Senin, 16 Februari 2015

Mari ber-Diskusi (1)

Setelah beberapa Purnama belum berkunjung dan tentunya menulis lagi di blog ini hari ini mulai sedikit mencoret-mencoret lagi lembar busuk di blog ini hehe....sudah lama juga "nggak" nulis dan diskusi soal Filsafat...
yuk ah coret-coret dikit disini :-)

Filsafat...
          Ya ketika kita mendengar kata ini seolah kita akan bertemu dengan hantu...apalagi bagi orang yang "malas" berfikir agak substansial....beberapa hari ini saya memang sedikit kembali membaca manuskrip dan tulisan soal Filsafat India...yang terkadang bagi orang India sendiri mereka tidak mau menggolongkan pemikirannya disebut sebagai Filsafat dalam terminologi orang-orang dan ilmuwan "barat". Filsafat India (menurut saya) memang lebih kompleks dan lebih indeed dari pada filsafat yang selama ini kita pahami sebagai Filosofia (hasil berpikir logis, sistematis, metodis yang berujung kepada kebijaksanaan).
         Kita tau bahwa Filsafat secara internal bermula dari rasio dan secara eksternal berangkat dari Gejala. Baik rasio maupun gejala/fenomena saling bekerjasama memicu dan memacu menuju kebenaran dan kebijaksanaan. Menurut Ach. Dhofir Zuhry (dan saya setuju pendapatnya) "adalah Filsafat Timur yang sejak kelahirannya menjadikan alam (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos) sebagai realitas (afrad) dan gejala (sur) sekaligus". Ini tentu berbeda dengan sejarah filsafat Barat (yang saya pahami) yang secara periodik mengalam,i masa-masa kosmosentrisme, skolastisisme, antroiposentrisme, modernisme dan yang terakhis postmodernisme dalam memandang dan menghayati realitas.
         Setelah Barat "puas" mereguk modernisme, apa selanjutnya?. Alih-alih semakin Beradab, Barat malah terlampau jauh mengobraka-abrik nilai kemanusiaan, moralitas, kebudayaan, tradisi, seni bahkan agama dengan memproduksi secara massal mesin-mesin perang, bom atom, nuklir hingga bom biologis.
        Sains dan Teknologi yang semula diharapkan mempermudah sistem kehidupan manusia, justru mengalami disorientasi nilai, apalagi setelah dunia modern menemukan Layar Teknologi. Manusia modern kini praktis hanya menjalani kehidupan dibalik layar monitor, entah televisi, komputer tablet, internet, telepon genggan dan sebagainya. Belum lagi kemajuan dunia medis yang lumrah disebut rekayasa Gentik. Kita paham sejharah rekayasa Genetik semula hanya untuk mengobati penyakit-penyakit degerenatif semacam diabetews dan stroke, tapi sekali lagi ilmu pengetahuan dan teknologi telah jauh berkembang sedemikian Gila diluar prediksi dan ekspektasi. Jika boleh saya katakan bahwa Sains dan teknologi di jaman ini sudah "berhianat". ia membohongi dan menipu ibunya sendiri yaitu Filsafat.
            Dunia Barat dengan modernismenya kemudian merasa keliru dan salah besar dengan beranggapan bahwa mikro dan makrokosmos bisa dilipat dibawah bayang - bayang tekonologi dan mesin perang. Penat dengan silabus Gigantisme dan varian liberalisme, lelah dengan fanatisme Eropa maupun revolusi Industri Inggris dan revolusi Perancis, "Galau" dengan Perang Dunia I da II, mereka kemudian berfikir "apa lagi"? Mereka ingin "merasakan" ketenangan pasca perang sejak tahun 60-an sampai sekarang dan kalau saya berkesimpulan sekarang dunia Barat ingin ke Timur dan Menjadi Timur. dan jika kita ingat lagi bukankah ini yang dialami dan dikembangkan oleh Filsafat Timur tiga setengah millenium lalu, saat Barat "belum ada" di peta Bumi. (Jika acuan "ada" adalah berfikir, je pense danc je suis (Perancis), cogito ergo sum (Latin) dan ana afkar idzan ana maujud (arab).
           Ini jelas jika Timur adalah acuan dan kurikulum bagi kehidupan yang jernih dan bijak tanpa pretensi dan arogansi. Namun ditulisan ini saya ingin sedikit "menyenggol" menu pembuka dari beberapa bacaan yang saya baca diakhir-akhir ini yaitu Filsafat dai India. ya, Jika kita ingin memasuki Filsafat Timur (India) kita harus "kulonuwun" dulu dengan apa itu Darsana. dan ini harus kita sambut dalam space rasionalitas dan moralitas sekaligus. Ini bukan pentas Bollywood dan apalagi Broadway, ini adalah filsafat India, ini adalah dunia Timur sebuah Mega landscape bagi perkembangan filsafat di jaman ini (menurut saya) yang ingin segera bangun dari tidur dan memunculkan identitas sendiri agar terlepas dari postmodernisme "barat".
     Hehe....tulisan ini masih jauh dari muqadimah diskusi saya bersama kawan-kawan tentang Filsafat Timur (India) tentunya, yang sekali lagi menurut saya lebih "seksi" dari pada filsafat barat....
(bersambung.......) 

Humans need to be a human to feel human as human...!!!!!!!!!!
(Nutrisi bacaan: "Filsafat Timur" karangan mas Ach. Dhofir Zuhry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar