Selasa, 26 November 2013

TUHAN, JANGAN BIARKAN GURUKU GALAU (1)




Citra duduk terkulai lemas,lunglai pada sebuah kursi kuno di taman mungil depan kelasnya. Hari ini Citra sedang dirundung kemalangan. Meski disekitarnya teman-temannya sedang bermain bersenda gurau dengan p-enuh kegembiraan, namun hal ini tidak membuat Citra merasa bahagia dan terus menatap dengan tatapan kosong, sayu seolah menyimpan berjuta rasa sendu. Mulutnya terkunci rapat dengan mimic wajah yang sangat sedih.
Namun, kedua matanya masih menatap tajam mengamati sebuah meja di sudut kantor tempat bu Sandra sibuk melaksanakan salah satu tugas keguruannya. Ya, bu Sandra yang selama ini menjadi sudah sangat dekat dengan Citra dan seolah – olah bu Sandra itu merupakan ibu kandungnya sendiri. Bu Sandra yang selama ini selalu menjadi tempat curhat menumpahkan segala keluh kesah dan selalu member solusi yang dapat menumbuhkan semangat Citra sebagai seorang peserta didik yang optimis, penuh gairah belajar dan ceria sudah bukan bu Sandra yang dulu lagi.
Bu Sandra yang selama ini sudah seperti ibu kandung Citra berubah menjadi sosok bu Sandra yang lain. Sekarang bu Sandra jarang masuk kelas, tugas dan tugas terus yang selalu ada ketika jam pelajaran bu Sandra berlangsung yang terkadang setelah tugas dikumpul nasibnya tak tau bagaimana rimbanya. Bu Sandra yang selama ini selalu menyempatkan diri untuk bercanda bersama anak didiknya mengevaluasi pembelajarannya, mendengarkan curhat­an anak didinya namun dalam minggu – minggu ini sangat bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya.
                

Fenomena seperti diatas tidak jarang terjadi di sekolah kita. Banyak guru bahkan mungkin kita sendiri sebagai seorang guru mengalami banyak persoalan sehingga tugas dan kewajiban seorang guru sering terbengkalai yang berakibat buruk pula kepada iklim belajar di kelas dan tentunya memiliki efek buruk kepada anak didik kita. Kegalauan memang banyak ditemui di akhir – akhir ini. Dan sebenarnya hal ini sudah banyak terjadi sejak dahulu.
Harus diakui bahwa peran seorang guru dalam proses pengajaran dan pendidikan di sekolah sangatlah penting. Idealnya, di mata siswa guru merupakan tempat bersandar yang kapanpun dapat mereka temukan. Bisa jadi guru bisa dikatakan semacam tempat pelarian bagi anak didik yang selama ini kurang beruntung untuk dapat mencicipi kenyamanan dalam kehidupannya. Guru sangat diharapkan anak didik menjadi sosok yang paling mengerti tentang semua keadaannya.
Saat peran seorang guru menjadi sangat penting dalam perkembangan anak didik, secara umum persoalan yang menjadi penghambat adalah kegalauan seorang guru. Kegalauan seorang guru juga berpotensi menjadi pemantik kesenjangan antara harapan dan kenyataan antara guru dan peserta didik dalam kehiduan sehari – hari.
Memang akhir – akhir ini kita sangat sering mendengar atau membaca kata GALAU. Galau memang tidak pernah datang dengan permisi, dengan baik baik mengucapkan salam dan cenderung datang dan pergi semaunya. Inilah Galau. Kegalauan ini mungkin merupakan akumulasi beberapa emosi negative yang muncul yang berkumpul menjadi satu. Emosi negative disini penulis maksudkan sebagai bagian dari bad mood.
Secara umum, kalau kita perhatikan kondisi guru – guru yang termasuk galau ada beberapa cirri yang bisa menjadi indokator penyebab seorang guru dikatakan guru galau.
1.       Menghindar
Saat galau datang, semua kondisi yang semula adalah kondisi – kondisi yang positif semua memudar. Seorang guru yang tadinya sangat senang mendapatkan pertanyaan dari anak didiknya atau tugas dari sekolah sekarang berusaha untuk menghindarinya. Kepercayaan dirin yang tadinya selalu memancar sekarang seakan pudar begitu saja.
Seorang guru yang dahulunya kuat memikul semua tanggung jawab keguruannya, untuk saat ini seolah semua tinggal kenangan. Bahkan untuk berjumpa dengan atasan, sesama guru, bahkan berjumpa dengan siswanya saja ia berusaha untuk menghindar. Sadar atau tidak, menghindar dianggap sebagai tempat perlindungan yangnaman. Akan tetapi, semakin sering menghindar dari kenyataan semakin bertumpuk pula masalah yang akan hinggap.
Saat siswa terus dibatasi dalam ruang lingkup terbatas yang diciptakan sang guru yang dirundung galau, secara tidak sadar hal itu bermakna semacam pembunuhan karakter bagi anak didik yang secara alamiah sedang berkembang.
2.       Curhat
Curhat, apa yang salah dengan curhat. Bukankah hal ini manusiawi. Memang curhat sebagai sebuah kebiasaan dalam warna-warni kehidupan. Curhat biasanya menularkan antusias dan mood. Jika sednag menceritakan hal – hal yang menyenangkan, emosi positif akan tertular kepada partner curhat, begitu pula sebaliknya.
Seorang guru yang galau sering curhat mengenai masalahnya. Lebih sering meminta orang lain mendengarkan keluh kesahnya dari pada menjadi pendengar yang baik terlebih member solusi. Hal ini biasanya terjadi kepada sesame guru ataupun kepada murid. Bayangkan saja apabila seorang guru yang seharusnya bersedia mendengarkan keluhan siswa berganti posisi. Hari demi hari siswa akan menghitung berapa kali dalam satu pertemuan kalimat – kalimat curhatan dari sang guru.
        “ ibu ini sedang sedih, jadi jangan banyak Tanya”
        “kalian pikir hanya kalian yang punya masalah? Bapak juga punya masalah, diam!”
        “kalian baca sendiri materinya dari pada ibu marah, ibu sedang tidak enak pikiran”
Diakui atau tidak, selain kegalauan guru yang muncul secara nyata, kegalauan guru di zaman ini juga terlihat dari jejaring sosial pribadinya. Perhatikan baik – baik status yang sering di-update baik via facebook,twitter,path atau jejaring sosial lainnya. Padahal kita semua tau, jika dengan mudahnya semua status itu dapat ditemukan oleh guru lain, bahkan murid sendiri. Jika ini terus terjadi, kira – kira apa yang akan terjadi dengan harga diri guru di mata masyarakat?
3.       Rindu
Secara umum, guru yang Galau dengan me-Rindu kehadiran masa lalu bersama muridnya yang dahulu atau kelas lain. Idealnya, sebagai seorang guru kita tidak bisa memilih seperti apa siswa yang nantinya akan hadir di kelas kita. Kerinduan guru yang galau kepada siswanya yang terdahulu terkadang menyakitkan. Pertama sebagai guru galau, ia sendiri akan mendapati perasaannya yang semakin rindu akan “keberhasilan” mengajar dan mendidik kelas sebelumnya dan semakin bertolak belakang pula dengan keadaan yang ada sekarang. Kedua, hal ini sangat berefek negative kepada anak didik di kelas. Bagaimana perasaan siswa bila dibandingkan dengan kakak kelasnya yang memang berbeda untuk setiap siswa. Kita tentu sering mendengarkan ungkapan guru
        “kakak kelasmu bisa mengerjakan soal ini dengan cepat, tidak lambat seperti kalian”
        “kelas yang ibu ajar tahun lalu lebih cekatan dari pada kelas kalian”
Guru galau cenderung membandingkan dan menilai secara subjektif. Hal inilah yang terkadang mematikan hati, perasaan dan membekukan perasaan anak didik. Anak didik tentu ingin mendapat pengakuan secara objektif akan keberadaannya di dalam kelas.
4.       Pesimis
Guru yang pesimis akan kehilangan kepercayaan diri. Semangat yang tadinya berapi – api padam begitu saja. Tatapan yang biasanya menyiratkan sinar optimir seolah sirna oleh persepsi subjektifnya. Guru galau terlalu mendramatisasi perasaan. Rasa pesimis lebih dijadikan sebagai patokan dan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan sehingga berbagai macam kekhawatiran muncul di dalam pikirannya.
Secara sadar atau tidak, guru galau menjadi aktif berfikir meski dalam keyakinan negatifnya. Guru galau yang pesimis selalu tidak percaya kemampuann yang ada, baik kemampuannya, tim terlebih lagi kemampuan siswanya.
Sebaliknya guru yang optimis senantiasa member aura yang positif kepada tim, dirinya sendiri dan tentunya kepada anak didiknya. Bisa kita perhatikan berapa banyak prestasi yang diukir anak didik yang diampu oleh guru optimis? Bandingkan dengan prestasi atau pelanggaran yang terjadi didalam kelas dengan guru pesimis !
Saat anak didiknya berada dalam kondisi terpuruk guru optimis akan member ungkapan yang positif pula “selalu ada jalan selama engkau berusaha secara maksimal”, lain dengan guru yang pesimis ia akan mengungkapkan “mana bisa kamu sukses nanti, orang tuamu saja tidak peduli sama kamu”. Dapat kita bayangkan bila ungkapan – ungkapan pesimis dari guru menjadi wejangan bagi anak didiknya.
5.       Pendiam
Selama ini kita sering mendengar “diam itu emas”, hal ini memang benar bila ditempatkan dalam situasi dan kondisi yang sesuai. Bagaimana apabila ada guru yang cenderung diam? Apaka kita selaku guru akan membiarkan anak didik kita melakukan hal – hal yang tidak semestinya dilakukan oleh anak usia sekolah tanpa member pengertian dan meluruskannya?
Diakui atau tidak, kebiasaan untuk diam berpotensi menjadikan diam ini sebagai kepribadian yang bermuara pada karakter. Kekuatan sang guru selain dari contoh dan teladan yang diberikan adalah ucapan – ucapan inspiratifnya yang selalu didengungkan di dalam dan diluar kelas.
Tapi harus diingat juga, seorang guru akan selalu menjaga ucapannya. Ia akan selalu member contoh dan teladan bagaimana seorang manusia berbicara, ia akan paham kepada siapa, untuk apa, dimana, bagaimana dan kapan suatu ucapan akan diungkapkan.
6.       Emosi yang tidak stabil
Sebagai manusia jika emosi sudah mulai tidak stabil menguasai diri, perhatikan saja tindakannya. Akan banyak tindakan – tindakan guru yang negatif. Terkadang hal ini bisa merusak keharmonisan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Sensitive, begitulah kiranya kita akan menyebut. Diakui atau tidak, profesi seorang guru akan banyak bersentuhan dengan berbagai hal yang berpotensi menyentuh sisi – sisi sensitive manusia. Berjumpa dengan siswa yang memiliki karakter yang variatif adalah sebuah hal yang harus dijalani.
Apabila emosi yang tidak stabil ini selalu terbawa oleh sang guru, maka yang terjadi adalah selalu melihat sisi negative dari apa yang dilihatnya. Siswa akan selalu dicurigai dan akan selalu dilihat sisi mana dari aktifitas siswa yang melanggar aturan sekolah.
7.       Bingung
Guru galau yang mengalami kebingungan terkadang tidak tau apa yang harus dilakukan. Hal ini akan berakibat buruk untuk sang guru yaitu ia akan kehilanga “keasktian”-nya sebagai seorang guru. Saat berada di dalam kelas ia tiba – tiba saja blank dan sejenak terdiam karena bingung “mau ngapain”. Hal ini sering terjadi karena sang guru sudah tidak focus terhadap pengajarannya yang disebabkan oleh kegalauannya sendiri.
8.       Malas
Malas memang selalu menjadi momok dan akan datang kepada siapa saja. Bayangkan bila seorang guru menjadi malas, apakah ia akan juga menuntut anak muridnya “jangan malas belajar!”…
Mungkin, sebagai guru kita menyadari jika ada segudang pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun bagi guru yang sedang diselimuti perasaan galau hal ini berubah menjadi beban tersendiri baginya. Guru galau yang malas sudah pasti juga malas memperhatikan dirinya sendiri. Dapat kita bayangkan bila kemalasan sang guru juga menular kepada anak didik di kelasnya. Bagaimana sang guru akan memotivasi anak didiknya apabila sang guru tidak mampu memotivasi dirinya sendiri karena malas yang diakibatkan oleh kegalauannya?

                Beberapa kawan-kawan guru mungkin setuju dengan beberapa indicator guru galau seperti yang saya sebutkan sebelumnya, atau juga ada criteria tambahan yang bisa dikategorikan cirri – cirri guru yang sedang galau.

To be continued….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar