Apa yang terbayang bila berhubungan dengan pendidikan?
Kita semua akan sepakat kalau kita memikirkan sesuatu tentang pendidikan adalah belajar, anak didik dan lebih sempit lagi lembaga pendidikan. Diakui atau tidak pendidikan
telah menyerap banyak energi berbagai pihak yang berkepentingan. Lapisan
masyarakat ikut memikirkannya. Dalam arti sempit orang tua selalu
melibatkan diri dalam bidang pendidikan. Perhatikan bagaimana sibuknya
orang tua dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan kalender pendidikan. Bisa kita perhatikan pada awal tahun pelajaran/akademik orang tua sibuk menyiapkan segalanya
untuk kepentingan anak-anaknya. Menjelang ujian akhir nasional orang tua
memacu, memperhatikan, bahkan ikut mengatur jadwal belajar anaknya di
rumah. Apa pun yang dibutuhkan anaknya untuk pendidikan, orang tua akan
selalu berusaha menyediakannya.
Pendidikan
adalah harapan masuk ke wilayah komunitas yang diharapkan. Pendidikan
adalah awal penyiapan masuk ke lapangan pergaulan luas, termasuk harapan
orang tua agar anaknya dapat mempertahankan hidup di tengah masyarakat
luas. Jadi, suatu kemestian bahwa pendidikan itu berimajinasi seolah
kehidupan masa depan itu dimisalkan. Permisalan dunia masa depan itu
tergambar jelas dalam kurikulum. Butir-butir kurikulum itu harapan yang
tersusun berdasarkan riset yang tertanggungjawabkan secara ilmiah.
Perbantahan mungkin terjadi, tetapi kesalahan metode tidak terjadi.
Masyarakat
menyimpan harapan besar terhadap pendidikan. Pintu masuk ke dunia yang
luas tanpa batas (global), menurut masyarakat adalah sekolah dan lebih
khusus lagi kelas. Penggodokan berbagai hal yang akan terjadi
berlangsung di kelas secara rutin, beraturan, bersistem, berjadwal.
Perangkat kelas berkolaborasi bersatu mewujudkan penanaman kompetensi
yang diharapkan tertampakkan pada saat murid berperilaku di luar kelas.
Jadi, di kelas sebenarnya penuh dengan ”keakanan”. Keterjadian di kelas
mempertimbangkan perkiraan yang akan terjadi pada masa depan sejauh
mungkin, misalnya tahun 2025. Penjangakauan ini menjadi pertanda adanya
kemauan keras dari sekolah atau penyelenggara pendidikan dalam hal
penjanjian terbentuknya lulusan yang siap bersaing di pasar global.
Sekolah
adalah masa depan yang selalu dibayangkan masyarakat akan dapat
menyelesaikan permasalahan. Apakah sekolah mampu menampung harapan itu?
Apakah pemerintah pusat dan atau daerah mampu menjabarkan harapan
masyarakat itu dalam berbagai regulasi?
2. STRATEGI PENDIDIKAN MASA DEPAN ; SKENARIO TAHUN 2025
Pendidikan
senantiasa diharapkan berimajinasi dan berfokus kekuatannya pada masa
mendatang. Perkiraan berdasarkan riset akan menjelmakan kebijakan tepat.
Apa yang diinginkan pemerintah dan masyarakat mesti terwujud dalam
bentuk kebijakan yang akan dianut oleh berbagai pihak yang berkecimpung
dalam pendidikan. Kegagalan pendidikan adalh pada saat lulusannya tidak
mampu berbuat apa pun pada saat ada di lapangan, pada saat berupaya di
masyarakat. Oleh karena itu, sepatunya pemerintah memperkirakan apa yang
akan terjadi pada tahun 2025, misalnya.
Perkiraan
berarti mencermati apa yang terjadi kini dan apa yang bakal terjadi
pada masa mendatang. Paduan ini akan mengerucut pada kebutuhan
masyarakat. Apa yang harus dapat dimiliki masyarakat agar dapat tumbuh
dan berkembang pada masa yang akan datang. Pendidikan berati harus
mengolah peserta didik dengan penggunaan kurikulum yang berbasis pada
teknologi berbasis kultur setempat. Mempertimbangkan isu global sangat
perlu dan sangat perlu juga memperhatikan apa yang ada di dalam.
Pengangkatan potensi diri sangat perlu. Apa yang dapat kita banggakan
jika hanya meniru apa yang telah dilakukan negara lain? Kita belum cukup
bangga menjadi diri kita sendiri. Negara maju yang kini jadi acuan
berbagai negara, misalnya. Jepang negara maju yang tidak melupakan akar
kulturnya. Korea Selatan tidak akan pernah melupakan budayanya pada saat
bersaing dengan negara lain.
Dunia kita kini adalah dunia teknologi. Apa
yang tidak terkena aspek teknologi? Teknologi telah memanjakan kita.
Berbagai kemudahan dapat dilakukan hanya dengan memijit bagian tertentu.
Perangkat apa pun bentuknya sangat ditentukan oleh pengguna. Apa yang
akan dilakukukan dengan perangkat itu? Demikian juga dengan bidang
pendidikan. Kita tidak dapat menolak kehadiran teknologi dalam bidang
pendidikan. Segala lapisan masyarakat telah berbasis teknologi.
Perhatikan bagaimana rumah-rumah termasuki, terbiasa dengan penggunaan
teknologi di dalamnya. Dalam keseharian orang tidak akan terlpeas dari
televisi, misalnya atau mesin cuci, telepon. Perangkat itu telah
mengitari kehidupan masyarakat kita.
Bagaimana
mungkin masyarakat akan dapat hidup di dalam dunia digital jika sekolah
melupakan penggunaan teknologi dalam prroses pembelajarannya. Padahal
sekolah sangat diharapkan menyiapkan peserta didiknya dapat hidup di
masyarakat luas. Jadi, sekolah pada posisi tidak dapat menolak masuknya
teknologi dalam dunia pembelajaran di kelas.
Pada
sisi lain tantangan yang menyegera terus menerus terkait dengan
pendidikan adalah perubahan sosial. Kondisi sosial begitu deras berubah
dalam berbagai aspek kehidupan. Keteraturan dalam ketidakteraturan
menjadi problem yang terus bergulir. Kita tidak akan pernah membayangkan
begitu banyaknya pergerakan sosial pada masa kin dan pada masa yang
akan datang. Kemiskinan, pengangguran yang terpadu dengan kemajuan pada
masyarakat tertentu. Ketimpangan terjadi di mana-mana, bahkan di negara
maju sekalipun. Ketakterdugaan perubahan di masyarakat sekarang melaju
begitu cepat. Banyak orang tua yang tertegun menyaksikan perubahan
anak-anaknya. Padahal baru beberapa saat saja ditinggalkan. Bagiamana
masyakata bawah sekarang dapat menyuarakan keinginannya. Isu-isu
ketidakadilan disuarakan dengan cara unjuk rasa.
Kita
sekarang begitu mudah menyaksikan kejahatan dilakukan orang. Anak-anak
kita begitu ganpang sekarang menyaksikan kekerasan, percintaan,
perseteruan, pamer kekayaan, perceraian para artis, perselisihan
pejabat, kasus korupsi, pengusiran pedagang kaki lima. Kita dapat
menyaksikannya melalui televisi di rumah dengan santai.
Dalam
sehari-hari anak-anak kita dapat berkomunikasi dengan teman-teman
sekelasnya atau dengan teman-temannya di luar kota, bahkan menjalin
hubungan dengan teman-temannya di luar negeri. Mereka berchating
ria setiap saat lewat internet. Anak-anak kita telah terbiasa dengan
internet. Anak-anak kota telah sangat terbiasa dengan telepon seluler,
bersms ria, misalnya.
Tantangan
itulah yang akan dihadapi pendidikan kita pada saat ini dan apalagi
pada saat yang akan datang. Artinya jika kita tidak memulai menggunakan
teknologi di sekolah akan sangat tertinggal dalam bidang apa pun dan di
mana pun anak-anak kita bergaul. Saat ini teknologi telah sejalan dengan
nilai global dan kebijakan. Bangsa di mana pun jika tidak memasukkan
dasar teknologi dalam kebijakannya tidak akan dapat berkomunikasi dengan
komunitas global. Batas wilayah kini terasa hilang.
Kewajiban
sekolah begitu beratnya jika kita melihat dari sisi ini. Apa yang harus
dilakukan sekolah betul-betul sangat berat. Pendidikan pada milenium
ketiga arus holistik (terintegrasi). Guru dan kurikulum membutuhkan
perlengkapan yang memungkinkan dapat menolong para muridnya memahami
dengan persis seluruh cetak biru dan memahami masalah kemanusiaan untuk
memulai hidup pada abad ini. Anak-anak kita memang harus disiapkan agar
mereka dapat memulai hidup dengan benar selepas menyelesaikan
pendidikannya. Tampakya pekerjaan sekolah makin berat. Menurut hasil
penelitian di sekolah-sekolah kita baru memanfaatkan otak anak-anak kita
sekira 10%. Kita perlu memperluas agar kita dapat menggenggam
kepemilikan kita.
Apa
yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita mesti berubah setiap saat
sejalan dengan perubahan dunia luas. Kini pandangan tentang perdamaian
dunia, kesetaraan, kebekerjasamaan, dan kelingkungan berketerusan telah
diajarkan di setiap sekolah dunia. Di sekolah-sekolah kita harus juga
diajarkan jika kita masuk ke dalam komunitas dunia. Kesadaran akan
lingkungan terasa sangat mendesak. Kemungkinan pada tahun 2050
lingkungan kita harus direhabilitasi. Kerusakan lingkungan pada masa
kini terasakan akibatnya. Kebakaran hutan, tanah longsor, kesulitan air
kini menjadi hal biasa. Hujan yang tidak pernah tepat waktulagi, musim
panas yang bergeser akibat ketidakpedulian kita terhadap lingkungan.
Anak-anak
kita harus disiapkan hidup pada masa sulit. Bagaimana mereka dapat
menyayangi ligkungan agar tetap bertahan hidup. Lingkungan juga termasuk
informasi yang kian membanjir. Kearifan mesti diajarkan kepada
anak-anak kita. Mereka disiapkan untuk dapat memilih ragam informasi
yang masuk ke dalam pikirannya. Setiap detik ragam informasi masuk
dengan sesuka hati ke dalam rumah melaui televisi, intenet, telepon
genggam, surat kabar. Kurikulum kita harus mengantisipasi hal-hal
seperti itu. Dengan demikian guru khususnya harus berkopetensi dalam
bidang teknologi.
3. PROGRAM PENDIDIKAN
Pencapaian
sasaran atau tujuan memerlukan langkah konkret yang akan
menerjadikannya. Program yang tersusun rapi dan matang menjadi penentu
keberhasilan tujuan. Apa yang harus kita lakukan agar lulusan bahkan
bangsa kita berdaya saing internasional? Hal-hal
yang sederhana terkadang dilupakan karena tertutup dengan istilah
global. Beberapa negara berkembang, seperti Venezulea telah melirik
fungsi dan peran rumah (keluarga) sebagai basis pendidikan. Mereka
berhasil mendidik anak-anaknya bermental dan bermoral. Bahkan di Amerika
berprogram orang tua sebagai guru. Penciptaan tatanan keularga sebagai
basis pendidikan tampaknya juga dilirik oleh pemerintah kita. Kurikulum
2006 memberikan keluasan kepada anak-anak untuk berkiprah di luar
sekolah. Jam belajar di sekolah lebih singkat dibanding dengan kurikulum
sebelumnya.
Beberapa
hal akan dibicarakan sebagai bekal kita dalam pengisian pendidikan yang
diharapkan dapat menjadikan bangsa kita berdaya saing internasional
pada tahun 2025.
MERCUSUAR PENGETAHUAN
Perpustakan
secara teori menjadi bagian penting dalam keseluruhan pendidikan
sebagai satu sistem. Rangkaian program yang disusun pemerintah tentang
perpustakaan secara terkendala. Peminat perpustakaan sangat kurang. Daya
baca yang didasarkan pada minat baca masih perlu didongkak.
Penciptaan
perpustakaan yang menjadi magnit bagi anak-anak menjadi penting
manakala kita berkeinginan mencerdaskan bangsa. Artinya keseriusan
pengurusan perpustakaan dicanangkan sebagai bagian yang dirancang dengan
segala usaha dan daya. Kita tidak cukup hanya membawa sejumlah buku
dalam mobil ke desa-desa atau ke sekolah-sekolah. Pada masa kini,
sebagai usaha mewujudkan tujuan pendidikan 2025, perpustakaan dibuat
bernuasa teknologi dan berdaya sekolah/tempat belajar global.
Daerah
mempunyai daya membuat perpustakaan di setiap desa dengan fasilitas
yang memadai. Bangunan perpustakaan seyogyanya menjadi daya tarik bagi
anak-anak, bagi remaja, bagi mahasiswa, bahkan bagi orang tua ntuk
berkunjung, untuk berdiskusi tentang ilmu kehidupan. Mari kita
berimajinasi jika di daerah kita berdiri perpustakaan dengan bangunan
resik, ruangan ber-AC, internet, mudah mencari makanan kecil, buka dua
puluh empat jam. Dalam perpustakaan itu kita bisa berdiskusi tentang
bisnis dengan teman kita yang berada di kota lain, bahkan di negara lain
karena perpustakaan itu memiliki fasilitas tele-conference, electronic meeting.
Kita
dapat memperpanjang imajinasi itu. Setiap pengunjung yang mencai apa
pun mudah karena berbasis data. Perpustakaan itu memiliki jejaring
global. Jangan lupa di perpustakaan itu terdapat kamar khusus mandiri.
Pendek kata kita menjadi betah di perpustakaan itu. Pendek kata
perpustakaan itu dapat mengalihkan anak-anak dari televisi.
Perpustakaan itu bukan milik sekolah. Ia milik pemerintah yang dikelola dengan baik dan berkualitas. Ia dikelola dengam manajemen modern, tetapi dengan harga yang rendah. Perpustakaan
itu menjadi mercusuar. Ia memancarkan aura ke mana-mana. Setiap orang
merindukan perpusatakaan itu. Setiap orang memeliharanya dengan tetap
datang ke perpustakaan itu.
Di
perpusatakan itu juga disiapkan sekolah global, tempat pembelajaran
orang dewasa. Murid-murid dapat berinterkasi satu sama lain dengan
menggunakan teknologi. Ia mencari informasi sebagai bahan menjalani
hidup pada masa yang akan datang. Murid-murid berkolaborasi satau sama
lain dalam memecahkan berbagai permasalahan yang muncul.
Sekolah
menjadi satu keutuhan dengan perpusatakaan modern itu. Prorgam ini
dirancang untuk melawan tantangan yang masuk ke rumah. Anak-anak kita
telah terbisa hidup ditemani televisi. Larangan sulit diterapkan. Kita
harus melawannya dengan memunculkan kesenangan pada anak. Di samping
itu, perpustakaan sebagai persisapan anak-anak kita masuk ke dalam
persaingan global, persaingan internasional.
Apakah
pemerintah pusat/daerah berkeinginan mendirikan perpustakaan seperti
itu? Pemerintah daerah yang berkeinginan memajukan wilayahnya dengan
mencerdaskan warga tidak akan berkeberatan memasukkan pendirian
perpustkaan itu ke dalam APBD.
ANAK-ANAK USIA DINI
Lingkungan
menjadi penting bagi pertumbuhan masa depan anak. Penciptaan lingkungan
(fisik terutama psikis) yang memberikan kebebasan dan mudah akses.
Tahun pertama merupakan masa penting bagi bagi kehidupan anak-anak dalam
hal kesehatan psikis, emosional, dan perkembangan mental. Pada kondisi
ini merupakan tahapan penting bagi peletakan fondasi pembelajaran
mereka. Masa itu, jika kita pahami menjadi bagian esensial sistem
pendidikan. Penanganan masa usia dini akan menentukan kesuksesan mereka
di sekolah. Fondasi penting sebagai daya tahan pada saat berbagai
pengetahuan, wawasan, bahkan serbuan infrormasi masuk ke dalam dirinya.
Orang
tua dan siapa pun yang peduli terhadap perkembangan anak-anak mesti
menyiapkan ragam fasilitas yang memungkinkan mereka bertahap dapat
mengembangkan potensinya secara benar. Penanganan anak-anak usia dini
seharusnya dihiasi dengan hati ikhlas, penuh cinta, penyaringan
informasi, banyak latihan, banyak simulasi, dan interkasi sosial. Kebahagian dalam berinteraksi harus diciptakan orang tua agar mereka dapat berkembang dengan baik.
Apa
yang harus diajarkan kepada anak-anak prasekolah? Mengapa kita harus
mengajarkan disiplin ”mati”? Pendidikan usia dini selayaknyalah
memperhatikan bagaimana anak-anak memerlukan kebebasan bergerak,
berceloteh, berimajinasi. Orang tua dan pengasuh mesti pandai bercerita.
Anak-anak
memerlukan kebebasan lingkungan. Alam bebas dengan udara segar sangat
diperhatikan anak-anak. Adaptasi dengan lingkungan dan mempelajarinya
adalah hal peting dalam program usia dini. Dalam alam bebas
kesalingcintaan dimunculkan, kolaborasi ditanamkan, bermusik dibiasakan,
bercerita dilantunkan, saling berinteraksi dirangsangkan.
Apakah
kita sudah memperhatikan pendidikan usia dini. Pemerintah kita sedang
memperhatikannya. RPP sedang disiapkan untauk pendidikan usia dini. Jika
kita tidak memperhatikan dengan saksama kita akan kehilangan generasi
yang mampu bersaing di dunia global, internasional.
PUSAT PEMBELAJARAN MASYARAKAT
Sekolah
pada masa yang akan datang kemungkinan tidak dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat. Orang tua akan menuntut jenis sekolahyang beragam. Mereka
berkeinginan anak-anaknya dapat belajar dengan ragam sesuai dengan bakat
dan potensi anak-anaknya. Pengembangkan anak-anak di sekolah tidak lagi
dibatasi dengan kelas dan usia. Mereka diperbolehkan memilih materi
yang diminatinya. Mereka boleh melilih belajar dengan guru mana pun yang
mereka sukai. Ragam pembelajaran ini membutuhkan fasilitas yang
lengkap. Pada waktu yang bersamaan beberapa murid belajar di
perpustakaan sedangkan murid lain belajar di musium yang tempatnya jauh
dari sekolah. Beberapa murid kemungkinan sedang berada di kebun rindang.
Mereka memperhatikan buah-buahan untuk memperoleh pengetahuan. .
Anak-anak yang senang pada seni kemungkinan sedang berada di gedung
kesenian. Mereka menyaksikan pertunjukan drama atau mereka sedang
berinterkasi dengan aktor terkenal, dengan sutradara, dengan penulis
skenario atau bahkan dengan guru teater sekolah. Suasana semacam ini menciptakan komunitas belajar. Para murid dihadapkan pada banyak pilihan.
Pembentukan
komunitas belajar sebagai respons atas kebutuhan masyarakat yang memang
beragam dalam berbagai hal; kebutuhan, minat, motivasi. Pusat
pembelajaran kelak bagian dari pelayanan pemerintah terhadap publik. Hal
ini memungkinkan karena arah pendidikan telah bergeser dari
sentralisasi ke desentralisasi. Pemerintah daerah mesti berkemauan kuat
menciptakan ragam terobosan dalam bidang pendidikan sebagai salah satu
aktualisasi keotonomannya dalam bidang pemerintahan.
Pusat-pusat
pembelajaran di daerah dibuka 18 jam. Fasiltas lengkap dengan tatanan
modern. Standar pendidikannya bertaraf nasional mengarah pada
internasional. Layanan pemerintah kepada publik tidak akan sia-sia.
Masyarkat cerdas terwujud dengan keinginan kuat pemrintah untuk
mewujudkannya.
Pembentukan
komunitas belajar ini sebagai antisipasi pada masa yang akan datang,
yaitu tentang kemungkinan masyarakat tidak lagi memerlukan sekolah.
Mereka beranggapan segala hal dapat diperoleh melali bantuan teknologi.
Di rumah terpasang televisi, video, internet. Melalui fasilitas itu
mereka dapat memperoleh apa pun yang mereka butuhkan. Situasi ini harus
dimanfaatkan sekolah dengan penyediaan fasilitas yang memungkinkan
mereka memanfaatkan pengetahuan yang telah mereka peroleh di rumah. Apa
pun alasannya lingkungan edukatif masih akan dibutuhkan. Orang tua
menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak mereka tidak akan maksimal tumbuh
hanya dididik di rumah. Pada umumnya orang tua akan meninggalkan rumah
dalam waktu tertentu dan kemungkinan dalam waktu yang lama. Sekolah
harus dapat menggantikan peran orang tua.
Pertimbangan
pembentukan komunitas pusat belajar agar murid dapat para murid belajar
berkonsentrasi pada bidang yang diminatinya. Perolehan pengetahuannya
melalui proses mandiri melalui komunikasi dengan sesama kelompok dan
dengan bantuan teknologi yang disediakan sekolah. Pendidikan berbasis
praktik. Para murid belajar berbicara dan menulis melalui proyek atau
lokakarya. Sekolah seharusnya menajdi tenpat perolehan pengalaman. Oleh
karena itu, sekolah harus kaya akan berbagai fasilitas yang meungkinkan
para murid berinteraksi dengan cara yang berbeda. Para murid belajar
mempertanggungjawabkan ppilihannya secara rasional dan diketai orang
banyak.
KELAS MASA DEPAN
Apa
yang dinamakan kelas pada sekolah tradisional terbatas dan terikat pda
aturan kaku. Ruangan yang tidak fleksibel menyebabkan gerak murid sangat
terbatas. Mereka tidak bisa beredar leluasa. Sekarang bayangkan di
sebuah ruangan murid berinteraksi dengan leluasa. Setai ruangan dapat
diubah sesuai dengan tema pembelajaran, misalnya mempelajari kelautan.
Warna diubah bernuansa kelautan, gambar-gambar ikan, ombak, kepal laut.
Pada saat mempelajari sejarah latar ruangan diubah lagi. Pada saat
pelajaran seminar, meja dan kursi diubah melingkar. Pada saat
mempelajari budaya asing, televisi disiapkan untuk menonton bersama
filem asing.
Alat-alat
elektronik tersedia. Pada saat belajar tentang kelauatan ragama
kegiatan dilakukan murid. ada yang menggambar laut. Ada yang mencari
informasi tentang cuaca. Ada yang berkerumun memperhatikan televisi yang
sedang mendeskripsikan tentang laut. Setelah itu, mereka berkumpul
berdiskusi berbagai hal tentang kelautan.
Pelajaran
diakhiri dengan bertanya kepada ilmuwan untuk mengecek penemuan mereka.
Langkah seperti ini dilakukan agar para murid dapat membandingkan apa
yang baru mereka pelajari dengan kepakaran kelautan. Tambahan
pengetahuan akan mereka miliki. Perbincaqngan ini dilakukan di kelas
dengan menggunakan faslitas teleconference.
Suasana
kelas diciptakan kolaboratif. Murid harus merasakan
kesalingtergantungan. Bahwa mereka tidak dapat melakukan kegaitan tanpa
kerja sama. Pelatihan ini menjadi dasar kuat pada saat mereka berhadapan
dengan dunia nyata. Belajar dengan kegiatan mengelami akan
menghilangkan kemampuan semu. Berbagai masalah akan mereka hadapi dan
mereka belajar bagaiaman mengatasinya dengan cara yang tepat dari waktu.
BERBASIS KELUARGA
Keluarga segalanya bagi anak-anak. Pendidikan
pertama di keluarga. Lingkungan di luar menjadi ujian dan penguatan.
Apa yang kini terjadidi rumah dapat mencengankan kita. Segala bentuk
hiburan dunia dengan mudah masuk tanpa sensor. Caci-maki para akator,
narasi kejahatan, raungan yang terpinggirkan masuk ke rumah kita. Ia
masuk ke dalam pikiran anak-anak kita. Jadi, lingkungan rumah kita telah
terisi ragam informasi.
Tantangan
berat untuk pendidikan. Guru harus berkerja keras menghadapinya dengan
sikap bijak. Dunia kini menjadi lapangan publik yang terbuka pada TV,
radio, dan internet tumbuh sangat besar menyediakan balikan instan,
hukuman dan sanksi pada ”pemimpin” yang terlalu agresif. Dunia tidak ada
lagi penghalang. Apa yang terjadi di belahan dunia sana dengan cepat
dapat tertangkap di sini. Hari ini desa global hadir di tengah-tengah
kita. Bagaimana keluarga dapat melepas begitu saja. Kita tidak dapat
memungkiri kini kelompok masyarakat sejalan dengan tren di televisi.
Agaknya tidak salah jika banyak orang tua telah kehilangan kontaknya
dengan anak-anaknya digantikan perannyta oleh televisi.
Penguatan
keluarga, karena itu menjadi sangat penting. Didikan kesopanan dan
kesantunan harus dimulai dari keluarga. Keharmonisan dimunculkan dengan
gaya dialog. Kesetararaan diciptakan dengan saling pengharmatan dan
penghargaan. Apa yang terjadi di luar tidak akan pernah berpengaruh jika
dinding yang kita bangun kuat. Dinding itu adalah dinding ibu dan
dinding bapak.
4. PENGHUJUNG
Pendidikan
adalah kerja bareng kita. Kuncinya adalah kepedulian semua orang, semua
pihak. Pendidik secara edukatif menekan para pemutus kebijakan, orang
tua, para pebisnis, dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama
bertanggung jawab menyiapkan lingkungan edukatif. Pemerintah daerah
berkemampuan memutus kebijakan yang berpihak pada pendidikan. Putusan
yang benar akan menjadi inves bagi anak-anak kita agar dapat berkiprah
di pasar global. Kebanggaan bagi kita jika anak-anak kita dapat bersaing
dalam berbagai hal. Para pemimpin semestinya berpikir dalam bertindak
dan berkiprah berdasar pada kebergunaan untuk masa depan.
sumber bacaan: http://unswagati-crb.ac.id/jurnal/menggagas-pendidikan-masa-depan