Pendidikan
merupakan suatu rekayasa untuk mengendalikan learning guna mencapai
tujuan yang direncanakan secara efektif dan efisien. Dalam proses rekayasa ini
peranan "teaching" amat penting, karena merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh guru untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan dan nilai kepada
siswa sehingga apa yang ditransfer memiliki makna bagi diri sendiri, dan berguna
tidak saja bagi dirinya tetapi juga bagi masyarakatnya.
Meruju pada hal tersebut, mengajar
hanya dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh seseorang yang telah melewati
pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk mempersiapkan guru. Dengan kata
lain, mengajar merupakan suatu profesi.
Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan masyarakat, muncul dua kecenderungan: Pertama, proses mengajar
menjadi sesuatu kegiatan yang semakin bervariasi, kompleks, dan rumit. Kedua,
ada kecenderungan pemegang otoritas structural, ingin memaksakan kepada guru
untuk mempergunakan suatu cara mengajar yang kompleks dan sulit. Sebagai akibat
munculnya dua kecenderungan di atas, maka guru dituntut untuk menguasai berbagai
metode mengajar dan diharuskan menggunakan metode tersebut. ketiga, ini hal terpenting yang tak bisa dilupakan bahwa seorang Guru wajib memberi teladan bagi perkembangan peserta didik di masa depan, guru harus menjadi idola mereka kelak.
seiring perkembangan dunia pendidikan dan khususnya Guru...cukup menarik kalau kita ungkap oleh Dr. Rhenald Kasali, Ketua Program UI pada Hari Pendidikan Nasional Mei yang lalu. Tertarik dengan tulisan yang ada di http://blog.fitb.itb.ac.id yang mengelompokan guru ke dalam dua jenis. Guru pertama adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru kognitif sangat berpengetahuan. Mereka hafal segala macam rumus, banyak bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan. Sebaliknya, guru kreatif lebih banyak tersenyum, namun tangan dan badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana. Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif berbuatnya lebih banyak (http://blog.fitb.itb.ac.id).
Guru Kognitif
Guru tipe ini bisa dikatakan Guru Tipe "jadul", guru Kognitif sangat gemar berbicara di depan kelas bukan dengan bibirnya tapi menggunakan kapur tulis atau spidol di papan tulis (banyak mencatat). Guru ini bangga kalau siswanya hafal semua apa yang diajarkan sampai titik, koma pada buku dihafal, siswa dengan rambut dipotong sangat rapi atau saat masa kecil saya potongan rambut "inpres", dengan tangan dilipat diatas meja saat KBM. atau kalau menurut istilah Pak Herman disebut Guru UTUN “Guru utun itu layaknya guru Mesin , setiap pagi berangkat ke sekolah,
duduk di kantor, kalo waktunya mengajar masuk ke kelas dan mengajar,
selesai mengajar duduk lagi di kantor, kalo sudah jam pulang ya pulang
saja, begitu setiap hari tanpa ada peningkatan
Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran ada di kepala manusia, yaitu brain memory. Asumsinya, semakin banyak yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu. dengan anggapan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang lebih baik. Guru kognitif adalah guru-guru yang sangat berdisiplin. Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat, sangat patuh pada ”tupoksi”. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah buku ”x” dan bab-bab yang diberikan adalah bab satu sampai dua belas, mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.
Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anak-anak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit. Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus "hutan belantara" masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.
Apabila diibaratkan anak-anak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi, bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya
Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru kognitif ini adalah kebanggaan bagi anak-anak yang lolos masuk di kampus-kampus favorit. Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa depannya. Anak-anak ini tidak terlatih menembus "hutan belantara" masa depan yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya dengan persaingan, dan tahan banting.
Apabila diibaratkan anak-anak produk guru kognitif ini ibarat kereta api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan lain karena jalannya diproteksi, bebas rintangan. Beda benar dengan kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya menaruh lokomotif di kepalanya, sedangkan yang satunya lagi, selain di kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya
untuk tipe Guru kedua Rhenald Kasali menyebutnya Guru Kreatif, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai Guru "Rock and Roll". Guru tipe ini yang sering kali dianggap aneh di belantara "dunia Keguruan". Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali "kurang peduli" dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa, mirip seperti style Rock and Roll. meski mereka "kurang peduli" dengan aturan namun dalam proses KBM mereka tidak melupakan Substansi pembelajaran sebagai proses pendewasaan peserta didik dalam menentukan dunia mereka. Tetapi, diakui atau tidak mereka sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak didiknya.
Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala belenggu yang mengikat mereka dan berusaha "berjalan" sesuai dengan bakat, kemampuan serta dunia mereka.Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua, dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan, gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism, merasa paling benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi, dan seterusnya. Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills, apalagi hard skill.
Bagaimana sebenarnya guru "Rock n Roll" seperti yang diidamkan oleh banyak pihak, kalau boleh saya rumuskan:
- Planner, artinya guru memiliki program kerja pribadi yang jelas, program kerja tersebut tidak hanya berupa program rutin, misalnya menyiapkan seperangkat dokumen pembelajaran seperti Program Semester, Satuan Pelajaran, LKS, dan sebagainya. Akan tetapi guru harus merencanakan bagaimana setiap pembelajaran yang dilakukan berhasil maksimal, dan tentunya apa dan bagaimana rencana yang dilakukan, dan sudah terprogram secara baik;
- Inovator, artinya memiliki kemauan untuk melakukan pembaharuan dan pembaharuan dimaksud berkenaan dengan pola pembelajaran, termasuk di dalamnya metode mengajar, media pembelajaran, system dan alat evaluasi, serta nurturant effect lainnya. Secara individu maupun bersama-sama mampu untuk merubah pola lama, yang selama ini tidak memberikan hasil maksimal, dengan merubah kepada pola baru pembelajaran, maka akan berdampak kepada hasil yang lebih maksimal;
- Motivator, artinya guru masa depan mampu memiliki motivasi untuk terus belajar dan belajar, dan tentunya juga akan memberikan motivasi kepada anak didik untuk belajar dan terus belajar sebagaimana dicontohkan oleh gurunya;
- Capable personal, maksudnya guru diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehinga mampu mengola proses pembelajaran secara efektif;
- Developer, artinya guru mau untuk terus mengembangkan diri, dan tentunya mau pula menularkan kemampuan dan keterampilan kepada anak didiknya dan untuk semua orang. Guru masa depan haus akan menimba ketrampilan, dan bersikap peka terhadap perkembangan IPTEKS, misalnya mampu dan terampil mendayagunakan computer, internet, dan berbagai model pembelajaran multi media.
Jadi, guru "Rock n Roll" adalah guru bertindak sebagai fasilitator;
pelindung; pembimbing dan punya figur yang baik (disiplin, loyal,
bertanggung jawab, kreatif, melayani sesuai dengan visi, misi yang
diinginkan dalam dunia pendidikan); termotivasi menyediakan pengalaman belajar bermakna
untuk mengalami perubahan belajar berdasarkan keterampilan yang
dimiliki siswa dengan berfokus menjadikan kelas yang konduktif secara
intelektual fisik dan sosial untuk belajar; menguasai materi, kelas, dan
teknologi; punya sikap berciri khas "The Habits for Highly Effective
People" dan "Quantum Teaching" serta pendekatan humanis terhadap siswa;
Guru menguasai komputer, bahasa, dan psikologi mengajar untuk diterapkan
di kelas secara proporsional.
"Lets Rock The Day"..............!
Semoga jadi guru yg ilmunya bermanfaat
BalasHapusSemoga jadi guru yg ilmunya bermanfaat
BalasHapus