Dalam sebuah ceramah di suatu Masjid ....ada seorang kyai bercerita kepada Santrinya dalam sebuah majlis...
":Ada yang mengeluh kepadaku tentang bagaimana menjawab pertanyaan "apakah kita
hari ini sedang berpuasa?". Soalnya, kalau menjawab "Ya, saya sedang berpuasa,"ia
khawatir dibilang takabur, "wong puasa saja kok bilang-bilang,"Sedangkan kalau
menjawab "Tidak," setidak-tidaknya ia akan dirasani dalam hati: "örang Islam
kok tidak berpuasa."
memperhatikan secuil cerita diatas memang ada sebuah dilema antara berlaku tawadldlu dan keharusan menyatakan kebenaran, atau antara takabur dan etika untuk tidak memamerkan kebaikan diri. Dalam soal 'ideologi' anti-takabur, sering kita menuruti nasehat: "kalau tangan kananmu berbuat baik, tangan kirimu tak usah tahu." Wong Tangan kiri aja nggak boleh tahu apalagi telapak kaki terlebih orang lain.
Ini bagus dari satu sudut, tapi akan bernilai dilematis juga. Sebab, dari sudut lain, pilihan ini memberikan peluang kepada orang lain untuk tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga karena ketidak tahuan ini akan menimbulkan kesalahpahaman, yang akan berujung kepada "praduga" yang bermacam - macam dan lebih parah lagi akan menimbulkan gunjingan dan pembaca bisa melanjutkannya sendiri. Artinya, menutupi kebaikan diri bisa bermakna menyembunyikan suatu kebenaran dan kalau dikaitkan dalam konteks dakwah menuju kebaikan bersama juga kurang mendukung.
Dalam kasus budaya tertentu, masyarakat muslim pernah mengalami malu untuk menampilkan tanda-tanda kemuslimannya. Masyarakat merasa inferior dan kurang percaya diri dengan keislamannya. Jika pergi ke masjid sembunyi-sembunyi dan jika melakukan ritual ibadah keagamaannya jangan sampai ada orang yang tau. Maka, tantangan disitu adalah bagaimana orang islam harus Percaya Diri bahwa "Saya Orang islam, terus kamu mau apa".
Lalu apa kaitannya dengan ibadah Puasa kita...bukankah Ibadah Puasa itu merupakan ibadah yang sifatnya personal, bahkan merupakan rahasia antara manusia dan Tuhannya. Puasa benar-benar latihan dan ujian kesadaran akan adanya Tuhan yang Maha hadir (Omnipresent) yang tidak termasuki sikap pamrih, lalu dimana persoalannya.
Selanjutnya, yang menjadi persoalan adalah,,,kita semua tahu bahwa di Bulan Ramadhan ini banyak sekali ritual keagamaan yang dilakukan masyarakat muslim dan sekali lagi ini juga berpotensi menjadi riya'. Salah satu tujuan Puasa adalah bagaimana manusia mampu mengontrol nafsunya. Kita tentu Ingat bahwa manusia dianugerahi 4 nafsu; nafsu kebaikan, nafsu kesenangan, nafsu amarah, nafsu ketamakan atau serakah. Jika kita berfikir lebih mendalam lagi "kebaikanpun didasarkan oleh nafsu". Kita sering kali berbuat baik, namun dorongannya adalah nafsu entah itu nafsu ingin dipuji, nafsu ingin pahala berlimpah, bahkan nafsu ingin surga. Disini kita sebagai manusia seharusnya bergerak atas dorongan jiwa, dan yang disebut Jiwa disini adalah kemurnian.
Jika kita mengingat cerita pewayangan, saat Kresna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh 4 kuda dan "disupiri"oleh Setiyaki. Kresna disini merupakan perlambangan dari ruh, Setiyaki merupakan analogi dari jiwa, sedangkan kereta Kencana merupakan perwujudan dari Raga, dan 4 kuda merupakan perlambang dari nafsu-nafsu tadi (yang dalam terminologi Islam disebutkan nafsu mutmainah, lawwamah, amarah dan sufiyah).
Nah,,,apa yang perlu kita diskusikan lagi...? jaman ini adalah jaman dimana manusia sudah tidak bisa "membedakan" mana yang merupakan "barang" privat dan mana yang merupakan "milik" publik. Semua yang dilakukan manusia bisa dikontrol dan dituangkan dalam media sosial. Facebook, Path, Twitter, Instagram dan berbagai sudut sosial media mampu menjadi jalan untuk meruntuhkan proses tarbiyah dalam puasa kita untuk me-manage ke-empat nafsu tadi jika tidak bijak dalam mengoperasikannya.
Sering kita perhatikan kawan-kawan yang memposting beberapa kegiatan dan ritual Ramadhan di media sosial dengan berbagai motif (tentu yang memposting dan Tuhan yang tau apa motifnya). Disini saya hanya ingin mengajak kawan-kawan kembali merfleksikan diri sendiri apa maksud kita memposting foto, cerita aktivitas ritual ramadhan dan segala atribut keagamaan kita di media sosial, dampak bagi kawan yang membaca postingan kita, dan segala impact yang mengikutinya.
Media sosial memang membuat suatu revolusi dalam pergaulan masyarakat. Media sosial ibarat suatu Hutan Rimba, dimana seluruh berbagai karakter, sifat ada disitu. Dari fenomena ini tentu menyimpan banyak manfaat dan tentu ada sedikit dampak buruk. Jangan berfikir bahwa dampak buruk hanya muncul dari sesuatu yang diposting adalah "barang"yang buruk. Barang baik pun bila sudah dilepas di media Sosial juga berpotensi menimbulkan sesuatu yang negatif, karena akan menimbulkan berbagai sudut pandang dan sekali lagi Sosial Media merupakan sebuah Hutan belantara.
Lalu, apakah kita harus menghindari Sosial Media, saya kira Tidak. Hanya saja sebagai user kita harus bisa menimbang dan mengkalkulasi kemanfaatan dari informasi yang kita share di Sosial Media. Ada yang berpandangan "wong saya posting ini maksudnya baik kok". Iya maksud kita baik, tapi apakah kita bisa menjamin bahwa respon orang lain baik dan tidak menimbulkan potensi untuk disalahgunakan atau "niat baik tidak selalu bertemu dengan prasangka baik". Niat baik saja tidak cukup, disini membutuhkan mekanisme yang baik pula. Kembali disini yang "bermain" adalah Niat dan tujuan dari sang pemosting. Selebihnya ya serahkan kepada "jamaah Sosial media".
Sebagai pengguna sosial media perlu berfikir lagi; (1) apakah perlu semua aktivitas di publish di sosmed, (2) jangan-jangan kebaikan yang saya share di Sosmed ini dilandasi oleh perasaan "ïngin dipuji", (3) sejauh mana manfaat yang bisa saya tularkan melalui postingan saya.
Kembali ke analopgi cerita Kresna tadi, jangan sampai Raga, Kusir dan ruh dan bahkan Kresna sudah beralih peran menjadi Kuda karena idealnya yang mengendalikan adalah Jiwa (kusirnya). Inilah salah satu esensi puasa, bagaimana menempatkan dan me-manage nafsu yang ada didiri manusia. Sehingga salah satu pendidikan tuhan melalui puasa adalah penanaman dan pengukuhan kesadaran yang terdalam akan ke-Maha Hadir-an (omnipresent) Tuhan. Kesadaran ini melandasi proses untuk senantiasa memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Dengan begitu manusia akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur.
Alhasil, tawadldlu', takabur, kerendahan hati, sikap pamer, uswatun hasanah, qulil-haqq walau kana murran, dan sebagainya harus senantiasa ditempatkan pada konteks dan nuansa yang tepat. bahkan kalau ada tamu datang kerumah, sebaiknya sang sohibul bait yangan ber-husnudzon dengan mengangkanya punya uang banyak dan pasti tadi sang tamu sudah berbuka puasa. "Curiga-lah" bahwa tamu kita belum makan dan sediakanlah makanan. Inilah mengapa Tuhan meminta manusia untuk berpuasa selama sebulan penuh di ramadhan ini.
2 Ramadhan 1436
Tidak ada komentar:
Posting Komentar