita baca "pergerakan kekal buat perpaduan manusia dan Tuhan" menurut filsafat fasis itu, kita ditarik lagi ke negara Kapilawastu, ke kaki gunung Himalaya; mengagumkan percobaan Gautama Budha, mempersatukan rohnya dengan roh Alam buat masuk ke Nirwana. Cuma Gautama Budha tak seperti Mussolini memakai tongkat dan "kastor-olie" buat mematahkan semangat dan paham musuhnya Mateotti, pemimpin sosialis Italia, musuh besar Mussolini yang hilang lenyap selama-lamanya buat melakukan "paduan dengan Tuhan itu" dengan lekas.
Perjuangan klas tertutup dan terbuka. Inilah arti filsafat yang sebenarnya dari arti Dialektika yang sebetulnya. Ia boleh melayang tinggi seperti Hegelis dan tinggal di tanah, di perut, seperti dialektis materialisme (orang mesti makan dahulu sebelum berpikir, kata Engels), tetapi filsafat itu adalah bayangan masyarakat yang bertentangan, bukan bayangan Absolute Idee seperti kata Hegel.
Pada permulaan, filsafat itu timbul pokok, yang jadi persoalan, ialah "semua ini". Ahli filsafat bertanya: "semuanya ini, bumi, langit dan pikiran itu sendiri, apakah artinya?" Lama-lama persoalan "semua ini" cerai-berai. Bumi dan langit sudah jatuh menjadi ilmu Bintang, yang sesudah Galilei, Copernicus, Newton, Einsten dll. Mendapat undang yang sementara boleh dikatakan sempurna.
Bumi kita ini jatuh kepada Ilmu Bumi, Geography dan Ilmu Tanah, Geology, yang sendirinya mempunyai daerah dan mempunyai undang pula. Perkara yang berhubungan dengan Zat dan Kodrat, jatuh pada Ilmu Alam. Perkara yang berhubungan dengan berpaduan beberapa zat, sehingga mendapatkan sifat baru, termasuk pada Ilmu Kimia. Ilmu Alam yang mulanya memeluk Ilmu Kimia, sekarang menceraikan dirinya dari Ilmu Listrik, yang sekarang karena besar daerahnya dan dalam artinya mesti dipelajari sendirinya.
Pemeriksaan atas tumbuhan jatuh pada Ilmu Tumbuhan, dan pemeriksaan atas hewan dan manusia jatuh pada Ilmu Hewan dan Ilmu Manusia. Ilmu Hidupnya asal dan penjelmaannya Tumbuhan, Hewan dan Manusia, jatuh pula pada Biology, satu Ilmu yang boleh dikatakan muda, dan banyak sekali mengandung arti buat kita. Umpamanya perkara evolusi atau pertumbuhan otak dan Pikiran dari otak binatang sampai ke otak manusia.
Sudahlah tentu satu Ilmu dengan yang lain, ada seluk beluk dan perhubungannya, Ilmu Alam dan Ilmu Kimia, mesti diketahui ahli yang mempelajari Ilmu Kedokteran. Begitu pula agriculture, Ilmu Pertanian tak bisa berpisah dari Ilmu Alam dan Ilmu Kimia tadi. Demikianlah pula seorang Insinyur, jatuh dan berdiri dengan Ilmu Alam dan Matematika.
Syahdan, maka masing-masing Ilmu di atas tadi, disebabkan kemajuan pergaulan kita, kemajuan industri, perniagaan dan pesawat terpaksa dipecah-pecah lagi, terpaksa di-"specialiceer" lagi, terpaksa dipencilkan dan diistimewakan lagi. Dengan begitu perkara yang tiada berkenaan bisa disingkirkan dan waktu itu boleh dipakai buat memeriksa dan memperdalam perkara yang diistimewakan itu. Ilmu Kedokteran sudah pecah menjadi kedokteran umum, perkara gigi, telinga, mata, kanak-kanak dsb. Adalah bahaya buat Science, kalau pecah-pecahan itu (pada Ilmu yang sudah banyak itu) akan pecah terus, dengan tidak lagi mengetahui perhubungan satu Ilmu dengan Ilmu yang lain.
Bahaya itu kebetulan sudah diketahui dan amat dipelajari muslihat buat menjauhkannya. Kalau saya tak salah, maka perkataan filsafat sekarang diterjemahkan juga buat menggambarkan daya upaya mempersatukan Ilmu bermacam-macam itu, jadi buat memeriksa seluk beluk dan perhubungannya. Dengan begitu, maka si Scientist, si Ahli mungkin kehilangan hutan, karena sangat memperhatikan pohon-pohon saja.
Lupa garis besar, karena senantiasa memperhatikan garis yang kecil-kecil saja. Daya upaya semacam inilah sekarang yang sering diartikan oleh perkataan filsafat. Bukan lagi sikap yang diambil oleh ahli filsafat purbakala, yang dengan memangku tangan dan tafakur, bertanyakan: "Apakah artinya Alam dan apakah artinya pikiran itu?" Demikianlah kalau kita peramati kemajuan Ilmu Filsafat tadi, maka kita lihat pada Zaman Tengah tahun 478-1492 si pencari Hakekat dilekati oleh Ketuhanan. Kaum Scolastic, namanya di Eropa 




Barat tak bisa mencari hakekat itu, kalau persoalan itu tiada digarami, dilimaui (dijeruki) dan dimasak dengan God dan agama ialah agama Nasrani. Sesudah itu, pada zaman borjuis filsafat tadi sudah susut pada persoalan "Jasmani dan Rohani", badan dan pikiran. Sudah lama pula filsafat ini jatuh ke tangan psychology, Ilmu jiwa, Ilmu yang memeriksa "the working of the mind" kerjanya otak. Ilmu ini tidak lagi direnungkan oleh si pemikir di atas kursi malas dalam otaknya saja, melainkan sudah dimasukkan ke laboratorium. Disinilah otak binatang dan manusia dipisah, diperiksa, diexperimentkan, diperalamkan. Disinilah instinct, yakni pikiran hewan, perasaan, kemauan hewan dan kecakapan hewan dalam belajar, diperiksa, diperalamkan, diuji dan dibandingkan dengan akal, perasaan dan kemauan manusia. Experimentalis William James dan Thorndyke di Amerika, Pavlov di Rusia dan experimentalis yang lain, banyak mengumpulkan pengalaman yang berharga dan masih banyak persoalan yang mesti diperalamkan dan diuji oleh Ilmu yang muda tetapi sangat menarik hati. "Ketahuilah dirimu sendiri “. Inilah sari persoalan dari seorang ahli filsafat Yunani yang terkenal ialah Socrates.
Sekarang persoalan ini sudah menjelma menjadi pemeriksaan atas "the working of the mind", kerjanya otak, yang sudah dimasukkan ke laboratorium bersama dengan Ilmu lain-lain yang berdasarkan experiment, pengalaman.
Filsafat bertukar, artinya bertukar rupanya dan pecah belah menjadi beberapa ilmu yang berdasarkan experiment.
Engels sudah mendapat kesimpulan, bahwa sisanya filsafat ialah Dialektika dan Logika. Semua cabangnya yang lain jatuh pada bermacam-macam Ilmu Alam dan sejarah, ialah sejarah masyarakat Indonesia.
Marx memandang dari sudut pertarungan klas, berkata dalam 11 thesis : Die Phylosophen haben die Welt nur verschienden interpretiert. Es komt aber daraufan die Welt zu veraendern. Para ahli filsafat sudah memberi bermacam-macam pemandangan tentang dunia itu. Yang perlu ialah menukar (merubah) dunia itu!
 
 
bahan dan sumber: http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Madilog/Bab2.htm

Rabu, 09 Oktober 2013

BERBAHAGIALAH KARENA KITA ADALAH GURU



Menjadi kaya adalah impian banyak orang. Baik itu kaya secara materi, maupun secara non materi, apalagi kaya secara kedua – duanya. Nyatanya, kalau kita perhatikan di lingkungan kita lebih dari 80% aktifitas manusia habis terkuras untuk mencapai yang namanya kaya. Bahkan tidak sedikit pula manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya secara materi.
Saya sering berdiskusi dengan teman – teman secara guru, “bagaimana ya menjadi seorang guru bisa kaya secara materi dan spiritual?” nah inilah yang menjadi pertanyaan kebanyakan guru di negeri ini, selama ini profesi Guru memang tidak bisa dikatakan menjamin sebuah kakayaan materi dan spiritual sekaligus meski dalam kondisi ideal seorang guru bisa meraih keduanya dalam waktu bersamaan.
Saya pernah membaca sebuah tulisan seorang Guru kehidupan Gede Prama di detik.com. dalam tulisan tersebut beliau mempertanyakan “adakah manusia yang tidak pernah miskin? Yang sejak lahir sampai meninggal tidak pernah mengalami kemiskinan”..
Dalam tulisannya beliau berkata “kalau orang seperti itu ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang – orang yang tidak pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang lain, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa paling miskin di dunia. Sebab selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan”.
Kalau boleh saya menyimpulkan, manusia – manusia yang tidak pernah miskin, sedikit kaitannya dengan tingkatan material maupun spiritual seseorang, melainkan lebih pada seberapa baik dan seberapa bisa ia mensyukuri dan menikmati hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri tersebut melekat dalam kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam manusia yang tidak pernah miskin.
Terkait dengan uraian diatas, ada juga kawan guru yang bilang “yang namanya guru tidak akan pernah bisa mengubah nasibnya apalagi penghasilannya”. Nah inilah paradigm yang berkembang dalam dunia keguruan kita meski akhir – akhir ini pemerintah sudah memiliki kebijakan sertifikasi guru yang secara tak langsung menambah “kemacetan” di beberapa kota karea banyak guru yang mulai berani kredit mobil meski terkadang nyetir aja masih belum bisa atau malah SIM A aja “nembak” hehe…
Kita cukup bisa memahami sebenarnya persoalannya ada pada “paradigma” yang kalau kata Steven Covey dalam buku Seven Habbit-nya mengatakan : sedikitnya membutuhkan waktu sampai satu generasi untuk mengubah paradigma. Pertanyaannya “apakah kita harus terjebak dengan Paradigma using tersebut? Kalau sebagai guru, kita masih saja berpendapat seperti itu maka tunggu saja akan muncul paradigma turunannya bahwa “ajaran sekolah untuk menjadi orang kaya lebih digemari dari pada sekolah untuk menjadi orang yang pintar”, dan ini sudah menjangkit di jaman ini. Hal ini bisa terjadi dari nasehat menyesatkan sang guru rajinlah sekolah agar mendapat nilai yang bagus dan bisa sekolah tinggi sehingga kamu kelak akan mudah dapat kerja.
Satu hal yang harus disadari olah guru di jaman ini bahwa seorang peserta didik di era ini yang akan hidup di era berikutnya membutuhkan pendidikan yang lebih dari sekedar menghafal, ulangan, mengambil nilai rapor, UN dan Lulus dan diakui atau tidak dalam kultur dunia lembaga pendidikan (baca; sekolah) kita hari ini belum memberikan hal tersebut.
Menanggapi fenomena tersebut, tidak ada yang lebih utama kecuali mengadakan PERUBAHAN  yang membawa paradigm para guru yang kurang baik menjadi sebuah kondisi yang baik, yang sudah baik menjadi lebih baik sehingga profesi guru memiliki pengaruh, bargaining dan nilai tawar yang menjanjikan di masa depan. Kita berharap suatu hari para anak SMA dan sederajat yang akan masuk kuliah akan berebut masuk FKIP atau IKIP dan menjadi guru karena menteri pendidikan, menteri agama dan para menteri lainnya diambil dari para Guru.
Mengapa perubahan menjadi faktor penentu perbaikan kualitas guru yang akan bermuara pada perbaikan kualitas pendidikan? Karena saat ini kita hidup dalam abad yang penuh dengan perubahan – perubahan yang super cepat, abad yang dipenuhi dengan penemuan baru dalam pengetahuan dan teknologi, teori – teori dan metode serta permasalahan baru juga pemecahannya yang baru pula.
Menjadi manusia yang siap berubah, membutuhkan keyakinan yang ekstra kuat dalam diri, terutama sisi hatinya. Beranikah anda mencukur kumis anda yang selama ini menjadi symbol kewibawaan anda? Beranikah anda tersenyum kepada murid – murid yang menurut anda nakal (meski sebenarnya tidak ada murid nakal) yang selama ini membuat anda kesal, gendeng bahkan mendapat predikat Guru Galau? Siapkah anda menerima hal baru sebagai bagian kemajuan diri anda wahai bapak ibu guru?

“Allah tidak akan mengubah suatu nasib suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.”
(QS Ar-Ra’du :11)

Proses menjadi guru kaya diawali sebuah sikap yaitu KEYAKINAN. Empat kompetensi guru (Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial dan Kompetensi Kepribadian) harus disinergikan untuk menopang keyanikan agar dapat dijalankan dalam realitas hidup. Menurut Amir Tengku Ramli dengan mensinergikan empat kompetensi guru secara seimbang dalam setiap pola interaksi guru akan melahirkan sosok guru kaya.

Sebenarnya, bagaimana sih guru yang disebut guru kaya?
Amir Tengku Ramli mengartikan ada 4 hal utama terkait hal ini (guru dan pengajaran) :
1    1. Disebut guru kaya, bila seorang guru memiliki cara pandang bahwa jabatan guru itu adalah “profesi”, karenanya senantiasa harus dilatih keahliannya sehingga melahirkan sosok guru pemilik dan perancang.
      2. Disebut guru kaya, bila seorang guru memiliki pola hubungan (interaksi) khusus dengan peserta didik yang mengedepankan sikap proaktif dan mentalitas kaya (win – win solution)
3    3.Disebut guru kaya, bila seorang guru melakukan proses pengajaran yang senantiasa tidak  mematikan potensi dan peserta didik terkait antara dunia pengajaran dan dunia realitas. Guru yang melakukan proses ini disebut ‘Guru Biofili’
      4.Disebut guru kaya, bila seorang guru senantiasa belajar dengan mensinergika otak kiri, otak kanan, panca indera dan hatinya untuk memperoleh sumber ilmu yang hakiki. Guru yang memperoleh sumber ilmunya sebagai mata air ini, disebut Guru ‘berhati bintang’ (kalau saya bisa mengatakan guru Rock n Roll)

Disebut guru kaya sesungguhnya menggambarkan keadaan seseorang yang mampu memadukan kompetensi dirinya dengan kompetensi profesinya sebagai guru.  Menjadi guru kaya artinya kita sebagai guru melakukan perpindahan kuadran melalui pergeseeran paradigma (to have menuju to be)



 TO HAVE ---------------------------------> TO BE
(pergeseran paradigma)


Menjadi guru kaya (to be) berbeda dengan memiliki kekayaan melalui/dari pekerjaan sebagai guru (to have). Meskipun outputnya sama tetapi proses dan caranya sangat menentukan terhadap keberadaan anda sebagai guru. Menjadi kaya dengan konsep to be tidak akan mengebiri profesi sebagai guru, sementara memperoleh kekayaan dengan konsep to have mungkin sebagai guru akan memiliki dualism dan ambiva;ensi terhadap profesi sebagai guru.
Menjadi guru kaya bukan berarti anda ‘ngobjek’ atau mengerjakan bisnis/proyek sambil mengajar. Kasus ini membuktikan anda sebagai guru hanya menjadikan profesi guru sebagai batu loncatan, anda banyak mengajar jika tidak ada proyek, dan sedikit mengajar jika ada proyek atau malah tidak mengajar sama sekali begitu kebanjiran proyek. Menjadi guru kaya adalah system yang anda ciptakan sendiri, yang nantinya system itulah yang akan bekerja untuk anda.
Dalam buku Pumping Teacher, Amir Tengku Ramli menguraikan bahwa bargaining atau tidaknya profesi guru tergantung dari cara pandang guru itu sendiri. Jika guru memandang profesi guru sebagai profesi yang gurem, tidak bermasa depan, maka itulah yang akan didapat guru, begitu juga sebaliknya. Kekuatan cara pandang tersebut mestilah diawali dengan kemampuan mengubah kata atau sikap kita dari TEACHING menjadi LEARNING. Karena dalam leraning, guru memiliki kesempatan lebih dalam memberdayakan dirinya dan lingkungan belajarnya. BELAJAR (learning) itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses perbaikan diri terus – menerus.
Berdasarkan cara pandang guru dalam pekerjaannya ada, maka guru dapat dikelompokan dalam 4 kuadran utama:






 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTxICM0CNyamiqSAmjRIqRtbEqi8TFF3zMJQSls4ulomtE8wmSXipLr2Ch9yaOLuDCQHVcl42xPt9xzTIDQDgWHNhjKmSWxsz5JEM-lD2tGfjaPjfaMMmwCSDKwEFumYJdq-I_VlXK8pU/s320/to+be.jpg


  
    1. Guru disebut pekerja (kuadran 1) ini bisa dikatakan guru yang menyukai kemapanan, tidak ada keinginan untuk berubah. Guru gemar dengan pekerjaan rutinitas yang menjadi tanggung jawabnya. Perilaku guru ini tampak oleh ‘mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada peserta didik yang berbeda’. Pada kuadran ini guru masih memiliki paradigma to have. Sumber penghasilan sang guru adalah satu – satunya dari gaji/honor bulanan/mingguan ditambah dari proyek – proyek skala kecil dan rutin.
2.Guru dikatakan professional (kuadran 2) adalah guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang dengan pekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Perilaku guru ini tampak oleh “mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang berbeda kepada orang yang berbeda”. Pada kuadran ini guru mulai memiliki pergeseran paradigm akan tetapi masih pada konsep to have. Anda (guru) menjadi system bagi diri anda sendiri. Sumber penghasilan adalah sebagai professional yang memiliki nilai (harga) setiap kali anda mengajar.
     3.Guru pemilik merupakan (kuadran 3) guru yang memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait dengan pengajaran tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga guru pemilik menjadi bagian dari kelompok pengambil kebijakan dan keputusan. Senang dengan peran sebagai investor dan atau pimpinan dengan tujuan mendapatkan penghasilan dari investasi/tugas tersebut. Guru inilah yang menjalankan sistem secara strategis, untuk mengandelikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga pengajaran. Pada kuadran ini guru mengalami pergeseran paradigma yang sangat jelas dari to have menuju to be. Sumber penghasilan guru ini adalah dari keahlian dan system yang anda (guru) kendalikan.
4.Guru perancang (kuadran 4) adalah guru yang berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran, bersifat inovatif, senang pad aide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Guru tipe ini adalah orang yang kaya dengan ide/gagasan yang inovatif yang menjadikan guru yang sangat berarti. Anda (guru) menjadi perancang sistem bagi kemajuan diri dan masa depan orang lain. Pada kuadran ini menunjukan pergeseran paradigm anda (guru) sudah menjadi sepenuhnya ke kuadran to be. Sumber penghasilan anda adalah dari system dan gagasan yang banyak diterapkan banyak orang. Ide dan gagasan bekerja untuk menghasilkan uang bagi guru.

Untuk berpindah kuadran dari kiri (Guru Pekerja dan Guru Profesional) ke kuadran kanan (guru Pemilik dan Guru Perancang)  atau paradigma to have menuju to be seorang guru harus melakukan perubahan paling mendasar yaitu cara pandangnya terhadap pengajaran. Guru harus memandang bahwa pengajaran yang sedang dilakukan adalah profesi.
                Sebenarnya apa sesungguhnya perbedaan paling mendasar antara profesi dengan pekerjaan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesi (/pro·fe·si/ /profési/ n bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu;) artinya seseorang yang bekerja karena keahlian yang dimilikinya dan yang menjadi standar adalah tercapainya tujuan pribadi dan lembaga dalam hal ini lembaga pendidikan, sedangkan pekerjaan ([n] (1) barang apa yg dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dsb); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan) artinya suatu tugas yang diberikan oleh lembaga atau atasan yang harus dilaksanakan sesuai keinginan atasan.
Sudah saatnya guru merubah paradigm bahwa bukan tidak mungkin menjadi guru kaya baik secara materi terlebih secara spiritual. Dan yakinlah bahwa menjadi seorang guru merupakan pilihan tepat. Akhirul Kalam selamat mendidik peserta didik anda dengan Cinta…dan tetap #semangat_sukses_mulia.


Sumber bacaan:
Kiyosaki T. Robert, The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2001
Prama, Gede, Orang idak Pernah Miskin, detik.com
Ramly, A.T, Pumping Teacher, Grahadika Binangkit Press, Jakarta 2003
----------------, Menjadi Guru Kaya, Pustaka Inti, Bekasi 2005