Hari ini ini Jum'at tanggal 20 April 2012 mungkin menjadi hari yang cukup bersejarah buat saya....
lho kenapa...........?
lho kenapa...........?
ada satu kejadian yang sangat menarik dan cukup menggugah saya sebagai seorang Guru terutama Guru Mata Pelajaran Matematika yang bagi kebanyakan orang merupakan "penyakit" tiap anak sekolah.
tahu gak........
begitu saya masuk kelas XI pukul 08.15 seperti biasa mereka memberi salam..jujur aja suasana saya sedang nggak enak (karena bangun kesiangan gara-gara subuh tadi hujan dan saya lanjutkan tidur malam saya yang kepotong waktu subuh dan saya terbangun jam 07.30 ALhamdulillah saya sudah mandi pagi jadi ga perlu mandi hehe...........) dan saya secara fisik kurang begitu fit
tahu gak........
begitu saya masuk kelas XI pukul 08.15 seperti biasa mereka memberi salam..jujur aja suasana saya sedang nggak enak (karena bangun kesiangan gara-gara subuh tadi hujan dan saya lanjutkan tidur malam saya yang kepotong waktu subuh dan saya terbangun jam 07.30 ALhamdulillah saya sudah mandi pagi jadi ga perlu mandi hehe...........) dan saya secara fisik kurang begitu fit
setelah siswa - siswa saya memberi salam dan saya jawab salam mereka kemudian saya belum mengucap sepatah kata kira 70% siswa yang dikomando oleh salah satu siswa yaitu Iqbal Manani mengacungkan tangan dan menawarkan diri untuk maju mengerjakan soal (tugas liburan) yang saya beri sebelum libur selama 4 hari karena kelas XII sedang UN. Padahal soal-soal untuk tugas tersebut materinya belum saya jelaskan
Memang hari ini tidak seperti biasanya, kalau hari sebelumnya saya harus menunjuk beberapa siswa untuk mengerjakan Tugas dan menjelaskan hasil pekerjaan tersebut kepada kawan-kawannya sebagai bentuk "pertanggung jawaban" akademik dalam kelas saya. dan hal ini selalu menjadi "Momok" manakala harus menjelaskan didepan kawan-kawannya karena takut dan malu kalau nanti ditanya gak bisa jawab :-)
Melihat antusiasme siswa saya, akhirnya saya urungkan rencana pembelajaran hari ini yang ingin menjelaskan sedikit materi tentang turunan Trigonometri sebagai bahan diskusi mereka minggu depan. spontan saya minta mereka mendiskusikan tugas minggu kemaren sebagai penghargaan dan rasa senang saya karena kelas yang seperti ini lah yang saya inginkan dimana mereka tidak menunggu komando Guru untuk memulai diskusi dan pembelajaran kelas. karena bagi saya, pembelajaran saya dikatakan Gagal apabila saya mendominasi pembelajaran dengan menjadi "penjual obat" di depan kelas yang pasti tidak akan laku.
Melihat antusiasme siswa saya, akhirnya saya urungkan rencana pembelajaran hari ini yang ingin menjelaskan sedikit materi tentang turunan Trigonometri sebagai bahan diskusi mereka minggu depan. spontan saya minta mereka mendiskusikan tugas minggu kemaren sebagai penghargaan dan rasa senang saya karena kelas yang seperti ini lah yang saya inginkan dimana mereka tidak menunggu komando Guru untuk memulai diskusi dan pembelajaran kelas. karena bagi saya, pembelajaran saya dikatakan Gagal apabila saya mendominasi pembelajaran dengan menjadi "penjual obat" di depan kelas yang pasti tidak akan laku.
dari peristiwa hari ini, saya berkseimpulan:
- Siswa atau peserta didik itu tidak perlu diberi "Ceramah" atau "promosi obat" tentang materi ajar yang akan kita ajarkan, mereka cukup "dibongkar" semangat dan motivasi belajarnya mengenai materi ajar kita
- saya buat senyaman mungkin kelas saya..mereka boleh makan (asal kawan disampingnya dikasih) dengar musik, terkadang saya lakukan Game Mathematics yang pada intinya Substanti pembelajaran PAIKEM tidak terbuang.
- Materi ajar matematika (dan pelajaran lain) tentu sudah "tercecer" di buku diktat, internet dan LKS buku pelajaran dan mereka tidak usah "didulang" (disuapi) cukup minta mereka membaca, merangkum dan mengerjakan soal sesuai dengan pemahaman mereka dan minta mereka membuat resume tentang hal - hal yang patut didiskusikan. karena mereka memiliki "standar minimal" dalam memahamami matematika (tentu kemampuan setiap anak berbeda)..namun yang perlu diingat bahwa mereka butuh media dan sarana untuk menuangkan ide-ide mereka.
- sudah tidak Jamannya Guru mengajar "dominan" seperti khotib yang berkhutbah Jum'at meski kadang dibutuhkan ceramah (tapi tidak full) dalm jam pembelajaran.
- jangan batasi siswa untuk menggunakan Buku yang sama dengan apa yang dimiliki oleh Guru, dengan alasan penyamaan dan penyeragaman materi. kalau dengan alasan penyamaan dan penyeragaman bukan itu solusinya, beri mereka "silabus" materi apa yang dipelajarai dalam bab kali ini. Karena masih banyak guru yang mengajar di kelas "mewajibkan" siswanya untuk memiliki buku atau LKS yang sama dengan guru
- dalam pemberian tugas saya tidak "memaksa". yang saya lakukan adalah menumbuhkan rasa tanggung jawab mereka dan kesadaran bahwa merekalah yang menjadi wajib pembelajar. Apalagi ini?.
sederhananya setiap siswa saya wajibkan meminta tugas kepada saya. jadi selain ada PR secara kolektif (sama untuk seluruh kelas) mereka juga saya tumbuhkan kesadarannya bahwa nilai yang muncul di Rapor itu tidak "asal jadi" tapi perlu ada perjuangan (dan mereka wajib tahu tranparansi nilainya) yang tidak instan.
contoh: dalam materi turunan diantara 30 siswa mereka minta tugas masing-masing dengan membawa buku masing-masing (yang saya harapkan berbeda) dan setiap siswa saya beri tugas (soal) yang berbeda sesuai dengan materi apa yang belum mereka pahami dan waktu mengumpulkan tugas mereka sendiri yang menentukan karena saya menyelaraskan tugas pelajaran lain, beban belajar siswa, dan tentunyakemampuan mereka dalam memahami MATEMATIKA. jadi saya ingin menerpakan kepada siswa "Apa sih yang saya butuhkan" jadi bukan guru yang menentukan materi tugasnya tugas ini saya beri nama (Self Assignment) dengan semboyan
Yo want it (nilai yang bagus)
You Take It (Minta tugas sesuai kemampuanmu)
You Do It (Kerjakan tugas sesuai dengan kemampuanmu dengan waktu yang kamu tentukan)
You Get It (nilai dan tentunya Nilai Perjuangan dan ketekunan serta "muhasabah" masing-masing siswa tentang hal - hal yang belum mereka pahami
Let's Rock The Day
with Guru Rock N' Roll
Tidak ada komentar:
Posting Komentar