“Barang siapa yang mengajarkanku satu huruf saja, maka jika berkehendak dia bisa menjual(ku), dan jika mau bias juga membebaskanku, sebab dia bagiku adalah tuanku, karena dialah yang telah memberi makan ruhku”
Begitulah penghargaan yang disampaikan oleh Sayyidina Ali R.A atas mulianya peran seorang guru yang dengan tulus mengajarkan ilmunya kepada peserta didik.
Di jaman yang perubahan yang serba cepat dan terkesan uncontrolled seperti saat ini merupakan sebuah realita yang perlu disikapi secara positif dengan penuh kesadaran oleh para guru. Kegiatan belajar yang terjadi di jaman ini sangat dipengaruhi oleh pemaksimalan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi sehingga kegiatan belajar tidak terbatas pada ruang nyata dan saling bertatap muka secara langsung, tapi juga dalam dunia maya yang bias dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan fasilitas yang canggih.
Untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern ini, dituntut profesionalisme guru yang tinggi dengan segala kualifikasinya. Namun ketika profesioanalisme guru diangkat menjadi sebuah wacana maka banyak kalangan memberikan berbagai tanggapan menganai hal ini. Guru harus memiliki komitmen terhadap tugas mengajar, harus meningkatkan kompetensinya di bidang ilmu dan beragam tuntunan yang harus dipenuhi oleh seorang guru termasuk hal yang paling utama adalah guru harus mampu menjadi inspirator peserta didik dalam menjalani kehidupannya.
Dalam era global ini, guru tidak boleh hanya mengandalkan kemampuannya yang “pas – pasan” tanpa di barengi dengan proses improvisasi guna meningkatkan kompetensinya. Kompetensi dan kualitas seorang guru menjadi prioritas dalam upaya mengembangkan sebuah pola pendidikan yang efektif. Kualitas seorang guru ditandai dengan tingkat kecerdasan, ketangkasan, dedikasi dan loyalitas tinggi serta ikhlas dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan peserta didik.
Guru yang memiliki kompetensi dan kualitas bagus akan mengantarkannya menjadi guru professional yang mampu memotivasi dan menginspirasi peserta didik. Secara sederhana, guru professional adalah guru yang mengajar pada mata pelajaran yang menjadi keahliannya, mempunyai semangat tinggi dalam mengembangkannya, dan mampu menjadi pioneer perubahan ditengah masyarakat. Puncak dari kompetensi guru ada pada kompetensi Renaisans yang menempatkan guru sebagai inspirator sepanjang zaman. Ia mampu melakukan penyadaran lahir batin, mengobarkan semngat perjuangan dan pengorbanan bagi seluruh manusia di jagat raya ini. Ia akan terus dikenang dan dijadikan figure revolusioner yang humanis dalam menggerakkan perubahan menuju idealism besar.
Oleh sebab itu, guru mesti mampu melakukan dialektika dengan realitas kehidupan (kontekstual) hari ini. Hal ini dianggap penting, karena tanpa adanya dialektika semacam ini akan kehilangan makna dan konteks pembelajaran yang berlangsung akan berjalan seperti di ruang hampa, hanya ilusi atau sekedar fatamorgana. Ketika guru sudah mampu berdialektika dengan realitas kehidupan, maka fungsi pragmatis akan bersinergi dengan fungsi ideal sehingga akan berguna dalam pemberian makna pembelajaran bagi masa kekinian maupun masa yang akan datang.
Guru professional di jaman ini dituntut untuk memiliki kapasitas internasional dan kemampuan global, dimana kemampuan yang dimiliki mampu menguasai fenomena mutakhir di level global yang membuatnya menjadi pemain aktif untuk melakukan terobosan – terobosan progresif. Guru harus bekerja keras meningkatkan kualitasnya sampai pada level global, karena tuntutan guru yang mampu menjadi inspirator bagi peserta didik dan mampu bersaing di jaman ini adalah guru yang mampu menciptakan peradaban Mainstream.
Peradaban Mainstream adalah peradaban yang menjadi ujung tombak perubahan kebudayaan yang terjadi karena mengandung nilai inspirasi dan imajinasi yang dahsyat, daya jangkau yang meledak dan resonansi yang kuat ( Jamal ma’mur Asmani, 2009). Dalam perkembangan mutakhir saat ini kita dapat mengambil contoh orang yang mampu menciptakan peradaban Mainstream di Indonesia. Penulis buku Ayat – ayat cinta, Habiburrahman el-Syirazi dan Laskar Pelangi, Andrea Hirata adalah sosok yang mampu menciptakan peradaban mainstream karena karya mereka tidak hanya dikonsumsi dan berpengaruh di Indonesia, tapi mampu menjangkau belahan dunia lainnya. Nurcholis Madjid, Alwi Syihab, Gusdur, Hamka, Syafii Maarif merupakan contoh – contoh cendekiawan yang mampu menciptakan peradaban mainstream karena pemikiran dan aksi mereka menjadi inspirasi dan imajinasi bagi khalayak dunia.
Kepada mereka, kita belajar bagaimana menjadi guru yang mampu berkompetensi secara global. Wawasan dan pemikiran yang luas dan kosmopolit, relasi dunia, aktif di berbagai organisasi, dan produktif dalam melahirkan karya yang mampu menembus level dunia adalah salah satu syarat menjadi guru global yang mampu membawa nama harum Indonesia. Semangat keilmuan guru harus dipacu untuk mencapai prestasi sensasional dan berlevel dunia.
Dari sini, guru dituntut harus kreatif dengan mengandalkan proses imajinatif, futuristik, dan konstruktif. Dimana seorang guru harus memaksimalkan potensi dirinya guna memunculkan ide – ide yang mempu mengubah proses pembelajaran yang sifatnya konvensional dengan memberikan motivasi dan inspirasi yang bermuara pada pembelajaran “bagaimana seharusnya kita belajar” melalui interaksi dan proses dialektika. Menurut Anwar Ibrahim mantan wakil Perdana Menteri Malaysia , guru, sarjana dan intelektual, semuanya dapat menjadi bagian dalam upaya bersama menyulut api semangat belajar di kalangan masyarakat dan mendorong mereka untuk tertarik mengemukakan gagasan – gagasan baru. Dijaman inilah saatnya kita lahirkan guru Indonesia yang mampu menjadi penemu sejarah keilmuan baru yang berkualitas dunia dan akan dikaji tidak hanya di Indonesia namun diseluruh belahan dunia lainnya. Kita tunggu guru yang berkompetensi Global dan mampu menciptakan peradaban mainstream.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar