Rabu, 05 September 2012

Anak SD yang terampas sebagian haknya

Assalamualaikum !
selamat menyambut Kamis pagi sahabat!
tetap Semangat Sukses Mulia supaya kita benar - benar jadi Manusia yang Memanusiakan (heuheu....!)

oke, kali ini kita ingin mendiskusikan keGALAUan anak SD jaman sekarang....
eits...GALAU....apa karena dia diputus pacarnya? di Del Count sama temen-2nya? atau kehabisan pulsa? (hehe...kalau ini sih dialami sama anak ABG tanggung) haha...

Mereka GALAU karena terlalu banyak beban pelajaran di sekolah yang seharusnya belum mereka alami disaat ini.
Begini Kisahnya
Kemarin malam tetangga saya yang di Malang BBM an sama saya, dia mengeluh karena anaknya yang masih kelas 4 SD sudah mendapat berbagai tugas seperti anak kuliahan. Bapak itu bilang ke saya kalau memang anaknya sekolah di SD yang bisa dibilang "Favorit" (entah parameternya apa kok bisa dibilang Favorit). berangkat pagi sang anak keluar rumah jam 6 pagi dan keluar dari sekolah jam 2 an biasanya sang anak ikut berbagai ekskul di sekolah dan kegiatan lainnya sampai ashar (karena sholat Ashar dilakukan berjamaah di sekolah) selepas itu dia pulang dan sampai dirumah kira - 2 jam setengah limaan.
Saat sore anak mengaji dan setelah itu bermain bersama temannya. disaat malam kegiatan anak itu belajar (ya seperti biasa lah). Nah disaat belajar malam itulah sang Bapak merasa kasihan anaknya mendapat berbagai tugas dari Gurunya di sekolah. karena memang tanggung jawab, sang bapak membantu anaknya mengerjakan PR anaknya, dan PR yang di kerjakan Matematika.
setalah itu pak ***** memeriksa dan bertanya kepada anaknya tentang PR apa saja yang ia dapat dari sekolah, anak menjawab "hari ini saya dapat PR Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Menggambar yah !", kata sang anak
oke, itu baru PR-nya bagaimana dengan muatan Materinya?
coba kalau kawan-2 cek materi anak SD jaman "Millenium" ini jauh lebih sulit ketika pas kita jaman SD dulu...bayangin aja anak SD jaman sekarang masih kelas 5 or 6 sudah diajari tentang hukum ke tatanegaraan?

oke, itu tadi sepenggal curhat bapak ***** kepada saya :-)

yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah "Kasihan ya anak SD jaman ini"
disaat usia mereka yang lagi enak-enaknya bermain di Lapangan saat sore atau bermain di Halaman bersama teman - teman sebaya pada saat malam bulan Purnama (jaman dulu banget! :-) ) mereka harus menanggung banyak beban pelajaran yang mereka dapat di Sekolah....belum lagi anak - anak yang ikut les tambahan.... (mau jadi apa mereka kelak :-) )

kalau kita perhatikan dunia pendidikan dan Kurikulum saat ini memang kesannya memaksa siswa dan peserta didik pada umumnya untuk menjadi manusia yang tajam Logika dan Nalarnya namun pengasahan bidang Emosi dan Spiritual hanya sebatas ranah Kognitif. Menurut  para Ahli Pendidikan hal ini terkait dengan penyaiapan generasi yang siap akan persaingan Global yang serba "Sophisticated" cuper cepat dan terkesan Uncontrolled.

akan tetapi  yang terjadi dalam kenyataannya, kita perhatikan banyak sekolah yang menerapkan perkembangan Kognitif sebagai tolak ukur utama dalam melihat keberhasilan siswanya.....disitu tidak dilihat bagaimana siswa berkembang dan belajar berorganisasi, mengeksplorasi kemampuan mereka di luar kemampuan akademik yang tidak akan mereka dapatkan di dalam kelas serta bagaimana mengenal dan peduli lingkungan apabila mereka tidak terjun secara langsung.

kembali ke persoalan anak SD tadi,,,,
Apakah kemudian kita bangga dan senang apabila anak kita mampu menghafal pelajaran yang ada di sekolah akan tetapi mereka kurang mengenal lingkungan, tidak peka secara empati dan emosional terhadap orang - orang yang dalam beberapa hal kurang beruntung dari mereka karena memang Logika mereka yang lebih diasah ketimbang sisi empati dan bagaimana mereka berhadapan dengan kehidupan sosial mereka.

anak - anak usia SD merupakan anak - anak yang harusnya akrab dengan lumpur, panas matahari, lapangan, layang - layang dan bermain sepeda di lingkungan bersama teman - teman sebayanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar