Sabtu, 21 April 2012

Pembelajaran itu Perlu Enjoy

Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Sehngga pada saat kali pertama disebut kata school, asal mula kata sekolah berasal dari bahasa latin yakni kata skhole, scola, scolae atau schola, kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. (Roem Topatimasang, 1998). Kata skhole, scola, scolae dan schola digunakan untuk menyebut sebuah kegiatan yang dilakukan oleh orang Yunani Kuno untuk mengisi waktu luangnya. Menggunakan waktu senggangnya untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Semua asal kata sekolah ini mempunyai arti yang sama yaitu ”waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).
Pada perkembangannya, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka. Di tempat itu, anak-anak bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, dan belajar apa saja yang memang patut untuk dipelajari sampai tiba masanya mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa. Sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuh ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa disebut juga ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu’ (alma mater). Dan melalui John Amos Comenius dalam karyanya yang berjudul Didactica Magna, melontarkan gagasan untuk melembagakan pola dan proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis. Gagasan ini kemudian diteruskan dan disempurnakan oleh Johan Heinrich Pestalozzi pada abad ke-18.
Sekolah Hari Ini
Dengan membandingkan asal kata sekolah sebagai secuil sejarah tentang bagaimana sekolah itu terbentuk, tentu memberikan kesimpulan bagi kita tentang bagaimana sekolah sebaiknya dilaksanakan dan diciptakan. Sekolah sendiri tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan peran dan fungsinya sebagai tempat pembelajaran pengetahuan yang bertujuan mengasah kemampuan berpikir, kepedulian dan potensi-potensi lain yang dimiliki seorang anak manusia. Sehingga yakin dan pasti semua pihak akan mengungkapkan bahwa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di sekolah formal dan menciptakan suasana belajar yang berkelanjutan amat diperlukan. Pada titik ini nampaknya tidak ada yang membantah. Masalah muncul ketika kemudian masuk ke langkah aplikasi, sebagian besar merasa: ribet, sulit, dan melelahkan.
Bayangkan, untuk mengajar kreatif itu saya perlu berfikir, survey, terus mengantisipasi apabila anak-anak jadi lebih ribut, dan masih berfikir bagaimana alat peraganya, bagaimana cara menilanya, bagaimana menyusun Silabus dan RPPnya. Sudah pasti selain sulit pasti repot, bukannya menjadi tidak menyenangkan apabila sesuatu itu menjadi repot untuk kita laksanakan. Setidaknya itu sebagian komentar beberapa rekan pendidik tentang pembelajaran yang menyenangkan dikelas.
Tetapi satu hal yang pasti kita semua tahu belajar menyenangkan itu penting. Kita juga diharapkan untuk menciptakan kondisi tersebut. Terkait hal tersebut dalam buku “Genius Learning Strategy” Andi Wira Gunawan menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada mata pelajaran yang membosankan, yang ada adalah guru yang membosankan, suasana belajar yang membosankan. Hal ini terjadi karena proses belajar berlangsung secara monoton dan merupakan proses perulangan dari itu ke itu juga tiada variasi. Proses belajar hanya merupakan proses penyampaian informasi satu arah, siswa terkesan pasif menerima materi pelajaran.
Suatu penelitian tentang “cara kerja otak” menunjukkan bahwa ketika kita senang, maka hormon “neorotransmitter dopamine” dilepaskan dalam otak. Hal itulah yang membuat kita merasa senang. Judy Willis (2006) mengemukakan bahwa kita membutuhkan dopamine mengalir di dalam otak peserta didik, ketika mereka belajar. Kesenangan itu harus menjadi bagian dari pembelajaran. Semakin para siswa aktif terlibat dalam sebuah kegiatan pembelajaran, semakin otak mengalami perubahan.
Menurut Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS seorang ahli penyakit syaraf, metode pembelajaran yang berlangsung saat ini dengan penyajian lebih menitik beratkan pada rangsangan dengar (auditory) berupa latihan (drill), pengulangan, orientasinya detail, kurang melibatkan proses pemecahan suatu masalah, sangat sesuai dengan pola belajar pada otak kiri, dimana individu tersebut kurang hiperaktif dan tidak mendapatkan terlalu banyak rangsangan. Masalah mulai timbul karena pada generasi anak saat ini dimana dengan berkembangnya budaya, sejak kecil anak telah diberi banyak rangsang penglihatan (visual), misalnya rangsangan dari TV dll; sehingga pola pembelajaran anak bergeser kearah otak kanan dengan pola berpikir secara visual dan lemah dalam menerima rangsang dengar (auditory) tetapi mempunyai kemampuan untuk pemecahan masalah. Hal ini mengakibatkan jurang antara anak didik dan guru menjadi lebar, karena pola pembelajaran disekolah tidak sesuai dengan pola pembelajaran yang dibutuhkan; sekolah menjadi tidak sejalan dengan pikiran anak. Sementara itu para pendidik yang umumnya adalah populasi dengan pola otak kiri, seperti juga pada dominasi otak kiri lainnya, mempunyai kelemahan berupa kesulitan untuk dapat memahami bahwa orang lain mempunyai cara pandang yang berbeda dalam memproses keadaan. (Freed 1997).
Otak Untuk Belajar
Sebelum kita dapat menciptakan kondisi belajar yang baik bagi anak, ada beberapa hal yang kita perlu ketahui dari proses kerja otak pada saat belajar. John Medina, seorang biologi molekuler perkembangan dan konsultan penelitian dalam bukunya Brain Rules, menyebutkan 12 fakta tentang cara kerja otak sebagai berikut
Bergerak melejitkan kemampuan otak; Otak kita dirancang untuk berjalan kaki, sekitar 19 kilometer per hari, selama masa evolusi nenek moyang kita. Ketika kita bergerak, darah akan terpompa ke otak, mengalirkan oksigen dan glukosa. Aerobik 2 kali seminggu memangkas resiko terkena dementia (penurunan kapasitas otak) dan menurunkan resiko sampai 60% terkena Alzheimer.Aturan pertama ini menjelaskan mengapa kita mudah bosan ketika duduk diam di dalam kelas atau ruang kerja. Tanpa pergerakan membuat oksigen yang mengalir ke otak berkurang sehingga dianggap sebagai sinyal beristirahat (jadi menguap kan kalau kelamaan duduk?). Persoalannya, ruang kelas dan kerja kita didesain dengan asumsi kita diam ketika belajar dan bekerja. Bila tubuh kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan bekerja. Sekurang-kurangnya, lakukan pergerakan 10 menit setelah belajar atau bekerja.
Otak kita juga berevolusi; Otak adalah organ bertahan hidup kita dalam menjalani evolusi. Kita mengatasi dunia dengan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kita bukan makhluk yang terkuat di bumi ini, tapi otak kita berkembang menjadi yang terhebat. Otak kita berkembang selama menangani penyelesaian persoalan dan membangun relasi dengan orang lain. Kemampuan memahami persoalan dan membangun relasi dengan orang lain menjadi aktivitas bertahan hidup utama, bahkan hingga hari ini. Bukan saja di sekolah, kedua kemampuan itu juga kita butuhkan di tempat kerja. Sehingga bila kita tidak nyaman dengan orang lain maka kita tidak bisa efektif. Ketika murid tidak nyaman dengan gurunya maka belajar menjadi tidak efektif. Ketika bawahan tidak nyaman dengan atasannya maka bekerja menjadi tidak efektif. Belajar menyimak motivasi orang lain dan bangun relasi agar otak kita bekerja efektif.
Setiap otak tersusun secara berbeda; Otak dari kecil mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada serangkaian hubungan yang terbangun antar ujung syaraf seiring dengan penghilangan hubungan yang lain. Apa yang kita lakukan dan pelajari dalan kehidupan mengubah bentuk fisik otak kita, mengubah susunan otak kita. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Tidak ada dua otak manusia yang sama yang menyimpan informasi yang sama dengan cara yang sama di tempat yang sama. Ada jutaan cara untuk menjadi cerdas sebagaimana diyakini konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner. Sayangnya, banyak diantaranya tidak muncul dalam tes IQ. Praktisnya perlakukan diri kita dan orang lain sebagai individu unik yang mempunyai cara belajarnya sendiri.
Kita tidak memperhatikan hal-hal membosankan; Otak bisa diibaratkan sebagai lampu sorot (spotlight) yang menyorot berbagai macam hal di sekitarnya. Lampu sorot otak ini hanya dapat fokus pada satu hal pada satu waktu: Tidak ada multitasking bagi otak. Lampu sorot otak itu menyukai sesuatu yang membangkitkan emosi dan mudah beralih ketika menyorot sesuatu yang membosankan. Ceramah atau pembicaraan yang biasa-biasa saja hanya mendapat perhatian dari otak kita kurang dari 10 menit. Praktisnya: Pancing perhatian orang yang mendengarkan kita bicara setelah 10 menit melalui cerita yang menyentuh emosi. Hindari interupsi dalam mengerjakan suatu tugas karena akan meningkatkan jumlah kesalahan.
Ulangi untuk Mengingat; Otak itu ibarat mesin pengolah informasi yang mempunyai beragam mekanisme. Salah satunya, declarative memory yang mempunyai 4 tahap pengolahan informasi: mengodekan, menyimpan, memanggil dan melupakan. Kalau kita mengingat informasi dengan cara yang biasa-biasa saja, maka kita akan segera melupakan. Ibarat ketemu cewek yang biasa-biasa saja maka kita segera melupakan begitu saja. Beda kalau pertama bertemu begitu mempesona, wah sampai rumah pun masih terbayang-bayang wajahnya. Semakin rumit kita mengodekan informasi semakin kuat memori itu. Praktisnya kaitkan suatu informasi baru dengan informasi lama. Buat jembatan keledai untuk merangkai suatu informasi. Ulangi untuk mengingat suatu informasi dengan pola yang berbeda.
Ingatlah untuk mengulang; Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Proses melupakan itu bagus karena kita tidak perlu menyimpan informasi yang tidak relevan dan membantu menentukan prioritas. Ingatlah yang sekarang, bukan masa lalumu (uhuk). Tapi bila kita ingin mengingat suatu informasi, maka ingatlah untuk mengulang. Praktisnya ingatlah suatu informasi secara bertahap dan mengulanginya dalam jeda waktu yang terpola waktunya.
Tidur baik, berpikir pun baik; Otak mengalami ketegangan terus menerus sepanjang hari. Bahkan ketika tidur pun, otak kita tidak sepenuhnya beristirahat. Otak tetap aktif secara ritmis selama kita tidur. Kurang tidur akan menurunkan perhatian, pengambilan keputusan, memori kerja, mood, keterampilan kuantitatif, penalaran bahkan ketangkasan motorik oleh sebab itu tidurlah secukupnya.
Otak yang stress tidak belajar secara sama; Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek, semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita, stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar. Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat lain. Jangan stress dengan membangun relasi dan emosi yang stabil di rumah, itu kuncinya
Rangsanglah lebih banyak indera; Kita menyerap informasi tentang suatu kejadian melalui indera, menerjemahkan dalam bentuk sinyal listrik, menyebarkan ke bagian otak terpisah dan ketika mengingat kita merekonstruksikan ingatan kejadian itu. Semakin banyak indera yang mendapatkan informasi atas suatu kejadian maka semakin mudah kita merekronstruksi ingatan akan kejadian tersebut. Hasil riset, Efek Proust, bau dapat memicu memori, hingga 10-50% lebih baik. (apa bau badanmu sekarang? *eh salah). Bau bahkan memicu emosi kita. Gunakan multisensori dalam menyampaikan penjelasan ke murid atau bawahan, paling tidak kata dan gambar. Bila perlu ciptakan ruangan yang baunya bisa diasosiasikan positif.
Penglihatan mengungguli indera-indera kita; Kita tidak melihat dengan mata kita, kita melihat dengan otak kita. Apa yang kita lihat bukanlah yang terlihat, tapi apa yang diberitahukan otak untuk kita lihat. Tak heran maka kita sering terjebak menilai orang dari tampilan luar, karena memang begitu cara kerja otak kita. Kita paling bagus belajar dan mengingat dengan gambar, bukan kata-kata tertulis atau terucap. Mendengar sekarang maka 3 hari kemudian hanya teringat 10%, sementara dengan melihat kita masih mengingat 65%. Teks mencekik otak kita, otak tidak mengenal kata-kata, tapi mengenal gambar. Ketika mengingat “Gajah pakai baju warja merah”, kita akan “melihat” gambar gajahnya, bukan tulisan g-a-j-a-h. Buang powerpoint yang penuh dengan teks dan poin-poin. Gunakan gambar yang berasosiasi dengan suatu informasi untuk belajar.
Otak pria dan wanita berbeda; Kalangan kesehatan mental sudah mengenali perbedaan antara pria dan wanita. Pria lebih mudah terkena schizophrenia dibandingkan wanita. Dengan rasio 2 banding 1, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan pria, temuan setelah wanita mengalami pubertas dan terus stabil sampai 50 tahun berikutnya. Pria dan wanita merespon stress dengan cara yang berbeda. Pria mengaktifkan amygdala di sebelah kanan otak mereka, wanita mengaktifkan sebelah kiri. Aktivasi sebelah kiri akan membuat orang lebih mengingat detil, aktivasi sebelah kiri akan membuat orang mengingat intinya. Kelola kelas dengan pengaturan gender berbeda. Buat tim lintas gender dalam dunia kerja.
Kita adalah penjelajah alami yang kuat; Hasrat untuk mengeksplorasi begitu besar dalam diri kita. Hasrat itu tetap ada meski kita berada dalam ruang kelas dan ruang kerja. Bayi adalah model cara kita belajar. Bukan dengan pasif terhadap lingkungan, tapi aktif berksplorasi, melakukan pengamatan, membuat dugaan, lakukan pengujian dan kesimpulan. Hebatnya, beberapa bagian otak dewasa tetap lentur seoerti bagian otak bayi supaya kita dapat menciptakan syaraf-syaraf dan mempelajari baru sepanjang hayat.
Penelitian mutakhir sistem kerja otak sebagaimana diuraikan oleh Caineand Caine (1991) dalam bukunya Making connection: Teaching and human brain, bahwa intelegensi seseorang ternyata bersifat dinamis dan dapat berkembang. Lebih daripada itu, intelegensi tidak hanya berkaitan dengan aspek cognitive semata, tetapi berkaitan pula dengan emosi, sehingga disebut dengan Emotion Intellegence yang disingkat EQ (sebagai pelengkap IQ). Bukti-bukti menunjukan bahwa dalam keberhasilan pendidikan seseorang peranan IQ hanya sekitar 20 %. Sisanya 80 % sebagian besar ditentukan oleh EQ dan faktor kedewasaan sosial. EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan aspek-aspek psikologis dalam diri sendiri yang mencakup a) amarah, b) kesedihan, c) rasa takut, d) kenikmatan, e) cin+a, f) terkejut, g) jengkel, dan, h) malu. Kemampuan mengendalikan aspek psikologis diperlukan agar EQ ini bisa bekerja secara harmonis dengan IQ. Singkat kata, kalau EQ baik otak akan dapat bekerja dengan baik pula. Dengan fakta-fakta tentang kerja otak ini, kekreatifan guru menjadi salah satu cara dalam meningkatkan mutu pendidikan. Jika guru kreatif, siswa yang menjadi anak didiknya akan mengikuti pelajaran dengan senang. Jika siswa senang, pelajaran yang disampaikan guru akan cepat dipahami siswa dan pada akhirnya siswa bisa mengembangkan ilmu yang diterimanya. Oleh karenanya penting sekali pembelajaran itu untuk menjadi menyenangkan setiap siswa, sehingga siswa kita akan tahu betapa menyenangkannya sekolah itu dan mereka akan kembali dengan penuh semangat dikeesokan harinya

Refferensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/

Jumat, 20 April 2012

Guru Rock N' Roll (bagian II)

Hari ini ini Jum'at tanggal 20 April 2012 mungkin menjadi hari yang cukup bersejarah buat saya....
lho kenapa...........?
ada satu kejadian yang sangat menarik dan cukup menggugah saya sebagai seorang Guru terutama Guru Mata Pelajaran Matematika yang bagi kebanyakan orang merupakan "penyakit" tiap anak sekolah.
tahu gak........
begitu saya masuk kelas XI pukul 08.15 seperti biasa mereka memberi salam..jujur aja suasana saya sedang nggak enak (karena bangun kesiangan gara-gara subuh tadi hujan dan saya lanjutkan tidur malam saya yang kepotong waktu subuh dan saya terbangun jam 07.30 ALhamdulillah saya sudah mandi pagi jadi ga perlu mandi hehe...........) dan saya secara fisik kurang begitu fit
setelah siswa - siswa saya memberi salam dan saya jawab salam mereka kemudian saya belum mengucap sepatah kata kira 70% siswa yang dikomando oleh salah satu siswa yaitu Iqbal Manani mengacungkan tangan dan menawarkan diri untuk maju mengerjakan soal (tugas liburan) yang saya beri sebelum libur selama 4 hari karena kelas XII sedang UN. Padahal soal-soal untuk tugas tersebut materinya belum saya jelaskan
Memang hari ini tidak seperti biasanya, kalau hari sebelumnya saya harus menunjuk beberapa siswa untuk mengerjakan Tugas dan menjelaskan hasil pekerjaan tersebut kepada kawan-kawannya sebagai bentuk "pertanggung jawaban" akademik dalam kelas saya. dan hal ini selalu menjadi "Momok" manakala harus menjelaskan didepan kawan-kawannya karena takut dan malu kalau nanti ditanya gak bisa jawab :-)
Melihat antusiasme siswa saya, akhirnya saya urungkan rencana pembelajaran hari ini yang ingin menjelaskan sedikit materi tentang turunan Trigonometri sebagai bahan diskusi mereka minggu depan. spontan saya minta mereka mendiskusikan tugas minggu kemaren sebagai penghargaan dan rasa senang saya karena kelas yang seperti ini lah yang saya inginkan dimana mereka tidak menunggu komando Guru untuk memulai diskusi dan pembelajaran kelas. karena bagi saya, pembelajaran saya dikatakan Gagal apabila saya mendominasi pembelajaran dengan menjadi "penjual obat" di depan kelas yang pasti tidak akan laku.
dari peristiwa hari ini, saya berkseimpulan:
  1. Siswa atau peserta didik itu tidak perlu diberi "Ceramah"  atau "promosi obat" tentang materi ajar yang akan  kita ajarkan, mereka cukup "dibongkar" semangat dan motivasi belajarnya mengenai materi ajar kita
  2. saya buat senyaman mungkin kelas saya..mereka boleh makan (asal kawan disampingnya dikasih) dengar musik, terkadang saya lakukan Game Mathematics yang pada intinya Substanti pembelajaran PAIKEM tidak terbuang.
  3. Materi ajar matematika (dan pelajaran lain) tentu sudah "tercecer" di buku diktat, internet dan LKS buku pelajaran dan mereka tidak usah "didulang" (disuapi) cukup minta mereka membaca, merangkum dan mengerjakan soal sesuai dengan pemahaman mereka dan minta mereka membuat resume tentang hal - hal yang patut didiskusikan. karena mereka memiliki "standar minimal" dalam memahamami matematika (tentu kemampuan setiap anak berbeda)..namun yang perlu diingat bahwa mereka butuh media dan sarana untuk menuangkan ide-ide mereka.
  4. sudah tidak Jamannya Guru mengajar "dominan" seperti khotib yang berkhutbah Jum'at meski kadang dibutuhkan ceramah (tapi tidak full) dalm jam pembelajaran.
  5. jangan batasi siswa untuk menggunakan Buku yang sama dengan apa yang dimiliki oleh Guru, dengan alasan penyamaan dan penyeragaman materi. kalau dengan alasan penyamaan dan penyeragaman bukan itu solusinya, beri mereka "silabus" materi apa yang dipelajarai dalam bab kali ini. Karena masih banyak guru yang mengajar di kelas "mewajibkan" siswanya untuk memiliki buku atau LKS yang sama dengan guru
  6. dalam pemberian tugas saya tidak "memaksa". yang saya lakukan adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab mereka dan kesadaran bahwa merekalah yang menjadi wajib pembelajar. Apalagi ini?.
    sederhananya setiap siswa saya wajibkan meminta tugas kepada saya. jadi selain ada PR secara kolektif (sama untuk seluruh kelas) mereka juga saya tumbuhkan kesadarannya bahwa nilai yang muncul di Rapor itu tidak "asal jadi" tapi perlu ada perjuangan (dan mereka wajib tahu tranparansi nilainya) yang tidak instan.
    contoh: dalam materi turunan diantara 30 siswa mereka minta tugas masing-masing dengan membawa buku masing-masing (yang saya harapkan berbeda) dan setiap siswa saya beri tugas (soal) yang berbeda sesuai dengan materi apa yang belum mereka pahami dan waktu mengumpulkan tugas mereka sendiri yang menentukan karena saya menyelaraskan tugas pelajaran lain, beban belajar siswa, dan tentunyakemampuan mereka dalam memahami MATEMATIKA. jadi saya ingin menerpakan kepada siswa  "Apa sih yang saya butuhkan" jadi bukan guru yang menentukan materi tugasnya tugas ini saya beri nama (Self Assignment) dengan semboyan
    Yo want it (nilai yang bagus)
    You Take  It (Minta tugas sesuai kemampuanmu)
    You Do It (Kerjakan tugas sesuai dengan kemampuanmu dengan waktu yang kamu tentukan)
    You Get It (nilai dan tentunya Nilai Perjuangan dan ketekunan serta "muhasabah" masing-masing siswa tentang hal - hal yang belum mereka pahami
Semoga iklim seperti ini bisa berlanjut...........!
Let's Rock The Day
with Guru Rock N' Roll

Senin, 16 April 2012

Budaya Menghakimi dan Menghukum Para Pendidik Di Indonesia

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
…Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”
Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Rabu, 11 April 2012

Guru "Rock n Roll"

     Pendidikan merupakan suatu rekayasa untuk mengendalikan learning guna mencapai tujuan yang direncanakan secara efektif dan efisien. Dalam proses rekayasa ini peranan "teaching" amat penting, karena merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai kepada siswa sehingga apa yang ditransfer memiliki makna bagi diri sendiri, dan berguna tidak saja bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakatnya.
 
         Meruju pada hal tersebut, mengajar hanya dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang yang telah melewati pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk mempersiapkan guru. Dengan kata lain, mengajar merupakan suatu profesi. 
       Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat, muncul dua kecenderungan: Pertama, proses mengajar menjadi sesuatu kegiatan yang semakin bervariasi, kompleks, dan rumit. Kedua, ada kecenderungan pemegang otoritas structural, ingin memaksakan kepada guru untuk mempergunakan suatu cara mengajar yang kompleks dan sulit. Sebagai akibat munculnya dua kecenderungan di atas, maka guru dituntut untuk menguasai berbagai metode mengajar dan diharuskan menggunakan metode tersebut.  ketiga, ini hal terpenting yang tak bisa dilupakan bahwa seorang Guru wajib memberi teladan bagi perkembangan peserta didik di masa depan, guru harus menjadi idola mereka kelak.
         seiring perkembangan dunia pendidikan dan khususnya Guru...cukup menarik kalau kita ungkap oleh Dr. Rhenald Kasali, Ketua Program UI pada Hari Pendidikan Nasional Mei yang lalu. Tertarik dengan tulisan yang ada di http://blog.fitb.itb.ac.id yang mengelompokan guru ke dalam dua jenis. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan. Sebaliknya, guru kreatif lebih banyak tersenyum, namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak (http://blog.fitb.itb.ac.id).

Guru Kognitif
         Guru tipe ini bisa dikatakan Guru Tipe "jadul", guru Kognitif sangat gemar berbicara di depan kelas bukan dengan bibirnya tapi menggunakan kapur tulis atau spidol di papan tulis (banyak mencatat). Guru ini bangga kalau siswanya hafal semua apa yang diajarkan sampai titik, koma pada buku dihafal, siswa dengan rambut dipotong sangat rapi atau saat masa kecil saya potongan rambut "inpres", dengan tangan dilipat diatas meja saat KBM. atau kalau menurut istilah Pak Herman disebut Guru UTUN “Guru utun itu layaknya guru Mesin , setiap pagi berangkat ke sekolah, duduk di kantor, kalo waktunya mengajar masuk ke kelas dan mengajar, selesai mengajar duduk lagi di kantor, kalo sudah jam pulang ya pulang saja, begitu setiap hari tanpa ada peningkatan
            Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory. Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu. dengan anggapan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guru-guru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat, sangat patuh pada ”tupoksi”. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan bab-bab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas, mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.
          Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anak-anak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit. Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus "hutan belantara" masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.
        Apabila diibaratkan anak-anak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi, bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya

untuk tipe Guru kedua Rhenald Kasali menyebutnya Guru Kreatif, tapi saya  lebih suka menyebutnya sebagai Guru "Rock and Roll". Guru tipe ini yang sering kali dianggap aneh di belantara "dunia Keguruan". Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali "kurang peduli" dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa, mirip seperti style Rock and Roll. meski  mereka "kurang peduli" dengan aturan namun dalam proses KBM mereka tidak melupakan Substansi pembelajaran sebagai proses pendewasaan peserta didik dalam menentukan dunia mereka.  Tetapi, diakui atau tidak mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya. 
        Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka dan berusaha "berjalan" sesuai dengan bakat, kemampuan serta dunia mereka.Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism, merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya. Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill.

Bagaimana sebenarnya guru "Rock n Roll" seperti yang diidamkan oleh banyak pihak, kalau boleh saya rumuskan:
  1. Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik;
  2. Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, system dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan merubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal;
  3. Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya;
  4. Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif;
  5. Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru masa depan haus akan menimba ketrampilan, dan bersikap peka terhadap perkembangan IPTEKS, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan computer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media.

Jadi, guru "Rock n Roll" adalah guru bertindak sebagai fasilitator; pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal, bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang diinginkan dalam dunia pendidikan); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan teknologi; punya sikap berciri khas "The Habits for Highly Effective People" dan "Quantum Teaching" serta pendekatan humanis terhadap siswa; Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan di kelas secara proporsional.
"Lets Rock The Day"..............!