Kamis, 18 Juni 2015

Tarbiyah dalam Ritus Ramadhan

Bulan Ramadhan telah tiba. Inilah bulan saat segenap orang Islam "terlibat" dalam melaksanakan berbagai kewajiban agama. Besar-kecil, tua-muda, laki-laki dan perempuan semua larut dalam suasana relijius yang tercipta ketika bulan sabit (hilal) muncul menandai permulaan Ramadhan, atau ketika Bapak Menteri Agama Republik Indonesia menyampaikan pidato yang menyatakan bahwa 1 Ramadhan sudah "bisa dinikmati".

Di atas menara-menara masjid, suara speaker bersahut-sahutan. Beduk ditabuh, tarawih dimulai, membangun masyarakat untuk sahur, kemudian sholat subuh dan....kita benar-benar telah memasuki bulan Ramadhan. Apakah Ramadhan "hanya" serangkaian ritual yang setiap tahun kita laksanakan dan berakhir saat Takbir Idul Fitri berkumandang...? Lalu apa implikasi yang diharapkan dari Ibadah puasa di bulan Ramadhan termasuk pengalaman keagamaan yang kita alami? 
Dalam Buku "Dialog Ramadhan bersama Cak Nur' diungkapkan bahwa:

            Bulan Puasa adalah bulan penuh hikmah. Orang-orang Islam tanpa perlu dipaksa biasanya muncul sendiri kesadarannya  bahwa sebagai insan beragama mereka memiliki konsekuensi dari sifat keagamaan yang dipeluknya berupa berbagai kewajiban yang harus ditunaikan, baik kepada Tuhan maupun kepada manusia.

Mereka yang "kurang terbiasa" dengan berbagai ritual keagamaan seperti Sholat misalnya, barangkali di bulan Ramadhan akan "mikir dua kali kalau mau bolong", karena sering mendengar berbagai ucapan seperti: "Tidak ada gunanya puasa kalau tidak sholat', "Puasa kalau nggak sholat pahalanya nggak dicatet" dan sebagainya. 

Bulan Ramadhan juga bulan saat "kesadaran Fiqih" manusia meningkat cukup tinggi. Banyak diskusi dan tanya jawab tentang puasa di media berpusat kepada: "apakah menyikat Gigi di siang hari membatalkan puasa?", "Bagaimana hukum mencicipi rasa masakan di dapur saat memasak untuk berbuka?" dan berbagai hal menyangkut batalnya puasa akan banyak diungkap. 

Itu sedikit mengenai serba-serbi Puasa...kembali kepada sebuah premis yang saya utarakan di awal tulisan ini, yaitu 
"Lalu apa implikasi yang diharapkan dari Ibadah puasa di bulan Ramadhan termasuk pengalaman keagamaan yang kita alami?"
jangan sampai kita melaksanakan puasa "hanya" ya kalau menurut dawuh e Kanjeng Nabi hanya mendapat Lapar dan Dahaga di siang hari tok.

Kembali saya mengutip pendapat Prof. Nurkholis Madjid, menyatakan bahwa "Ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk Jiwa keagamaan seorang muslim, dan menjadi sarana Pendidikan manusia yang berimplikasi pada sepanjang kehidupannya"

Dari pendapat itu saya ingin 3 poin utama yaitu "pembentuk jiwa keagamaan", "Pendidikan manusia atau tarbiyah" dan "Sepanjang Masa".

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah Apa itu Jiwa Keagamaan, kemudian Mengapa harus melalui proses Tarbiyah dan korelasinya pada Sepanjang Kehidupan.

Mari kita sedikit berdiskusi mengenai 3 poin puasa itu

Jika boleh saya berpendapat secara fitrah manusia adalah makhluk beragama. Secara naluri manusia baik sadar atau tidak pada hakikatnya manusia selalu meyakini adanya eksistensi Tuhan Yang Maha Kuasa. Walaupun secara pernyataan ada beberapa kawan yang tidak mengakui adanya eksistensi Tuhan, tetapi sekali lagi itu hanya pernyataan lisan. Secara hakiki ia tetap meyakini adanya kekuatan di luar kekuatannya yang tidak mungkin dilampaui dan memiliki kekuatan Yang Maha.

Dalam diri manusia juga terdapat naluri untuk mencintai dan dicintai secara spiritual. Keinginan ini tidak mungkin dapat terpenuhi kecuali melalui kegiatan dan ritus keagamaan. Bahkan naluri ini memiliki porsi yang cukup besar dalam jajaran naluri yang dimiliki manusia.

Menurut Nurcholis Majid, agama merupakan fitrah munazal yang diturunkan Allah untuk menguatkan fitrah yang telah ada secara alami. Dengan fitrah ini manusia tergerak untuk melakukan kegiatan atau ritual yang diperintahkan oleh Yang Maha Kuasa, yang berbentuk upacara ritual, kegiatan kemanusiaan, kegiatan berfikir dan lain – lain.

Prof Quraish Shihab mengungkapkan bahwa sumber jiwa agama seseorang bersumber dari penemuan rasa kebenaran, keindahan dan kebaikan. Ketika manusia memperhatikan keindahan alam, maka akan timbul kekaguman. Kemudian menemukan kebaikan pada alam semesta yang diciptakan untuk manusia. Kemudian manusia mencari apa yang paling indah, paling benar dan paling baik yang pada akhirnya jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Tuhan.

Sejatinya manusia akan menampakan diri kepada apa yang disebut dengan Sifat-sifat keTuhanan. Sifat-sifat keTuhanan ini tidak akan ditemui manusia tanpa mengalami berbagai proses dan pengalaman serta refleksi berfikir tentang eksistensi dirinya dalam spektrum kosmologis.
Proses inilah yang saya sebut sebagai Proses Tarbiyah...

Banyak tulisan mengungkapkan tentang apa itu Tarbiyah, jika kita rujuk pada kamus bahasa Arab akan didapatkan bahwa kata "Tarbiyah" sedikitnya memiliki tiga asal kata; (1) robaa-yarbuu yang berarti berkembang, (2) robiya-yarba yang berarti tumbuh dan terbina, (3) robba-yarubbu yang bermaksud mengislah,mengurus dan memberi perhatian.

Kemudian para ulama mengembangkan pengertian lughowi menjadi pengertian dari Tarbiyah. Imam baidhawi mengatakan dalam tafsir Anwarut-Tanzil Wa Asrarut-Ta'wil (Makna asal dari kata "Robb" adalah tarbiyah yaitu menghantarkan sesuatu secara bertahap sampai tingkat kesempurnaan).

Dalam kitab Mufradat, Ar-Raghib Al-Ashfahani  mengatakan "Makna asal dari kata "Robb" adalah menumbuhkan, mencetak sesuatu secara bertahap sampai batas kesempurnaan" 

Sehingga Tarbiyah merupakan suatu Proses secara kontinu dan bertahap menuju Rabb atau Tuhannya.

Dalam proses ini senantiasa berlanjut sampai manusia merasa bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki sehingga berimplikasi bahwa manusia itu hanyalah sebuah titik dalam spektrum Galaksi yang harus terus bermetamorfosa. 

Yang dikatakan bermetamorfosa disini adalah sebuah proses untuk mengkomposisi setiap elemen kehidupan dan aspek ke-Ilahi-an sehingga mampu membuat Habits/kebiasaan baru yang merupakan perbaikan dari mekanisme sebelumnya. Hal yang paling sederhana kita lakukan sehari-hari adalah melakukan sesuatu yang mampu meningkatkan kualitas hidup kita. Dalam hal ini tentunya akan sia-sia jika berpuasa dengan berbagai konsekuensi lapar dan menahan dari sesuatu yang halal di siang hari jika tidak ada perubahan dalam tingkah laku, akal budi, sifat - sifat kita. 

Jadi, Puasa merupakan proses memfungsikan Fitrah kehidupan.  Orang yang belum mampu memaknai puasa di bulan Ramadhan sebagai sebuah proses Tarbiyah berarti telah kehilangan satu elemen dalam hidupnya yang cukup substansial, paling tidak telah kehilangan kesempatan dan kesadaran secara personal untuk memperbaiki diri sebagai manusia menuju Rabb-nya melalui sifat-sifat keTuhanan yang bisa didekati manusia.


(1 ramadhan 1436 H)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar