Sejarah telah menunjukkan bahwa anak-anak
pada jaman Yunani Kuno telah menganggap sekolah sebagai suatu kegiatan
yang mengasyikkan dan menyenangkan karena mereka dapat mempelajari
berbagai hal yang ingin mereka ketahui diwaktu senggang. Sehngga pada
saat kali pertama disebut kata school, asal mula kata sekolah berasal dari bahasa latin yakni kata skhole, scola, scolae atau schola, kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. (Roem Topatimasang, 1998). Kata skhole, scola, scolae dan schola digunakan
untuk menyebut sebuah kegiatan yang dilakukan oleh orang Yunani Kuno
untuk mengisi waktu luangnya. Menggunakan waktu senggangnya untuk
mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk
mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang
perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Semua asal kata sekolah ini
mempunyai arti yang sama yaitu ”waktu luang yang digunakan secara khusus
untuk belajar” (leisure devoted to learning).
Pada perkembangannya, kebiasaan mengisi
waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi
kebiasaan kaum lelaki dewasa. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan
bagi para putra-putri mereka. Di tempat itu, anak-anak bisa bermain,
berlatih melakukan sesuatu, dan belajar apa saja yang memang patut untuk
dipelajari sampai tiba masanya mereka harus pulang kembali ke rumah
menjalankan kehidupan orang dewasa. Sejak saat itulah telah beralih
sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuh ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis
(lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai
pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan
ini kemudian biasa disebut juga ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan
ilmu’ (alma mater). Dan melalui John Amos Comenius dalam karyanya yang berjudul Didactica Magna,
melontarkan gagasan untuk melembagakan pola dan proses pengasuhan
anak-anak itu secara sistematis. Gagasan ini kemudian diteruskan dan
disempurnakan oleh Johan Heinrich Pestalozzi pada abad ke-18.
Sekolah Hari Ini
Dengan membandingkan asal kata sekolah
sebagai secuil sejarah tentang bagaimana sekolah itu terbentuk, tentu
memberikan kesimpulan bagi kita tentang bagaimana sekolah sebaiknya
dilaksanakan dan diciptakan. Sekolah sendiri tidak bisa dipisahkan
begitu saja dengan peran dan fungsinya sebagai tempat pembelajaran
pengetahuan yang bertujuan mengasah kemampuan berpikir, kepedulian dan
potensi-potensi lain yang dimiliki seorang anak manusia. Sehingga yakin
dan pasti semua pihak akan mengungkapkan bahwa menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan di sekolah formal dan menciptakan suasana
belajar yang berkelanjutan amat diperlukan. Pada titik ini nampaknya
tidak ada yang membantah. Masalah muncul ketika kemudian masuk ke
langkah aplikasi, sebagian besar merasa: ribet, sulit, dan melelahkan.
Bayangkan, untuk mengajar kreatif itu
saya perlu berfikir, survey, terus mengantisipasi apabila anak-anak jadi
lebih ribut, dan masih berfikir bagaimana alat peraganya, bagaimana
cara menilanya, bagaimana menyusun Silabus dan RPPnya. Sudah pasti
selain sulit pasti repot, bukannya menjadi tidak menyenangkan apabila
sesuatu itu menjadi repot untuk kita laksanakan. Setidaknya itu sebagian
komentar beberapa rekan pendidik tentang pembelajaran yang menyenangkan
dikelas.
Tetapi satu hal yang pasti kita semua
tahu belajar menyenangkan itu penting. Kita juga diharapkan untuk
menciptakan kondisi tersebut. Terkait hal tersebut dalam buku “Genius Learning Strategy”
Andi Wira Gunawan menegaskan bahwa sesungguhnya tidak ada mata
pelajaran yang membosankan, yang ada adalah guru yang membosankan,
suasana belajar yang membosankan. Hal ini terjadi karena proses belajar
berlangsung secara monoton dan merupakan proses perulangan dari itu ke
itu juga tiada variasi. Proses belajar hanya merupakan proses
penyampaian informasi satu arah, siswa terkesan pasif menerima materi
pelajaran.
Suatu penelitian tentang “cara kerja
otak” menunjukkan bahwa ketika kita senang, maka hormon
“neorotransmitter dopamine” dilepaskan dalam otak. Hal itulah yang
membuat kita merasa senang. Judy Willis (2006) mengemukakan bahwa kita
membutuhkan dopamine mengalir di dalam otak peserta didik, ketika mereka
belajar. Kesenangan itu harus menjadi bagian dari pembelajaran. Semakin
para siswa aktif terlibat dalam sebuah kegiatan pembelajaran, semakin
otak mengalami perubahan.
Menurut Dr Siti Aminah Soepalarto, SpS
seorang ahli penyakit syaraf, metode pembelajaran yang berlangsung saat
ini dengan penyajian lebih menitik beratkan pada rangsangan dengar
(auditory) berupa latihan (drill), pengulangan, orientasinya detail,
kurang melibatkan proses pemecahan suatu masalah, sangat sesuai dengan
pola belajar pada otak kiri, dimana individu tersebut kurang hiperaktif
dan tidak mendapatkan terlalu banyak rangsangan. Masalah mulai timbul
karena pada generasi anak saat ini dimana dengan berkembangnya budaya,
sejak kecil anak telah diberi banyak rangsang penglihatan (visual),
misalnya rangsangan dari TV dll; sehingga pola pembelajaran anak
bergeser kearah otak kanan dengan pola berpikir secara visual dan lemah
dalam menerima rangsang dengar (auditory) tetapi mempunyai kemampuan
untuk pemecahan masalah. Hal ini mengakibatkan jurang antara anak didik
dan guru menjadi lebar, karena pola pembelajaran disekolah tidak sesuai
dengan pola pembelajaran yang dibutuhkan; sekolah menjadi tidak sejalan
dengan pikiran anak. Sementara itu para pendidik yang umumnya adalah
populasi dengan pola otak kiri, seperti juga pada dominasi otak kiri
lainnya, mempunyai kelemahan berupa kesulitan untuk dapat memahami bahwa
orang lain mempunyai cara pandang yang berbeda dalam memproses keadaan.
(Freed 1997).
Otak Untuk Belajar
Sebelum kita dapat menciptakan kondisi
belajar yang baik bagi anak, ada beberapa hal yang kita perlu ketahui
dari proses kerja otak pada saat belajar. John Medina, seorang biologi
molekuler perkembangan dan konsultan penelitian dalam bukunya Brain
Rules, menyebutkan 12 fakta tentang cara kerja otak sebagai berikut
Bergerak melejitkan kemampuan otak; Otak
kita dirancang untuk berjalan kaki, sekitar 19 kilometer per hari,
selama masa evolusi nenek moyang kita. Ketika kita bergerak, darah akan
terpompa ke otak, mengalirkan oksigen dan glukosa. Aerobik 2 kali
seminggu memangkas resiko terkena dementia (penurunan kapasitas otak)
dan menurunkan resiko sampai 60% terkena Alzheimer.Aturan pertama ini
menjelaskan mengapa kita mudah bosan ketika duduk diam di dalam kelas
atau ruang kerja. Tanpa pergerakan membuat oksigen yang mengalir ke otak
berkurang sehingga dianggap sebagai sinyal beristirahat (jadi menguap
kan kalau kelamaan duduk?). Persoalannya, ruang kelas dan kerja kita
didesain dengan asumsi kita diam ketika belajar dan bekerja. Bila tubuh
kita diam maka otak kita diam. Bergeraklah sambil belajar dan bekerja.
Sekurang-kurangnya, lakukan pergerakan 10 menit setelah belajar atau
bekerja.
Otak kita juga berevolusi; Otak
adalah organ bertahan hidup kita dalam menjalani evolusi. Kita
mengatasi dunia dengan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Kita
bukan makhluk yang terkuat di bumi ini, tapi otak kita berkembang
menjadi yang terhebat. Otak kita berkembang selama menangani
penyelesaian persoalan dan membangun relasi dengan orang lain. Kemampuan
memahami persoalan dan membangun relasi dengan orang lain menjadi
aktivitas bertahan hidup utama, bahkan hingga hari ini. Bukan saja di
sekolah, kedua kemampuan itu juga kita butuhkan di tempat kerja.
Sehingga bila kita tidak nyaman dengan orang lain maka kita tidak bisa
efektif. Ketika murid tidak nyaman dengan gurunya maka belajar menjadi
tidak efektif. Ketika bawahan tidak nyaman dengan atasannya maka bekerja
menjadi tidak efektif. Belajar menyimak motivasi orang lain dan bangun
relasi agar otak kita bekerja efektif.
Setiap otak tersusun secara berbeda; Otak
dari kecil mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada serangkaian
hubungan yang terbangun antar ujung syaraf seiring dengan penghilangan
hubungan yang lain. Apa yang kita lakukan dan pelajari dalan kehidupan
mengubah bentuk fisik otak kita, mengubah susunan otak kita. Setiap
orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menjalani hidup. Tidak ada
dua otak manusia yang sama yang menyimpan informasi yang sama dengan
cara yang sama di tempat yang sama. Ada jutaan cara untuk menjadi cerdas
sebagaimana diyakini konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner.
Sayangnya, banyak diantaranya tidak muncul dalam tes IQ. Praktisnya
perlakukan diri kita dan orang lain sebagai individu unik yang mempunyai
cara belajarnya sendiri.
Kita tidak memperhatikan hal-hal membosankan; Otak
bisa diibaratkan sebagai lampu sorot (spotlight) yang menyorot berbagai
macam hal di sekitarnya. Lampu sorot otak ini hanya dapat fokus pada
satu hal pada satu waktu: Tidak ada multitasking bagi otak. Lampu sorot
otak itu menyukai sesuatu yang membangkitkan emosi dan mudah beralih
ketika menyorot sesuatu yang membosankan. Ceramah atau pembicaraan yang
biasa-biasa saja hanya mendapat perhatian dari otak kita kurang dari 10
menit. Praktisnya: Pancing perhatian orang yang mendengarkan kita bicara
setelah 10 menit melalui cerita yang menyentuh emosi. Hindari interupsi
dalam mengerjakan suatu tugas karena akan meningkatkan jumlah
kesalahan.
Ulangi untuk Mengingat;
Otak itu ibarat mesin pengolah informasi yang mempunyai beragam
mekanisme. Salah satunya, declarative memory yang mempunyai 4 tahap
pengolahan informasi: mengodekan, menyimpan, memanggil dan melupakan.
Kalau kita mengingat informasi dengan cara yang biasa-biasa saja, maka
kita akan segera melupakan. Ibarat ketemu cewek yang biasa-biasa saja
maka kita segera melupakan begitu saja. Beda kalau pertama bertemu
begitu mempesona, wah sampai rumah pun masih terbayang-bayang wajahnya.
Semakin rumit kita mengodekan informasi semakin kuat memori itu.
Praktisnya kaitkan suatu informasi baru dengan informasi lama. Buat
jembatan keledai untuk merangkai suatu informasi. Ulangi untuk mengingat
suatu informasi dengan pola yang berbeda.
Ingatlah untuk mengulang;
Sebagian besar memori menghilang dalam hitungan detik. Proses melupakan
itu bagus karena kita tidak perlu menyimpan informasi yang tidak
relevan dan membantu menentukan prioritas. Ingatlah yang sekarang, bukan
masa lalumu (uhuk). Tapi bila kita ingin mengingat suatu informasi,
maka ingatlah untuk mengulang. Praktisnya ingatlah suatu informasi
secara bertahap dan mengulanginya dalam jeda waktu yang terpola
waktunya.
Tidur baik, berpikir pun baik; Otak
mengalami ketegangan terus menerus sepanjang hari. Bahkan ketika tidur
pun, otak kita tidak sepenuhnya beristirahat. Otak tetap aktif secara
ritmis selama kita tidur. Kurang tidur akan menurunkan perhatian,
pengambilan keputusan, memori kerja, mood, keterampilan kuantitatif,
penalaran bahkan ketangkasan motorik oleh sebab itu tidurlah secukupnya.
Otak yang stress tidak belajar secara sama; Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek, semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita, stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar. Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat lain. Jangan stress dengan membangun relasi dan emosi yang stabil di rumah, itu kuncinya
Otak yang stress tidak belajar secara sama; Otak kita terlatih untuk menghadapi bahaya atau stress dalam durasi pendek, semacam ancaman dari hewan buas. Stress yang ringan meningkatkan kinerja kita, stress kronis melumpuhkan kemampuan kita belajar. Kita punya otak satu, otak yang sama yang kita pakai di rumah, sekolah maupun kantor. Stress di suatu tempat akan berpengaruh pada kinerja kita di tempat lain. Jangan stress dengan membangun relasi dan emosi yang stabil di rumah, itu kuncinya
Rangsanglah lebih banyak indera;
Kita menyerap informasi tentang suatu kejadian melalui indera,
menerjemahkan dalam bentuk sinyal listrik, menyebarkan ke bagian otak
terpisah dan ketika mengingat kita merekonstruksikan ingatan kejadian
itu. Semakin banyak indera yang mendapatkan informasi atas suatu
kejadian maka semakin mudah kita merekronstruksi ingatan akan kejadian
tersebut. Hasil riset, Efek Proust, bau dapat memicu memori, hingga
10-50% lebih baik. (apa bau badanmu sekarang? *eh salah). Bau bahkan
memicu emosi kita. Gunakan multisensori dalam menyampaikan penjelasan ke
murid atau bawahan, paling tidak kata dan gambar. Bila perlu ciptakan
ruangan yang baunya bisa diasosiasikan positif.
Penglihatan mengungguli indera-indera kita; Kita
tidak melihat dengan mata kita, kita melihat dengan otak kita. Apa yang
kita lihat bukanlah yang terlihat, tapi apa yang diberitahukan otak
untuk kita lihat. Tak heran maka kita sering terjebak menilai orang dari
tampilan luar, karena memang begitu cara kerja otak kita. Kita paling
bagus belajar dan mengingat dengan gambar, bukan kata-kata tertulis atau
terucap. Mendengar sekarang maka 3 hari kemudian hanya teringat 10%,
sementara dengan melihat kita masih mengingat 65%. Teks mencekik otak
kita, otak tidak mengenal kata-kata, tapi mengenal gambar. Ketika
mengingat “Gajah pakai baju warja merah”, kita akan “melihat” gambar
gajahnya, bukan tulisan g-a-j-a-h. Buang powerpoint yang penuh dengan
teks dan poin-poin. Gunakan gambar yang berasosiasi dengan suatu
informasi untuk belajar.
Otak pria dan wanita berbeda; Kalangan
kesehatan mental sudah mengenali perbedaan antara pria dan wanita. Pria
lebih mudah terkena schizophrenia dibandingkan wanita. Dengan rasio 2
banding 1, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami depresi
dibandingkan pria, temuan setelah wanita mengalami pubertas dan terus
stabil sampai 50 tahun berikutnya. Pria dan wanita merespon stress
dengan cara yang berbeda. Pria mengaktifkan amygdala di sebelah kanan
otak mereka, wanita mengaktifkan sebelah kiri. Aktivasi sebelah kiri
akan membuat orang lebih mengingat detil, aktivasi sebelah kiri akan
membuat orang mengingat intinya. Kelola kelas dengan pengaturan gender
berbeda. Buat tim lintas gender dalam dunia kerja.
Kita adalah penjelajah alami yang kuat; Hasrat
untuk mengeksplorasi begitu besar dalam diri kita. Hasrat itu tetap ada
meski kita berada dalam ruang kelas dan ruang kerja. Bayi adalah model
cara kita belajar. Bukan dengan pasif terhadap lingkungan, tapi aktif
berksplorasi, melakukan pengamatan, membuat dugaan, lakukan pengujian
dan kesimpulan. Hebatnya, beberapa bagian otak dewasa tetap lentur
seoerti bagian otak bayi supaya kita dapat menciptakan syaraf-syaraf dan
mempelajari baru sepanjang hayat.
Penelitian mutakhir sistem kerja otak
sebagaimana diuraikan oleh Caineand Caine (1991) dalam bukunya Making
connection: Teaching and human brain, bahwa intelegensi seseorang
ternyata bersifat dinamis dan dapat berkembang. Lebih daripada itu,
intelegensi tidak hanya berkaitan dengan aspek cognitive semata, tetapi
berkaitan pula dengan emosi, sehingga disebut dengan Emotion
Intellegence yang disingkat EQ (sebagai pelengkap IQ). Bukti-bukti
menunjukan bahwa dalam keberhasilan pendidikan seseorang peranan IQ
hanya sekitar 20 %. Sisanya 80 % sebagian besar ditentukan oleh EQ dan
faktor kedewasaan sosial. EQ adalah kemampuan seseorang untuk
mengendalikan aspek-aspek psikologis dalam diri sendiri yang mencakup a)
amarah, b) kesedihan, c) rasa takut, d) kenikmatan, e) cin+a, f)
terkejut, g) jengkel, dan, h) malu. Kemampuan mengendalikan aspek
psikologis diperlukan agar EQ ini bisa bekerja secara harmonis dengan
IQ. Singkat kata, kalau EQ baik otak akan dapat bekerja dengan baik
pula. Dengan fakta-fakta tentang kerja otak ini, kekreatifan guru
menjadi salah satu cara dalam meningkatkan mutu pendidikan. Jika guru
kreatif, siswa yang menjadi anak didiknya akan mengikuti pelajaran
dengan senang. Jika siswa senang, pelajaran yang disampaikan guru akan
cepat dipahami siswa dan pada akhirnya siswa bisa mengembangkan ilmu
yang diterimanya. Oleh karenanya penting sekali pembelajaran itu untuk
menjadi menyenangkan setiap siswa, sehingga siswa kita akan tahu betapa
menyenangkannya sekolah itu dan mereka akan kembali dengan penuh
semangat dikeesokan harinya
Refferensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/
Refferensi:
http://hafismuaddab.wordpress.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar