Citra duduk terkulai lemas,lunglai pada
sebuah kursi kuno di taman mungil depan kelasnya. Hari ini Citra sedang
dirundung kemalangan. Meski disekitarnya teman-temannya sedang bermain bersenda
gurau dengan p-enuh kegembiraan, namun hal ini tidak membuat Citra merasa
bahagia dan terus menatap dengan tatapan kosong, sayu seolah menyimpan berjuta rasa
sendu. Mulutnya terkunci rapat dengan mimic wajah yang sangat sedih.
Namun, kedua matanya masih menatap tajam mengamati sebuah meja di sudut
kantor tempat bu Sandra sibuk melaksanakan salah satu tugas keguruannya. Ya, bu
Sandra yang selama ini menjadi sudah sangat dekat dengan Citra dan seolah –
olah bu Sandra itu merupakan ibu kandungnya sendiri. Bu Sandra yang selama ini
selalu menjadi tempat curhat menumpahkan segala keluh kesah dan selalu member solusi
yang dapat menumbuhkan semangat Citra sebagai seorang peserta didik yang
optimis, penuh gairah belajar dan ceria sudah bukan bu Sandra yang dulu lagi.
Bu Sandra yang selama ini sudah seperti ibu kandung Citra berubah
menjadi sosok bu Sandra yang lain. Sekarang bu Sandra jarang masuk kelas, tugas
dan tugas terus yang selalu ada ketika jam pelajaran bu Sandra berlangsung yang
terkadang setelah tugas dikumpul nasibnya tak tau bagaimana rimbanya. Bu Sandra
yang selama ini selalu menyempatkan diri untuk bercanda bersama anak didiknya
mengevaluasi pembelajarannya, mendengarkan curhatan anak didinya namun dalam
minggu – minggu ini sangat bertolak belakang dengan keadaan sebelumnya.
Fenomena seperti
diatas tidak jarang terjadi di sekolah kita. Banyak guru bahkan mungkin kita
sendiri sebagai seorang guru mengalami banyak persoalan sehingga tugas dan
kewajiban seorang guru sering terbengkalai yang berakibat buruk pula kepada
iklim belajar di kelas dan tentunya memiliki efek buruk kepada anak didik kita.
Kegalauan memang banyak ditemui di akhir – akhir ini. Dan sebenarnya hal ini
sudah banyak terjadi sejak dahulu.
Harus diakui
bahwa peran seorang guru dalam proses pengajaran dan pendidikan di sekolah
sangatlah penting. Idealnya, di mata siswa guru merupakan tempat bersandar yang
kapanpun dapat mereka temukan. Bisa jadi guru bisa dikatakan semacam tempat pelarian
bagi anak didik yang selama ini kurang beruntung untuk dapat mencicipi kenyamanan
dalam kehidupannya. Guru sangat diharapkan anak didik menjadi sosok yang paling
mengerti tentang semua keadaannya.
Saat peran
seorang guru menjadi sangat penting dalam perkembangan anak didik, secara umum
persoalan yang menjadi penghambat adalah kegalauan seorang guru. Kegalauan seorang
guru juga berpotensi menjadi pemantik kesenjangan antara harapan dan kenyataan
antara guru dan peserta didik dalam kehiduan sehari – hari.
Memang akhir –
akhir ini kita sangat sering mendengar atau membaca kata GALAU. Galau memang tidak pernah datang dengan permisi, dengan baik
baik mengucapkan salam dan cenderung datang dan pergi semaunya. Inilah Galau. Kegalauan
ini mungkin merupakan akumulasi beberapa emosi negative yang muncul yang
berkumpul menjadi satu. Emosi negative disini penulis maksudkan sebagai bagian
dari bad mood.
Secara umum, kalau
kita perhatikan kondisi guru – guru yang termasuk galau ada beberapa cirri yang
bisa menjadi indokator penyebab seorang guru dikatakan guru galau.
1. Menghindar
Saat galau datang, semua kondisi yang semula adalah
kondisi – kondisi yang positif semua memudar. Seorang guru yang tadinya sangat
senang mendapatkan pertanyaan dari anak didiknya atau tugas dari sekolah sekarang
berusaha untuk menghindarinya. Kepercayaan dirin yang tadinya selalu memancar
sekarang seakan pudar begitu saja.
Seorang guru yang dahulunya kuat memikul semua
tanggung jawab keguruannya, untuk saat ini seolah semua tinggal kenangan. Bahkan
untuk berjumpa dengan atasan, sesama guru, bahkan berjumpa dengan siswanya saja
ia berusaha untuk menghindar. Sadar atau tidak, menghindar dianggap sebagai
tempat perlindungan yangnaman. Akan tetapi, semakin sering menghindar dari
kenyataan semakin bertumpuk pula masalah yang akan hinggap.
Saat siswa terus dibatasi dalam ruang lingkup terbatas
yang diciptakan sang guru yang dirundung galau, secara tidak sadar hal itu
bermakna semacam pembunuhan karakter bagi anak didik yang secara alamiah sedang
berkembang.
2.
Curhat
Curhat, apa yang salah dengan curhat. Bukankah hal ini
manusiawi. Memang curhat sebagai sebuah kebiasaan dalam warna-warni kehidupan. Curhat
biasanya menularkan antusias dan mood.
Jika sednag menceritakan hal – hal yang menyenangkan, emosi positif akan
tertular kepada partner curhat, begitu pula sebaliknya.
Seorang guru yang galau sering curhat mengenai
masalahnya. Lebih sering meminta orang lain mendengarkan keluh kesahnya dari
pada menjadi pendengar yang baik terlebih member solusi. Hal ini biasanya
terjadi kepada sesame guru ataupun kepada murid. Bayangkan saja apabila seorang
guru yang seharusnya bersedia mendengarkan keluhan siswa berganti posisi. Hari demi
hari siswa akan menghitung berapa kali dalam satu pertemuan kalimat – kalimat curhatan
dari sang guru.
“ ibu ini
sedang sedih, jadi jangan banyak Tanya”
“kalian pikir
hanya kalian yang punya masalah? Bapak juga punya masalah, diam!”
“kalian
baca sendiri materinya dari pada ibu marah, ibu sedang tidak enak pikiran”
Diakui atau tidak, selain kegalauan guru yang muncul
secara nyata, kegalauan guru di zaman ini juga terlihat dari jejaring sosial
pribadinya. Perhatikan baik – baik status yang sering di-update baik via facebook,twitter,path
atau jejaring sosial lainnya. Padahal kita semua tau, jika dengan mudahnya semua
status itu dapat ditemukan oleh guru lain, bahkan murid sendiri. Jika ini terus
terjadi, kira – kira apa yang akan terjadi dengan harga diri guru di mata
masyarakat?
3.
Rindu
Secara umum, guru yang Galau dengan me-Rindu kehadiran
masa lalu bersama muridnya yang dahulu atau kelas lain. Idealnya, sebagai
seorang guru kita tidak bisa memilih seperti apa siswa yang nantinya akan hadir
di kelas kita. Kerinduan guru yang galau kepada siswanya yang terdahulu
terkadang menyakitkan. Pertama sebagai guru galau, ia sendiri akan mendapati
perasaannya yang semakin rindu akan “keberhasilan” mengajar dan mendidik kelas
sebelumnya dan semakin bertolak belakang pula dengan keadaan yang ada sekarang.
Kedua, hal ini sangat berefek negative kepada anak didik di kelas. Bagaimana perasaan
siswa bila dibandingkan dengan kakak kelasnya yang memang berbeda untuk setiap
siswa. Kita tentu sering mendengarkan ungkapan guru
“kakak
kelasmu bisa mengerjakan soal ini dengan cepat, tidak lambat seperti kalian”
“kelas
yang ibu ajar tahun lalu lebih cekatan dari pada kelas kalian”
Guru galau cenderung membandingkan dan menilai secara
subjektif. Hal inilah yang terkadang mematikan hati, perasaan dan membekukan
perasaan anak didik. Anak didik tentu ingin mendapat pengakuan secara objektif
akan keberadaannya di dalam kelas.
4.
Pesimis
Guru yang pesimis akan kehilangan kepercayaan diri. Semangat
yang tadinya berapi – api padam begitu saja. Tatapan yang biasanya menyiratkan
sinar optimir seolah sirna oleh persepsi subjektifnya. Guru galau terlalu
mendramatisasi perasaan. Rasa pesimis lebih dijadikan sebagai patokan dan
pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan sehingga berbagai macam
kekhawatiran muncul di dalam pikirannya.
Secara sadar atau tidak, guru galau menjadi aktif
berfikir meski dalam keyakinan negatifnya. Guru galau yang pesimis selalu tidak
percaya kemampuann yang ada, baik kemampuannya, tim terlebih lagi kemampuan
siswanya.
Sebaliknya guru yang optimis senantiasa member aura
yang positif kepada tim, dirinya sendiri dan tentunya kepada anak didiknya. Bisa
kita perhatikan berapa banyak prestasi yang diukir anak didik yang diampu oleh
guru optimis? Bandingkan dengan prestasi atau pelanggaran yang terjadi didalam
kelas dengan guru pesimis !
Saat anak didiknya berada dalam kondisi terpuruk guru
optimis akan member ungkapan yang positif pula “selalu ada jalan selama engkau
berusaha secara maksimal”, lain dengan guru yang pesimis ia akan mengungkapkan “mana
bisa kamu sukses nanti, orang tuamu saja tidak peduli sama kamu”. Dapat kita
bayangkan bila ungkapan – ungkapan pesimis dari guru menjadi wejangan bagi anak didiknya.
5.
Pendiam
Selama ini kita sering mendengar “diam itu emas”, hal
ini memang benar bila ditempatkan dalam situasi dan kondisi yang sesuai. Bagaimana
apabila ada guru yang cenderung diam? Apaka kita selaku guru akan membiarkan
anak didik kita melakukan hal – hal yang tidak semestinya dilakukan oleh anak
usia sekolah tanpa member pengertian dan meluruskannya?
Diakui atau tidak, kebiasaan untuk diam berpotensi
menjadikan diam ini sebagai kepribadian yang bermuara pada karakter. Kekuatan sang
guru selain dari contoh dan teladan yang diberikan adalah ucapan – ucapan inspiratifnya
yang selalu didengungkan di dalam dan diluar kelas.
Tapi harus diingat juga, seorang guru akan selalu
menjaga ucapannya. Ia akan selalu member contoh dan teladan bagaimana seorang
manusia berbicara, ia akan paham kepada siapa, untuk apa, dimana, bagaimana dan
kapan suatu ucapan akan diungkapkan.
6.
Emosi yang
tidak stabil
Sebagai manusia jika emosi sudah mulai tidak stabil
menguasai diri, perhatikan saja tindakannya. Akan banyak tindakan – tindakan guru
yang negatif. Terkadang hal ini bisa merusak keharmonisan hubungan yang sudah
terjalin selama ini. Sensitive, begitulah kiranya kita akan menyebut. Diakui atau
tidak, profesi seorang guru akan banyak bersentuhan dengan berbagai hal yang
berpotensi menyentuh sisi – sisi sensitive manusia. Berjumpa dengan siswa yang
memiliki karakter yang variatif adalah sebuah hal yang harus dijalani.
Apabila emosi yang tidak stabil ini selalu terbawa
oleh sang guru, maka yang terjadi adalah selalu melihat sisi negative dari apa
yang dilihatnya. Siswa akan selalu dicurigai dan akan selalu dilihat sisi mana
dari aktifitas siswa yang melanggar aturan sekolah.
7.
Bingung
Guru galau yang mengalami kebingungan terkadang tidak
tau apa yang harus dilakukan. Hal ini akan berakibat buruk untuk sang guru
yaitu ia akan kehilanga “keasktian”-nya sebagai seorang guru. Saat berada di
dalam kelas ia tiba – tiba saja blank
dan sejenak terdiam karena bingung “mau
ngapain”. Hal ini sering terjadi karena sang guru sudah tidak focus terhadap
pengajarannya yang disebabkan oleh kegalauannya sendiri.
8.
Malas
Malas memang selalu menjadi momok dan akan datang
kepada siapa saja. Bayangkan bila seorang guru menjadi malas, apakah ia akan
juga menuntut anak muridnya “jangan malas belajar!”…
Mungkin, sebagai guru kita menyadari jika ada segudang
pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun bagi guru yang sedang diselimuti
perasaan galau hal ini berubah menjadi beban tersendiri baginya. Guru galau
yang malas sudah pasti juga malas memperhatikan dirinya sendiri. Dapat kita
bayangkan bila kemalasan sang guru juga menular kepada anak didik di kelasnya. Bagaimana
sang guru akan memotivasi anak didiknya apabila sang guru tidak mampu
memotivasi dirinya sendiri karena malas yang diakibatkan oleh kegalauannya?
Beberapa
kawan-kawan guru mungkin setuju dengan beberapa indicator guru galau seperti
yang saya sebutkan sebelumnya, atau juga ada criteria tambahan yang bisa
dikategorikan cirri – cirri guru yang sedang galau.
To be continued….