Menjadi seorang guru sangat tidak mudah karena guru bukanlah profesi (mungkin ada padanan kata yang lebih tepat) yang biasa. Guru bukan sekedar “tukang” mengajar di sekolah, bukan sekedar disuruh mengisi waktu untuk masuk kelas dan memberi pengajaran kepada anak didik di kelas. Selain mendidik, guru selayaknya adalah idola yang menjadi tranformator peradaban dan menjadi ruh perubahan. Term pendidikan dewasa ini menuntut guru sebagai seorang yang mampu menanamkan nilai progresivitas dan perubahan yang positif konstruktif dengan dibekali berbagai kompetensi yang mumpuni.
Guru menjadi Idola dan inilah apa yang diharapkan oleh pendidikan dewasa ini. Anak – anak membutuhkan panutan serta role model sebagai pijakan untuk langkah berikutnya. Anak – anak bukanlah manusia dewasa yang sudah bisa dikatakan sebagai mahluk yang otonom. Kita paham jika seorang idola adalah orang yang tidak sekedar mampu mempesona bagi orang lain akan tetapi juga ingin membuat orang lain sebagaimana dirinya (idola). Jika kita mengidolai seorang musisi, setidaknya kita ingin menjadi atau sekedar meniru dari salah satu bagian musisi itu. Entah gaya rambut, gaya bicaranya atau lebih ekstrem lagi adalah pandangan hidupnya. Betapa dahsyatnya seorang yang dikatakan Idola.
Saya membayangkan jika guru yang ada di setiap sekolah adalah seorang idola terutama bagi anak didiknya. Seorang Idola memiliki daya tarik serta layak dijadikan sebagai seorang public figure dan mampu menjadi trend center. Menjadi seorang idola haruslah memiliki daya tarik, mampu menjadi sosok yang mampu menginspirasi anak didik di kehidupannya bahwa “saya ingin meniru apa yang dilakukan oleh bapak/ibu guru saya tentang ..............”. Guru idola tidak sekedar sosok yang digugu dan ditiru, namun guru yang mampu memberi pencerahan terhadap apa yang ada disekitarnya.
Salah satu parameter yang bisa dilakukan seorang guru idola adalah “anak didik nyaman dan bersemangat ketika mengikuti kelas kita” dan ini adalah kunci. Secara sederhana, apa yang diucapkan seorang guru idola sesuatu yang menyejukan, segala tindak tanduknya adalah film yang menginspirasi, kehadirannya maupun ketidakhadirannya adalah sebuah membuat para anak didik merasa belajar menjadi menyenangkan. Mereka pun merasakan betapa nikmatnya berada di sekolah sebagai rumah kedua Ketika anak didik sudah merasa nyaman ketika berada di kelas kita maka bisa dikatakan kita telah berhasil membuka pintu kehidupan mereka. Kita tentu sepakat jika kita sudah nyaman tinggal di suatu tempat, kita enggan untuk pindah ke tempat lain apapun kondisinya. Kenyamanan inilah yang dibutuhkan anak didik kita jaman ini. Anak – anak datang kesekolah tidak saja membawa berbagai latar belakang, masalah dan harapan yang saat ini seolah – olah ditujukan kepada sekolah untuk menyelesaikan itu semua.
Guru idola dalam term penulis yang ingin diungkap disini adalah guru yang matang secara kepribadian. Guru sebagai orang yang dewasa dan menjadi role model di sekolah selayaknya memiliki kepribadian yang matang. Secara umum sifat – sifat yang jamak dan menjadi kewajiban guru adalah ia harus bertanggung jawab, humanis, matang secara emosi dan dekat dengan anak didik. Namun bagi penulis salah satu fondasi seorang guru agar bisa dikatakan sebagai role model adalah ia harus subversif.
Istilah subversif selama ini dipahami adalah kegiatan atau usaha menumbangkan sistem yang ada dan cenderung dengan gerakan yang progresif. Guru subversif disini bukanlah guru yang mengajak atau mengarahkan anak didiknya untuk menggulingkan pemerintahan yang resmi sebagaimana pengertian selama ini. Guru subversif adalah guru yang tidak terjebak pada rutinitas pasal – pasal pengajaran yang kaku namun mampu berimprovisasi sesuai dengan kondisi yang ada sehingga mampu memberikan “ruh kebebasan” kepada anak didiknya.
Guru harus bisa menggugah semangat dan paradigma anak didik tentang kehidupan serta setidaknya memiliki dua idealisme besar dalam hidupnya. Pertama adalah idealisme pemikiran yang bersumber dari pergulatan intensif dalam ranah pengetahuan, wacana dan teori serta kedua adalah idealisme sosial hasil dari kejelian dan kecermatan dalam bersentuhan dengan realitas objektif masalah kemanusiaan yang penuh dengan tirani, eksploitasi, distorsi, jauh dari keadilan dan kemajuan. Guru memiliki semangat dan kekuatan penggugah yang senantiasa menyala dalam jiwanya. Ia begitu tajam dalam menganilis, namun hatinya sensitif melihat berbagai penyimpangan yang terjadi.
Secara sederhana seorang guru harus mampu menjadi seorang pemikir sekaligus praktisi. Pemikir tanpa aksi hanya ada dalam awang-awang, berada di singgasana keindahan yang terkadang kurang menyentuh pada problem yang unique. Sementara praktisi tanpa pemikir cenderung menghabiskan waktu karena tidak ada kebenaran substansial, perencanaan, target kualitatif maupun kuantitatif, strategi efektif dan wacana komperhensif secara teori dan praktik. Dua kemampuan ini setidaknya mampu membuat dan menularkan perubahan yang dicita – citakan berjalan secara efisien, sistematis dan fungsiona karena semua membutuhkan ilmu, ketepatan dan kesuksesan.
Guru subversif harus mampu berani bertindak dan mengemukakan isu – isu dan perkembangan yang terbaru di segala bidang. Dalam hal ini, penulis ingin membuat sebuah terminologi guru harus mengemukakan isu – isu yang bersifat “subversif” dan kontroversial. Tanpa itu semua, ruang kelas bagaikan kuburan yang tidak mengalirkan jiwa perubahan. Dengan kata lain, untuk apa membina kuburan yang tidak bergejolak sebagai tanda sebuah kematian.
Guru subversif mampu mengubah iklim yang selama kurang melihat budaya penelitian sebagai sebuah bagian penting sehingga harus diubah dengan budaya yang mengutamakan penelitian. Budaya penelitian yang dimaksud bukanlah penilitian yang sifatnya kompleks yang selama ini dipahami. Namun penelitian dalam arti sebuah proses pembelajaran yang mengoptimalkan kemampuan bernalar anak didik sesuai dengan kaidah penalaran yang logis, sistematis, rigid dan terstruktur. Hal ini diawali dengan kemampuan anak didik yang tidak sekedar mampu menjawab soal – soal tes yang diberikan namun lebih dari itu adalah mampu memunculkan pertanyaan terkait proses pembelajaran yang berlangsung. Jika anak didik mampu memunculkan berbagai pertanyaan terkait pembelajaran yang dilaksanakan setidaknya hal ini mengindikasikan bahwa anak didik adalah subjek dalam proses pembelajaran.
Guru subversif mampu merangsang anak didik untuk mengidentifikasi persoalan dimasa kini serta mendatang serta mampu memberikan solusi sesuai dengan kemampuan berfikirnya. Disini anak didik ditantang untuk membuat sebuah inovasi dan solusi terkait berbagai persoalan sesuai dengan level dan kemampuannya. Dia tidak sekedar menjadi konsumen solusi akan berbagai persoalan namun dia mampu memunculkan solusi yang sesuai dengan kemampuannya. Anak didik bukan dituntut untuk berlaku reaktif terhadap perubahan, namun menjadi controller perubahan itu. Dengan budaya penelitian yang mengutamakan kemampuan bernalar secara logis dan terstruktur diharapkan mereka mampu menjadi pribadi tidak mem-bebek terkait perubahan yang ada.
Anak didik perlu diberikan sebuah nuansa pendidikan untuk merangsang kreatifitasnya sehingga ia mampu menemukan siapa dirinya melalui apa yang disebut diferensiasi. Diferensiasi adalah sebuah keniscayaan dalam dunia pendidikan. Hal ini didasarkan bahwa setiap anak didik adalah mahluk yang unique. Mereka memiliki kecenderungan masing-masing yang tidak identik. Sehingga pada perlakuakn dalam proses pembelajaran pun seyogyanya tidak bisa disama ratakan.
Banyaknya aspek dalam dunia pendidikan menuntut proses diferensiasi dan tentu tidak sederhana. Hal inilah yang membuat guru terkadang enggan untuk melihat sisi – sisi yang unique pada diri anak didik. Kita tentu sering mendengar kisah dalam analogi yang menggambarkan bahwasanya anak didik itu tidak seragam. Sebagaimana kisah sang kancil yang diadu kecepatan berlari dengan kura – kura. Kisah ini menyiratkan bahwa semaksimal apapun kura – kura berlari dengan kamampuan terbaiknya tidak akan bisa mengalahkan kancil dalam hal berlari.
Ketika proses diferensiasi dalam proses pembelajaran terencana dan dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya guru harus bisa membuat sebuah ledakan yang bisa merangsang rasa keingintahuan anak didik terkait apa yang anak didik senangi dan kecenderungan kemampuan anak didik. Dia harus mampu mengarahkan anak didik untuk menjadi apa dimasa depan kelak, dia harus menjadi pribadi yang berbeda dengan orang lain. Anak didik harus dididik bahwa manusia tidaklah seragam sehingga ada sebuah nilai yang ditanamkan pada diri anak didik. Guru harus bisa mananamkan pada diri anak didik bahwa yang dibutuhkan dalam era mendatang bukan sekedar persaingan namun yang lebih penting dari pada itu adalah sinergi. Sinergitas pada setiap diri anak didik perlu dikembangkan dan dirangkai dengan baik. Bila dianalogikan dalam sebuah permainan sepak bola tidak semua pemain harus menjadi striker. Setiap pemain memiliki peran masing – masing dalam sebuah tim. Hal inilah yang dibutuhkan dimasa mendatang.
Masa depan adalah masa dimana sumberdaya yang tersedia tidak seperti sekarang. Permasalahan yang ada menuntut setiap manusia untuk bersinergi guna menyelesaikan permasalahan kehidupan yang semakin kompleks. Jumlah manusia yang bertambah banyak sedangkan sumberdaya yang semakin terbatas menuntut manusia untuk bisa bekerjasama dengan perannya masing – masing sesuai kemampuan dan “posisi”-nya. Guru harus berperan guru sebagai fasilitator dan membuat iklim pembelajaran yang mampu merangsang daya keingintahuan anak didik dituntut sangat optimal. Guru harus mampu memberikan ruang eksplorasi pada diri anak didik.
Anak didik yang mampu melihat kemampuan dirinya dan melejitkan potensinya secara maksimal mampu melihat kelebihan dan kekurangan orang lain sebagai sebuah kekuatan untuk bersinergi dalam menyelesaikan persoalan bukan lagi sebagai pesaing bahkan ancaman bagi dirinya. Untuk menumbuhkan iklim seperti ini anak didik perlu dibiasakan sebuah nuansa kebersamaaan yang mutualistis sehingga bukan jamannya lagi sekolah memunculkan Superman dimasa depan namun harus mampu membentuk sebuah Superteam yang solid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar