Kamis, 31 Maret 2016

SPG dan Rokok

Pagi ini dan seperti pagi biasanya kalau sedang nunggu kawan untuk diskusi mengenai suatu project saya nongkrong bareng kawan-2 di warung kopi depan kampus...karena di Malang warung kopi yang jumlahnya ratusan tidak sekedar tempat ngopi (bahkan di kota lain juga) tapi juga digunakan sebagai tempat diskusi bahkan deal project dan kesepakatan kerja. Ada pemandangan "menarik" sekaligus mengganggu pikiran saya dan seorang kawan saya. ketika sedang asyik ngopi, ada SPG sebuah produk rokok menawarkan rokoknya. sekilas tak ada yang aneh bahkan ya dianggap biasa ketika sebuah produk rokok menggunakan SPG dan langsung menawarkan produknya kepada perokok yang kebanyakan berada di cafe atau warung Kopi. Yang membuat "menarik" bagi saya dan 1 kawan saya ya SPG-nya terutama pakaianya. Sepagi ini kami didatangi SPG dengan pakaian "yang kalau lelaki Normal pasti akan berfikiran menggoda dan mungkin pikirannya langsung "kesana" ..." Itu kata kawan saya... diskiusi dilanjutkan dengan tema yang berubah yang awalnya membahas mengenai pekerjaan menjadi "kenapa sih SPG rokok itu harus menggunakan pakaian yang seperti itu, dan apa ada korelasi potitifnya antara engka penjualan yg meningkat dg penggunaan SPG yang berpakaian minimalis" Secara pribadi Jujur saya merasa "kasihan" ngelihat SPG rokok yg masih muda seksi muter-2 warung kopi pagi-2 gini. Mereka mencari uang yg halal dg (maaf) memakai pakaian yg menurut saya ga' cocok deh buat jualan rokok...emang sih itu salah satu teknis marketing. Meski rokok yg dijual bukan merk yg saya konsumsi...terkadang saya beli kalau ada margin uang yg cukup, dan pagi ini pun kawan saya dengan iseng mengajak diskusi SPG tadi, ternyata rata - rata usia mereka berumur sekitar 21-30 tahun dengan jam kerja sekitar 5-7 jam perhari. Alasan mereka kenapa kerja di lapangan kerja ini, karena pekerjaannya ringan dan tidak memerlukan pendidikan yang tinggi. Pengakuan mereka (lagi) seringkali mereka mengalami eksploitasi fisik berupa pelecehan seksual, dan ada pengakuan-nya yang menurut "bahasa" kami "eksploitasi ekonomi berupa waktu kerja yang sampai malam hari dan tidak terpenuhinya hak-hak pekerja perempuan seperti faktor keselamatan dan hak untuk cuti" saya teringat ada sebuah kajian feminisme tentang SPG (SPG) dan Rokok dan ternyata menemukannya: http://www.scribd.com/doc/163549329/Untitled#download singkat cerita sih kami hanya mengharapkan kepada Perusahaan Rokok dan sejenisnya.kalau mau pake SPG buat promosi nya baju buat jualan ya jangan terlalu seksi deh... kasihan ceweknya :-)

Sumber Tulisan: 
http://www.kompasiana.com/ed_1st/spg-dan-rokok_54f3d02f745513972b6c807f

Idealisme dan Pragmatisme Pendidikan (1)

Perubahan sosial dewasa ini sedemikian pesat dan terkesan uncontrolled. Berbagai perubahan dalam varian lini kehidupan berimbas juga dalam ranah pendidikan. Dalam dunia pendidikan saat ini setidaknya terdapat perubahan yang cukup ekstrem mengenai cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Saat ini banyak anggapan kuat di masyarakat kita bahwa pendidikan identik dengan mencari kerja. Sebagian besar pertimbangan orang tua menyekolahkan anaknya adalah agar kelak mendapatkan pekerjaan yang memadai sesuai dengan investasi yang ditanam di sekolah.

Disini terdapat satu kata yaitu investasi. Investasi merupakan kata yang diderivasi dari lini dan kajian ekonomi. Banyak aspek yang diakibatkan oleh kata investasi ini. Pertanyaannya adalah mengapa opini publik sudah sedemikian kuat memegang bahwa tujuan sekolah sama dengan mencari kerja? Mungkinkah ini akibat dari  semakin menguatnya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan. pragmatisme yang berasal dari habitus ekonomi telah merambah kepada dunia pendidikan.

Menurut penulis, berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan saat ini telah melampui batas. Hal ini bisa dilihat bagaimana kebijakan dan pelaksanaan pendidikan telah keluar dari makna pendidikan itu sendiri. Jika kita kembali kepada makna pendidikan sendiri yang dalam terminologi masyarakat Jawa dianggap sebagai  panggulawenthah (pengolahan), yakni mengolah atau mengubah merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya melalui dua dimensi yaitu rohani (cipta, rasa, karsa, pikir dan budinurani) serta jasmani (pancaindera dan berbagai ketrampilan yang dibutuhkan dalam hidup. Namun yang terjadi saat ini adalah suatu proses pereduksi-an makna pendidikan yang didominasi kepada pengembangan ketrampilan dan kemampuan pikir.

Sebenarnya, bukan suatu yang salah bila kita  mengahut prinsip pragmatis sebab memang demikian salah satu cara untuk mengukur sesuatu tentang "apa manfaatnya?". Namun jika kepentingan-kepentingan diluar hakikat kependidikan telah menginduksi, selain kata investasi ada yang disebut sebagai brand marketing dalam pendidikan.  Dimulai dari kebijakan kurikulum pendidikan, proses pembelajaran, evaluasi dan tujuan secara makro yang didasari oleh corporate value (ideologi pasar) dalam setiap lini pendidikan. Apakah salah jika pendidikan saat ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan kecakapan dalam menyikapi perubahan sosial dan membekali anak didik bagaimana hidup di masa depan. Ideologi pasar jelas berbeda dengan ideologi pendidikan. Ideologi pendidikan lebih mengedepankan sisi humanisme sedang ideologi pasar lebih mementingkan aspek pragmastis-materialistik, untung-rugi dan kalah-menang. Ketika ideologi pasar atau corporate value mendominasi dunia pendidikan maka pendidikan hanya akan mengedepankan pada penguasaan berbagai kecakapan dalam dunia kerja dengan mengorbankan nilai - nilai humanisme. 

Kembali kepada pokok persoalan dunia pendidikan saat ini adalah dominannya pragmatisme dalam dunia pendidikan. Setidaknya dari aspek kurikulum, proses pembelajaran, kebijakan dan outcome diarahkan pada nilai - nilai korporasi. Disini ada sebuah "pertarungan" kepentingan antara idealisme pendidikan (berbasis pada nilai - nilai pendidikan) dan pragmatisme korporasi (berbasis pada nilai - nilai korporasi).

Jika pragmatisme pendidikan senantiasa dikembangkan, setidaknya terdapat tiga kemungkinan relasi idealisme dan pragmatisme pendidikan, yaitu:

Pertama, menjadikan nilai - nilai akademik sebagai basis institusi pendidikan. sebelum kita lebih jauh mengupas sisi pertama ini yaitu "äpa yang disebut dengan nilai-nilai akademik?"...Nilai-nilai akademik yang penulis maksud adalah Nilai-nilai yang terkandung dalam Pendidikan yaitu sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat dalam kehidupan manusia dan harus dimiliki setiap manusia untuk dipandang dalam tatanan kehidupan masyarakat. Nilai disini dalam konteks etika (baik dan buruk), logika (benar dan salah), estetika (indah dan tidak indah). Dalam hal ini diperlukan sebuah konsep pendidikan yang bersifat Humanis.

Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu anak didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.

Selain itu, perlu diingat kembali bahwa tujuan sejati dari pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan , afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis. 

Kedua menjadikan nilai - nilai korporasi sebagai basis institusi pendidikan. Paradigma kedua ini merupakan anggapan kuat yang saat ini berkembang di masyarakat indonesia. Sekolah merupakan sebuah "kebun"yang nantinya bisa melahirkan anak-anak yang kelak mendapatkan pekerjaan yang memadai sesuai dengan investasi yang telah ditanamkan di sekolah. Hal ini sejalan dengan salah satu budaya yang berkembang dalam manajemenj lembaga pendidikan, yaitu berkembangnya corporate value sebagai pondasi dalam menjalankan pola manajemen pendidikan.Tarik menarik kepentingan antara idealisme dan pragmatisme dalam dunia pendidikan memang selalu terjadi.

Di satu sisi, pendidikan punya peran dalam membentuk kehidupan publik. Bahkan pernyataan yang lebih tepat tidak sekedar memberi afirmasi atas peran pendidikan dalam kehidupan publik, namun turut membangun karakter bangsa, negara dan tiap warganya. Lantas kehidupan publik seperti apa yang hendak dibentuk oleh dunia pendidikan? Pendidikan diyakini memainkan peranan yang signifikan dalam membentuk setiap lini kehidupan. Pendidikan merupakan media untuk menyiapkan dan melegitimasi bentuk-bentuk tertentu kehidupan sosial. Jika hal seperti ini yang dikedepankan, maka yang menjadi basis institusi pendidikan adalah nilai-nilai idealisme. Tetapi, pendidikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh korporasi? Apakah dunia pendidikan akan terseret dan didikte oleh kepentingan pasar. Ideologi korporasi jelas berbeda dengan ideologi pendidikan. Ideologi korporasi lebih bertumpu pada nilai-nilai pragmatisme-materialistik dan menekankan konsumsi-komodifikasi. 

Ketika ideologi pasar mendominasi dunia pendidikan, maka pendidikan kita akan mengedepankan nilai-nilai korporasi yang menekankan penguasaan teknik-teknik dasar yang diperlukan dalam dunia kerja. Budaya pragmatis sudah begitu kuat menancap di kehidupan masyarakat. Ketika institusi pendidikan dipahami sebagai lahan investasi ekonomi, maka tujuan pendidikan akan didominasi oleh kepentingan yang bersifat materialistik.

Oleh karena itu perlu pemikiran dan kebijakan yang matang untuk meletakan nilai mana yang akan dijadikan sebagai basis institusi pendidikan. Jika dikorelasikan dengan perkembangan sosial saat ini, apakah pendidikan akan mempengaruhi pasar atau sebaliknya pasar yang akan menentukan arah perkembangan pendidikan? Disinilah letak tantangan dan ujian dunia pendidikan, yakni antara melegitimasi atau melanggengkan struktur sosial yang ada atau pendidikan harus memposisikan diri sebagai instrumen yang kritis dalam melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju kondisi sosial yang lebih humanis.

Apapun pola kebijakan yang akan diambil di masa mendatang untuk mengelola pranata pendidikan, perlu diingat kembali bahwa pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu anak didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.