Sabtu, 20 Juni 2015

Puasa, Antara Merasa Diri Mulia Dan Memberi Contoh Kebaikan

Dalam sebuah ceramah di suatu Masjid ....ada seorang kyai bercerita kepada Santrinya dalam sebuah majlis...

      ":Ada yang mengeluh kepadaku tentang bagaimana menjawab pertanyaan "apakah kita 
        hari ini sedang berpuasa?". Soalnya, kalau menjawab "Ya, saya sedang berpuasa,"ia 
        khawatir dibilang takabur, "wong puasa saja kok bilang-bilang,"Sedangkan kalau 
        menjawab "Tidak," setidak-tidaknya ia akan dirasani dalam hati: "örang Islam 
        kok tidak berpuasa."

memperhatikan secuil cerita diatas memang ada sebuah dilema antara berlaku tawadldlu dan keharusan menyatakan kebenaran, atau antara takabur dan etika untuk tidak memamerkan kebaikan diri. Dalam soal 'ideologi' anti-takabur, sering kita menuruti nasehat: "kalau tangan kananmu berbuat baik, tangan kirimu tak usah tahu." Wong Tangan kiri aja nggak boleh tahu apalagi telapak kaki terlebih orang lain. 

Ini bagus dari satu sudut, tapi akan bernilai dilematis juga. Sebab, dari sudut lain, pilihan ini memberikan peluang kepada orang lain untuk tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga karena ketidak tahuan ini akan menimbulkan kesalahpahaman, yang akan berujung kepada "praduga" yang bermacam - macam dan lebih parah lagi akan menimbulkan gunjingan dan pembaca bisa melanjutkannya sendiri. Artinya, menutupi kebaikan diri bisa bermakna menyembunyikan suatu kebenaran dan kalau dikaitkan dalam konteks dakwah menuju kebaikan bersama juga kurang mendukung.

Dalam kasus budaya tertentu, masyarakat muslim pernah mengalami malu untuk menampilkan tanda-tanda kemuslimannya. Masyarakat merasa inferior dan kurang percaya diri dengan keislamannya. Jika pergi ke masjid sembunyi-sembunyi dan jika melakukan ritual ibadah keagamaannya jangan sampai ada orang yang tau. Maka, tantangan disitu adalah bagaimana orang islam harus Percaya Diri bahwa "Saya Orang islam, terus kamu mau apa".

Lalu apa kaitannya dengan ibadah Puasa kita...bukankah Ibadah Puasa itu merupakan ibadah yang sifatnya personal, bahkan merupakan rahasia antara manusia dan Tuhannya. Puasa benar-benar latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha hadir (Omnipresent) yang tidak termasuki sikap pamrih, lalu dimana persoalannya. 

Selanjutnya, yang menjadi persoalan adalah,,,kita semua tahu bahwa di Bulan Ramadhan ini banyak sekali ritual keagamaan yang dilakukan masyarakat muslim dan sekali lagi ini juga berpotensi menjadi riya'. Salah satu tujuan Puasa adalah bagaimana manusia mampu mengontrol nafsunya. Kita tentu Ingat bahwa manusia dianugerahi 4 nafsu; nafsu kebaikan, nafsu kesenangan, nafsu amarah, nafsu ketamakan atau serakah. Jika kita berfikir lebih mendalam lagi "kebaikanpun didasarkan oleh nafsu". Kita sering kali berbuat baik, namun dorongannya adalah nafsu entah itu nafsu ingin dipuji, nafsu ingin pahala berlimpah, bahkan nafsu ingin surga. Disini kita sebagai manusia seharusnya bergerak atas dorongan jiwa, dan yang disebut Jiwa disini adalah kemurnian. 

Jika kita mengingat cerita pewayangan, saat Kresna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh 4 kuda dan "disupiri"oleh Setiyaki. Kresna disini merupakan perlambangan dari ruh, Setiyaki merupakan analogi dari jiwa, sedangkan kereta Kencana merupakan perwujudan dari Raga, dan 4 kuda merupakan perlambang dari nafsu-nafsu tadi (yang dalam terminologi Islam disebutkan nafsu mutmainah, lawwamah, amarah dan sufiyah). 

Nah,,,apa yang perlu kita diskusikan lagi...? jaman ini adalah jaman dimana manusia sudah tidak bisa "membedakan" mana  yang merupakan "barang" privat dan mana yang merupakan "milik" publik. Semua yang dilakukan manusia bisa dikontrol dan dituangkan dalam media sosial. Facebook, Path, Twitter, Instagram dan berbagai sudut sosial media mampu menjadi jalan untuk meruntuhkan proses tarbiyah dalam puasa kita untuk me-manage ke-empat nafsu tadi jika tidak bijak dalam mengoperasikannya. 

Sering kita perhatikan kawan-kawan yang memposting beberapa kegiatan dan ritual Ramadhan di media sosial dengan berbagai motif (tentu yang memposting dan Tuhan yang tau apa motifnya). Disini saya hanya ingin mengajak kawan-kawan kembali merfleksikan diri sendiri apa maksud kita memposting foto, cerita aktivitas ritual ramadhan dan segala atribut keagamaan kita di media sosial, dampak bagi kawan yang membaca postingan kita, dan segala impact yang mengikutinya.

Media sosial memang membuat suatu revolusi dalam pergaulan masyarakat. Media sosial ibarat suatu Hutan Rimba, dimana seluruh berbagai karakter, sifat ada disitu. Dari fenomena ini tentu menyimpan banyak manfaat dan tentu ada sedikit dampak buruk. Jangan berfikir bahwa dampak buruk hanya muncul dari sesuatu yang diposting adalah "barang"yang buruk. Barang baik pun bila sudah dilepas di media Sosial juga berpotensi menimbulkan sesuatu yang negatif, karena akan menimbulkan berbagai sudut pandang dan sekali lagi Sosial Media merupakan sebuah Hutan belantara. 

Lalu, apakah kita harus menghindari Sosial Media, saya kira Tidak. Hanya saja sebagai user kita harus bisa menimbang dan mengkalkulasi kemanfaatan dari informasi yang kita share di Sosial Media.  Ada yang berpandangan "wong saya posting ini maksudnya baik kok". Iya maksud kita baik, tapi apakah kita bisa menjamin bahwa respon orang lain baik dan tidak menimbulkan potensi untuk disalahgunakan atau "niat baik tidak selalu bertemu dengan prasangka baik". Niat baik saja tidak cukup, disini membutuhkan mekanisme yang baik pula.  Kembali disini yang "bermain" adalah Niat dan tujuan dari sang pemosting. Selebihnya ya serahkan kepada "jamaah Sosial media". 

Sebagai pengguna sosial media perlu berfikir lagi; (1) apakah perlu semua aktivitas di publish di sosmed, (2) jangan-jangan kebaikan yang saya share di Sosmed ini dilandasi oleh perasaan "ïngin dipuji", (3) sejauh mana manfaat yang bisa saya tularkan melalui postingan saya.  

Kembali ke analopgi cerita Kresna tadi, jangan sampai Raga, Kusir dan ruh dan bahkan Kresna sudah beralih peran menjadi Kuda karena idealnya yang mengendalikan adalah Jiwa (kusirnya). Inilah salah satu esensi puasa, bagaimana menempatkan dan me-manage nafsu yang ada didiri manusia. Sehingga salah satu pendidikan tuhan melalui puasa adalah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang terdalam akan ke-Maha Hadir-an (omnipresent) Tuhan. Kesadaran ini melandasi proses untuk senantiasa memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Dengan begitu manusia akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur.   

Alhasil, tawadldlu', takabur, kerendahan hati, sikap pamer, uswatun hasanah, qulil-haqq walau kana murran, dan sebagainya harus senantiasa ditempatkan pada konteks dan nuansa yang tepat. bahkan kalau ada tamu datang kerumah, sebaiknya sang sohibul bait  yangan ber-husnudzon dengan mengangkanya punya uang banyak dan pasti tadi sang tamu sudah berbuka puasa. "Curiga-lah" bahwa tamu kita belum makan dan sediakanlah makanan.  Inilah mengapa Tuhan meminta manusia untuk berpuasa selama sebulan penuh di ramadhan ini.

2 Ramadhan 1436 

Kamis, 18 Juni 2015

Tarbiyah dalam Ritus Ramadhan

Bulan Ramadhan telah tiba. Inilah bulan saat segenap orang Islam "terlibat" dalam melaksanakan berbagai kewajiban agama. Besar-kecil, tua-muda, laki-laki dan perempuan semua larut dalam suasana relijius yang tercipta ketika bulan sabit (hilal) muncul menandai permulaan Ramadhan, atau ketika Bapak Menteri Agama Republik Indonesia menyampaikan pidato yang menyatakan bahwa 1 Ramadhan sudah "bisa dinikmati".

Di atas menara-menara masjid, suara speaker bersahut-sahutan. Beduk ditabuh, tarawih dimulai, membangun masyarakat untuk sahur, kemudian sholat subuh dan....kita benar-benar telah memasuki bulan Ramadhan. Apakah Ramadhan "hanya" serangkaian ritual yang setiap tahun kita laksanakan dan berakhir saat Takbir Idul Fitri berkumandang...? Lalu apa implikasi yang diharapkan dari Ibadah puasa di bulan Ramadhan termasuk pengalaman keagamaan yang kita alami? 
Dalam Buku "Dialog Ramadhan bersama Cak Nur' diungkapkan bahwa:

            Bulan Puasa adalah bulan penuh hikmah. Orang-orang Islam tanpa perlu dipaksa biasanya muncul sendiri kesadarannya  bahwa sebagai insan beragama mereka memiliki konsekuensi dari sifat keagamaan yang dipeluknya berupa berbagai kewajiban yang harus ditunaikan, baik kepada Tuhan maupun kepada manusia.

Mereka yang "kurang terbiasa" dengan berbagai ritual keagamaan seperti Sholat misalnya, barangkali di bulan Ramadhan akan "mikir dua kali kalau mau bolong", karena sering mendengar berbagai ucapan seperti: "Tidak ada gunanya puasa kalau tidak sholat', "Puasa kalau nggak sholat pahalanya nggak dicatet" dan sebagainya. 

Bulan Ramadhan juga bulan saat "kesadaran Fiqih" manusia meningkat cukup tinggi. Banyak diskusi dan tanya jawab tentang puasa di media berpusat kepada: "apakah menyikat Gigi di siang hari membatalkan puasa?", "Bagaimana hukum mencicipi rasa masakan di dapur saat memasak untuk berbuka?" dan berbagai hal menyangkut batalnya puasa akan banyak diungkap. 

Itu sedikit mengenai serba-serbi Puasa...kembali kepada sebuah premis yang saya utarakan di awal tulisan ini, yaitu 
"Lalu apa implikasi yang diharapkan dari Ibadah puasa di bulan Ramadhan termasuk pengalaman keagamaan yang kita alami?"
jangan sampai kita melaksanakan puasa "hanya" ya kalau menurut dawuh e Kanjeng Nabi hanya mendapat Lapar dan Dahaga di siang hari tok.

Kembali saya mengutip pendapat Prof. Nurkholis Madjid, menyatakan bahwa "Ibadah puasa merupakan bagian dari pembentuk Jiwa keagamaan seorang muslim, dan menjadi sarana Pendidikan manusia yang berimplikasi pada sepanjang kehidupannya"

Dari pendapat itu saya ingin 3 poin utama yaitu "pembentuk jiwa keagamaan", "Pendidikan manusia atau tarbiyah" dan "Sepanjang Masa".

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah Apa itu Jiwa Keagamaan, kemudian Mengapa harus melalui proses Tarbiyah dan korelasinya pada Sepanjang Kehidupan.

Mari kita sedikit berdiskusi mengenai 3 poin puasa itu

Jika boleh saya berpendapat secara fitrah manusia adalah makhluk beragama. Secara naluri manusia baik sadar atau tidak pada hakikatnya manusia selalu meyakini adanya eksistensi Tuhan Yang Maha Kuasa. Walaupun secara pernyataan ada beberapa kawan yang tidak mengakui adanya eksistensi Tuhan, tetapi sekali lagi itu hanya pernyataan lisan. Secara hakiki ia tetap meyakini adanya kekuatan di luar kekuatannya yang tidak mungkin dilampaui dan memiliki kekuatan Yang Maha.

Dalam diri manusia juga terdapat naluri untuk mencintai dan dicintai secara spiritual. Keinginan ini tidak mungkin dapat terpenuhi kecuali melalui kegiatan dan ritus keagamaan. Bahkan naluri ini memiliki porsi yang cukup besar dalam jajaran naluri yang dimiliki manusia.

Menurut Nurcholis Majid, agama merupakan fitrah munazal yang diturunkan Allah untuk menguatkan fitrah yang telah ada secara alami. Dengan fitrah ini manusia tergerak untuk melakukan kegiatan atau ritual yang diperintahkan oleh Yang Maha Kuasa, yang berbentuk upacara ritual, kegiatan kemanusiaan, kegiatan berfikir dan lain – lain.

Prof Quraish Shihab mengungkapkan bahwa sumber jiwa agama seseorang bersumber dari penemuan rasa kebenaran, keindahan dan kebaikan. Ketika manusia memperhatikan keindahan alam, maka akan timbul kekaguman. Kemudian menemukan kebaikan pada alam semesta yang diciptakan untuk manusia. Kemudian manusia mencari apa yang paling indah, paling benar dan paling baik yang pada akhirnya jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Tuhan.

Sejatinya manusia akan menampakan diri kepada apa yang disebut dengan Sifat-sifat keTuhanan. Sifat-sifat keTuhanan ini tidak akan ditemui manusia tanpa mengalami berbagai proses dan pengalaman serta refleksi berfikir tentang eksistensi dirinya dalam spektrum kosmologis.
Proses inilah yang saya sebut sebagai Proses Tarbiyah...

Banyak tulisan mengungkapkan tentang apa itu Tarbiyah, jika kita rujuk pada kamus bahasa Arab akan didapatkan bahwa kata "Tarbiyah" sedikitnya memiliki tiga asal kata; (1) robaa-yarbuu yang berarti berkembang, (2) robiya-yarba yang berarti tumbuh dan terbina, (3) robba-yarubbu yang bermaksud mengislah,mengurus dan memberi perhatian.

Kemudian para ulama mengembangkan pengertian lughowi menjadi pengertian dari Tarbiyah. Imam baidhawi mengatakan dalam tafsir Anwarut-Tanzil Wa Asrarut-Ta'wil (Makna asal dari kata "Robb" adalah tarbiyah yaitu menghantarkan sesuatu secara bertahap sampai tingkat kesempurnaan).

Dalam kitab Mufradat, Ar-Raghib Al-Ashfahani  mengatakan "Makna asal dari kata "Robb" adalah menumbuhkan, mencetak sesuatu secara bertahap sampai batas kesempurnaan" 

Sehingga Tarbiyah merupakan suatu Proses secara kontinu dan bertahap menuju Rabb atau Tuhannya.

Dalam proses ini senantiasa berlanjut sampai manusia merasa bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki sehingga berimplikasi bahwa manusia itu hanyalah sebuah titik dalam spektrum Galaksi yang harus terus bermetamorfosa. 

Yang dikatakan bermetamorfosa disini adalah sebuah proses untuk mengkomposisi setiap elemen kehidupan dan aspek ke-Ilahi-an sehingga mampu membuat Habits/kebiasaan baru yang merupakan perbaikan dari mekanisme sebelumnya. Hal yang paling sederhana kita lakukan sehari-hari adalah melakukan sesuatu yang mampu meningkatkan kualitas hidup kita. Dalam hal ini tentunya akan sia-sia jika berpuasa dengan berbagai konsekuensi lapar dan menahan dari sesuatu yang halal di siang hari jika tidak ada perubahan dalam tingkah laku, akal budi, sifat - sifat kita. 

Jadi, Puasa merupakan proses memfungsikan Fitrah kehidupan.  Orang yang belum mampu memaknai puasa di bulan Ramadhan sebagai sebuah proses Tarbiyah berarti telah kehilangan satu elemen dalam hidupnya yang cukup substansial, paling tidak telah kehilangan kesempatan dan kesadaran secara personal untuk memperbaiki diri sebagai manusia menuju Rabb-nya melalui sifat-sifat keTuhanan yang bisa didekati manusia.


(1 ramadhan 1436 H)