Kamis, 02 Agustus 2012

suatu bangsa akan maju bila memadukan Sains,Sastra dan Filsafat serta dibungkus dengan pemahaman agama sebagai Spiritual Holistik dalam dunia pendidikannya menuju masyarakat yang Humanis"


 "Belajarlah dimana Sains, sastra dan seni diolah untuk merubah peradaban"
(Ungkapan Julian Balia-dalam film Sang Pemimpi)

          "Belajarlah dimana Sains, sastra dan seni diolah untuk merubah peradaban" inilah salah satu ungkapan yang diucapkan oleh Pak Julian Balia Guru Sastra dalam film Sang Pemimpi untuk memotivasi Ikal dan kawan - kawan dalam merumuskan mimpi - mimpi besar mereka. Mimpi dan motivasi yang kelak mampu mengantarkan Ikal dan Aray mendapat beasiswa ke I'Universite Paris-Sorbonne. Dalam film tersebut, seorang Julian Balia memberikan motivasi dengan kata - kata yang mampu mengubah perspektif anak didiknya mengenai Pemuda Melayu yang cenderung malas dan Pragmatis serta tidak berani mengambil resiko menjadi Pemuda yang Tangguh, Realistis dan berani bermimpi untuk merubah nasibnya.

          Oke, sejenak kita tinggalkan ungkapan dan motivasi pak Julian Balia tentang anak didiknya...Poin yang akan saya ungkapkan dan menurut saya menarik dari apa yang diungkapkan oleh Pak Balia itu terkandung makna konsep "Sains, sastra dan seni diolah untuk merubah peradaban"......kalau boleh saya sedikit merubah dalam transformasi dunia pendidikan "suatu bangsa akan maju bila memadukan Sains,Sastra dan Filsafat serta dibungkus dengan pemahaman agama sebagai Spiritual Holistik dalam dunia pendidikannya menuju masyarakat yang Humanis". Maka dari itu disini saya ingin mendiskusikan secara sederhana.


Sains
        Kalau kita berdiskusi mengenai kata Sains, maka sains utamanya berurusan dengan pemahaman bagaimana dunia fisik bekerja. Sains adalah sebuah proses dimana kita mencoba memahami bagaimana dunia fisik bekerja dan bagaimana ia bisa begitu. Dunia fisik mencakup dunia yang dapat kita amati dengan indera kita dengan atau tanpa bantuan teknologi.
            Dalam dunia sains harus mengikuti aturan-aturan tertentu; jika tidak, ia bukan sains (sama halnya sepakbola tidak dapat disebut sepakbola bila aturannya tidak diikuti). Aturan sains ditujukan untk membuat prosesnya se-objektif mungkin, dan karenanya menghasilkan derajat pemahaman yang sedekat mungkin dengan realitas. Penjelasan ilmiah harus beradasarkan pada pengamatan yang hati-hati dan pengujian hipotesis.
          Sesuatu dikatakan objektif bila tidak dipengaruhi oleh perasaan, keinginan, dan prasangka. Lawan dari objektif adalah subjektif yaitu sesuatu yang dipengaruhi perasaan, keinginan, dan prasangka


Sastra
         Mursal Esten, menyatakan sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan punya efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Suyitno, Sastra adalah sesuatu karya yang imajinatif, fiktif dan inventif juga harus melayani misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan. .Damono, mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar masyarakat dengan orang- seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang.
         Melihat dari semua definisi yang ada sastra merupakan sebuah alat atau metode untuk mendidik. Baik itu sifatnya mengarahkan dan memberi petunjuk manusia yang tertuang dalam karya-karya baik itu tulisan seperti novel, puisi, cerpen, lisan orasi pidato, dan seni gerak seperti drama atau film.


Filsafat
            Kalau kita berbicara mengenai Filsafat, yang pertama kali kita pikirkan adalah "sulit" dan merupakan "ilmu langit" karena bahasa yang digunakan terkesan "mbulet" serta membutuhkan pemikiran yang tidak sederhana. Memang kalau kita belajar Filsafat identik dengan rumit, sulit, sukar, 'ndakik', atau lainnya yang serba membuat orang mundur teratur ketika belajar filsafat. Padahal, kalau kita  "nekad" berjibaku atau 'ber-ikicibung' dalam dunia filsafat, filsafat itu ga susah-susah amat. Yang sulit justru mempelajari diri sendiri, alias instropeksi. ;-)
             Walaupun begitu, kita juga dapat memahami apa itu filsafat dengan cara sederhana. Misalnya, kita dapat mendefinisikan filsafat sebagai "sejarah pemikiran". Ini karena kalau kita membaca teks-teks filsafat yang utama, maka kita akan dihadapkan pada rangkaian pemikiran yang dimulai dari semenjak masa Yunani Kuno hingga masa sekarang ini. Namun, orang boleh saja mengatakan bahwa awal mula filsafat berkembang semenjak masa India Kuno ataupun Cina Kuno. Ini bisa dibuktikan secara historis, walaupun lagi-lagi muncul suatu perdebatan karenanya. (Lho,kok debat lagi ya? Memang, ini kan kerjaan sebagian besar filsuf! Kalau ga debat, mereka akan kehilangan mata pencaharian tuh! ;-) )

Nah, sekarang kita padukan ketiganya dimana Filsafat, Seni dan Sains dipadu dengan Pemahaman Agama sebagai Spiritual Holistik dalam dunia pendidikan menuju masyarakat yang Humanis.

             Kalau kita berbicara mengenai pendidikan khususnya mengenai makna dan hakikat Pendidikan yang merupakan proses memanusiakan manusia menjadi mahluk yang Mandiri sebagai perwakilan Tuhan di bumi ini untuk mengelola bumi sebagaimana mestinya. seperti uraian diatas terhadap peran Sains,Sastra dan Filsafat yeng memiliki fungsi masing - masing dan diantara entitasnya saling melengkapi sebagai sebuah segitiga emas yang seimbang.
            kemudian bagaimana Implikasinya di dunia pendidikan?
seperti saya tulis sebelumnya bahwa fungsi pendidikan adalah proses menjadikan manusia sebagaimana fitrahnya, dan dalam proses pencarian ini manusia perlu mengenal dan mengungkapkan rahasia - rahasia alam sekitarnya sebagaimana Sains mengungkap seluruh fenomena secara Objektif dengan berbagai variabel yang menyertainya. disinilah fungsi pendidikan yang utama yaitu membuka tabir serta fenomena alam secara "apa adanya" yang tujuannya adalah agar manusia makin adaptif untuk bersahabat dengen kehidupan. kemudian dimana letak fungsi Sastra? mungkin banyak orang yang masih kurang setuju kenapa Sastra yang menjadi elemen utama bukannya lebih baik kita gunakan atau mengkombinasikannya dengan Seni agar cakupannya lebih luas.
            Menurut Hemat saya, bangsa yang memiliki peradaban yang maju ditandai dengan adanya karya - karya Sastra yang mampu menggugah masyarakatnya makin optimis, realistis serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. sebagaimana satra merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia. disisi ini manusia memiliki rasa estetik yang pasti memerlukan media untuk mengejawantahkannya.
          Untuk mengetahui hakikat semua itu dan untuk mengetahui apa sih "inti" dari apa yang dipelajari kita membutuhkan Filsafat sebagai media untuk mengungkap ini semua. Setiap manusia pasti memiliki rasa penasaran yang tinggi akan suatu fenomena, dan hal ini terkait dengan apa sih makna yang bisa kita ambil dari setiap entitas yang terjadi. 
           Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kata filsafat ini berasal dari bahasa Yunani, Philosophia. Terdiri dari dua bentukan kata, philos dan sophos atau philein dan sophia. Philos dapat bermakna "sahabat" atau "teman", sedangkan sophos berarti "kearifan". Sementara itu, philein tidak lain daripada "mencintai" dan sophia adalah "kebijaksanaan". ada kata "kearifan" atau "kebijaksanaan" yang merupakan salah satu ciri manusia yang dewasa. 
           Kemudian dimana letak Pemahaman Agama sebagai Spiritual Holistik? sebagaimana dikutip dari laman Wikipedia.org bahwa Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
             Dalam hal kerohanian manusi, secara fitrah manusia membutuhkan spirit atau "pegangan" dalam membimbing mereka menjalani setiap sisi kehidupan. Masing - masing manusia percaya bahwa di dalam materi yang ada di alam semesta ini memiliki sebuah kekuatan atau "keajaiban" sehingga setiap materi tersebut mampu beradaptasi dengan materi yang lain dengan berbagai cara serta "kemasannya". Mengenai bagaimana manusia mengintrepetasi "kekuatan" diluar mereka ada yang percaya dengan adanya Tuhan atau bahkan menyangkalnya. ini tidak menjadi persoalan, yang perlu kita garis bawahi adalah mereka menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan dan kekurangan. Hal ini akan mendorong manusia untuk senantiasa menjadi mehluk yang memiliki ketergantungan dengan kekuatan di luar dirinya baik sesama manusia atau non manusia. 
                Semua tesis diatas bila kita ambil kesimpulannya bahwa manusia memiliki sisi humanisme yang pada akhirnya merupakan bekal terbesar kita. sisi Humanisme ini bisa menjadi energi yang sangat ampuh untuk mengubah peradaban apabila dibasuh dengan  Kekuatan Sains dalam mengambil setiap keputusan yang dibungkus dengan sastra sebagai media untuk mengungkapkan hal tersebut dan serta mampu mengambil kebijaksanaan - kebijaksanaan yang ada dari setiap entitas beserta fenomenanya dengan menyadari bahwa manusia itu memiliki keterbatasan - keterbatasan yang memerlukan suatu interaksi dengan kekuatan diluar dirinya. 


Lampung, Ramadhan 1433 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar