Rabu, 23 Januari 2013

Pendidikan Bagi Masa Depan


Apa yang terbayang bila berhubungan dengan pendidikan?

            Kita semua akan sepakat kalau kita memikirkan sesuatu tentang pendidikan adalah belajar, anak didik dan lebih sempit lagi lembaga pendidikan. Diakui atau tidak pendidikan telah menyerap banyak energi berbagai pihak yang berkepentingan. Lapisan masyarakat ikut memikirkannya. Dalam arti sempit orang tua selalu melibatkan diri dalam bidang pendidikan. Perhatikan bagaimana sibuknya orang tua dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan kalender pendidikan. Bisa kita perhatikan pada awal tahun pelajaran/akademik orang tua sibuk menyiapkan segalanya untuk kepentingan anak-anaknya. Menjelang ujian akhir nasional orang tua memacu, memperhatikan, bahkan ikut mengatur jadwal belajar anaknya di rumah. Apa pun yang dibutuhkan anaknya untuk pendidikan, orang tua akan selalu berusaha menyediakannya.

Pendidikan adalah harapan masuk ke wilayah komunitas yang diharapkan. Pendidikan adalah awal penyiapan masuk ke lapangan pergaulan luas, termasuk harapan orang tua agar anaknya dapat mempertahankan hidup di tengah masyarakat luas. Jadi, suatu kemestian bahwa pendidikan itu berimajinasi seolah kehidupan masa depan itu dimisalkan. Permisalan dunia masa depan itu tergambar jelas dalam kurikulum. Butir-butir kurikulum itu harapan yang tersusun berdasarkan riset yang tertanggungjawabkan secara ilmiah. Perbantahan mungkin terjadi, tetapi kesalahan metode tidak terjadi.

             
Masyarakat menyimpan harapan besar terhadap pendidikan. Pintu masuk ke dunia yang luas tanpa batas (global), menurut masyarakat adalah sekolah dan lebih khusus lagi kelas. Penggodokan berbagai hal yang akan terjadi berlangsung di kelas secara rutin, beraturan, bersistem, berjadwal. Perangkat kelas berkolaborasi bersatu mewujudkan penanaman kompetensi yang diharapkan tertampakkan pada saat murid berperilaku di luar kelas. Jadi, di kelas sebenarnya penuh dengan ”keakanan”. Keterjadian di kelas mempertimbangkan perkiraan yang akan terjadi pada masa depan sejauh mungkin, misalnya tahun 2025. Penjangakauan ini menjadi pertanda adanya kemauan keras dari sekolah atau penyelenggara pendidikan dalam hal penjanjian terbentuknya lulusan yang siap bersaing di pasar global.
Sekolah adalah masa depan yang selalu dibayangkan masyarakat akan dapat menyelesaikan permasalahan. Apakah sekolah mampu menampung harapan itu? Apakah pemerintah pusat dan atau daerah mampu menjabarkan harapan masyarakat itu dalam berbagai regulasi? 
2. STRATEGI PENDIDIKAN MASA DEPAN ; SKENARIO TAHUN 2025
Pendidikan senantiasa diharapkan berimajinasi dan berfokus kekuatannya pada masa mendatang. Perkiraan berdasarkan riset akan menjelmakan kebijakan tepat. Apa yang diinginkan pemerintah dan masyarakat mesti terwujud dalam bentuk kebijakan yang akan dianut oleh berbagai pihak yang berkecimpung dalam pendidikan. Kegagalan pendidikan adalh pada saat lulusannya tidak mampu berbuat apa pun pada saat ada di lapangan, pada saat berupaya di masyarakat. Oleh karena itu, sepatunya pemerintah memperkirakan apa yang akan terjadi pada tahun 2025, misalnya.
Perkiraan berarti mencermati apa yang terjadi kini dan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Paduan ini akan mengerucut pada kebutuhan masyarakat. Apa yang harus dapat dimiliki masyarakat agar dapat tumbuh dan berkembang pada masa yang akan datang. Pendidikan berati harus mengolah peserta didik dengan penggunaan kurikulum yang berbasis pada teknologi berbasis kultur setempat. Mempertimbangkan isu global sangat perlu dan sangat perlu juga memperhatikan apa yang ada di dalam. Pengangkatan potensi diri sangat perlu. Apa yang dapat kita banggakan jika hanya meniru apa yang telah dilakukan negara lain? Kita belum cukup bangga menjadi diri kita sendiri. Negara maju yang kini jadi acuan berbagai negara, misalnya. Jepang negara maju yang tidak melupakan akar kulturnya. Korea Selatan tidak akan pernah melupakan budayanya pada saat bersaing dengan negara lain.
Dunia kita kini adalah dunia teknologi. Apa yang tidak terkena aspek teknologi? Teknologi telah memanjakan kita. Berbagai kemudahan dapat dilakukan hanya dengan memijit bagian tertentu. Perangkat apa pun bentuknya sangat ditentukan oleh pengguna. Apa yang akan dilakukukan dengan perangkat itu? Demikian juga dengan bidang pendidikan. Kita tidak dapat menolak kehadiran teknologi dalam bidang pendidikan. Segala lapisan masyarakat telah berbasis teknologi. Perhatikan bagaimana rumah-rumah termasuki, terbiasa dengan penggunaan teknologi di dalamnya. Dalam keseharian orang tidak akan terlpeas dari televisi, misalnya atau mesin cuci, telepon. Perangkat itu telah mengitari kehidupan masyarakat kita.
Bagaimana mungkin masyarakat akan dapat hidup di dalam dunia digital jika sekolah melupakan penggunaan teknologi dalam prroses pembelajarannya. Padahal sekolah sangat diharapkan menyiapkan peserta didiknya dapat hidup di masyarakat luas. Jadi, sekolah pada posisi tidak dapat menolak masuknya teknologi dalam dunia pembelajaran di kelas.
Pada sisi lain tantangan yang menyegera terus menerus terkait dengan pendidikan adalah perubahan sosial. Kondisi sosial begitu deras berubah dalam berbagai aspek kehidupan. Keteraturan dalam ketidakteraturan menjadi problem yang terus bergulir. Kita tidak akan pernah membayangkan begitu banyaknya pergerakan sosial pada masa kin dan pada masa yang akan datang. Kemiskinan, pengangguran yang terpadu dengan kemajuan pada masyarakat tertentu. Ketimpangan terjadi di mana-mana, bahkan di negara maju sekalipun. Ketakterdugaan perubahan di masyarakat sekarang melaju begitu cepat. Banyak orang tua yang tertegun menyaksikan perubahan anak-anaknya. Padahal baru beberapa saat saja ditinggalkan. Bagiamana masyakata bawah sekarang dapat menyuarakan keinginannya. Isu-isu ketidakadilan disuarakan dengan cara unjuk rasa.
Kita sekarang begitu mudah menyaksikan kejahatan dilakukan orang. Anak-anak kita begitu ganpang sekarang menyaksikan kekerasan, percintaan, perseteruan, pamer kekayaan, perceraian para artis, perselisihan pejabat, kasus korupsi, pengusiran pedagang kaki lima. Kita dapat menyaksikannya melalui televisi di rumah dengan santai.
Dalam sehari-hari anak-anak kita dapat berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya atau dengan teman-temannya di luar kota, bahkan menjalin hubungan dengan teman-temannya di luar negeri. Mereka berchating ria setiap saat lewat internet. Anak-anak kita telah terbiasa dengan internet. Anak-anak kota telah sangat terbiasa dengan telepon seluler, bersms ria, misalnya.
Tantangan itulah yang akan dihadapi pendidikan kita pada saat ini dan apalagi pada saat yang akan datang. Artinya jika kita tidak memulai menggunakan teknologi di sekolah akan sangat tertinggal dalam bidang apa pun dan di mana pun anak-anak kita bergaul. Saat ini teknologi telah sejalan dengan nilai global dan kebijakan. Bangsa di mana pun jika tidak memasukkan dasar teknologi dalam kebijakannya tidak akan dapat berkomunikasi dengan komunitas global. Batas wilayah kini terasa hilang.
Kewajiban sekolah begitu beratnya jika kita melihat dari sisi ini. Apa yang harus dilakukan sekolah betul-betul sangat berat. Pendidikan pada milenium ketiga arus holistik (terintegrasi). Guru dan kurikulum membutuhkan perlengkapan yang memungkinkan dapat menolong para muridnya memahami dengan persis seluruh cetak biru dan memahami masalah kemanusiaan untuk memulai hidup pada abad ini. Anak-anak kita memang harus disiapkan agar mereka dapat memulai hidup dengan benar selepas menyelesaikan pendidikannya. Tampakya pekerjaan sekolah makin berat. Menurut hasil penelitian di sekolah-sekolah kita baru memanfaatkan otak anak-anak kita sekira 10%. Kita perlu memperluas agar kita dapat menggenggam kepemilikan kita.
Apa yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita mesti berubah setiap saat sejalan dengan perubahan dunia luas. Kini pandangan tentang perdamaian dunia, kesetaraan, kebekerjasamaan, dan kelingkungan berketerusan telah diajarkan di setiap sekolah dunia. Di sekolah-sekolah kita harus juga diajarkan jika kita masuk ke dalam komunitas dunia. Kesadaran akan lingkungan terasa sangat mendesak. Kemungkinan pada tahun 2050 lingkungan kita harus direhabilitasi. Kerusakan lingkungan pada masa kini terasakan akibatnya. Kebakaran hutan, tanah longsor, kesulitan air kini menjadi hal biasa. Hujan yang tidak pernah tepat waktulagi, musim panas yang bergeser akibat ketidakpedulian kita terhadap lingkungan.
Anak-anak kita harus disiapkan hidup pada masa sulit. Bagaimana mereka dapat menyayangi ligkungan agar tetap bertahan hidup. Lingkungan juga termasuk informasi yang kian membanjir. Kearifan mesti diajarkan kepada anak-anak kita. Mereka disiapkan untuk dapat memilih ragam informasi yang masuk ke dalam pikirannya. Setiap detik ragam informasi masuk dengan sesuka hati ke dalam rumah melaui televisi, intenet, telepon genggam, surat kabar. Kurikulum kita harus mengantisipasi hal-hal seperti itu. Dengan demikian guru khususnya harus berkopetensi dalam bidang teknologi.
3. PROGRAM PENDIDIKAN
Pencapaian sasaran atau tujuan memerlukan langkah konkret yang akan menerjadikannya. Program yang tersusun rapi dan matang menjadi penentu keberhasilan tujuan. Apa yang harus kita lakukan agar lulusan bahkan bangsa kita berdaya saing internasional? Hal-hal yang sederhana terkadang dilupakan karena tertutup dengan istilah global. Beberapa negara berkembang, seperti Venezulea telah melirik fungsi dan peran rumah (keluarga) sebagai basis pendidikan. Mereka berhasil mendidik anak-anaknya bermental dan bermoral. Bahkan di Amerika berprogram orang tua sebagai guru. Penciptaan tatanan keularga sebagai basis pendidikan tampaknya juga dilirik oleh pemerintah kita. Kurikulum 2006 memberikan keluasan kepada anak-anak untuk berkiprah di luar sekolah. Jam belajar di sekolah lebih singkat dibanding dengan kurikulum sebelumnya.
Beberapa hal akan dibicarakan sebagai bekal kita dalam pengisian pendidikan yang diharapkan dapat menjadikan bangsa kita berdaya saing internasional pada tahun 2025.
MERCUSUAR PENGETAHUAN
Perpustakan secara teori menjadi bagian penting dalam keseluruhan pendidikan sebagai satu sistem. Rangkaian program yang disusun pemerintah tentang perpustakaan secara terkendala. Peminat perpustakaan sangat kurang. Daya baca yang didasarkan pada minat baca masih perlu didongkak.
Penciptaan perpustakaan yang menjadi magnit bagi anak-anak menjadi penting manakala kita berkeinginan mencerdaskan bangsa. Artinya keseriusan pengurusan perpustakaan dicanangkan sebagai bagian yang dirancang dengan segala usaha dan daya. Kita tidak cukup hanya membawa sejumlah buku dalam mobil ke desa-desa atau ke sekolah-sekolah. Pada masa kini, sebagai usaha mewujudkan tujuan pendidikan 2025, perpustakaan dibuat bernuasa teknologi dan berdaya sekolah/tempat belajar global.
Daerah mempunyai daya membuat perpustakaan di setiap desa dengan fasilitas yang memadai. Bangunan perpustakaan seyogyanya menjadi daya tarik bagi anak-anak, bagi remaja, bagi mahasiswa, bahkan bagi orang tua ntuk berkunjung, untuk berdiskusi tentang ilmu kehidupan. Mari kita berimajinasi jika di daerah kita berdiri perpustakaan dengan bangunan resik, ruangan ber-AC, internet, mudah mencari makanan kecil, buka dua puluh empat jam. Dalam perpustakaan itu kita bisa berdiskusi tentang bisnis dengan teman kita yang berada di kota lain, bahkan di negara lain karena perpustakaan itu memiliki fasilitas tele-conference, electronic meeting.
Kita dapat memperpanjang imajinasi itu. Setiap pengunjung yang mencai apa pun mudah karena berbasis data. Perpustakaan itu memiliki jejaring global. Jangan lupa di perpustakaan itu terdapat kamar khusus mandiri. Pendek kata kita menjadi betah di perpustakaan itu. Pendek kata perpustakaan itu dapat mengalihkan anak-anak dari televisi.
Perpustakaan itu bukan milik sekolah. Ia milik pemerintah yang dikelola dengan baik dan berkualitas. Ia dikelola dengam manajemen modern, tetapi dengan harga yang rendah. Perpustakaan itu menjadi mercusuar. Ia memancarkan aura ke mana-mana. Setiap orang merindukan perpusatakaan itu. Setiap orang memeliharanya dengan tetap datang ke perpustakaan itu.
Di perpusatakan itu juga disiapkan sekolah global, tempat pembelajaran orang dewasa. Murid-murid dapat berinterkasi satu sama lain dengan menggunakan teknologi. Ia mencari informasi sebagai bahan menjalani hidup pada masa yang akan datang. Murid-murid berkolaborasi satau sama lain dalam memecahkan berbagai permasalahan yang muncul.
Sekolah menjadi satu keutuhan dengan perpusatakaan modern itu. Prorgam ini dirancang untuk melawan tantangan yang masuk ke rumah. Anak-anak kita telah terbisa hidup ditemani televisi. Larangan sulit diterapkan. Kita harus melawannya dengan memunculkan kesenangan pada anak. Di samping itu, perpustakaan sebagai persisapan anak-anak kita masuk ke dalam persaingan global, persaingan internasional.
Apakah pemerintah pusat/daerah berkeinginan mendirikan perpustakaan seperti itu? Pemerintah daerah yang berkeinginan memajukan wilayahnya dengan mencerdaskan warga tidak akan berkeberatan memasukkan pendirian perpustkaan itu ke dalam APBD.
ANAK-ANAK USIA DINI
Lingkungan menjadi penting bagi pertumbuhan masa depan anak. Penciptaan lingkungan (fisik terutama psikis) yang memberikan kebebasan dan mudah akses. Tahun pertama merupakan masa penting bagi bagi kehidupan anak-anak dalam hal kesehatan psikis, emosional, dan perkembangan mental. Pada kondisi ini merupakan tahapan penting bagi peletakan fondasi pembelajaran mereka. Masa itu, jika kita pahami menjadi bagian esensial sistem pendidikan. Penanganan masa usia dini akan menentukan kesuksesan mereka di sekolah. Fondasi penting sebagai daya tahan pada saat berbagai pengetahuan, wawasan, bahkan serbuan infrormasi masuk ke dalam dirinya.
Orang tua dan siapa pun yang peduli terhadap perkembangan anak-anak mesti menyiapkan ragam fasilitas yang memungkinkan mereka bertahap dapat mengembangkan potensinya secara benar. Penanganan anak-anak usia dini seharusnya dihiasi dengan hati ikhlas, penuh cinta, penyaringan informasi, banyak latihan, banyak simulasi, dan interkasi sosial. Kebahagian dalam berinteraksi harus diciptakan orang tua agar mereka dapat berkembang dengan baik.
Apa yang harus diajarkan kepada anak-anak prasekolah? Mengapa kita harus mengajarkan disiplin ”mati”? Pendidikan usia dini selayaknyalah memperhatikan bagaimana anak-anak memerlukan kebebasan bergerak, berceloteh, berimajinasi. Orang tua dan pengasuh mesti pandai bercerita.
Anak-anak memerlukan kebebasan lingkungan. Alam bebas dengan udara segar sangat diperhatikan anak-anak. Adaptasi dengan lingkungan dan mempelajarinya adalah hal peting dalam program usia dini. Dalam alam bebas kesalingcintaan dimunculkan, kolaborasi ditanamkan, bermusik dibiasakan, bercerita dilantunkan, saling berinteraksi dirangsangkan.
Apakah kita sudah memperhatikan pendidikan usia dini. Pemerintah kita sedang memperhatikannya. RPP sedang disiapkan untauk pendidikan usia dini. Jika kita tidak memperhatikan dengan saksama kita akan kehilangan generasi yang mampu bersaing di dunia global, internasional.
PUSAT PEMBELAJARAN MASYARAKAT
Sekolah pada masa yang akan datang kemungkinan tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Orang tua akan menuntut jenis sekolahyang beragam. Mereka berkeinginan anak-anaknya dapat belajar dengan ragam sesuai dengan bakat dan potensi anak-anaknya. Pengembangkan anak-anak di sekolah tidak lagi dibatasi dengan kelas dan usia. Mereka diperbolehkan memilih materi yang diminatinya. Mereka boleh melilih belajar dengan guru mana pun yang mereka sukai. Ragam pembelajaran ini membutuhkan fasilitas yang lengkap. Pada waktu yang bersamaan beberapa murid belajar di perpustakaan sedangkan murid lain belajar di musium yang tempatnya jauh dari sekolah. Beberapa murid kemungkinan sedang berada di kebun rindang. Mereka memperhatikan buah-buahan untuk memperoleh pengetahuan. . Anak-anak yang senang pada seni kemungkinan sedang berada di gedung kesenian. Mereka menyaksikan pertunjukan drama atau mereka sedang berinterkasi dengan aktor terkenal, dengan sutradara, dengan penulis skenario atau bahkan dengan guru teater sekolah. Suasana semacam ini menciptakan komunitas belajar. Para murid dihadapkan pada banyak pilihan.
Pembentukan komunitas belajar sebagai respons atas kebutuhan masyarakat yang memang beragam dalam berbagai hal; kebutuhan, minat, motivasi. Pusat pembelajaran kelak bagian dari pelayanan pemerintah terhadap publik. Hal ini memungkinkan karena arah pendidikan telah bergeser dari sentralisasi ke desentralisasi. Pemerintah daerah mesti berkemauan kuat menciptakan ragam terobosan dalam bidang pendidikan sebagai salah satu aktualisasi keotonomannya dalam bidang pemerintahan.
Pusat-pusat pembelajaran di daerah dibuka 18 jam. Fasiltas lengkap dengan tatanan modern. Standar pendidikannya bertaraf nasional mengarah pada internasional. Layanan pemerintah kepada publik tidak akan sia-sia. Masyarkat cerdas terwujud dengan keinginan kuat pemrintah untuk mewujudkannya.
Pembentukan komunitas belajar ini sebagai antisipasi pada masa yang akan datang, yaitu tentang kemungkinan masyarakat tidak lagi memerlukan sekolah. Mereka beranggapan segala hal dapat diperoleh melali bantuan teknologi. Di rumah terpasang televisi, video, internet. Melalui fasilitas itu mereka dapat memperoleh apa pun yang mereka butuhkan. Situasi ini harus dimanfaatkan sekolah dengan penyediaan fasilitas yang memungkinkan mereka memanfaatkan pengetahuan yang telah mereka peroleh di rumah. Apa pun alasannya lingkungan edukatif masih akan dibutuhkan. Orang tua menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak mereka tidak akan maksimal tumbuh hanya dididik di rumah. Pada umumnya orang tua akan meninggalkan rumah dalam waktu tertentu dan kemungkinan dalam waktu yang lama. Sekolah harus dapat menggantikan peran orang tua.
Pertimbangan pembentukan komunitas pusat belajar agar murid dapat para murid belajar berkonsentrasi pada bidang yang diminatinya. Perolehan pengetahuannya melalui proses mandiri melalui komunikasi dengan sesama kelompok dan dengan bantuan teknologi yang disediakan sekolah. Pendidikan berbasis praktik. Para murid belajar berbicara dan menulis melalui proyek atau lokakarya. Sekolah seharusnya menajdi tenpat perolehan pengalaman. Oleh karena itu, sekolah harus kaya akan berbagai fasilitas yang meungkinkan para murid berinteraksi dengan cara yang berbeda. Para murid belajar mempertanggungjawabkan ppilihannya secara rasional dan diketai orang banyak.
KELAS MASA DEPAN
Apa yang dinamakan kelas pada sekolah tradisional terbatas dan terikat pda aturan kaku. Ruangan yang tidak fleksibel menyebabkan gerak murid sangat terbatas. Mereka tidak bisa beredar leluasa. Sekarang bayangkan di sebuah ruangan murid berinteraksi dengan leluasa. Setai ruangan dapat diubah sesuai dengan tema pembelajaran, misalnya mempelajari kelautan. Warna diubah bernuansa kelautan, gambar-gambar ikan, ombak, kepal laut. Pada saat mempelajari sejarah latar ruangan diubah lagi. Pada saat pelajaran seminar, meja dan kursi diubah melingkar. Pada saat mempelajari budaya asing, televisi disiapkan untuk menonton bersama filem asing.
Alat-alat elektronik tersedia. Pada saat belajar tentang kelauatan ragama kegiatan dilakukan murid. ada yang menggambar laut. Ada yang mencari informasi tentang cuaca. Ada yang berkerumun memperhatikan televisi yang sedang mendeskripsikan tentang laut. Setelah itu, mereka berkumpul berdiskusi berbagai hal tentang kelautan.
Pelajaran diakhiri dengan bertanya kepada ilmuwan untuk mengecek penemuan mereka. Langkah seperti ini dilakukan agar para murid dapat membandingkan apa yang baru mereka pelajari dengan kepakaran kelautan. Tambahan pengetahuan akan mereka miliki. Perbincaqngan ini dilakukan di kelas dengan menggunakan faslitas teleconference.
Suasana kelas diciptakan kolaboratif. Murid harus merasakan kesalingtergantungan. Bahwa mereka tidak dapat melakukan kegaitan tanpa kerja sama. Pelatihan ini menjadi dasar kuat pada saat mereka berhadapan dengan dunia nyata. Belajar dengan kegiatan mengelami akan menghilangkan kemampuan semu. Berbagai masalah akan mereka hadapi dan mereka belajar bagaiaman mengatasinya dengan cara yang tepat dari waktu.
BERBASIS KELUARGA
Keluarga segalanya bagi anak-anak. Pendidikan pertama di keluarga. Lingkungan di luar menjadi ujian dan penguatan. Apa yang kini terjadidi rumah dapat mencengankan kita. Segala bentuk hiburan dunia dengan mudah masuk tanpa sensor. Caci-maki para akator, narasi kejahatan, raungan yang terpinggirkan masuk ke rumah kita. Ia masuk ke dalam pikiran anak-anak kita. Jadi, lingkungan rumah kita telah terisi ragam informasi.
Tantangan berat untuk pendidikan. Guru harus berkerja keras menghadapinya dengan sikap bijak. Dunia kini menjadi lapangan publik yang terbuka pada TV, radio, dan internet tumbuh sangat besar menyediakan balikan instan, hukuman dan sanksi pada ”pemimpin” yang terlalu agresif. Dunia tidak ada lagi penghalang. Apa yang terjadi di belahan dunia sana dengan cepat dapat tertangkap di sini. Hari ini desa global hadir di tengah-tengah kita. Bagaimana keluarga dapat melepas begitu saja. Kita tidak dapat memungkiri kini kelompok masyarakat sejalan dengan tren di televisi. Agaknya tidak salah jika banyak orang tua telah kehilangan kontaknya dengan anak-anaknya digantikan perannyta oleh televisi.
Penguatan keluarga, karena itu menjadi sangat penting. Didikan kesopanan dan kesantunan harus dimulai dari keluarga. Keharmonisan dimunculkan dengan gaya dialog. Kesetararaan diciptakan dengan saling pengharmatan dan penghargaan. Apa yang terjadi di luar tidak akan pernah berpengaruh jika dinding yang kita bangun kuat. Dinding itu adalah dinding ibu dan dinding bapak.
4. PENGHUJUNG
Pendidikan adalah kerja bareng kita. Kuncinya adalah kepedulian semua orang, semua pihak. Pendidik secara edukatif menekan para pemutus kebijakan, orang tua, para pebisnis, dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama bertanggung jawab menyiapkan lingkungan edukatif. Pemerintah daerah berkemampuan memutus kebijakan yang berpihak pada pendidikan. Putusan yang benar akan menjadi inves bagi anak-anak kita agar dapat berkiprah di pasar global. Kebanggaan bagi kita jika anak-anak kita dapat bersaing dalam berbagai hal. Para pemimpin semestinya berpikir dalam bertindak dan berkiprah berdasar pada kebergunaan untuk masa depan.
 

sumber bacaan: http://unswagati-crb.ac.id/jurnal/menggagas-pendidikan-masa-depan

Minggu, 20 Januari 2013

Gundul Pacul, Fooling Around, Cengengesan



Siapa tahu ada manfaatnya kisah tentang Gundul Pacul ini bagi Anda. Ketika grup musik KK (Kiai Kanjeng, red) pentas keliling lima kota Mesir — Cairo, Alexandria, El-Fayoum, Tanta dan Ismailia — nomer-nomer lagu Ummi Kultsum  panitia mempersoalkan kenapa saya tidak selalu tampil pentas, padahal nama saya sudah terlanjur diumumkan di setiap pemberitaan, spanduk dan katalog, terbata-bata saya menjawab: “Karena saya lebih lancar berbicara bahasa Inggris dibanding bahasa Arab”. Dan ketika KK pentas di Australia, Melbourne, Canberra, Sydney dan Adelaide, pertanyaan yang sama nongol lagi dan saya menjawab: karena saya lebih lancar berbahasa Arab dibanding bahasa Inggris”.
Sebagai penganggur saya sering dolan ke toko komputer atau mobile-phone (HP) untuk iseng-iseng belajar ikut nyervis. Itu kebiasaan saya sudah hampir 20 tahun. Selama berada di tempat servis itu saya berkata atau setidaknya saya ciptakan kesan kepada setiap teman di sana dan diam-diam kepada diri saya sendiri : “Saya sangat sibuk, acara saya sangat padat dan semua urusan besar, sehingga kalau ada luang waktu saya pergi ke sini agar hidup saya ada variasi. Juga tak baik selalu mengurusi masalah nasional, ada segarnya jika diselingi mengurusi masalah lokal”. Nanti kalau saya sudah berada di rumah, saya tipu diri saya sendiri dengan memaksanya percaya bahwa: “Hari ini saya sudah sangat sibuk melakukan kegiatan yang kelihatannya kecil dan remeh, namun sesungguhnya itu fenomenologis, avant gard dan sekian langkah lebih kontemporer dibanding kebanyakan orang. Wakil Presiden atau anggota DPR saja kesana kemari bawa communicator tapi ngertinya paling pol cuma menelpon, kirim SMS dan menggunakan Word”. Saya adalah penghuni utama era peradaban informasi dan komunikasi. Saya rekannya Bill Gate dan komunitas perkebunan Nokia”.
Alasan yang sesungguhnya jelas: kalau berteman dengan orang komputer dan HP, kalau beli dikasih murah. Alasan yang nyata dari kenapa saya tidak tampil dengan KK di Mesir dan Aussie sudah dimafhumi semua orang bahwa saya memang tidak becus bermusik, tak bisa nyanyi, apalagi memetik gitar atau sekedar memukul saronpun. Tetapi toh saya cukup pandai untuk berlagak: setiap kali KK mendapatkan a long standing ovation, tepuk tangan panjang sambil berdiri dan meminta persembahan dilanjutkan — saya sigap berlari ke panggung dan ikut berbaris dengan KK.
Orang yang tak punya peran harus pintar-pintar “caper” (cari perhatian). Kalau artis atau Menteri diwawancarai di tengah keramaian, Anda harus segera menerobos untuk menongolkan wajah Anda di kiri-kanan Menteri agar tampak di kamera. Setelah itu kalau ada wartawan terjebak jalan sesat dengan mewawancarai Anda, perlu Anda susun kalimat-kalimat yang menimbulkan kesan bahwa seluruh prestasi itu bermula dari tangan jenius Anda. Hindarkan kejaran cerdas wartawan yang mau bukti, terus cocor saja image self building diri dikau. Kita sedang hidup di tengah “masyarakat kesan”, di tengah “bangsa kayaknya”, The Image Society, bukan masyarakat realitas. Kita memilih presiden berdasarkan kesan, bukan pemahaman tentang kenyataan. Kita juga bisa “membunuh” orang lain yang tak pernah berususan dengan kita cukup dengan membangun kesan tentang dia dalam hati kita sepanjang hidup. Mampuslah dia.
Dan di toko-toko komputer dan mobile-phone itu realitas yang sebenarnya adalah bahwa saya seorang penganggur, dan terus tetap penganggur sampai usia lewat setengah abad sekarang ini. Tetapi penganggur jangan berpuas diri sebagai penganggur. Penganggur harus punya lagak. Rugi kalau Anda menganggur lantas tampil rendah diri. Bodoh kalau Anda miskin lantas hati bersedih dan kalau berjalan tidak tegak dan wajah tidak menunjukkan kepercayaan diri. Sudahlah miskin, minder dan merasa sengsara pula. Yang terbaik bagi orang miskin yang penganggur adalah fenomena sikap “gemlelengan”, atau bahasa jalanannya “cengengesan”. Jadi, sampailah kita pada Gundul Pacul.
Gundul itu botak. Pacul itu cangkul. Tak ada kaitan literer antara gundul dengan pacul dalam idiom Jawa gundul pacul. Itu peng-enak-an bunyi belaka. Tak perlu ditafsirkan bahwa kepala kita menjadi botak sesudah dicangkuli oleh tetangga. Paralel dengan istilah “uuwakehe suwidak jaran”, banyaknya sampai 60 kuda. Tak usah dihitung berdasar angka 60. Atau “malam seribu bulan”, belum tentu pas kalau Lailatul Qodar Anda hitung melalui jumlah hari, jam, menit dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu lebih bersifat kualitatif: kara “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu. Juga bersifat dinamis, bergantung pada pola pergerakan hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya.
Gundul Pacul mungkin menggambarkan karakterisasi anak, pemuda, atau manusia tertentu — memalui mata pandang dan rasa budaya Jawa. Gundul pacul adalah anak yang nakal pol, mblunat, mbethik, mbeling, susah diatur, berlaku seenaknya sendiri. Main sana main sini, teriak sana teriak sini, ambil makanan siapa saja di meja senafsu-nafsu dia, pergi ke sungai dan mandi bluron sampai kulitnya bersisik, lomba lari mengejar layang-layang putus sambil mengusap ingus. Intinya: punya bakat dan naluri anarkisme yang serius.
Di Arab jaman dahulu ada seorang pemuda bernama Nuaim yang heboh benar gundul paculnya. Tak ada kata Ibu Bapaknya kecuali ia bantah. Tak ada larangan orangtuanya kecuali ia langgar. Tak ada perintah mereka berdua atau bahkan siapapun kecuali ia tabrak. Pada suatu hari Bapaknya melihat Nuaim berjalan jauh ke tengah padang pasir. Bapaknya yang sangat berpengalaman tahu persis anaknya sedang ditunggu bahaya besar. Kalau Nuaim teruskan berjalan karah itu, ia akan ditipu oleh fatamorgana sehingga beberapa langkah kemudian ia akan terjerumus masuk pasir bergelombang dan ditelan bumi tanpa bekas.
Betapa gundul paculpun putranya, sang Bapak tetaplah mencintainya. Maka Bapaknya berteriak: “Nuaiiiim! Teruuuuus! Teruuuus!”. Itu adalah sebuah metode empirikal berdasarkan pengalaman atas watak anaknya. Kalau dibilang “Stop”, maka ia akan terus, sehingga agar ia stop harus dibilang “Teruuuus!”. Akan tetapi subhanallah Nuaim siang itu mendapat hidayah dari Allah swt. Tiba-tiba ia bergumam dalam hati: “Ya Allah ampunilah kenakalanku yang selalu membantah dan menyakiti hati orang tuaku. Setidaknya satu kali ini perkenankan aku mematuhi perintah Bapakku”.
Anda tidak memerlukan keterangan lebih lanjut untuk mengetahui apa yang kemudian terjadi pada Nuaim. Dendangkanlah saja lagu kuno itu: “Gundul gundul pacul cul, gemelelengan….”. Nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuannya seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak, petentang-petenteng. Tak becus menjadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga – itu persis saya yang tidak ikut pentas tapi nyerobot ikut menyongsong standing ovation di panggung pertunjukan.
Sudah terbukti tak punya kemampuan managerial mengurusi ummat, tapi merasa pantas dicium tangannnya. Sudah jelas kerjanya hanya berkonsentrasi menghimpun sogokan-sogokan uang, tapi tetap meyakini bahwa dirinya ada wakil rakyat. Sudah jelas bahwa pejabat itu buruhnya rakyat, malah berperilaku seakan-akan ia boss-nya rakyat. Sudah dilalapnya gaji dari uang rakyat, ditambah uang curian ribuan kali lipat gajinya, tetap saja tidak mau tahu bahwa yang menggaji adalah boss, yang digaji adalah buruh. Sudah jelas rakyat mau berkorban membiayai triyunan rupiah untuk institusi yang kerjanya adalah menghimpun kekayaan pribadi dan memecah belah rakyat, tetap saja mereka tidak pernah mengakui bahwa hidupnya telah salah niat dan berpikiran sesat.
Yang seharusnya butuh belajar, malas belajar. Yang rajin belajar, keliru memilih apa yang dipelajari. Yang tak salah menemukan sesuatu yang dipelajari, salah caranya mempelajari. Yang jelas-jelas maling puluhan tahun dijunjung-junjung, dibukakan akses dan ekspose. Yang tak ikut apa-apa, yang mencari makan sendiri di liang-liang tikus di hutan rimba, malah dipentaskan sebagai maling nasional, dan itu diumumkan setiap siang dan malam, minimal di ruang-ruang dalam hati masing-masing. Sungguh ada perbedaan sangat serius, mendalam dan ideologis antara Indonesia Karangan alias Indonesia Kesan, dengan Indonesia Kenyataan. Memilih lagu yang sehat saja kita tak becus, bagaimana memilih Presiden.
Yang tak benar-benar mengerti Agama, sangat canggih memperdagangkan Agama. Yang mengerti Agama malah bersedia menjadi budak dari pedagang Agama. Yang pelawak dan penyinden yakin bahwa merekalah presenter utama pekerjaan dakwah, sementara yang kiai dan ulama bersedia menjadi pekatiknya pelawak dan penyinden di lapangan dakwah. Yang baik moralnya, bodoh otaknya. Yang pandai akalnya, jahat hatinya. Yang intelektual, tak mampu bekerja. Yang sanggup bekerja, tidak pernah mau belajar. Yang berhasil menjadi manusia baik dan pandai, pengecut mentalnya. Reformasi berlangsung sampai busuk sebusuk-busuknya sampai tak terhitung jauhnya melampaui kebusukan-kebusukan yang pernah dicapai oleh sejarah bangsa ini, tapi tak seorangpun siap ambil oper menanggung malu moral, malu mental, malu intelektual, apalagi malu spiritual. Dasar gemelelengan! Cengengesan!
Anda mengerti kalimat berikutnya dari lagu kuno itu: “Nyunggi nyunggi wakul kul, gemelelengan….”. Nyunggi adalah membawa sesuatu dengan meletakkannya di atas kepala. Yang di-sunggi adalah wakul. Bakul tempat nasi. Nasi adalah amanat kesejahteraan rakyat, kepercayaan sangat mahal untuk menciptakan masyarakat adil makmur. Bakul adalah otoritas, legalitas dan legitimasi kepemerintahan, yang ditempuh dan dipersembahkan oleh rakyat dengan biaya yang sangat mahal: uang raksasa jumlahnya, perpecahaan massa, nyawa-nyawa melayang, kebodohan berkepanjangan dan ketidak-sungguhan hidup bernegara dan berbangsa yang bertele-tele.
Bakul tempat nasi itu tak sekedar ditenteng dengan tangan, apalagi ditaruh dalam rangsel di belakang punggung. Amanat itu sedemikian tinggi dan sakral maknanya sehingga diletakkan diatas kepala. Ditaruh di lapisan harkat yang lebih tinggi dari kepala individu kita sendiri. Diposisikan pada derajat yang lebih mulia dibanding kepentingan diri sendiri, golongan dan apapun saja dalam skala kehidupan berbangsa dan bernagara. Nyunggi wakul itu pekerjaan paling mulia. Dan dalam pekerjaan nyunggi wakul itu tetap saja kita bertindak gemelelengan. Tetap saja kita berlagak-lagak. Tidak sungguh-sungguh. Akting sana akting sini. Palsu luar, palsu dalam. Fooling around. Berbodoh-bodoh berdungu-dungu beriseng-iseng dulu, kemarin, hari ini dan besok. Politik kita permainkan. Kesakralan kata “rakyat” kita manipulasikan. Moral dan nurani kita remehkan. Agama kita akali. Tuhan kita tipu.
Akhirnya — “Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar….”. Bakul amanat kesejahteraan rakyat itu terjatuh dari kepala kita, tercampak di tanah, nasinya tumpah dan berceceran di halaman negeri indah ini. Seharusnya padi ditumbuh-kembangkan, nasi didistribusikan dalam keadilan. Tapi ini tumpah dan berceceran.
Tampaknya langkah kita sekarang adalah berteriak kepada “Nuaim” yang berjalan menuju jurang: “Teruuuuus! Teruuus!”. Tapi mungkin ternyata Nuaim itu adalah kita sendiri yang gundul pacul, fooling around, cengengesan….

By: Emha Ainun Najib

Kamis, 17 Januari 2013

     Menjadi Guru itu menyenangkan.....dalam setiap pembelajaran bersama siswa kita bisa menikmati suasana penuh ceria dengan siswa dan canda tawa yang mungkin tidak bisa kita dapatkan di tempat lain....belum lagi ada ikatan emosional antara guru dan siswa (dalam arti positif lho...) dan yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami karakter orang lain dalam hal ini siswa-siswa kita yang ada dalam kelas....

     Ada pengalaman menarik yang saya dapatkan selama saya memberi tes atau Quiz....Biasanya siswa cukup takut apabila dia tidak bisa menjawab soal yang diberikan oleh Guru....
     Tapi ada pengalaman unik dimana ada siswa yang tidak bisa menjawab soal tapi justru dia membuat gambar unui di lembar jawaban...

Nah inilah Gambar yang membuat saya tertawa.....

yuk dilihat 
 
(Coba perhatikan tulisan yang saya lingkari...) 

lagi.....
 
(gambar yang bagus bukan....sebetulnya ini pelajaran matematika lho....bukan kesenian menggambar :-) )