Rabu, 09 Oktober 2013

BERBAHAGIALAH KARENA KITA ADALAH GURU



Menjadi kaya adalah impian banyak orang. Baik itu kaya secara materi, maupun secara non materi, apalagi kaya secara kedua – duanya. Nyatanya, kalau kita perhatikan di lingkungan kita lebih dari 80% aktifitas manusia habis terkuras untuk mencapai yang namanya kaya. Bahkan tidak sedikit pula manusia yang menghabiskan hampir seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya secara materi.
Saya sering berdiskusi dengan teman – teman secara guru, “bagaimana ya menjadi seorang guru bisa kaya secara materi dan spiritual?” nah inilah yang menjadi pertanyaan kebanyakan guru di negeri ini, selama ini profesi Guru memang tidak bisa dikatakan menjamin sebuah kakayaan materi dan spiritual sekaligus meski dalam kondisi ideal seorang guru bisa meraih keduanya dalam waktu bersamaan.
Saya pernah membaca sebuah tulisan seorang Guru kehidupan Gede Prama di detik.com. dalam tulisan tersebut beliau mempertanyakan “adakah manusia yang tidak pernah miskin? Yang sejak lahir sampai meninggal tidak pernah mengalami kemiskinan”..
Dalam tulisannya beliau berkata “kalau orang seperti itu ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang – orang yang tidak pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di negeri sendiri, atau di negeri orang lain, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa paling miskin di dunia. Sebab selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan”.
Kalau boleh saya menyimpulkan, manusia – manusia yang tidak pernah miskin, sedikit kaitannya dengan tingkatan material maupun spiritual seseorang, melainkan lebih pada seberapa baik dan seberapa bisa ia mensyukuri dan menikmati hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri tersebut melekat dalam kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam manusia yang tidak pernah miskin.
Terkait dengan uraian diatas, ada juga kawan guru yang bilang “yang namanya guru tidak akan pernah bisa mengubah nasibnya apalagi penghasilannya”. Nah inilah paradigm yang berkembang dalam dunia keguruan kita meski akhir – akhir ini pemerintah sudah memiliki kebijakan sertifikasi guru yang secara tak langsung menambah “kemacetan” di beberapa kota karea banyak guru yang mulai berani kredit mobil meski terkadang nyetir aja masih belum bisa atau malah SIM A aja “nembak” hehe…
Kita cukup bisa memahami sebenarnya persoalannya ada pada “paradigma” yang kalau kata Steven Covey dalam buku Seven Habbit-nya mengatakan : sedikitnya membutuhkan waktu sampai satu generasi untuk mengubah paradigma. Pertanyaannya “apakah kita harus terjebak dengan Paradigma using tersebut? Kalau sebagai guru, kita masih saja berpendapat seperti itu maka tunggu saja akan muncul paradigma turunannya bahwa “ajaran sekolah untuk menjadi orang kaya lebih digemari dari pada sekolah untuk menjadi orang yang pintar”, dan ini sudah menjangkit di jaman ini. Hal ini bisa terjadi dari nasehat menyesatkan sang guru rajinlah sekolah agar mendapat nilai yang bagus dan bisa sekolah tinggi sehingga kamu kelak akan mudah dapat kerja.
Satu hal yang harus disadari olah guru di jaman ini bahwa seorang peserta didik di era ini yang akan hidup di era berikutnya membutuhkan pendidikan yang lebih dari sekedar menghafal, ulangan, mengambil nilai rapor, UN dan Lulus dan diakui atau tidak dalam kultur dunia lembaga pendidikan (baca; sekolah) kita hari ini belum memberikan hal tersebut.
Menanggapi fenomena tersebut, tidak ada yang lebih utama kecuali mengadakan PERUBAHAN  yang membawa paradigm para guru yang kurang baik menjadi sebuah kondisi yang baik, yang sudah baik menjadi lebih baik sehingga profesi guru memiliki pengaruh, bargaining dan nilai tawar yang menjanjikan di masa depan. Kita berharap suatu hari para anak SMA dan sederajat yang akan masuk kuliah akan berebut masuk FKIP atau IKIP dan menjadi guru karena menteri pendidikan, menteri agama dan para menteri lainnya diambil dari para Guru.
Mengapa perubahan menjadi faktor penentu perbaikan kualitas guru yang akan bermuara pada perbaikan kualitas pendidikan? Karena saat ini kita hidup dalam abad yang penuh dengan perubahan – perubahan yang super cepat, abad yang dipenuhi dengan penemuan baru dalam pengetahuan dan teknologi, teori – teori dan metode serta permasalahan baru juga pemecahannya yang baru pula.
Menjadi manusia yang siap berubah, membutuhkan keyakinan yang ekstra kuat dalam diri, terutama sisi hatinya. Beranikah anda mencukur kumis anda yang selama ini menjadi symbol kewibawaan anda? Beranikah anda tersenyum kepada murid – murid yang menurut anda nakal (meski sebenarnya tidak ada murid nakal) yang selama ini membuat anda kesal, gendeng bahkan mendapat predikat Guru Galau? Siapkah anda menerima hal baru sebagai bagian kemajuan diri anda wahai bapak ibu guru?

“Allah tidak akan mengubah suatu nasib suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.”
(QS Ar-Ra’du :11)

Proses menjadi guru kaya diawali sebuah sikap yaitu KEYAKINAN. Empat kompetensi guru (Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial dan Kompetensi Kepribadian) harus disinergikan untuk menopang keyanikan agar dapat dijalankan dalam realitas hidup. Menurut Amir Tengku Ramli dengan mensinergikan empat kompetensi guru secara seimbang dalam setiap pola interaksi guru akan melahirkan sosok guru kaya.

Sebenarnya, bagaimana sih guru yang disebut guru kaya?
Amir Tengku Ramli mengartikan ada 4 hal utama terkait hal ini (guru dan pengajaran) :
1    1. Disebut guru kaya, bila seorang guru memiliki cara pandang bahwa jabatan guru itu adalah “profesi”, karenanya senantiasa harus dilatih keahliannya sehingga melahirkan sosok guru pemilik dan perancang.
      2. Disebut guru kaya, bila seorang guru memiliki pola hubungan (interaksi) khusus dengan peserta didik yang mengedepankan sikap proaktif dan mentalitas kaya (win – win solution)
3    3.Disebut guru kaya, bila seorang guru melakukan proses pengajaran yang senantiasa tidak  mematikan potensi dan peserta didik terkait antara dunia pengajaran dan dunia realitas. Guru yang melakukan proses ini disebut ‘Guru Biofili’
      4.Disebut guru kaya, bila seorang guru senantiasa belajar dengan mensinergika otak kiri, otak kanan, panca indera dan hatinya untuk memperoleh sumber ilmu yang hakiki. Guru yang memperoleh sumber ilmunya sebagai mata air ini, disebut Guru ‘berhati bintang’ (kalau saya bisa mengatakan guru Rock n Roll)

Disebut guru kaya sesungguhnya menggambarkan keadaan seseorang yang mampu memadukan kompetensi dirinya dengan kompetensi profesinya sebagai guru.  Menjadi guru kaya artinya kita sebagai guru melakukan perpindahan kuadran melalui pergeseeran paradigma (to have menuju to be)



 TO HAVE ---------------------------------> TO BE
(pergeseran paradigma)


Menjadi guru kaya (to be) berbeda dengan memiliki kekayaan melalui/dari pekerjaan sebagai guru (to have). Meskipun outputnya sama tetapi proses dan caranya sangat menentukan terhadap keberadaan anda sebagai guru. Menjadi kaya dengan konsep to be tidak akan mengebiri profesi sebagai guru, sementara memperoleh kekayaan dengan konsep to have mungkin sebagai guru akan memiliki dualism dan ambiva;ensi terhadap profesi sebagai guru.
Menjadi guru kaya bukan berarti anda ‘ngobjek’ atau mengerjakan bisnis/proyek sambil mengajar. Kasus ini membuktikan anda sebagai guru hanya menjadikan profesi guru sebagai batu loncatan, anda banyak mengajar jika tidak ada proyek, dan sedikit mengajar jika ada proyek atau malah tidak mengajar sama sekali begitu kebanjiran proyek. Menjadi guru kaya adalah system yang anda ciptakan sendiri, yang nantinya system itulah yang akan bekerja untuk anda.
Dalam buku Pumping Teacher, Amir Tengku Ramli menguraikan bahwa bargaining atau tidaknya profesi guru tergantung dari cara pandang guru itu sendiri. Jika guru memandang profesi guru sebagai profesi yang gurem, tidak bermasa depan, maka itulah yang akan didapat guru, begitu juga sebaliknya. Kekuatan cara pandang tersebut mestilah diawali dengan kemampuan mengubah kata atau sikap kita dari TEACHING menjadi LEARNING. Karena dalam leraning, guru memiliki kesempatan lebih dalam memberdayakan dirinya dan lingkungan belajarnya. BELAJAR (learning) itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses perbaikan diri terus – menerus.
Berdasarkan cara pandang guru dalam pekerjaannya ada, maka guru dapat dikelompokan dalam 4 kuadran utama:






 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTxICM0CNyamiqSAmjRIqRtbEqi8TFF3zMJQSls4ulomtE8wmSXipLr2Ch9yaOLuDCQHVcl42xPt9xzTIDQDgWHNhjKmSWxsz5JEM-lD2tGfjaPjfaMMmwCSDKwEFumYJdq-I_VlXK8pU/s320/to+be.jpg


  
    1. Guru disebut pekerja (kuadran 1) ini bisa dikatakan guru yang menyukai kemapanan, tidak ada keinginan untuk berubah. Guru gemar dengan pekerjaan rutinitas yang menjadi tanggung jawabnya. Perilaku guru ini tampak oleh ‘mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada peserta didik yang berbeda’. Pada kuadran ini guru masih memiliki paradigma to have. Sumber penghasilan sang guru adalah satu – satunya dari gaji/honor bulanan/mingguan ditambah dari proyek – proyek skala kecil dan rutin.
2.Guru dikatakan professional (kuadran 2) adalah guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang dengan pekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Perilaku guru ini tampak oleh “mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang berbeda kepada orang yang berbeda”. Pada kuadran ini guru mulai memiliki pergeseran paradigm akan tetapi masih pada konsep to have. Anda (guru) menjadi system bagi diri anda sendiri. Sumber penghasilan adalah sebagai professional yang memiliki nilai (harga) setiap kali anda mengajar.
     3.Guru pemilik merupakan (kuadran 3) guru yang memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait dengan pengajaran tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga guru pemilik menjadi bagian dari kelompok pengambil kebijakan dan keputusan. Senang dengan peran sebagai investor dan atau pimpinan dengan tujuan mendapatkan penghasilan dari investasi/tugas tersebut. Guru inilah yang menjalankan sistem secara strategis, untuk mengandelikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga pengajaran. Pada kuadran ini guru mengalami pergeseran paradigma yang sangat jelas dari to have menuju to be. Sumber penghasilan guru ini adalah dari keahlian dan system yang anda (guru) kendalikan.
4.Guru perancang (kuadran 4) adalah guru yang berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran, bersifat inovatif, senang pad aide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Guru tipe ini adalah orang yang kaya dengan ide/gagasan yang inovatif yang menjadikan guru yang sangat berarti. Anda (guru) menjadi perancang sistem bagi kemajuan diri dan masa depan orang lain. Pada kuadran ini menunjukan pergeseran paradigm anda (guru) sudah menjadi sepenuhnya ke kuadran to be. Sumber penghasilan anda adalah dari system dan gagasan yang banyak diterapkan banyak orang. Ide dan gagasan bekerja untuk menghasilkan uang bagi guru.

Untuk berpindah kuadran dari kiri (Guru Pekerja dan Guru Profesional) ke kuadran kanan (guru Pemilik dan Guru Perancang)  atau paradigma to have menuju to be seorang guru harus melakukan perubahan paling mendasar yaitu cara pandangnya terhadap pengajaran. Guru harus memandang bahwa pengajaran yang sedang dilakukan adalah profesi.
                Sebenarnya apa sesungguhnya perbedaan paling mendasar antara profesi dengan pekerjaan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesi (/pro·fe·si/ /profési/ n bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu;) artinya seseorang yang bekerja karena keahlian yang dimilikinya dan yang menjadi standar adalah tercapainya tujuan pribadi dan lembaga dalam hal ini lembaga pendidikan, sedangkan pekerjaan ([n] (1) barang apa yg dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dsb); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan) artinya suatu tugas yang diberikan oleh lembaga atau atasan yang harus dilaksanakan sesuai keinginan atasan.
Sudah saatnya guru merubah paradigm bahwa bukan tidak mungkin menjadi guru kaya baik secara materi terlebih secara spiritual. Dan yakinlah bahwa menjadi seorang guru merupakan pilihan tepat. Akhirul Kalam selamat mendidik peserta didik anda dengan Cinta…dan tetap #semangat_sukses_mulia.


Sumber bacaan:
Kiyosaki T. Robert, The Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2001
Prama, Gede, Orang idak Pernah Miskin, detik.com
Ramly, A.T, Pumping Teacher, Grahadika Binangkit Press, Jakarta 2003
----------------, Menjadi Guru Kaya, Pustaka Inti, Bekasi 2005

2 komentar: