Sabtu, 24 September 2011

MENGEMBANGKAN NILAI – NILAI BUDI PEKERTI DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS SETS (Science, Environmnet, Technology, Society)

ABSTRAK
Guru merupakan tokoh sentral dalam menjalankan setiap proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru tidak hanya dituntut harus mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Karenanya, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku (akhlak) peserta didik.Dengan demikian, seorang pendidik harus terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku peserta didik dalam upaya mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran. Jadi, upaya mendewasakan peserta didik yang mencakup akhlak (budi pekerti) dan kecerdasan pikiran tidak sebatas dilakukan di dalam ruang kelas. Pendekatan SETS adalah pendekatan yang menekankan keterkaitan sains yang diajarkan dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran berwawasan SETS mengarah pada pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik peduli terhadap lingkungan sekitar termasuk dalam interaksinya dengan masyarakat.

Kata Kunci: Pembelajaran, SETS¸Budi Pekerti

PENDAHULUAN
            Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat, pendidikan berlangsung sepanjang hayat dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
Sekolah sebagai lembaga yang salah satu tugasnya mengupayakan agar peserta didik kelak menjadi manusia yang cerdas, cakap, trampil dan berbudi pekerti luhur (berakhlak mulia) harus mempunyai format yang jelas dan efektif dalam mempengaruhi para peserta didik untuk mencapai tujuan tersebut, karena para peserta didik mempunyai kepribadian yang beraneka ragam sesuai dengan pengaruh orangtua, keluarga, dan masyarakatnya.
Peserta didik sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah. Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain untuk : 1) perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian, 2) transmisi cultural, 3) integrasi social, 4) inovasi, dan 5) pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja (Rivai ,2003). Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan budi pekerti. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan budi pekerti di sekolah, antara lain : 1). Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia. 2). Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar. 3).Pendidikan budi pekerti sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral (Lickona, 1996).
Untuk menjalankan tugas tersebut sekolah membutuhkan seperangkat komponen guna memenuhi target proses pendidikan. Hal yang paling dibutuhkan untuk mewujudkan misi luhur tersebut adalah Sumber Daya Manusia yang bisa menjadi teladan bagi peserta didik dalam proses pendewasaannya. Sumber Daya yang ada di sekolah yang berpotensi dan menjadi ujung tombak perubahan tersebut adalah guru.
Guru merupakan tokoh sentral dalam menjalankan setiap proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Guru tidak hanya dituntut harus mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Karenanya, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku (akhlak) peserta didik.
Guru sebagai motivator dan inspirator budi pekerti bertugas memberikan dorongan atau stimulasi kepada peserta didiknya untuk bersikap dan bertutur laku dengan baik mengenai perilaku dan kecerdasan pikiran, dalam hal ini budi pekerti atau akhlak. Dengan demikian, seorang pendidik harus terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku peserta didik dalam upaya mendewasakan peserta didik melalui upaya pengajaran. Jadi, upaya mendewasakan peserta didik yang mencakup akhlak (budi pekerti) dan kecerdasan pikiran tidak sebatas dilakukan di dalam ruang kelas. Ini berarti bahwa seorang guru tetap bertanggung jawab menjalankan perannya walaupun di luar jam mengajarnya. Dia berperan dalam pengembangan budi pekerti atau perilaku anak didiknya; bukan hanya sekadar bertumpu pada pengalihan informasi.
Untuk menjalankan peranannya sebagai motivator akhlak dalam proses belajar- mengajar, seorang guru harus memberikan contoh-contoh penerapan praktis dan konkret kepada anak didiknya. Karenanya, sudah otomatis ia harus mampu menunjukkan akhlaknya yang positif agar dapat dituruti peserta didiknya. Bukan hanya sekedar sebagai transformer materi akhlak semata. Hal ini, dirasa lebih efektif dan akan menimbulkan efek kepada peserta didik ketimbang ia hanya “mahir” dalam memberikan segudang materi pembelajaran akhlak.
Adanya perkembangan pesat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat memasuki era globalisasi di abad 21 ini, menjadikan persaingan antar-individu, antar-bangsa semakin ketat. Maka yang berkualitas lebih, bisa memenangkan persaingan ini. Mereka yang berkualitas antara lain adalah manusia-manusia yang mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya sehingga bisa “melek” ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan mampu mengikuti kemajuannya.
Melalui pendidikan, persiapan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut yang secara kualitatif cenderung meningkat. Pendidikan yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu generasi bangsa, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia Indonesia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif serta mapan secara soft skill maupun hard skill dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan teknologi melalui berbagai dampak yang ditimbulkannya. (http://spiritentete.blogspot.com)
Pendekatan SETS adalah pendekatan yang menekankan keterkaitan sains yang diajarkan dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran berwawasan SETS mengarah pada pembelajaran yang mengaktifkan peserta didik peduli terhadap lingkungan sekitar termasuk dalam interaksinya dengan masyarakat. (http://bidadariq-bidadariq.blogspot.com)
Hakekat dan Tujuan Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society), bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki kepanjangan Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat. SETS diturunkan dengan landasan filofofis yang mencerminkan kesatuan unsur SETS dengan mengingat urutan unsur-unsur SETS dalam susunan akronim tersebut.
HAKEKAT PENDIDIKAN SETS
Dalam konteks pendidikan SETS, urutan ringkasan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains ke bentuk teknologi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dipikirkan berbagai implikasi pada lingkungan secara fisik maupun mental.
Pendidikan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik. Program ini sekurang-kurangnya dapat membuka  wawasan peserta didik hakikat pendidikan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (SETS) secara utuh (Binadja, 1999: 3).

CAKUPAN PENDIDIKAN SETS
Pendidikan SETS mencakup topik dan konsep yang berhubungan dengan sains, lingkungan, teknologi dan hal-hal yang berkenaan dengan masyarakat. SETS membahas tentang hal-hal bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas dan dapat dilihat. Membicarakan unsur-unsur SETS secara terpisah berarti perhatian khusus sedang diberikan pada unsur SETS tersebut. Dari unsur ini selanjutnya dicoba untuk menghubungkan keberadaan konsep sains dalam semua unsur SETS agar bisa didapatkan gambaran umum dari peran konsep tersebut dalam unsur-unsur SETS yang lainnya.

PENERAPAN PENDEKATAN SETS PADA PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Penerapan SETS dalam pembelajaran untuk tingkat sekolah disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta didik. Sebuah program untuk memenuhi kepentingan peserta didik harus dibuat dengan menyesuaikan tingkat pendidikan peserta didik tersebut. Topik-topik yang menyangkut isi SETS di luar materi pengajaran dipersiapkan oleh guru sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik.
Dalam pendidikan SETS, pendekatan yang paling sesuai adalah pendekatan SETS itu sendiri. Sejumlah ciri atau karakteristik dari pendekatan SETS (Binadja, 2000: 6) adalah:
1) Tetap memberi pengajaran sains.
2) Murid dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
3) Murid diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains ke bentuk teknologi.
4) Murid diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang diperbincangkan dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi keterkaitan antara unsur tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi berkenaan.
5) Dalam konteks kontruktivisme murid dapat diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik bersangkutan.


Keuntungan pembelajaran menggunakan pendekatan SETS adalah:
a.       Dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan intelektualnya dalam berpikir logis dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari,
b.      Dapat membantu peserta didik mengenal dan memahami sains dan teknologi serta besarnya perana sains dan teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup dalam masyarakat,
c.       Dapat membantu peserta didik memperoleh prinsip-prinsip sains dan teknologi yang diperkirakan akan dijumpainya dalam kehidupan kelak,
d.      Peserta didik lebih bebas berkreativitas selama proses pembelajaran berlangsung.
Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS murid diminta menghubungkan antar unsur SETS. Maksudnya adalah murid menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda yang berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga memungkinkan murid memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS baik dalam bentuk kelebihan maupun kekurangannya. Hubungan tersebut dapat digambarkan
Gambar 1. Keterkaitan unsur-unsur SETS yang berfokus pada Science (Binadja, 1999).
Pendidikan bervisi SETS meyakini bahwa keempat elemen SETS itu saling memberi dalam hal positif dan negatif. Apabila para peserta didik selalu dibiasakan memikirkan keterkaitan positif dan negatif elemen-elemen SETS, maka otak mereka akan selalu berusaha menganalisis kondisi dan mensintesis sesuatu yang baru dan diarahkan pada perolehan kebaikan dalam langkah akhir.
Pendekatan SETS (Sains, Environment, Technology, and Society) atau dalam istilah Indonesianya SaLingTeMas singkatan dari Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat. Di dalam pengajaran menggunakan pendekatan SETS peserta didik diminta menghubungkaitkan antar unsur SETS. Yang dimaksudkan adalah peserta didik menghubungkaitkan antara konsep sains yang dipelajari dengan benda-benda berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS, sehingga memungkinkan peserta didik memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep  tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan ataupun kekurangannya.
Untuk bisa menghubungkaitkan antar unsur SETS, diperlukan pemikiran yang mendalam berupa identifikasi dan analisis tentang apa dan bagaimana konsep yang sedang dipelajari. Selanjutnya dipikirkan mengapa dan bagaimana konsep tersebut bisa digunakan pada teknologi yang terkait. Setelah itu diperlukan pertimbangan atau evaluasi berdasarkan fakta-fakta yang diketahui akan dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan dari pemanfaatan konsep sains ke bentuk teknologi terhadap lingkungan dan masyarakat, kemudian bagaimana peserta didik harus bersikap atau bertindak bila berhadapan/menemui keadaan atau masalah terkait dengan konsep yang telah dipelajarinya tersebut.
Dari gambaran tersebut terlihat bahwa diperlukan pemikiran yang terintegratif untuk belajar setiap elemen SETS, karena dalam prosesnya diperlukan keterampilan yang merupakan unsur dasar dalam berpikir kritis seperti keterampilan untuk untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mencari dan mengamati fakta-fakta yang dijumpai peserta didik terkait materi/konsep yang diajarkan. Dengan demikian kemampuan peserta didik untuk bertindak positif manakala mereka menemui kondisi di masyarakat akan tergali dan terlatih.
Pendekatan SETS kaitannya dengan mengasah budi pekerti anak dapat dijelaskan sebagai berikut, dalam pembelajaran dengan pendekatan SETS, peserta didik tidak hanya diajak untuk mempelajari sains saja tetapi juga diajak untuk memanfaatkan atau mempelajari pemanfaatan konsep sains yang sedang dipelajari ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat. Pemanfaatan atau penerapan konsep sains menghasilkan suatu produk teknologi dapat dikategorikan sebagai hasil dari proses kreatif. Dalam prosesnya diperlukan keterampilan-keterampilan yang merupakan sifat dari kemampuan berpikir kreatif, yaitu keluwesan, kelancaran, keaslian, penguraian ataupun perumusan kembali.
Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SETS, peserta didik tidak hanya diajak untuk berpikir tentang pemanfaatan konsep sains ke bentuk teknologi terkait, tetapi juga berbagai kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentransferan sains yang sedang dipelajari ke bentuk teknologi terhadap masyarakat dan lingkungannya. Memikirkan kemungkinan akibat dari sesuatu hal, memerlukan kemampuan berpikir kreatif, dalam hal ini yang paling menonjol adalah penguraian (elaboration) dan kelancaran (fluency). Setelah itu peserta didik diajak untuk memecahkan masalah yang terkait dengan akibat negatif dari proses pentransferan tersebut. Diharapkan peserta didik dapat menemukan upaya meminimalkan dampak negatif yang ada atau menemukan solusi alternatif yang tidak merugikan. Dalam proses pemecahan masalah ini, peserta didik akan terangsang untuk menggunakan kemampuan kreatifnya danempatinya berupa ide/gagasan sesuai taraf kemampuannya.
Salah satu karakteristik pendekatan SETS yaitu mengajak peserta didik berbincang tentang SETS dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar peserta didik, memungkinkan peserta didik untuk mencari dan menentukan salah satu atau beberapa unsur SETS yang diambilnya sebagai titik awal untuk membahas konsep yang sedang dipelajari. Dalam proses pencarian dan penemuan keterhubungkaitan antar unsur SETS tersebut diperlukan kemampuan empati peserta didik untuk menentukan hubungan antar unsur SETS dari masalah yang dipilihnya terkait konsep yang dipelajari. Hal ini juga dapat memperlihatkan keaslian atau orisinalitas dan keluwesan berpikir peserta didik.
KETERKAITAN PENDIDIKAN BERBASIS SETS DENGAN PENANAMAN BUDI PEKERTI PADA PESERTA DIDIK
            Dalam menanamkan nilai – nilai budi pekerti kepada peserta didik melalui proses pembelajaran yang berlangsung, seorang guru harus mampu mengemas pembelajaran tersebut mampu diterima peserta didik dengan baik. Oleh karena itu, pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam pembelajaran perlu diperjelas wujudnya. Di antaranya, hendaknya implementasi pendidikan budi pekerti bukan hanya pada ranah kognitif saja, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psikomotorik yang berupa sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konsepsi Ki Hadjar Dewantara, pembelajaran sebagai produk menyangkut tiga unsur, ialah ngerti, ngrasa, dan nglakoni, atau tri-nga. Ketiga unsur itu saling berkaitan. Ketiga unsur itu perlu diperhatikan, supaya nilai yang ditanamkan tidak tinggal sebagai pengetahuan saja tetapi sungguh menjadi tindakan seseorang.
Untuk mengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan budi pekerti dengan menggunakan pendekatan SETS ,diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) peserta didik dalam menyisipkan pendidikan budi pekerti. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain :
1.      Mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan budi pekerti dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai,
2.      Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran pendidikan budi pekerti agar tercapai kematangan budi pekerti yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan budi pekerti perasaan budi pekerti,dan tindakan budi pekerti,
3.      Mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan budi pekerti peserta didik,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya,
4.      Mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai budi pekerti yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan,
5.      Mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar menyisipkan pendidikan budi pekerti di setiap proses KBM. (http://garduguru.blogspot.com)
Setelah melalui analisis tersebut, dalam membuat program pembelajaran guru juga bisa menyisipkan nilai – nilai budi pekerti dan isu – isu yang sedang dihadapi peserta didik saat ini terutama isu – isu sosial dan kemasyarakatan yang erat kaitannya dengan materi yang diberikan dan perkembangan budi pekerti peserta didik selanjutnya.
CONTOH MEMANFAATKAN PEMBELAJARAN BERWAWASAN SETS DALAM PEMBELAJARAN
            Dalam memanfaatkan pembelajaran berwawasan SETS dalam pembelajaran seorang guru harus mampu mengelaborasi berbagai komponen dalam pembelajarannya, sebagai contohnya diambil mata pelajaran Kimia dengan materi Pembelajaran Kimia Pokok Bahasan Hidrokarbon 1 dan Minyak Bumi.
a. Kajian Sains
Kajian sains pada pembelajaran ini membahas tentang pengertian, rumus umum, tata nama, sifat-sifat serta reaksi kimia dari alkana, alkena dan alkuna ditambah dengan proses terjadinya minyak bumi, komponen minyak bumi dan sekilas tentang petrokimia.
b. Kajian Teknologi
1) Pemanfaatan alkana
Alkana dapat digunakan sebagai: bahan bakar, pelarut, sumber hidrogen dan pelumas
2) Pemanfaatan alkena
Alkena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan plastik dan karet sintetis dan bahan baku pembuatan senyawa organik lain.
3) Pemanfatan alkuna
Alkuna digunakan dalam proses pengelasan logam dan pematangan buah secara cepat.
4) Teknik penyulingan minyak bumi dan pemanfaatan fraksi-fraksi minyak bumi.
c. Kajian Lingkungan
1) Menguntungkan
Lingkungan menyediakan sumber ladang gas dan minyak bumi.
2) Merugikan
a) Pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam menghasilkan senyawa CO, CO2, NOx, SOx yang bisa menimbulkan pencemaran udara.
b) Plastik menimbulkan pencemaran tanah karena sifatnya yang tidak bisa didegradasi.
c) Adanya timbal sebagai zat tambahan dalam bensin dapat menimbulkan pencemaran udara.
d) Kemungkinan lebih lanjut dari adanya oksida-oksida C, S, N hasil dari pembakaran bahan bakar fosil akan menimbulkan smog, hujan asam, pemanasan global.
d. Kajian Sosial Masyarakat
1) Menguntungkan
a) Kerosin atau minyak tanah merupakan bahan bakar yang relatif aman, praktis, mudah penyimpanan dan pemakaiannya sehingga bisa dinikmati semua lapisan masyarakat.
b) Penggunaan LPG sebagai bahan bakar menghasilkan panas yang lebih baik dan tidak menimbulkan jelaga.
c) Alat-alat rumah tangga, mainan yang terbuat dari plastik harganya lebih murah, ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana, bentuk dan warnanya dapat dibuat bermacam-macam sehingga lebih menarik.
d) Dari senyawa alkena dapat dihasilkan berbagai macam plastik untuk bahan dasar pembuatan pipa, tali, dan perlengkapan rumah tangga.
e) Minyak bumi digunakan sebagai bahan bakar, bahan baku industri petrokimia dan lain-lain, menunjang dan melengkapi kebutuhan manusia.
2) Merugikan
a) Peningkatan kadar CO2 di udara menimbulkan peningkatan suhu udara membuat manusia cepat lelah dan haus sehingga mengganggu ativitas manusia.
b) Tanah yang tercemar plastik akan menjadi tandus dan tidak subur dapat menggangu pertumbuhan tanaman.
c) Pemanasan global dapat menimbulkan kerugian seperti perubahan iklim dan mencairnya sungkup es.
d) Timbal yang terserap tubuh manusia dapat menimbulkan kerusakan saraf.
e) Udara yang mengandung SO2 atau SO3 bila terhirup akan bereaksi dalam saluran pernafasan membentuk asam yang akan merusak jaringan dan menimbulkan rasa sakit, selain itu SO2 dan SO3 juga bisa menimbulkan hujan asam.
f) Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui.
e. Usaha Penanggulangan dampak negatif penggunaan hidrokarbon dan minyak bumi
1) Penanggulangan bahan pencemar akibat pembakaran.
2) Penanggulangan hujan asam.
3) Penanggulangan pencemaran tanah karena plastik.
4) Penanggulangan penipisan sumber minyak bumi

KESIMPULAN
            Dalam menanamkan nilai – nilai dan penanaman budi pekerti kepada peserta didik, tidak hanya pada pelajaran yang sifatnya social atau Keagamaan saja. Dalam mata pelajaran  yang berlatar belakang pengetahuan alam pun pendidik mampu menyisipkan dan menanamkan nilai – nilai budi pekerti yang mampu dielaborasikan dengan dampak yang ditimbulkan serta pencegahan yang bias dilakukan manakala hasil penggunaan teknologi tersebut dikembangkan dalam masyarakat.
Dalam pembelajaran berbasis SETS terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, adalah:
a.       Dapat membantu peserta didik mengembangkan keterampilan intelektualnya dalam berpikir logis dan memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari,
b.      Dapat membantu peserta didik mengenal dan memahami sains dan teknologi serta besarnya perana sains dan teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup dalam masyarakat,
c.       Dapat membantu peserta didik memperoleh prinsip-prinsip sains dan teknologi yang diperkirakan akan dijumpainya dalam kehidupan kelak,
d.      Peserta didik lebih bebas berkreativitas selama proses pembelajaran berlangsung.
e.       Peserta didik dapat langsung mengaplikasikan nilai – nilai moral yang terdapat dalam proses yang dijalaninya selama pembelajaran berlangsung.



DAFTAR PUSTAKA
Rivai, Bachtiar.2003. Pendekatan Ketrampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta : Gramedia
Lickona, B. 1992. Models qf Teaching. Fourth Edition. Boston: Allyn and Bacon
Binadja, A. 1999. Hakekat dan Tujuan Pendidikan SETS dalam Konteks Kehidupan dan Pendidikan yang Ada. Makalah Semiloka Pendidikan SETS. RECSAM UNNES. Semarang 14 – 15 Desember 1999.
______. 2000. SETS (Science, Environment, Technology & Society ) dan Pembelajaran Biologi. Makalah Semiloka Pendidikan SETS. Recsamas Depdikbud- MGMP Bio SMU Kodia Semarang. Semarang 3 Juni 2000.



Selasa, 20 September 2011

Ayo Menulis Karya Ilmiah

              Tadi pagi saya dihubungi oleh kawan saya untuk dibuatkan sebuah Karya Ilmiah yang digunakan untuk kenaikan pangkat.dalam hati saya agak miris juga sih...karena yang namanya Guru (kalo dibilang Profesional) minimal dia harus menguasai bagaimana membuat suatu Karya Ilmiah minimal PTK.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini, izinkan saya menuliskan sistematika penulisan karya tulis ilmiah.
Semoga bermanfaat untuk teman-teman guru di seluruh Indonesia yang saat ini hendak mengusulkan dirinya untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.Ini hanya kerangkanya saja...kalo mau yang lebih Komplit bisa hubungi saya via e-mail.....

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH
VERSI DEPDIKNAS UNTUK KENAIKAN PANGKAT
1. LAPORAN HASIL PENELITIAN :
A. Bagian Pembuka :
  • Halaman judul.
  • Lembar pengesahan.
  • Kata pengantar.
  • Daftar isi.
  • Daftar Lampiran.
B. Bagian Isi :
Bab    I    Pendahuluan
-         Latar belakang masalah.
-         Rumusan masalah.
-         Tujuan penelitian.
-         Manfaat penelitian.
Bab  II    Kajian teori atau tinjauan kepustakaan
-         Pemahasan teori
-         Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
-         Pengajuan hipotesis
Bab III    Metodologi penelitian
-         Waktu dan tempat penelitian.
-         Metode dan rancangan penelitian
-         Populasi dan sampel.
-         Instrumen penelitian.
-         Pengumpulan data dan analisis data.
Bab  IV    Hasil Penelitian
-         Jabaran varibel penelitian.
-         Hasil penelitian.
-         Pengajuan hipotesis.
-         Diskusi penelitian, mengungkapkan pandangan teoritis tentang hasil yang didapatnya.
Bab   V    Kesimpulan dan saran
C. Bagian penunjang
-         Daftar pustaka.
-         Lampiran- lampiran antara lain instrument penelitian.
2. LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS :
A. Bagian Pembuka :
-         Halaman judul.
-         Lembar pengesahan.
-         Kata pengantar.
-         Daftar isi.
-         Daftar Lampiran.
B. Bagian Isi :
Bab    I    Pendahuluan
-         Latar belakang masalah.
-         Identifikasi masalah.
-         Pembatasan dan rumusan masalah.
-         Tujuan penelitian.
-         Manfaat hasil penelitian.
Bab  II    Kajian pustaka
-         Kajian teori.
-         Kajian hasil penelitian.
Bab III    Metodologi / Metode penelitian
-         Objek tindakan.
-         Setting/Lokasi/Subjek penelitia.
-         Metode pengumpulan data.
-         Metode analisis data.
-         Cara pengambilan kesimpulan.
Bab  IV    Hasil Penelitian
-         Gambaran selintas tentang setting.
-         Uraian penelitian secara umum – keseluruhan.
-         Penjelasan per siklus.
-         Proses menganalisa data.
-         Pembahasan dan pengambilan kesimpulan.
Bab   V    Kesimpulan dan saran
-         Kesimpulan.
-         Saran untuk tindakan lebih lanjut.
C. Bagian penunjang/penutup
-         Daftar pustaka.
-         Lampiran- lampiran.
3. TINJAUAN/ULASAN ILMIAH HASIL GAGASAN SENDIRI :
A. Bagian Pendahuluan :
-         Halaman judul.
-         Lembar pengesahan.
-         Kata pengantar.
-         Daftar isi.
-         Abstrak.
B. Bagian Isi :
Bab I : Pendahuluan uraian mengenai hal yang dipermasalahkan.
Bab II: Kajian teori dan fakta mengenai hal yang dipermasalahkan.
BabIII: Tinjauan/ulasan.
Bab IV: Kesimpulan.
C. Bagian penunjang :
-         Daftar pustaka.
-         Lampiran- lampiran.
  1. 4. BUKU
    1. A. Bagian Pendahuluan
-         Kata pengantar
-         Daftar isi
-         Penjelasan tujuan buku pelajaran
-         Petunjuk penggunaan buku
-         Petunjuk pengerjaan soal latihan
  1. B. Bagian isi
-         Judul bab atau topic isi bahasan
-         Uraian singkat isi pokok bahasan
-         Penjelasan tujuan bab
-         Uraian isi pelajaran
-         Penjelasan teori
-         Sajian contoh
-         Ringkasan isi bab
-         Soal latihan
-         Kunci jawaban soal latihan
  1. C. Bagian penunjang
-         Daftar pustaka
-         Lampiran-lampiran
5. MODUL :
  1. Judul
  2. Pengantar
  3. Petunjuk penggunaan modul
  4. Yujuan umum pembelajaran
  5. Kemampuan prasyarat
  6. Pretest
  7. Tujuan khusus pembelajaran
  8. Isi bahasan
  9. Kegiatan belajar
  10. Rangkuman
  11. Tes
  12. Sumber media yang digunakan
  13. Tes akhir dan umpan balik
  14. Rancangan pengajaran
  15. Daftar pustaka
6. DIKTAT PELAJARAN:
A. Bagian Pendahuluan :
-         Halaman judul.
-         Kata pengantar.
-         Daftar isi.
-         Penjelasan tujuan diktat pelajaran.
B. Bagian Isi :
-         Judul bab atau topik isi bahasan.
-         Penjelasan tujuan bab.
-         Uraian isi pelajaran.
-         Penjelasan teori.
-         Sajian contoh.
-         Soal latihan.
C. Bagian penunjang :
-         Daftar pustaka.
-         Lampiran- lampiran.
7. ALAT PERAGA
A.Bagian Pembuka
– Halaman judul
– Lembar pengesahan
– Kata pengantar
– Daftar isi
B. Bagian isi
– Latar belakang pembuatan alat peraga
– Manfaat alat peraga
– Bahan yang digunakan
– Keadaan siswa sebelum dans esudah menggunakan alat peraga
– Prestasi siswa sebelum dan sesudah menggunakan alat peraga
– Foto / gambar alat peraga