Perubahan sosial dewasa ini sedemikian pesat dan terkesan uncontrolled. Berbagai perubahan dalam varian lini kehidupan berimbas juga dalam ranah pendidikan. Dalam dunia pendidikan saat ini setidaknya terdapat perubahan yang cukup ekstrem mengenai cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Saat ini banyak anggapan kuat di masyarakat kita bahwa pendidikan identik dengan mencari kerja. Sebagian besar pertimbangan orang tua menyekolahkan anaknya adalah agar kelak mendapatkan pekerjaan yang memadai sesuai dengan investasi yang ditanam di sekolah.
Disini terdapat satu kata yaitu investasi. Investasi merupakan kata yang diderivasi dari lini dan kajian ekonomi. Banyak aspek yang diakibatkan oleh kata investasi ini. Pertanyaannya adalah mengapa opini publik sudah sedemikian kuat memegang bahwa tujuan sekolah sama dengan mencari kerja? Mungkinkah ini akibat dari semakin menguatnya budaya pragmatisme di masyarakat dan pendidikan. pragmatisme yang berasal dari habitus ekonomi telah merambah kepada dunia pendidikan.
Menurut penulis, berkembangnya pragmatisme dalam pendidikan saat ini telah melampui batas. Hal ini bisa dilihat bagaimana kebijakan dan pelaksanaan pendidikan telah keluar dari makna pendidikan itu sendiri. Jika kita kembali kepada makna pendidikan sendiri yang dalam terminologi masyarakat Jawa dianggap sebagai panggulawenthah (pengolahan), yakni mengolah atau
mengubah merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya melalui dua dimensi yaitu rohani (cipta, rasa, karsa, pikir dan budinurani) serta jasmani (pancaindera dan berbagai ketrampilan yang dibutuhkan dalam hidup. Namun yang terjadi saat ini adalah suatu proses pereduksi-an makna pendidikan yang didominasi kepada pengembangan ketrampilan dan kemampuan pikir.
Sebenarnya, bukan suatu yang salah bila
kita mengahut prinsip pragmatis sebab memang demikian salah satu cara
untuk mengukur sesuatu tentang "apa manfaatnya?". Namun jika
kepentingan-kepentingan diluar hakikat kependidikan telah menginduksi, selain kata investasi ada yang disebut sebagai brand marketing dalam pendidikan. Dimulai dari kebijakan kurikulum pendidikan, proses pembelajaran, evaluasi dan tujuan secara makro yang didasari oleh corporate value (ideologi pasar) dalam setiap lini pendidikan. Apakah salah jika pendidikan saat ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan kecakapan dalam menyikapi perubahan sosial dan membekali anak didik bagaimana hidup di masa depan. Ideologi pasar jelas berbeda dengan ideologi pendidikan. Ideologi pendidikan lebih mengedepankan sisi humanisme sedang ideologi pasar lebih mementingkan aspek pragmastis-materialistik, untung-rugi dan kalah-menang. Ketika ideologi pasar atau corporate value mendominasi dunia pendidikan maka pendidikan hanya akan mengedepankan pada penguasaan berbagai kecakapan dalam dunia kerja dengan mengorbankan nilai - nilai humanisme.
Kembali kepada pokok persoalan dunia pendidikan saat ini adalah dominannya pragmatisme dalam dunia pendidikan. Setidaknya dari aspek kurikulum, proses pembelajaran, kebijakan dan outcome diarahkan pada nilai - nilai korporasi. Disini ada sebuah "pertarungan" kepentingan antara idealisme pendidikan (berbasis pada nilai - nilai pendidikan) dan pragmatisme korporasi (berbasis pada nilai - nilai korporasi).
Jika pragmatisme pendidikan senantiasa dikembangkan, setidaknya terdapat tiga kemungkinan relasi idealisme dan pragmatisme pendidikan, yaitu:
Pertama, menjadikan nilai - nilai akademik sebagai basis institusi pendidikan. sebelum kita lebih jauh mengupas sisi pertama ini yaitu "äpa yang disebut dengan nilai-nilai akademik?"...Nilai-nilai akademik yang penulis maksud adalah Nilai-nilai yang terkandung dalam Pendidikan yaitu sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat dalam kehidupan manusia dan harus dimiliki setiap manusia untuk dipandang dalam tatanan kehidupan masyarakat. Nilai disini dalam konteks etika (baik dan buruk), logika (benar dan salah), estetika (indah dan tidak indah). Dalam hal ini diperlukan sebuah konsep pendidikan yang bersifat Humanis.
Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun,
kita hanya dapat membantu anak didik untuk menemukan dirinya dan
mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden
potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri),
tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk
menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Selain itu, perlu diingat kembali bahwa tujuan sejati dari pendidikan adalah pertumbuhan dan
perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi
pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah
dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai
maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta
mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai
(income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat
aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat
penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual,
emosi/perasaan , afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup
praktis.
Kedua menjadikan nilai - nilai korporasi sebagai basis institusi pendidikan. Paradigma kedua ini merupakan anggapan kuat yang saat ini berkembang di masyarakat indonesia. Sekolah merupakan sebuah "kebun"yang nantinya bisa melahirkan anak-anak yang kelak
mendapatkan pekerjaan yang memadai sesuai dengan investasi yang telah
ditanamkan di sekolah. Hal ini sejalan dengan salah satu budaya yang berkembang dalam manajemenj lembaga pendidikan, yaitu berkembangnya corporate value sebagai pondasi dalam menjalankan pola manajemen pendidikan.Tarik menarik kepentingan antara idealisme dan
pragmatisme dalam dunia pendidikan memang selalu terjadi.
Di satu sisi,
pendidikan punya peran dalam membentuk kehidupan publik. Bahkan pernyataan yang
lebih tepat tidak sekedar memberi afirmasi atas peran pendidikan dalam
kehidupan publik, namun turut membangun karakter bangsa, negara dan tiap
warganya. Lantas kehidupan publik seperti apa yang hendak dibentuk oleh dunia
pendidikan? Pendidikan diyakini memainkan peranan yang signifikan dalam
membentuk setiap lini kehidupan. Pendidikan merupakan media untuk
menyiapkan dan melegitimasi bentuk-bentuk tertentu kehidupan sosial. Jika hal
seperti ini yang dikedepankan, maka yang menjadi basis institusi pendidikan
adalah nilai-nilai idealisme. Tetapi, pendidikan apa yang sebenarnya diinginkan
oleh korporasi? Apakah dunia pendidikan akan terseret dan didikte oleh kepentingan
pasar. Ideologi korporasi jelas berbeda dengan ideologi pendidikan. Ideologi korporasi lebih bertumpu pada nilai-nilai pragmatisme-materialistik dan
menekankan konsumsi-komodifikasi.
Ketika
ideologi pasar mendominasi dunia pendidikan, maka pendidikan kita akan
mengedepankan nilai-nilai korporasi yang menekankan penguasaan teknik-teknik
dasar yang diperlukan dalam dunia kerja. Budaya pragmatis sudah begitu kuat
menancap di kehidupan masyarakat. Ketika institusi pendidikan dipahami sebagai
lahan investasi ekonomi, maka tujuan pendidikan akan didominasi oleh kepentingan yang bersifat materialistik.
Oleh karena itu perlu pemikiran dan kebijakan yang matang untuk meletakan nilai mana yang akan dijadikan sebagai basis institusi pendidikan. Jika dikorelasikan dengan perkembangan sosial saat ini, apakah pendidikan akan mempengaruhi pasar atau sebaliknya pasar yang akan menentukan arah perkembangan pendidikan? Disinilah letak tantangan dan ujian dunia pendidikan, yakni antara melegitimasi atau melanggengkan struktur sosial yang ada atau pendidikan harus memposisikan diri sebagai instrumen yang kritis dalam melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju kondisi sosial yang lebih humanis.
Apapun pola kebijakan yang akan diambil di masa mendatang untuk mengelola pranata pendidikan, perlu diingat kembali bahwa pada hakikatnya tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia
muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu anak didik untuk
bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi
(semakin “penuh” sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam
masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan
kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam
bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak
atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian,
namun tetap humanis.