let's consider:
Dear bapak/Ibu Guru matematika, apakah masih sering menggunakan soal berbentuk Pure Multiple Choice (murni pilihan Ganda tanpa kombinasi) untuk mengukur kemampuan siswa dan tingkat keberhasilan pembelajaran...?
kalau masih konsisten dg Pilihan ganda dipikir lagi deh,,,
karena
dengan bentuk soal pilihan ganda, sebenarnya secara tidak langsung bapak/ibu guru sedang menghambat kreativitas dan analisa berpikir siswa. Sebagai contoh : dalam soal pilihan ganda, alur berpikir siswa sudah dikotakkan oleh pilihan A, B, C, D dan E. Hal ini tentu berbeda jika soal uraian atau analisa kasus, dimana siswa diminta untuk mengeksplorasi jawaban dan bukan tidak mungkin nantinya mereka justru menemukan teori baru dari hasil pemikiran mereka. Hal yang tentu tidak didapat jika bentuk soal adalah pilihan ganda.
Selain itu, dengan memberikan soal dalam bentuk analisa kasus dan bukan pilihan ganda, maka siswa akan diajak untuk berpikir “out of the box” atau diluar kebiasaan yang ada, karena Soal uraian dan analisa kasus juga akan membuat siswa berpikir 2-3 kali untuk menjawab. Selain harus memahami dulu pertanyaannya, jawaban yang ditulis juga harus terkait dengan soal yang ditanyakan. Berbeda dengan bentuk pilihan ganda, jika siswa tidak tahu atau lupa, mereka akan langsung menerapkan “rumus hitung kancing” alias menebak salah satu jawaban yang ada dengan harapan keberuntungan akan jawabannya bisa benar.
Karena biar bagaimanapun dengan soal-soal jawaban terbuka (bukan pilihan ganda), maka siswa akan berpikir dan menganalisis untuk dapat menyelesaikan setiap soal-soalnya. Disinilah kreativitas seseorang nantinya juga akan berkembang, karena mereka dilatih untuk berpikir .
jadi, menurut saya
"model pilihan ganda (tanpa menuliskan bagaimana proses mendapatkan hasil/solusi yg diperoleh) belum dapat digunakan untuk mengukur mutu dan kualitas siswa di tengah perkembangan pendidikan yang sudah maju begitu pesat"
1 Oktober 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar