Menjadi kaya
adalah impian banyak orang. Baik itu kaya secara materi, maupun secara non
materi, apalagi kaya secara kedua – duanya. Nyatanya, kalau kita perhatikan di
lingkungan kita lebih dari 80% aktifitas manusia habis terkuras untuk mencapai
yang namanya kaya. Bahkan tidak sedikit pula manusia yang menghabiskan hampir
seluruh hayatnya hanya untuk menjadi kaya secara materi.
Saya sering
berdiskusi dengan teman – teman secara guru, “bagaimana ya menjadi seorang guru
bisa kaya secara materi dan spiritual?” nah inilah yang menjadi pertanyaan
kebanyakan guru di negeri ini, selama ini profesi Guru memang tidak bisa dikatakan
menjamin sebuah kakayaan materi dan spiritual sekaligus meski dalam kondisi
ideal seorang guru bisa meraih keduanya dalam waktu bersamaan.
Saya pernah
membaca sebuah tulisan seorang Guru kehidupan Gede Prama di detik.com. dalam tulisan
tersebut beliau mempertanyakan “adakah manusia yang tidak pernah miskin? Yang sejak
lahir sampai meninggal tidak pernah mengalami kemiskinan”..
Dalam tulisannya
beliau berkata “kalau orang seperti itu
ada, betapa beruntungnya dia. Lama sempat saya mencari orang – orang yang tidak
pernah miskin ini. Dari sekian desa dan kota yang sempat saya kunjungi. Entah di
negeri sendiri, atau di negeri orang lain, sungguh teramat sulit menemukannya. Ada
yang lahir serta besar di keluarga kaya secara materi, namun merasa paling
miskin di dunia. Sebab selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang
lebih tinggi. Ada juga yang lahir dan tumbuh di keluarga yang kaya secara
spiritual, tetapi menyesali kehidupan materinya yang serba kekurangan”.
Kalau boleh saya
menyimpulkan, manusia – manusia yang tidak pernah miskin, sedikit kaitannya
dengan tingkatan material maupun spiritual seseorang, melainkan lebih pada
seberapa baik dan seberapa bisa ia mensyukuri dan menikmati hidupnya. Begitu kemampuan
menikmati dan mensyukuri tersebut melekat dalam kehidupan seseorang, maka
masuklah ia dalam manusia yang tidak pernah miskin.
Terkait dengan
uraian diatas, ada juga kawan guru yang bilang “yang namanya guru tidak akan pernah bisa mengubah nasibnya apalagi
penghasilannya”. Nah inilah paradigm yang berkembang dalam dunia keguruan
kita meski akhir – akhir ini pemerintah sudah memiliki kebijakan sertifikasi
guru yang secara tak langsung menambah “kemacetan” di beberapa kota karea
banyak guru yang mulai berani kredit mobil meski terkadang nyetir aja masih
belum bisa atau malah SIM A aja “nembak”
hehe…
Kita cukup
bisa memahami sebenarnya persoalannya ada pada “paradigma” yang kalau kata
Steven Covey dalam buku Seven Habbit-nya
mengatakan : sedikitnya membutuhkan waktu
sampai satu generasi untuk mengubah paradigma. Pertanyaannya “apakah kita
harus terjebak dengan Paradigma using tersebut? Kalau sebagai guru, kita masih
saja berpendapat seperti itu maka tunggu saja akan muncul paradigma turunannya
bahwa “ajaran sekolah untuk menjadi orang kaya lebih digemari dari pada sekolah
untuk menjadi orang yang pintar”, dan ini sudah menjangkit di jaman ini. Hal ini
bisa terjadi dari nasehat menyesatkan sang guru rajinlah sekolah agar mendapat nilai yang bagus dan bisa sekolah tinggi
sehingga kamu kelak akan mudah dapat kerja.
Satu hal yang
harus disadari olah guru di jaman ini bahwa seorang peserta didik di era ini
yang akan hidup di era berikutnya membutuhkan pendidikan yang lebih dari
sekedar menghafal, ulangan, mengambil nilai rapor, UN dan Lulus dan diakui atau
tidak dalam kultur dunia lembaga pendidikan (baca; sekolah) kita hari ini belum
memberikan hal tersebut.
Menanggapi fenomena
tersebut, tidak ada yang lebih utama kecuali mengadakan PERUBAHAN yang membawa paradigm para guru yang kurang baik
menjadi sebuah kondisi yang baik, yang sudah baik menjadi lebih baik sehingga
profesi guru memiliki pengaruh, bargaining dan nilai tawar yang menjanjikan di
masa depan. Kita berharap suatu hari para anak SMA dan sederajat yang akan
masuk kuliah akan berebut masuk FKIP atau IKIP dan menjadi guru karena menteri
pendidikan, menteri agama dan para menteri lainnya diambil dari para Guru.
Mengapa perubahan
menjadi faktor penentu perbaikan kualitas guru yang akan bermuara pada
perbaikan kualitas pendidikan? Karena saat ini kita hidup dalam abad yang penuh
dengan perubahan – perubahan yang super cepat, abad yang dipenuhi dengan
penemuan baru dalam pengetahuan dan teknologi, teori – teori dan metode serta permasalahan
baru juga pemecahannya yang baru pula.
Menjadi manusia
yang siap berubah, membutuhkan keyakinan yang ekstra kuat dalam diri, terutama
sisi hatinya. Beranikah anda mencukur kumis anda yang selama ini menjadi symbol
kewibawaan anda? Beranikah anda tersenyum kepada murid – murid yang menurut
anda nakal (meski sebenarnya tidak ada murid nakal) yang selama ini membuat
anda kesal, gendeng bahkan mendapat
predikat Guru Galau? Siapkah anda menerima hal baru sebagai bagian kemajuan
diri anda wahai bapak ibu guru?
“Allah tidak akan mengubah suatu nasib suatu kaum sampai mereka
mengubahnya sendiri.”
(QS Ar-Ra’du :11)
Proses menjadi
guru kaya diawali sebuah sikap yaitu KEYAKINAN. Empat kompetensi guru
(Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial dan Kompetensi
Kepribadian) harus disinergikan untuk menopang keyanikan agar dapat dijalankan
dalam realitas hidup. Menurut Amir Tengku Ramli dengan mensinergikan empat
kompetensi guru secara seimbang dalam setiap pola interaksi guru akan
melahirkan sosok guru kaya.
Sebenarnya, bagaimana sih guru yang disebut guru kaya?
Amir Tengku Ramli mengartikan ada
4 hal utama terkait hal ini (guru dan pengajaran) :
1 1. Disebut
guru kaya, bila seorang guru memiliki cara pandang bahwa jabatan guru itu adalah “profesi”, karenanya senantiasa harus dilatih keahliannya sehingga
melahirkan sosok guru pemilik dan perancang.
2. Disebut
guru kaya, bila seorang guru memiliki pola hubungan (interaksi) khusus dengan peserta
didik yang mengedepankan sikap proaktif dan mentalitas kaya (win – win solution)
3 3.Disebut
guru kaya, bila seorang guru melakukan proses pengajaran yang senantiasa tidak mematikan potensi dan peserta didik terkait antara dunia pengajaran dan dunia realitas. Guru yang melakukan proses ini disebut ‘Guru Biofili’
4.Disebut
guru kaya, bila seorang guru senantiasa belajar dengan mensinergika otak kiri, otak kanan, panca indera dan hatinya untuk memperoleh sumber ilmu yang hakiki. Guru yang memperoleh sumber ilmunya sebagai mata air ini, disebut Guru ‘berhati
bintang’ (kalau saya bisa mengatakan guru Rock
n Roll)
Disebut guru
kaya sesungguhnya menggambarkan keadaan seseorang yang mampu memadukan
kompetensi dirinya dengan kompetensi profesinya sebagai guru. Menjadi guru kaya artinya kita sebagai guru
melakukan perpindahan kuadran melalui pergeseeran paradigma (to have menuju to be)
TO HAVE ---------------------------------> TO BE
(pergeseran paradigma)
Menjadi guru
kaya (to be) berbeda dengan memiliki
kekayaan melalui/dari pekerjaan sebagai guru (to have). Meskipun outputnya sama tetapi proses dan caranya sangat
menentukan terhadap keberadaan anda sebagai guru. Menjadi kaya dengan konsep to be tidak akan mengebiri profesi
sebagai guru, sementara memperoleh kekayaan dengan konsep to have mungkin sebagai guru akan memiliki dualism dan ambiva;ensi
terhadap profesi sebagai guru.
Menjadi guru
kaya bukan berarti anda ‘ngobjek’ atau mengerjakan bisnis/proyek sambil
mengajar. Kasus ini membuktikan anda sebagai guru hanya menjadikan profesi guru
sebagai batu loncatan, anda banyak mengajar jika tidak ada proyek, dan sedikit
mengajar jika ada proyek atau malah
tidak mengajar sama sekali begitu kebanjiran proyek. Menjadi guru kaya adalah system
yang anda ciptakan sendiri, yang nantinya system itulah yang akan bekerja untuk
anda.
Dalam buku Pumping Teacher, Amir Tengku Ramli
menguraikan bahwa bargaining atau tidaknya
profesi guru tergantung dari cara pandang guru itu sendiri. Jika guru memandang
profesi guru sebagai profesi yang gurem,
tidak bermasa depan, maka itulah yang akan didapat guru, begitu juga
sebaliknya. Kekuatan cara pandang tersebut mestilah diawali dengan kemampuan
mengubah kata atau sikap kita dari TEACHING menjadi LEARNING. Karena dalam leraning, guru memiliki kesempatan lebih
dalam memberdayakan dirinya dan lingkungan belajarnya. BELAJAR (learning) itu sendiri dapat diartikan
sebagai suatu proses perbaikan diri terus – menerus.
Berdasarkan cara
pandang guru dalam pekerjaannya ada, maka guru dapat dikelompokan dalam 4
kuadran utama:
1. Guru
disebut pekerja (kuadran 1) ini bisa dikatakan guru yang menyukai kemapanan, tidak ada
keinginan untuk berubah. Guru gemar dengan pekerjaan rutinitas yang menjadi
tanggung jawabnya. Perilaku guru ini tampak oleh ‘mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada peserta
didik yang berbeda’. Pada kuadran ini guru masih memiliki paradigma to have. Sumber penghasilan sang guru
adalah satu – satunya dari gaji/honor bulanan/mingguan ditambah dari proyek –
proyek skala kecil dan rutin.
2.Guru
dikatakan professional (kuadran 2) adalah guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang
dengan pekerjaan yang mandiri, tidak rutin tapi memuaskan, senang berpindah
tempat kerja dengan pekerjaan yang sama. Perilaku guru ini tampak oleh “mengajar dengan cara yang sama tentang hal
yang berbeda kepada orang yang berbeda”. Pada kuadran ini guru mulai
memiliki pergeseran paradigm akan tetapi masih pada konsep to have. Anda (guru) menjadi system bagi diri anda sendiri. Sumber penghasilan
adalah sebagai professional yang memiliki nilai (harga) setiap kali anda
mengajar.
3.Guru
pemilik merupakan (kuadran 3) guru yang memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait
dengan pengajaran tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga
guru pemilik menjadi bagian dari kelompok pengambil kebijakan dan keputusan. Senang
dengan peran sebagai investor dan atau pimpinan dengan tujuan mendapatkan
penghasilan dari investasi/tugas tersebut. Guru inilah yang menjalankan sistem secara
strategis, untuk mengandelikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga
pengajaran. Pada kuadran ini guru mengalami pergeseran paradigma yang sangat
jelas dari to have menuju to be. Sumber penghasilan guru ini adalah
dari keahlian dan system yang anda (guru) kendalikan.
d 4.Guru
perancang (kuadran 4) adalah guru yang berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran,
bersifat inovatif, senang pad aide dan perubahan yang mengaktifkan pengajaran. Guru
tipe ini adalah orang yang kaya dengan ide/gagasan yang inovatif yang
menjadikan guru yang sangat berarti. Anda (guru) menjadi perancang sistem bagi
kemajuan diri dan masa depan orang lain. Pada kuadran ini menunjukan pergeseran
paradigm anda (guru) sudah menjadi sepenuhnya ke kuadran to be. Sumber penghasilan anda adalah dari system dan gagasan yang
banyak diterapkan banyak orang. Ide dan gagasan bekerja untuk menghasilkan uang
bagi guru.
Untuk berpindah kuadran dari kiri (Guru Pekerja dan Guru Profesional)
ke kuadran kanan (guru Pemilik dan Guru Perancang) atau paradigma to have menuju to be
seorang guru harus melakukan perubahan paling mendasar yaitu cara pandangnya
terhadap pengajaran. Guru harus memandang bahwa pengajaran yang sedang
dilakukan adalah profesi.
Sebenarnya
apa sesungguhnya perbedaan paling mendasar antara profesi dengan pekerjaan? Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) profesi
(/pro·fe·si/ /profési/ n bidang
pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb)
tertentu;) artinya seseorang yang bekerja karena keahlian yang dimilikinya dan
yang menjadi standar adalah tercapainya tujuan pribadi dan lembaga dalam hal
ini lembaga pendidikan, sedangkan pekerjaan
([n] (1) barang apa yg dilakukan (diperbuat, dikerjakan,
dsb); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan) artinya suatu tugas yang
diberikan oleh lembaga atau atasan yang harus dilaksanakan sesuai keinginan
atasan.
Sudah
saatnya guru merubah paradigm bahwa bukan tidak mungkin menjadi guru kaya baik
secara materi terlebih secara spiritual. Dan yakinlah bahwa menjadi seorang
guru merupakan pilihan tepat. Akhirul Kalam
selamat mendidik peserta didik anda dengan Cinta…dan tetap #semangat_sukses_mulia.
Sumber bacaan:
Kiyosaki T. Robert, The
Cashflow Quadrant, Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta 2001
Prama, Gede, Orang
idak Pernah Miskin, detik.com
Ramly, A.T, Pumping
Teacher, Grahadika Binangkit Press, Jakarta
2003
----------------,
Menjadi Guru Kaya, Pustaka Inti, Bekasi
2005
Keren sob
BalasHapuswww.kiostiket.com
thank you mas bro Imam :-)
BalasHapus